Selasa, 03 Oktober 2017

Kebijakan Plastik Berbayar di Berhentikan, dan Solusi yang Tepat

Plastik Ramah lingkungan | spunbond bags


spunbond bags


Andai saja plastik ramah lingkungan ini  lebih masif lagi digunakan di ritel modern, juga diterapkan di pasar tradisional, kami yakin tumpukkan sampah kantong plastik yang selama ini bermasalah, dapat dikurangi.

Namun, tentu saja, teknologi bukan solusi satu-satunya, perlu adanya Aspek Hukum, Aspek Budaya, dan Aspek Pembiayaan yang juga harus diperhatikan.

Di Indonesia sendiri Plastik Ramah lingkungan sudah banyak beredar, mulai dari plastik jenis Bio-Oxodegradable seperti merk dagang OXIUM, ataupun kantong plastik jenis Biobase seperti merk dagang Ecoplas.

Sebenarnya jawaban untuk masalah sampah plastik sudah ada yaitu dengan menggunakan kantong Plastik yang mudah terurai di alam, plastik ramah lingkungan seperti yang sudah sering tim Plastiku Hijau kampanyekan.

Perlu diingatkan kebijakan kantong plastik ini bertujuan menjaga lingkungan agar dapat mengurangi sampah plastik.

Penghentian program ini, disebut bersifat sementara hingga diterbitkannya Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang berkekuatan hukum tetap.

Semenjak 1 Oktober 2016, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) resmi menghentikan program kantong plastik berbayar tahap kedua yang telah diberlakukan toko ritel modern di seluruh Indonesia semenjak 1 Juli 2016.

Legislator Sebut Plastik Berbayar Tidak Solusi | spunbond bags



Sebagaimana yang dimaklumi, munculnya program kantong plastik brbayar dengan maksud mengurangi pemakaian kantong plastik. Mengingat keberadaan sampah kantong plastik sudah menghawatirkan.  Ditambah limbah atau sampah plastik sulit terurai yang membuat pencemaran lingkungan. 

"Dengan beginikan bisa juga menghidupkan Usaha Kerajinan Masyarakat.  Ini akan mendorong perekonomian masyarakat juga dengan membuka susaha kerajinan keranjang" , tambahnya. 

Dikatakannya juga, ini akan dikembalikan pada cara orang lama-lama dulu berbelanja.  Setiap orang yang mau ke pasar bawa keranjang belanjaan sendiri ke pasar.  Setelah belanja, keranjang disimpan lagi untuk digunakan belanja beikutnya. 

"Ini tidak solusi, orang lebih mau  dipotong dua ratus rupiah belanjaannya ketimbang harus membawa barang beliannya tanpa kantong.  Kalau memang dilarang, sebaiknya ditiadakan saja kantong plastik dan cari solusi pengganti dengan kantong yang ramah lingkungan.   Kalau program ini malah menambah beban biaya masyarakat", sebutnya.

Legislator Riau dari Partai Gerindra, Marwan Johanis menyebutkan, kalau program plastik berbayar  bukanlah solusi dalam mengatasi persoalan sampah plastik yang ada.  Mengingat dengan berbayar, masyarakat masih memilih untuk memakai plastik ketimbang harus menggandeng produk yang dibeli.

Solusi Sampah Plastik Dunia | spunbond bags



Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) juga mengungkapkan sebanyak 10% plastik yang diproduksi setiap tahun di seluruh dunia terbuang ke laut, 70% di antaranya tenggelam dan tidak terurai. Algita Marine Research Foundation kemudian menyatakan jutaan hewan laut tewas per tahun akibat memakan dan ter pe rangkap sampah plastik. Kevin berharap tanah dan laut di Indonesia dapat terbebas dari sampah plastik. Setidaknya tidak menumpuk karena keasrian dan keaslian alam Indonesia akan rusak. 

Dengan sampah, citra Tanah Air sebagai tempat wisata internasional akan merosot. Indonesia akan mengalami kerugian moril dan materiil yang besar. Dari tekad itulah Kevin melangkah. 

Mereka melakukan pengenalan melalui media sosial, website, atau persentase langsung. Pada awal 2016 kapasitas produksi Avani Eco hanyalah 0,2 ton per hari, tapi kini kapasitas produksinya mencapai 4 ton per hari. Sebanyak 80% hasil produksinya diekspor. Berdasarkan riset Greeneration, per kepala orang Indonesia dapat menggunakan rata-rata 700 kantong plastik per tahun. Artinya, pohon yang ditebang dan minyak yang digunakan juga besar. Secara tidak disadari, sampah plastik yang terbuang memerlukan waktu sekitar 100-500 tahun untuk bisa terurai secara sempurna. 

Sebut saja Garuda Indonesia, Dufry, Safe Care, Karcher, dan ratusan perusahaan lainnya. Avani Eco juga mendapatkan sambutan hangat dari negara-negara Barat dan Afrika. Perusahaan itu telah menandatangani nota kesepahaman dengan Amerika Serikat (AS), Rwanda, Ghana, dan Kenya. “Harga kantong ini Rp700. Di Indonesia, jumlah klien kami sekitar 100- 200 klien, campur antara lokal dan multinasional,” kata Kevin. Dia menambahkan, “Saya akui penerimaan kantong ramah lingkungan di kawasan domestik masih kurang. Jujur, ide ini jauh lebih dihargai di luar negeri. Ini adalah karya anak bangsa yang diabaikan.” Avani Eco kini ingin memperluas pemasaran ke hotel dan kafe. 

Meski brilian, produk-produk Avani Eco masih harus bersaing ketat dengan kantong plastik yang saat ini beredar luas di pasaran. Beberapa kendala yang dialami produk Avani itu adalah pertama, harga jualnya lebih mahal Rp200-Rp300 dibandingkan harga kantong plastik. Kedua, perusahaan prolingkungan belum mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah. Maklum, ketergantungan masyarakat terhadap plastik sudahsangattinggi. Mindset berbagaipihak juga dinilai lebih berorientasi profit. Sejauh ini, ada beberapa klien yang sudah memanfaatkan produk Avani Eco. 

Dalam pencarian bahan baku, Kevin juga tidak mengalami hambatan berarti karena Indonesia sangat subur. Jumlah produksi singkong di Indonesia mencapai 23 ton per tahun dengan kebutuhan hanya 18 ton. “Artinya, ada beberapa ton yang bisa kita ambil untuk bahan baku pembuatan kantong ramah lingkungan,” kata Kevin. Meski demikian, Kevin tidak mengambil singkongnya secara utuh, melainkan hanya tepungnya. “Jadi, kalau kata rekan saya, saya sebenarnya hanyalah seorang pemulung sampah,” lanjut Kevin sambil tertawa. 

Kevin tak menampik, kantong ramah lingkungan yang disuntikkan zat metal ber-ion itu dapat degrade 100% karena mengalami oksidasi saat menyentuh tanah. “Plastik itu akan hancur tapi menjadi polusi mikro plastik dan akan termakan oleh hewan, baik darat maupun laut. Ujung-ujungnya, manusia juga yang dirugikan,” imbuhnya. Kevin mengaku profit bukanlah hal utama yang dicarinya dalam pengembangan kantong ramah lingkungan tersebut. Sebab, menurut dia, penyelamatan lingkungan dalam jangka panjang jauh lebih penting. 

