Tampilkan postingan dengan label spunbond bags. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label spunbond bags. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Desember 2017

Go Green Kampanye Tas Kain, Prihatinkan Peredaran Plastik di Pasar

Permintaan kantong plastik dengan membawa tas kain | spunbond bags

spunbond bags


Mendengar itu, Ny Sri Purwanti meminta pedagang ingatkan konsumen untuk bawa tas sendiri. 

Sejumlah pedagang mengakui sulit jika konsumen datang tanpa bawa tas belanja, harus diberi tas plastik. “Jika tidak diberi tas plastik, saya dikira pelit dan susah membawa belanjaan,” ujar Satinem pedagang Pasar Dolopo.

“Sekali lagi, nilai negatif kantong plastik untuk lingkungan banyak. Maka, saya kembali meminta dan mengajak pakai konsumen saat belanja bawa tas kain. Ingat belanja harus.bawa tas kain,”  ujarnya lagi.

Ia mengungkapkan melalui gerakan ini, para pedagang dan konsumen bisa mengurangi pemakaian tas plastik dengan mengganti tas kain.

“Kami bukan sekadar kampanye pentingnya mengurangi pemakaian tas plastik, tapi juga memberikan tas kain. Semoga bisa dicontoh,” tandas Ny Sri Purwanti.

Menurutnya TP-PKK bersama dinas terkait serta lainnya, telah melakukan kampanye bersama sejumlah pihak peduli soal lingkungan hidup dan lainnya, menyambangi sejumlah pasar di Mejayan dan Dolopo.

“Saya harus akui memang masih susah menekan pemakaian tas plastik, meski begitu perlu terus didengungkan baik kepada pedagang dan konsumen. Berbagai penelitian ilmiah, jika plastik dibuang begitu saja di tanah, harus mencapai ratusan tahun untuk bisa diurai. Hal itu sama seperti pencemaran lingkungan,” ujar Ny Sri Purwanti, Ahad (3/12).

Sebaliknya, konsumen diminta ikut membantu dalam menekan permintaan kantong plastik dengan membawa tas kain.

 Ketua Tim Penggerak-PKK Kabupaten Madiun Ny Sri Purwanti Muhtarom merasa prihatin masih beredarnya plastik sebagai tempat barang diberikan pedagang kepada konsumen.


Pemkab Madiun dan PKK Ajak Ibu-Ibu Gunakan Tas Kain untuk Berbelanja | spunbond bags



Purwanti juga mengajak warga untuk mengolah sampah rumah tangga dengan baik. Yakni dengan memilah sampah organik dengan nonorganik serta mengaktifkan bank sampah. Sehingga dapat memudahkan proses daur ulang yang dilakukan petugas di tempat pembuangan akhir.

Dia mengajak masyarakat Kabupaten Madiun, terlebih para ibu rumah tangga anggota PKK untuk bijak beralih menggunakan tas kain saat berbelanja ke pasar. Tas kain tersebut dapat digunakan untuk berbelanja kembali di lain waktu.

“Sisi lain, kantong atau tas plastik juga mengganggu terserapnya air dalam tanah serta mengakibatkan banjir jika terbuang di sungai,” tambah Purwanti.

Selain itu, bahan plastik yang tak mudah terurai tersebut merupakan racun. Partikel plastik yang ada di tanah bisa membunuh hewan pengurai seperti cacing.

Seperti diketahui, penggunaan tas plastik berdampak pada pencemaran lingkungan. Sebab butuh ratusan tahun bahan tersebut dapat terurai dengan tanah.

Dalam kegiatan tersebut, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Madiun didampingi oleh para anggota PKK, Kadin Lingkungan Hidup, Kepala Pasar Mejayan, Kepala Pasar Dolopo, perwakilan dari Saka Kalpataru Kwarcap Kabupaten Madiun, juara Putra/Putri Lingkungan tingkat SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA tahun 2017, serta perwakilan guru dan siswa dari Sekolah Adiwiyata tingkat nasional, tingkat propvnsi, dan tingkat Kabupaten Madiun.

Pihaknya membagikan sekitar 600 tas kain kepada para pembeli dan penjual di Pasar Dolopo. Dia berharap ke depan para pembeli dan penjual bisa mengurangi penggunaan tas plastik atau kresek dan mengganti dengan tas kain.

“Saat ini penggunaan tas plastik sudah sangat mengkhawatirkan. Hal itu membuat sampah plastik yang dihasilkan manusia semakin melimpah dan mencemari lingkungan. Ini tentu membuat keprihatinan kita hingga melakukan sosialisasi penggunaan tas kain,” ujar Purwanti kepada wartawan saat melakukan sosialisasi tas kain di Pasar Dolopo, Jumat.

Sosialisasi dipimpin langsung oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Madiun Purwanti di dua pasar besar yang ada di Kabupaten Madiun, yakni Pasar Besar Mejayan pada Kamis (23/11/2017) dan Pasar Dolopo pada Jumat (24/11/2017).

Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Madiun bekerja sama dengan tim penggerak PKK setempat melakukan sosialisasi penggunaan tas kain guna mengganti pemakaian tas plastik yang berdampak pada pencemaran lingkungan.'

Kampanye tolak kantong plastik bawa 2 remaja Bali mendunia | spunbond bags



Sudah ada 25 sampai 30 anak muda dari seluruh Bali dan dunia berpartisipasi dalam inisiatif BBPB. India dan dua belas negara lainnya menunjukkan ketertarikannya untuk meluncurkan kampanye serupa di negara mereka masing-masing.