“Dokter juga sering berkata mencegah lebih baik daripada mengobati. Ketika sudah sakit, konsekuensinya besar. Hal yang sama juga berlaku bagi kantong. Kita harus lebih peduli terhadap lingkungan dengan meminimalkan penggunaan kantong plastik,” sambungnya. Kantong ramah lingkungan yang digagas Kevin memang bukan langkah baru. 

Di dunia, perusahaan-perusahaan Eropa sudah lebih awal mengubah pati jagung dan serat bunga matahari menjadi kantong sejak tahun 1990-an. Di Indonesia, beberapa orang juga sudah pernah memiliki konsep pembuatan kantong ramah lingkungan yang inovatif. Saat ini, menurut Kevin, ada empat perusahaan pembuat kantong ramah lingkungan, termasuk Avani Eco.

“Dua perusahaan kantong itu mencampur bahan nabati dan plastik, sedangkan satu perusahaan lagi menyuntikkan zat metal ke dalam produknya. Saya sedih karena produk ramah lingkungan di Tanah Air mislead ,” katanya. 

Kevin mulai merintis Avani Eco pada 2013. Saat itu, dia mengimplementasikan hasil penelitiannya dan mencoba menjualnya ke rekannya yang memiliki perusahaan besar. Dari situ, dia mendapatkan banyak pelajaran dan masukan. “Saya benar-benar memproduksi kantong ramah lingkungan ini pada 2014,” tandas Kevin. Sama seperti Kevin, pemerintah Indonesia juga sudah lama berusaha meminimalisasi dampak sampah plastik denganmenerapkanprogram3R: reduce, reuse, dan recycle.

Meski demikian, bagi Kevin, langkah itu masih kurang efektif karena program itu memerlukan modal yang besar, baik modal tekad, kesadaran, biaya, waktu, maupun energi. “Ada satu R lagi yang perlu ditambahkan, replace ,” kata Kevin.

“Kami menerima sertifikat dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bahwa kantong ini tidak beracun. Kantong ini tidak hanya ramah lingkungan di atas tanah, tapi juga di dalam laut,” kata Kevin.

 Dia menekankan, kantong ini juga satu-satunya di dunia yang bersertifikat dan aman jika termakan. Kevin yang mendirikan perusahaan Avani Eco itu mengatakan kantong tersebut juga dapat dimodifikasi sesuai keperluan, dapat ditulisi, digambari, atau diwarnai. 

Selain kantong, Avani juga memproduksi jas hujan, cangkir kopi, sedotan, dan wadah makanan. Semua bahannya 100% nabati tanpa dicampur bahan kimia berbahaya. 

Permasalahan itu, bagi Kevin Kumala, merupakan tantangan besar yang memacu pikirannya membuat produk baru yang lebih solutif. Dengan berbekal tekad yang kuat, Kevin berhasil menciptakan kantong alami pengganti kantong plastik meski dengan modal pinjaman. 

Kantong itu murni 100% terbuat dari tumbuh-tumbuhan seperti pati singkong, minyak sayuran, dan bahanbahan nabati lainnya sehingga dapat terurai dalam tanah paling lama selama 50 hari. “Kantong itu tidak akan menyisakan apa pun karena kembali ke asalnya,” ujar Kevin saat berkunjung ke kantor KORAN SINDO, pekan ini. 














Kertas Bekas Bisa Disulap Jadi Benda Bernilai Rp300 Ribu

Pelatihan daur ulang sampah dari Bank Sampah Abukasa | spunbond bag jakarta



spunbond bag jakarta


“Bokor ini hanya perlu 30 lembar kertas ukuran A4. Dan harganya dijual bisa Rp 300 ribu. Kenapa mahal karena ini hasil recycle. Selain itu kalau jatuh ga pecah dan ini anti air,” ujarnya sembari memperlihatkan satu bokor hasil bank sampah. 

Nyoman Astawa dari Bank Sampah Abukasa mengatakan bahwa kegiatan pelatihan daur ulang sampah kepada generasi muda ini bertujuan agar generasi muda bisa berpikir maju dan bisa mengelola sampah yang awet dan berkesinambungan. Bank sampah dikatakannya bisa memberikan hasil walaupun tidak sebesar menjual aset tanah.

“Ternyata gampang kalau sudah dipraktekkan. Saya ga nyangka dari kertas bekas bisa menjadi bokor seperti ini,” ujar seorang peserta pelatihan Anityadewi (17) dari Karang Taruna Suta Mandala, di Kantor Kelurahan Peguyangan, Denpasar, Minggu (16/7/2017).

Merekapun dengan teliti membuat daur ulang sampah tersebut hingga menjadi bokor.

Menariknya dalam pelatihan daur ulang sampah yang dilaksanakan oleh Bank Sampah Abukasa ini diikuti oleh para Karang Taruna dan Sekaa Teruna di Keluahan Peguyangan yang usianya antara 17 tahun sampai 20 tahun.

Begitulah kira-kira bahan dasar dari kertas bekas yang dibuat menjadi barang berharga satu diantaranya seperti bokor (sejenis wadah layaknya tempat makanan khas Bali).

Satu per satu kertas digulung hingga menjadi layaknya pipet. Setelah itu digabungkan menjadi hampir sepanjang 2 meter lalu dipipihkan.

Bank Sampah Griya Sapu Lidi, Tak Hanya Menabung Tapi Juga Sebarkan Semangat Kurangi Sampah | spunbond bag jakarta


Lanjut Erwan, pada waktu itu belum tercetus bank sampah. Seiring berjalannya waktu dan melakukan studi banding di desa lain, bank sampah terbentuk dengan dukungan Rt Rw dan membangun Rumah Sampah. Setiap rumah mendapat tiga kantong sampah masing-masing untuk sampah plastik, logam atau kaca, dan kertas.

"Setiap malam 17 Agustus kita ada sarasehan dan handirkan narasumber yang berkompeten. Saya hadirkan direktur Walhi yang sedang mengadakan program membeli sampah masyarakat. Juga hadir pula profesor dari Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM dan bicara tentang sampah," jelasnya.

Oleh karenanya lingkungan harus ditata sedemikian rupa agar tampak asri.

Letak perumahan yang berada di antara dua sungai dan memiliki kontur gumuk pasir membuat debu akan berterbangan ketika kemarau tiba.

Sembilan tahun yang lalu sebuah gagasan muncul dari sebagian besar penghuni perumahan yang dibangun pada tahun 1992-1993 tersebut.

Hanya saja obyek yang ditabung tentu berbeda. Setidaknya begitulah penjelasan Erwan Widyarto, mantan Jurnalis dan seorang Penulis buku yang masih sempat meluangkan waktunya mengurus Bank Sampah Griya Sapu Lidi di tempat tinggalnya Perumahan Gumuk Indah, Desa Sidoarum, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Senin (23/1/2017).

Lalu bagaimana jika mendengar bank sampah? Tidak perlu pusing mengartikannya. Sederhana saja, bank sampah berarti menabung dengan sampah. Tidak ada yang berbeda, transaksi tetap terdiri dari nasabah dan petugas bank.

Lain halnya ketika mendengar kata 'sampah', dibenak banyak orang yang terbesit pasti hanyalah kata macam kotor, tidak sehat, menganggu dan berbagai kalimat negatif lainya.

Mendengar kata bank sebagian orang pasti akan menginterpretasikan dengan tumpukan berlembar-lembar uang baru dengan nominal yang besar.

Sederet prestasi pun diraih Bank Sampah tersebut mulai dari juara 1 Green and Clean Provinsi DIY hingga RW Percontohan Kabupaten Sleman. Namun, meski mampu mengolah sampah, Bank Sampah yang pada tahun 2016 mengolah 1.845 Kg sampah itu pun tetap mencanangkan semangat mengurangi produksi sampah.

Bank Sampah yang memiliki nasabah lebih dari 150 kepala keluarga (KK) tersebut juga melakukan kegiatan pembinaan sekolah semisal SDIT Alam Nurul Islam, SMP Maarif dan MAN 1 Godean, SDN 1 Tinom, SMP N 3 Yogyakarta, SMKN 2 Godean dan sekolah-sekolah lainnya. Tak jarang sekolah-sekolah tersebu mengukir prestasi di bidang lingkungan. Selain itu, Bank Sampah Griya Sapu Lidi juga rutin memberikan pelatihan ke desa-desa lain bahkan hingga klaten.

"Selanjutnya dijual kalau ada pameran dan pesanan. Harga Rp 5000 sampai ratusan ribuan per item. Yang laku keras bros dari bekas pasta gigi. Hasil penjualan menjadi pendapatan yang buat dan 10 persen untuk devisi UKM," pungkasnya.

Sampah-sampah tersebut selain dijual ke pengepul juga diolah oleh ibu-ibu. Melalui divisi UKM sampah didaur ulang menjadi kerajinan yang menarik dan layak jual macam bros, ecobricks, bunga dan gelang dari plastik, tas, spanduk, kaligrafi dan berbagai produk kreatif lainnya. Kreasi tersebut selain didapat dari pelatihan juga diperoleh dari dunia maya.

"Awalnya warga mengurus sampah keluar duit tapi dengan adanya konsep bank sampah dapat duit. Warga tidak berhitung dapatnya berapa, namun hasil dari bank sampah kembali ke warga seperti perbaikan jalan dan gapura," jelasnya

Dari tabungan sampah tersebut, setiap rumah dapat memperoleh ratusan ribu rupiah tiap tahun. Selain itu Bank Sampah juga menyediakan simpan pinjam bagi warga.

"Kalau dikilokan buku harganya sama saja. Tapi kalau dipilah, sampul dan isi buku memiliki jenis kertas yang berbeda. Maka harga berbeda pula," jelasnya.

Transaksi dalam bank sampah sendiri tidak sesulit yang dibanyangkan. Yang terpenting terdapat nasabah, petugas bank, dan pengepul. Sebelum menabung nasabah atau penyetor sampah sudah harus memilah sampah yang terdiri dari 30 jenis sampah yabg tersiri dari sampah plastik, logam atau sampah, dan kertas tersebut. Lantas sampah tersebut akan dicatat dalam buku tabungan.

"Kemudian bersamaan dengan program Green and Clean dari LSM sehingga semakin termotivasi dan menguatkan," ujarnya.
"Kalau kita menjadi orang yang tidak bertanggung jawab sih enak kita tinggal buang di sungai misal. Tetapi ditempat lain sampah yang hanyut itu menjadi masalah. Membuang masalah kita menjadi masalah orang lain.

Kita harus bertanggung jawab kita yang mengehasilkan samlah maka kita yang mengelola sampah," tegas Erwan menyampaikan alasan bedirinya Bank Sampah Griya Sapu Lidi.

"Kita akan menggiatkan pelatihan untuk daur ulang karena kita masih terus belajar. Selain itu juga perlu ada kesiapan produksi untuk menghadapi pasar," pungkasnya. 

Pada tahun 2017 ini, Bank Sampah akan mengepakkan sayapnya dengan mengembangkan tanaman hidroponik untuk menjadi unit sendiri. Selain itu ada pula unit pengolahan pupuk kompos dari sampah organik. Selain tentu akan meningkatkan pemasaran produk daur ulang sampah menjadi souvenir-souvenir seperti pernikahan dengan memanfaatkan media sosial dan berbasis komunitas.

"Tidak hanya semata-mata mengolah sampah tapi mengedukasi untuk mengurangi sampah setiap individu. Data BPS saja setiap orang menghasilkan 0,66 Kg sampah setiap harinya. Jadi semangatnya adalah reduce, reduce, reduce baru reuse dan recycle," ujarnya.


Mahasiswa Muhammadiyah Malang Sulap Botol Plastik Bekas Jadi Piring Ingke Cantik | spunbond bag jakarta



“Saya sangat suka dengan piring ini, lucu dan sangat inovatif. Selain bisa mengurangi sampah, bisa menjadi ladang untuk belajar berwirausaha. Saya harap akan banyak mahasiswa yang mampu memberikan ide kreatifnya untuk membantu melestarikan lingkungan” kata Tika Bisono, dosen yang juga konsumen produk ini. 

Sejumlah konsumen menyukai produk daur ulang ini terutama pada bentuknya yang lucu.

Menurut Hesti, penjualan Ingke suwar suwir ini sudah mulai tersebar khususnya di wilayah Kota Malang. Kini, Ingke suwar suwir sudah mulai dikenal di wilayah luar pulau Jawa seperti di Sulawesi dan Lombok dengan memanfaatkan sosial media berupa instagram, official account line.

"Bagian atas (cincin) gelas plastik dirangkai sedemikian rupa sehingga membentuk piring ingke cantik dengan berbagai macam pilihan warna dan desain," kata Hesti lewat rilisnya kepada tribunjogja.com, Jumat (7/7/2017).

Hesti Sri Rahayu mewakili timnya mengatakan, Ingke suwar suwir ini merupakan salah satu gerakan untuk mengurangi limbah sampah khususnya di Kota Malang dengan memanfaatkan bagian atas (cincin) gelas plastik.

Mereka adalah Hesti Sri Rahayu, Indreswari Rahmayanti Prabowo, Amriati Masso dari Fakultas Psikologi.

Lewat Program Kreativitas Mahasiswa – Bidang Kewirausahaan (PKM-K) yang berjudul “Ingke Suwar-suwir Usaha Daur Ulang Sampah Minuman Gelas Plastik”, para mahasiswa memberikan solusi mengubah sampah menjadi produk bernilai jual.

Melihat fenomena ini, tim salah satu tim dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengajukan sebuah solusi untuk mengatasi masalah sampah.

Sampah merupakan masalah yang tidak ada habisnya di kota-kota besar termasuk Malang. Setiap tahun, produksi sampah selalu sebanding dengan bertambahnya jumlah penduduk.








Jumat, 29 September 2017

Cocok untuk Sehari-hari, Tas Lipat Praktis dan Ramah Lingkungan

Mengurangi penggunaan kantong plastik | spunbond bag

spunbond bag



Bagoes Bag memiliki koleksi tas yang bisa dikunjungi di Jalan Tikukur No 6, Bandung. 

"Kami juga membuat tas dengan model menarik untuk anak muda hipster. Pada tas ini kami menyelipkan isu diet plastik pada fashion," ucapnya.

Tas dibanderol Rp 30 ribu hingga Rp 185 ribu. Tas termahal adalah backpack yang merupakan model terbaru Bagoes Bag. 

Bagoes Bag mampu menjual 200 tas dalam sebulan untuk pembeli satuan. Untuk pemesan custom jumlah besar, Bagoes Bag mampu menjual hingga 3.000 tas per bulan. Berdiri sejak 2008, Bagoes Bag telah menjual sekitar 650 ribu tas lipat.

Selain memproduksi tas dengan model sendiri, Bagoes Bag juga menerima pesanan dengan model pesanan konsumen (custom). 

Berdasarkan riset kami baik online maupun offline, masyarakat tahu kantong plastik itu bahaya. Tapi tidak semua setuju untuk membeli tas yang bisa dipakai berkali-kali sebagai pengganti plastik. Hanya 9,5 persen yang bersedia membeli. Tapi sebagian dari mereka pun punya cara sendiri mengganti kantong plastik," kata Ahmad.

Bagoes Bag pernah melakukan riset tentang penggunaan kantong plastik. Sebagian besar anak muda memakai plastik hanya satu kali pakai lalu dibuang. Namun banyak anak muda sadar akan bahaya sampah plastik dan setuju memakai tas yang bisa dipakai ulang.

Ukuran tas terkecil mampu menampung beban maksimal 3-5 kilogram (kg). Ukuran sedang berkapasitas sekitar 5 kg ke atas dan ukuran besar bisa diisi dengan beban 7 kg.

Tas tersebut dibuat dari berbagai bahan seperti polyester dan kanvas.  "Para pencetus Bagoes Bag ini melihat Indonesia sebagai negara penyumbang sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia setelah Cina.

Dari situ, kami berpikir bagaimana supaya bisa diet kantong plastik. Akhirnya muncullah tas lipat Bagoes Bag," ujar Marketing Manager Bagoes Bag, Nur Ahmad Hidayat di Grha Manggala Siliwangi Jalan Aceh, Bandung, pekan lalu.

Tak hanya konsepnya yang unik, Bagoes Bag pun menyimpan misi lingkungan, yakni mengurangi penggunaan kantong plastik. Setiap tas produksi Bagoes Bag bisa dipakai ulang hingga 1.000 kali. Jadi, jika tas terus dipakai sebagai pengganti kantong plastik, penggunanya dapat mengurangi sampah kantong plastik dan berkontribusi besar terhadap lingkungan.

Tas ukuran kecil yang disebut klasik mini, cocok digunakan sebagai pengganti kantong plastik saat berbelanja di swalayan. Tas sedang atau reguler bisa dipakai untuk membawa berbagai benda kecil hingga sedang. Sedangkan tas besar alias jumbo bisa diandalkan untuk membawa barang belanjaan berjumlah besar.

 SEKILAS, bentuk tas produksi Bagoes Bag seperti dompet mini. Ketika resletingnya dibuka, lipatan-lipatan berbahan polyester terurai dan membentuk sebuah tas. Desain tas pada dasarnya menyerupai kantong plastik. Kini, banyak model tas diproduksi seperti tote bag messager (tas sehari-hari) dan tas backpack. Dengan konsep unik tas lipat, Bagoes Bag bisa digunakan untuk banyak hal.


Indonesia targetkan kurangi 70 persen sampah plastik | spunbond bag


Begitu juga apabila penggunaan plastik dilarang total, Siti menyatakan bahwa secara psikologi sosial masyarakat terutama di pasar-pasar tradisional, kantong plastik masih digunakan.

"Jadi pemerintah harus menjadi simpul menegosiasikan pemikiran dan kami masih saat ini duduk bersama (diskusi)," katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa dalam sejumlah diskusi yang dilakukan bersama pihak-pihak terkait, penggunaan plastik yang dapat terurai atau "degradeable plastic" menjadi alternatif yang dapat dipertimbangkan. 

Para pelaku usaha, lanjut Siti, juga memerlukan waktu menyangkut pengemasan apabila pembatasan penggunaan plastik diimplementasikan namun di sisi lain mereka melihat masih adanya peluang lain dengan mengolah kembali sampah plastik.

Sementara itu terkait uji coba pengenaan tarif penggunaan plastik yang sempat diberlakukan di sejumlah pusat perbelanjaan dan toko modern, saat ini pihak terkait masih melakukan pembahasan terkait keberlanjutan uji coba itu.

Siti menjelaskan dari segi jumlah, memang plastik dapat dikurangi secara signifikan namun aspirasi dari pedagang, industri dan ritel di Indonesia juga perlu didengar.

"Pemerintah daerah sulit kerja kalau pemerintah pusat tidak ada konsistensi, tidak ada pedoman-pedoman," ucapnya.

Siti mengungkapkan komunitas-komunitas tidak akan mampu bekerja optimal dalam memerangi sampah plastik apabila pemerintah daerah tidak bersungguh-sungguh mewujudkan komitmen itu begitu juga apabila pemerintah pusat tidak konsisten.

Pihaknya mendorong sinergi pemerintah daerah dan pusat untuk berkomitmen mewujudkan target tersebut mengingat bahaya pencemaran lingkungan yang ditimbulkan dari sampah plastik itu.

Menurut Siti, selama setahun diperkirakan jumlah total sampah mencapai sekitar 65 juta ton sampah di Indonesia, dengan 14 persen atau sekitar sembilan juta ton di antaranya merupakan sampah plastik.

"Di dalam medium plan kami kurangi 70 persen sampah plastik," kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya ditemui saat kampanye memerangi sampah plastik di laut di Pantai Samuh, Nusa Dua, Kabupaten Badun, Bali, serangkaian "World Ocean Summit", Kamis.

 Pemerintah Indonesia menargetkan untuk mengurangi 70 persen dari sekitar sembilan juta ton total sampah plastik selama setahun sebagai bentuk kontribusi menjaga kelestarian lingkungan.


Begini Meriahnya Perayaan Komunitas Kampanye Peduli Sampah di Bali | spunbond bag



Walhasil, selama dua hari festival, lapangan lokasi festival tidak hanya bersih dari sampah tapi juga dari asap rokok, sesuatu yang langka dalam festival dengan jumlah pengunjung mencapai ribuan.

Sebagian aturan selama festival itu misalnya, larangan membuang sampah sembarangan, merokok hanya di tempat tertentu, dan tidak boleh bawa botol minuman yang tidak bisa didaur ulang. Ada relawan petugas kebersihan yang rajin membersihkan sampah sekaligus menegur pengunjung yang merokok di tempat sembarangan.

Sebagai festival untuk mengampanyekan lingkungan, Malu Dong Festival termasuk berhasil menerjemahkan kampanye itu dalam bentuk aksi. Tak hanya dalam karya-karya yang dipamerkan tapi juga sejumlah aturan yang mereka buat.

“Festival ini sebagai ajang peningkatan kesadaran terhadap sampah dengan inisiatif berbasis komunitas,” ujar Saylow, panggilan akrabnya.

I Putu Hendra Brawijaya, panitia Malu Dong Festival mengatakan, kegiatan yang pertama kali digelar itu memang mengajak beragam komunitas untuk berkolaborasi mengampanyekan isu sampah. “Agar kampanye tentang sampah bisa lebih diterima publik, kami mengemasnya lebih gaul,” ujarnya.

“Kami ikut Malu Dong Festival karena lewat musik, kampanye lingkungan seperti peduli sampah ini akan lebih mudah dicerna,” kata Nova, penabuh drum band Scare of Bums.

Beberapa band indie dari Bali Indie Movement, seperti MORT, PARAU, Trojan, dan Scare of Bums tampil bergantian. Navicula, band grunge dari Bali yang dikenal karena musik dan liriknya yang sarat pesan sosial lingkungan menutup festival pada malam kedua.

“Tidak cukup jika hanya memungut sampah karena industri rakus masih merajalela merusak Bumi, rumah kita,” begitu Komunitas Penahitam Bali menuliskan pesan di mural mereka.

Ada 40 komunitas dan 21 stand dari Bali yang mengikuti Malu Dong Festival. Komunitas Penahitam Bali misalnya termasuk bagian dari seniman jalanan (street artist) pun ikut serta. Mereka tidak hanya membuat mural di papan tripleks untuk mengampanyekan lingkungan tapi juga menyampaikan sikap penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa.

Selain pameran instalasi, Malu Dong Festival juga dipenuhi dengan kegiatan lain, seperti konser musik, lomba menggambar, hingga pameran produk-produk lingkungan. Dua di antaranya adalah Gadgad Organic yang membuat kaos dari bahan ramah lingkungan dan pewarna alami serta Art of Whatever yang membuat upcycle product dari kaos bekas.

Yoka Sara mengatakan tujuan instalasi itu memang sebagai shock therapy bagi warga. “Agar mereka yang merokok sadar bahwa beginilah akibatnya jika mereka membuang puntungnya sembarangan,” kata Yoka.

Instalasi itu berupa sampah puntung rokok dan sebagian bungkusnya di tengah ruangan agak tertutup dengan dinding cermin. Efeknya, sampah bungkus dan puntung rokok itu menjadi seperti lautan. Aroma menyengat tembakau pun langsung tercium ketika mendekati instalasi tersebut.

Seni instalasi lain untuk menunjukkan bahaya sampah dibuat oleh arsitek Anak Agung Yoka Sara bersama seniman layang-layang Wayan Duduk. Yoka Sara mengumpulkan aneka puntung dan bungkus rokok yang dia temukan selama enam bulan kegiatan rutin bersih-bersih sampah di Pantai Mertasari, Sanur.

Dalam mitologi Hindu Bali sendiri, penyu juga menjadi simbol penjelmaan Dewa Wisnu yang berubah menjadi Gunung Mandara dengan tempurung di punggungnya. Karena itu, menurut Hendra yang juga anggota STT Yowana Dharma, membuang sampah plastik sembarangan bisa berdampak pada penyu yang dihormati umat Hindu.

STT Yowana Dharma Banjar Buaji Anyar, Desa Kesiman, Denpasar misalnya membuat lampion berjudul Save Our Turtle. Sebagaimana keterangan di bawahnya, pembuatan lampion penyu raksasa itu terinspirasi dari temuan seekor penyu dengan sedotan plastik di hidungnya oleh ilmuwan di Kosta Rika. Saat sedotan itu ditarik, penyu tersebut mengeluarkan darah dari hidungnya. Sedotan plastik itu panjangnya sampai 20 cm.

Sampah styrofoam raksasa sendiri hanya salah satu bentuk seni instalasi selama Malu Dong Festival. Di bagian selatan lapangan tempat kumpul warga Denpasar itu juga terdapat karya-karya seni lain.

Ada sembilan lampion raksasa berbentuk monyet, bola dunia, atau kura-kura. Lampion-lampion karya anggota seka teruna teruni (STT) atau karang taruna desa adat itu dilombakan untuk mengampanyekan pesan tentang sampah.

Styrofoam raksasa tersebut salah satu instalasi dalam Malu Dong Festival di Denpasar pada akhir pekan lalu. Pelaksana festival selama dua hari itu Komunitas Malu Dong Buang Sampah Sembarangan atau yang lebih sering disingkat Komunitas Malu Dong.

Styrofoam putih itu sendiri pun sebenarnya sampah yang ditemukan di pantai yang kemudian dibawa ke lapangan di nol kilometer Denpasar itu. 

“Kami ingin mengajak warga agar mereka membersihkan sampah-sampah yang mereka temukan sekaligus menyampaikan pesan dan harapan mereka,” kata I Putu Hendra Arimbawa, Koordinator Program Malu Dong Festival.

Sampah-sampah itu kemudian mereka tancapkan di styrofoam setinggi kira-kira 2 meter. Di styrfoam berbentuk bulat dengan diameter sekitar 1 meter itu sudah tertancap aneka sampah lain: botol plastik, bungkus makanan, gelas mie instan, dan lain-lain.








Kamis, 28 September 2017

Kantong Plastik Tak Lagi Berbayar, Ini Alasannya

Pengusaha ritel memutuskan untuk kembali menggratiskan kantong plastik di seluruh ritel modern | souvenir tas

https://www.goodybag.id/



Bukan hanya itu, karena belum adanya payung hukum yang kuat membuat pelaku usaha yang menerapkan kantong plastik berbayar tersandung permasalahan hukum. Oleh karena itu, dia bilang, untuk menerapkan kantong plastik berbayar mesti menggunakan payung hukum yang kuat seperti Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

"Intervensi lainnya pasti sebagian sudah mendengar berita di Kota Palembang kami mendapat panggilan tiba-tiba mendadak dari pihak berwajib," tandas dia.

Ini menimbulkan polemik masing-masing daerah menerjemahkan sendiri-sendiri. Kita kan 514 kotamadya dan kabupaten dan 34 provinsi dengan semangat otonomi daerah. Ada bupati dan wali kota yang menerapkan Rp 1.500, ada Rp 5.000. Ada juga yang tidak mengizinkan kantong plastik di kota madya," ujar dia.

"Dalam surat edaran kedua itu ada beberapa poin tidak sesuai aspirasi, yaitu adanya pelimpahan wewenang kepada pemerintah daerah terhadap nilai, bukan terhadap bagaimana uang itu yang kita sebut barang dagangan," kata dia dalam konferensi pers di Epiwalk Kuningan Jakarta, Senin (3/10/2016).

Dia menerangkan, dengan pelimpahan tersebut, akibatnya sejumlah daerah memutuskan nilai kantong plastik.

Ketua Umum Aprindo Roy N Mandey menjelaskan, upaya pengurangan plastik melalui kantong plastik berbayar tidak berjalan dengan baik karena adanya pelimpahan wewenang ke pemerintah daerah. Hal tersebut tertuang di surat edaran kedua yang dikeluarkan pemerintah, yakni Surat Edaran Dirjen KLHK Nomor SE/8/PSLB3/PS/PLB.0/5/2016 tentang Pengurangan Sampah Plastik Melalui Penerapan Kantong Belanja Plastik Sekali Pakai Tidak Gratis.

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memutuskan untuk kembali menggratiskan kantong plastik di seluruh ritel modern per 1 Oktober 2016. Pasalnya, rencana pengurangan sampah plastik melalui kantong plastik berbayar terkendala oleh intervensi dari sejumlah pihak.


Pengusaha Tolak Kebijakan Kantong Berbayar Jadi Dana Pungutan | souvenir tas


Tutum juga menyatakan jika pemerintah ingin ada dana yang dikumpulkan sebagai dana pungutan lingkungan, maka hal ini harus dilakukan oleh pemerintah melalui instansi terkait.

"Kalau nunjuk-nunjuk orang buat pungut uang ya enak benar, saya juga mau. Ya pemerintah saja pungut duit itu, kami tidak mau," tandas dia. 

"Kami akan tolak, karena kami tahu nanti ujungnya bisnis ritel bagaimana kalau hal seperti ini diterapkan. Sehingga kami jangan disuruh pungut uang masyarakat yang kami collect. Ini kalau sudah jadi barang dagang, ya sudah ini clear,"‎ kata dia.

Pasalnya, dengan adanya kewajiban pungutan dana lingkungan melalui pemakaian kantong plastik di ritel, dikhawatirkan mengganggu bisnis ritel ke depannya.

Menurut Tutum, pengusaha ritel akan melakukan penolakan jika diminta pemerintah untuk menjadikan kebijakan ini sebagai dana pungutan.

"Kami tetap konsepnya ini dijadikan barang dagangan. Ini menjadi barang dagangan biasa. Selama uji coba kemarin itu jadi penjualan," ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Selasa (11/10/2016).

Wakil Ketua Aprindo Tutum Rahanta mengatakan, para pengusaha ritel ingin kantong plastik dijadikan barang dagangan sama seperti produk lainnya. Dengan demikian, penjualan dari kantong plastik tersebut menjadi pendapatan bagi ritel.

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menolak mekanisme pungutan dana dalam kebijakan kantong plastik berbayar yang akan kembali diterapkan. Adanya pungutan ini dinilai akan membebani para pengelola ritel.


Ini Sikap INAplas soal Program Plastik Berbayar | souvenir tas


Anggota INAplas telah menyediakan plastik bio degradable dan oxo degradable sebagai alternatif. INAplas meminta agar pemerintah mendorong pemakaian plastik degradable lebih luas sehingga isu pencemaran lingkungan dapat diatasi.

Dalam kehidupan sehari-hari manusia memerlukan material plastikc untuk menunjang kehidupannya, sehingga tidak wajar manusia bisa hidup tanpa plastik.

"INaplas menolak kampanye anti plastik atau bebas plastik yang muncul memanfaatkan isu limbah plastik, karena hal tersebut tidak logis dan tidak mungkin diwujudkan," katanya.

Untuk itu, INAplas mendorong pemerintah membuat rencana aksi mengubah sampah plastik menjadi energi listrik, bahan pengeras jalan dan bahan bakar minyak (BBM) yang telah terbukti sukses dilakukan oleh Singapura, India, Eropa dan Amerika.

"Namun kebijakan plastik berbayar bukan solusi yang tepat. Akar masalah pencemaran ingkungan adalah manajemen pengelolaan sampah yang tidak baik dan perilaku masyarakat yang abai terhadap lingkungan hidup," kata Fajar Budiono, Sekjen INAplas, Kamis (31/3/2016).

Setelah mencermati program kantong belanja plastik berbayar yang sedang diujicobakan sampai Juni 2016, Asosiasi Industri Olefin Aromatik & Plastik Indonesia (INAplas) mendukung usaha pemerintah mengurangi pencemaran lingkungan akibat sampah.









Senin, 25 September 2017

Kampanye Belanja Tanpa Kantung Plastik Untungkan Henna Bag, Produk Tas Ramah Lingkungan Ini

Kerajinan tas belanja berbahan ramah lingkungan | pabrik spunbond di indonesia


pabrik spunbond di indonesia


Dia pikir, daripada tas kanvas itu polos tanpa hiasan, mending dia poles dengan lukisan motif Henna. Cat tekstil jadi bahan utama dia membuat tas kanvas jadi semarak hiasan.

Berawal dari lukisan tangan, ia kemudian iseng melukisnya di tas kanvas.

"Awalnya dari keisengan saya, suka melukis-lukis motif Henna khas India di tangan saya sendiri. Terus, teman-teman banyak yang minta tangannya saya lukis. Mereka senang dengan estetikanya," tutur Lia Nurusshabah kepada Tribunnews.com.

Motif lukisan tasnya adalah model tatto ala wanita-wanita India yang terkenal dengan sebutan Henna yang akhirnya jadi brand tas belanja Henna tersebut.

Yang membuat tas ini laris-manis karena tidak hanya kuat dan bisa dipakai berulang-ulang untuk berbelanja, tapi juga karena desain lukisan di badan tas yang unik dan estetik.

Mengorbit lewat brand  Henna Bag (Tas Henna), Lia Nurusshabah memroduksi tas-tas belanja bikinan manual tangan (handmade) berbahan kain kanvas.

Kampanye yang dilancarkan pemerintah agar masyarakat berbelanja tanpa kantung plastik jadi momentum emas suksesnya usaha kerajinan tas belanja berbahan ramah lingkungan yang dijalani ibu dua anak tersebut.

Inilah yang kini sedang direguk seorang ibu rumah tangga bernama Lia Nurusshabah.

Seringkali sebuah cerita sukses bisnis berawal dari momentum dan hobi.

Lia bersyukur, keputusannya untuk mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai pengajar di sebuah sekolah internasional dan beralih profesi jadi creativepreneur ternyata tidak salah.

Sebuah keputusan yang pas karena kombinasi momentum dan hobi. 

Dan sambutan dari kalangan media juga datang. Sebuah stasiun TV swasta mengundangnya untuk menjadi narasumber sekaligus mentor untuk pelatihan pembuatan tas ramah lingkungan seperti itu dengan lokasi di Bogor pada Senin (11/7/2016).

Dan sebuah toko online mengontaknya untuk bekerjasama. Lia mendapat tawaran untuk memasarkan lewat e-commerce dengan alamat qlapa.com/beculture.

Program Diet Kantong Plastik Bakal Berlaku di Seluruh Kalsel | pabrik spunbond di indonesia



Di Kalsel, rencananya program ini dijalankan tidak cuma di Banjarmasin. Apalagi, semua kepala daerah sudah diberikan edaran dari kementerian LH agar mengikuti program diet kantong kresek ini.

Kepala BLHD Kalsel, Ikhlas mengatakan, untuk retail besar terutama skala nasional menerapkannya di seluruh Indonesia. Jadi meskipun daerah itu belum resmi ikut program, namun retail itu tetap memberlakukannya.

"Bapak bawa kantong belanjaan sendiri atau beli. Kalau beli Rp 200 per kantong plastik," kata kasir itu.

Meski begitu, rupanya retail besar sudah menerapkannya di seluruh Kalsel. Seperti BPost Online belanja di Landasanulin Banjarbaru, kasir salah satu retail memberitahu program diet kantong kresek itu.

Penerapan program kantong kresek berbayar secara resmi memang hanya dimulai di Banjarmasin. Banjarmasin masuk dari 23 daerah yang jadi pilot projek diet kantong kresek tersebut.

Ibnu Sina Sedih UKM 'Bakul Purun' Tidak Manfaatkan Larangan Kresek | pabrik spunbond di indonesia



Padahal, banyak hal yang bisa dikembangkan seperti bakul purun dan lainnya. "Ini bisa jadi pengembangan ekonomi kreatif kita," kata Ibnu.

"Seharusnya ini dimanfaatkan. Tapi saya lihat, peluang ini dibiarkan berlalu. Saya harap, segera dimanfaatkan," katanya.

Menurutnya, adanya aturan itu sebenarnya peluang bagi UKM untuk membuat tas belanjaan yang kreatif.

Keadaan ini juga disesalkan Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina, Selasa (6/9/2016) di Balaikota.

Sayangnya, adanya aturan ini belum dimanfaatkan dengan baik oleh UKM di Banjarmasin sebagai peluang.

Aturan ini berdasarkan Perwali Nomor 18 Tahun 2016.

Pembeli harus membawa kantong belanjaan sendiri dari rumah.

Per 1 Juni 2016 lalu, retail dan toko modern sudah tak boleh lagi menyediakan kantong plastik bagi pelanggannya.





Pengguna Kantong Plastik Diancam Hukuman Berat

Pemerintah Kenya telah memberlakukan hukum terberat di dunia untuk mengurangi polusi plastik | kantong spunbond

kantong spunbond


Menteri Wakhungu menanggapinya dengan mengatakan bahwa larangan tersebut merupakan kesempatan bagi dunia usaha untuk memproduksi tas daur ulang yang lebih ramah lingkungan.

Langkah yang bisa dilakukan itu bahkan akan menciptakan ribuan pekerjaan baru. Dalam beberapa hari ini jalanjalan di kota-kota terbesar di Kenya telah dipenuhi dengan orang-orang yang menjual tas semacam itu. 

Namun aturan itu memberlakukan pengecualian dengan memperbolehkan plastik yang digunakan untuk mengemas barang dalam proses pembuatan, dan untuk kantong sampah.

Sementara itu aturan baru itu menghadapi perlawanan dari industri plastik setelah Asosiasi Manufaktur Kenya gagal dalam upaya hukum pada menit-menit terakhir untuk menarik dan menunda larangan tersebut. Mereka mengatakan undang-undang baru tersebut akan menempatkan risiko terhadap puluhan ribu orang kehilangan pekerjaan dan mengancam investasi.

Sekitar 40 negara termasuk Tiongkok, Rwanda dan Prancis telah memberlakukan larangan atau pajak atas kantong plastik karena maraknya laporan hewan yang tersedak plastik.

“Jika ini berhasil, ini akan menjadi terobosan besar untuk mengurangi polutan plastik, yang menyebabkan kerusakan besar pada planet ini,” kata Kepala Badan Lingkungan PBB, yang berbasis di Nairobi, Erik Solheim.

National Environment Management Agency (NEMA) atau Badan Pengelolaan Lingkungan Nasional mengirim pesan teks kepada jutaan orang Kenya kemarin untuk mengingatkan mereka tentang larangan tersebut.

Para petugas NEMA punya wewenang untuk memeriksa orang yang membawa tas plastik. Sementara untuk wisatawan yang belanja pada toko bebas pajak akan diminta untuk meninggalkan kantong plastik mereka di bandara.
Masyarakat masih memiliki masa tenggang. Kami tahu masyarakat membutuhkan waktu untuk mengubah kebiasaan mereka dengan adanya aturan ini,” ucap dia.

Para menteri membenarkan langkah tersebut dengan perkiraan bahwa setiap warganya telah menggunakan sebanyak 300 meter kantong plastik setiap tahun yang dibuang dan merusak lingkungan karena membutuhkan waktu berabad- abad untuk terurai dalam tanah.

 Pemerintah Kenya telah memberlakukan hukum terberat di dunia untuk mengurangi polusi plastik, yakni empat tahun penjara dan denda hingga 4 juta shilling Kenya atau sebesar 838.750 dolar AS. Ancaman tersebut ditujukan baik terhadap penjual atau pengguna kantong plastik.

Larangan berlaku untuk penggunaan, pembuatan dan impor kantong plastik di negara yang terletak Afrika timur itu yang merupakan kawasan “ekonomi dominan”. Menteri Lingkungan Hidup Kenya, Judy Wakhungu, mengatakan target awal dari pemberlaluan larangan itu ditujukan untuk pihak manufaktur dan pemasok kantong plastik.

Queensland Larang Penggunaan Kantong Plastik Mulai 2018 | kantong spunbond



Negara bagian Australia Selatan, Kawasan Utara (Northern Territory) ACT dan Tasmania sudah menerapkan pelarangan penggunaan kantong plastik. Dokumen rinci mengenai rencana pelarangan penggunaan kantong plastik dari pemerintahan pimpinan Menteri Utama Annastacia Palaszczuk di Queensland akan dikeluarkan Jumat.

Sebelumnya, partai LNP yang menjadi oposisi mengumumkan akan mengurangi penggunaan kantong plastik bila mereka menang di pemilu mendatang.

Namun Miles mengatakan Queensland akan tetap menerapkan aturan tersebut, meskipun tidak akan mencapai persetujuan dengan negara bagian tetangga di sepanjang garis pantai timur Australia ini. Miles mengatakan inisiatif sukarela yang diambil oleh supermarket di seluruh Australia beberapa tahun terakhir sudah berhasil mengurangi penggunaan kantong plastik.

"Dalam masa tiga tahun tindakan sukarela ini, jumlah kantong plastik ringan yang digunakan turun 44 persen. Sayangnya, setelah tindakan sukarela ini berhenti, penggunaan kantong plastik meningkat lagi," katanya.

Menteri Lingkungan Queensland Steven Miles mengatakan dia akan kembali mendesak para rekan sejawatnya dari kedua negara bagian tersebut dalam pembicaraan, Jumat (25/11).

"Inilah cara terbaik yang bisa kita lakukan. Yang tidak kita inginkan adalah mereka yang tinggal di selatan Gold Coast melakukan perjalanan melintas batas ke New South Wales ketika mereka lupa membawa kantong belanja. Akan lebih baik bila kita bisa mencapai solusi yang berguna bagi masalah-masalah di perbatasan seperti ini," kata Miles.

Pemerintah negara bagian Queensland, Australia akan melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai mulai 2018 dan mengatakan tidak akan menunggu dari negara bagian lain untuk melakukan hal yang sama.

Partai Buruh yang sekarang berkuasa di negara bagian tersebut sudah mempertimbangkan laranngan ini selama lebih dari satu tahun, dan dalam beberapa bulan terakhir mendesak negara bagian lain seperti New South Wales dan Victoria untuk melakukan hal yang sama.

Jika ketahuan pakai kantong plastik, warga Kenya bakal dipenjara empat tahun | kantong spunbond



Penelitian di Eropa menunjukkan tas kertas harus dipakai setidaknya sebanyak tiga kali untuk mengompensasi jejak karbon dalam pembuatan dan distribusi. Adapun tas kain sebaiknya digunakan sedikitnya 131 kali.

Guna mengurangi limbah kantong plastik, khalayak disarankan tidak lagi memakai tas kresek.

Menurut peneliti dari Universitas Georgia Dr. Jenna Jambeck - yang dimuat dalam Jurnal Science edisi 12 Februari 2015 - Indonesia membuang limbah plastik sebanyak 3,2 juta ton, dan berada di urutan kedua sebagai negara penyumbang sampah plastik ke laut setelah Cina.

Bagaimanapun, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya, mengaku tidak bisa menjadikan upaya itu sebagai peraturan yang mengikat, karena masih adanya penentangan.

Adapun di Indonesia, uji coba terbatas dan pemberlakuan plastik berbayar tahap pertama pernah berlangsung mulai 21 Februari hingga 31 Mei 2016. Sejak diterapkan, pembayaran tas plastik sebesar Rp200 oleh konsumen dilaporkan mendorong turunnya penggunaan tas plastik sekitar 30% hingga 50%.

Di Eropa, Italia menjadi negara pertama yang mengharamkan pemakaian tas kresek non-daur ulang.

Larangan kantong plastik bukan hal baru di Benua Afrika. Langkah itu telah diberlakukan oleh Afrika Selatan, Rwanda, dan Eritrea.







Rabu, 20 September 2017

Warga Sidoarjo ubah gelas plastik bekas jadi tas

Kemasan gelas plastik bekas menjadi kerajinan tas | jual tas spunbond eceran


https://www.goodybag.id/


Hal senada juga disampaikan oleh Atik Atul Aidiyah salah seorang warga yang lain yang mengaku kalau pembuatan kerajinan tersebut dilakukan sambil mengisi waktu luang.

"Kami ini rata-rata sebagai ibu rumah tangga. Jadi kami harus berpikir kreatif untuk membantu penghasilan suami dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari," katanya.

Ia berharap, kerajinan yang berhasil dibuat ini mendapatkan perhatian serius dan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk dapat dikembangkan lebih luas lagi.

"Harapan kami supaya mendapatkan pendampingan dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo supaya usaha yang kami lakukan ini bisa berkembang dengan baik dan juga dikenal oleh masyarakat luas," katanya berharap.

Ia mengatakan, untuk satu tas dari gelas bekas tersebut dijual dengan harga antara Rp35 ribu sampai dengan Rp50 ribu.

"Tas yang kami hasilkan tersebut cukup kuat karena dirajut dengan menggunakan tali nilon dan juga tampar, sehingga mampu menahan beban sampai dengan lima kilogram," katanya.

"Awalnya saya diberitahu oleh anak saya yang ada di Jember, Jawa Timur, kalau gelas plastik bekas kemasan air mineral tersebut bisa digunakan sebagai kerajinan layak jual seperti tas," katanya.

Sejak saat itu, kata dia, setiap kali melihat ada gelas plastik bekas kemasan air minum dirinya langsung memungut untuk dirangkai dan dijadikan tas.

"Ya seperti pemulung, karena melihat hasilnya yang cukup lumayan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," katanya.

Warga Perumahan Candiloka, Candi, Sidoarjo, Jawa Timur, mengubah kemasan gelas plastik bekas menjadi kerajinan tas yang memiliki nilai jual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Senima salah seorang perajin di gelas bekas, Selasa, mengatakan produksi kerajinan ini sudah dilakukannya sejak enam bulan terakhir.


Murid MI Amir Al Jannah Tipulue Bone Buat Kerajinan Tangan dari Sampah Plastik | jual tas spunbond eceran



"Kegiatan ini bahan penilaian ujian praktek seni budaya dan keterampilan bagi murid kelas VI dana akan berlangsung selama enam hari," kata Guru MI Amir Al Jannah, Ikha, kepada tribunbone.com, Jumat (29/4/2016).

Sampah yang didaur ulang murid sekolah ini, gelas plastik bekas dijadikan berbagai kerajinan tangan.

Murid kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Amir Al Jannah Tipulue, Bone, melaksanakan ujian praktek daur ulang sampah menjadi tempat air.


Tas Cantik Dari Kreasi Daur Ulang Sampah Plastik | jual tas spunbond eceran



Dengan nama produk Jasmin Recycled Product, Lis tak hanya mengembangkan tas cantik saja, juga pembuatan sandal, boks mainan, tempat CD hingga dompet. Harga pun terjangkau dari yang puluhan ribu hingga ratusan ribu, tergantung dari bahan dan model kreasi daur ulang sampah plastik ini. “Kami berharap, ke depannya kreasi tas daur ulang ini dilirik masyarakat luas. Agar bisa turut mengkampanyekan meminimalkan penggunaan kantong plastik dalam semua kegiatan sehari-hari,” pungkas istri dari AA. Gde Bagus Eka Putra ini di sela-sela aktivitasnya mengikuti peringatan Hari Bumi beberapa waktu lalu.

Pembuatannya pun tak memakan waktu lama, setelah model tas yang diinginkan sudah dirancang dan juga bahan baku plastik sudah dipilih. Maka pengerjaan berikutnya adalah pemotongan, penambahan foring atau kertas keras baru dijahit. Dalam satu hari, satu tenaga kerja pembuat tas mampu menghasilkan dua hingga tiga tas. Jika mendapatkan orderan, maka jumlah tenaga kerja ditambah, hal ini, sebut Lis juga dijadikan lahan usaha bagi masyarakat di sekitar Ubud.

Merambah pada kegiatan Pesta Kesenian Bali yang rutin diselenggarakan di Taman Budaya Denpasar dan juga berbagai ajang pameran produk. Kini, inovasi desain model tas dan ragam bahan baku dari sampah plastik yang diliriknya dari internet, pesanan dari teman hingga wisatawan mancanegara semakin menambah cantik ragam kreasi tas daur ulangnya.

Tak hanya dijual di mini market, namun untuk menyebarkan informasi dan memperluas kepedulian masyarakat pada kegiatan daur ulang, Lis juga mulai mengikuti pameran-pameran. KegiatanEarth Day yang dilakukan bertepatan dengan Hari Bumi di Ubud tahun lalu, menjadi debut utama Lis dalam menyebarkan informasi usahanya.

Aksinya membebaskan penggunaan plastik diawali Lis dari mini market milik sang ayah. Ditampungnya sampah plastic, pun bantuan dari saudara dan teman yang dikoordinasi untuk mengumpulkan sampah plastik daripada membuangnya. Dan kegiatannya disambut baik, terbukti hingga kini Lis mampu memproduksi tas cantik daur ulang ini.

“Mulanya saya membuat tas dari kain blacu yang bertujuan menghindarkan pemakaian tas plastik yang kurang disukai bule. Sudah lebih dari empat tahun tas blacu masih bertahan hingga sekarang. Dan melihat banyaknya sampah plastik berbagai pembungkus yang berserakan di mana-mana membuat saya ingin menciptakan barang dengan sampah plastik itu. Saya ingin membatasi peredaran plastik khususnya di Ubud,” beber Lis, wanita asli Ubud yang ingin berkontribusi bagi daerah asalnya ini.

Kegiatan usaha yang telah berjalan lebih dari satu tahun ini memang belum mendapatkan banyak perhatian dari khalayak di Bali khususnya Denpasar. Meskipun tas cantik dari daur ulang plastik ini sudah dipasarkan di mini market bahkan sudah merambah hingga Belanda dan Amerika.

Berawal dari pembuatan tas kreasi ber bahan baku kampil atau pembungkuas beras kiloan, Lis memulai usaha pembuatan tas ini. Memilih menggunakan kampil, sebut ibu dua putra ini adalah karena di Bali banyak penggunaan kampil yang bercorak Bali dengan perpaduan warna yang manis dan juga kuat kualitasnya jika digunakan sebagai tas. Selain dari kampil beras, kreasi tas cantik daur ulang juga berlaku untuk kotak susu bekas dan semua plastik pembungkus barang seperti makanan ringan, sabun cuci, permen hingga minuman.

Dari segi tampilan, tak kalah menarik dengan tas cantik kebanyakan, pun dengan model tas yang dikreasikan apik agar pemakai tas menjadi cantik. Menurut Lis, sapaan akrab Ni Made Lis Yuliathi, ketertarikannya dengan mendaur ulang sampah plastik yang banyak ditemuinya di setiap sudut adalah alasan mengapa tas daur ulang dari plastik menjadi pilihannya dalam berdagang.

Seperti pembuatan tas cantik yang dibidik untuk para wanita suka berganti-ganti fashion mengikuti perkembangan mode agar tak ketinggalan. Pasar boleh saja menawarkan inovasi tas cantik dengan berbagai merek dan mode terkenal, namun kreasi tas cantik berbahan dasar plastik daur ulang patut diperhitungkan untuk digunakan sehari-hari.

BERBAGAI macam inovasi dilakukan untuk menaikkan harga jual dari suatu barang sehingga diminati banyak orang. Salah satunya adalah menciptakan produk dengan tampilan khusus, misalnya memperbarui model produk, kemasan hingga bahan pembuatan produk tersebut.