"Jangan dengarkan ketika seseorang mengatakan bahwa Anda terlalu muda atau Anda tidak akan paham," ujar Isabel ke para aktivis ambisius lainnya dalam acara TED. "Kami tidak mengatakan itu akan mudah, tapi hasilnya terbayar."

Sebuah diskusi TED di London, Inggris, menjadi salah satu yang membawa perhatian internasional pada keduanya.

"Di Bali kami memproduksi 680 meter kubik sampah plastik setiap hari. Itu sebanyak bangunan berlantai 14," ujar mereka dalam acara yang diselenggarakan awal tahun lalu.

Meski begitu, Melati dan Isabel berhasil meyakinkan 800 lebih keluarga di Desa Pererenan, di bagian selatan Bali, untuk mengganti kantong plastik dengan tas kertas atau kain. Mereka juga memberikan kepada setiap keluarga satu set tas yang dapat digunakan ulang untuk beragam aktivitas.

Sejak saat itu, Melati dan Isabel mulai mendapat perhatian dan apresiasi atas usaha mereka. Keduanya telah berbicara di beragam kesempatan untuk menjelaskan program mereka.

Untuk mengatasi polusi sampah plastik, saudara perempuan Melati dan Isabel meluncurkan sebuah proyek percontohan di desa kecil di Bali.

Kesadaran akan lingkungan dan keberlanjutannya kurang diperhatikan banyak orang Bali. Demikian pula, hanya sedikit yang tahu tentang efek plastik yang merugikan lingkungan. Warga juga memiliki masalah lain yaitu saat ekonomi Indonesia tumbuh, upah masih tergolong rendah.

Mereka lalu melakukan mogok makan pada tahun 2014, yang akhirnya membuahkan hasil sukses. Pada tahun 2015, Gubernur Made Mangku Pastika menandatangani sebuah kesepakatan untuk melarang kantong plastik dari Pulau Bali secara sepenuhnya mulai dari tahun 2018 dan seterusnya.

"Dia setuju untuk menandatanginya," kata Melati seperti dilansir dari The Sydney Morning Herald (6/9/16). "Dia bahkan berkomitmen menjadi anggota tim BBPB (Bye Bye Plastic Bag)."

Seperti dilansir dari CNN (16/8), Indonesia telah menetapkan tujuan untuk mengurangi pencemaran laut dengan plastik hingga 70 persen pada tahun 2025. Langkah ini adalah bagian dari program Clean Seas yang dimotori Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Tidak mudah bagi duo remaja ini untuk bisa melibatkan hukum dan otoritas pemerintah dalam menjalankan misi mereka. Meski telah mendapatkan 100 ribu tanda tangan atas petisi larangan penggunaan kantong plastik, nyatanya suara mereka belum juga didengar pemerintah setempat.

Indonesia merupakan penghasil limbah plastik terbesar kedua di dunia, tepat di belakang Tiongkok. Sampah plastik Indonesia menyumbang sepuluh persen dari total polusi plastik di laut. Selama musim hujan, semua sampah ini terdampar ke pantai-pantai Bali--itulah sebabnya musim hujan disebut juga "musim sampah".

Pada tahun 2013 Melati dan Isabel memulai sebuah inisiatif melawan sampah plastik. Gagasan untuk Bye Bye Plastic Bags (BBPB) datang kepada duo dari Bali tersebut saat mereka mempelajari sosok-sosok luar biasa seperti Nelson Mandela, Lady Diana, dan Mahatma Ghandi di sekolah.

Tindakan pertama mereka hadir dalam bentuk sebuah petisi melawan sampah plastik, yang berhasil ditandatangani 6.000 orang di seluruh dunia. Usaha tersebut berhasil membuat pemerintah Bali menerapkan larangan kantong plastik--yang juga mendapatkan Bambi untuk kategori "Our World".

Bambi adalah media penghargaan tertua di Jerman yang diadakan pertama kali pada 1948. Penghargaan ini dinamakan berdasarkan buku karangan Felix Salten, Bambi, A Life in the Woods

Ia dianugerahkan setiap tahun oleh Hubert Burda Media untuk memperkenalkan tokoh-tokoh inspiratif dengan visi dan kreativitas yang memengaruhi dan mengilhami publik Jerman pada bidang media, seni, budaya, olah raga, dan bidang lainnya, baik domestik maupun internasional asing di luar Jerman.

"Ini luar biasa bagaimana perjuangan lima tahun kami sangat sepadan. Bagaimana kesenangan, petualangan, pengalaman yang telah kami lalui pada umur yang muda dan di garis depan menghadapi isu terbesar, yaitu polusi plastik," ucap Melati di panggung Bambi seperti dikutip dari DW (21/11).

"Penghargaan ini untuk generasi kita, generasi yang membantu menyelamatkan Bumi."

Selamat Tinggal Kantong Plastik atau dalam bahasa inggrisnya "Bye Bye Plastic Bags" merupakan nama yang dipilih dua pelajar Indonesia dalam kampanye lingkungannya yang mendapat apresiasi di Jerman.

Kakak beradik Melati dan Isabel Wijsen, masing-masing berusia 16 dan 14 tahun, berhasil meraih penghargaan Bambi yang diberikan di Berlin pada 16 November 2017.






Selasa, 03 Oktober 2017

Kebijakan Plastik Berbayar di Berhentikan, dan Solusi yang Tepat

Plastik Ramah lingkungan | spunbond bags


spunbond bags


Andai saja plastik ramah lingkungan ini  lebih masif lagi digunakan di ritel modern, juga diterapkan di pasar tradisional, kami yakin tumpukkan sampah kantong plastik yang selama ini bermasalah, dapat dikurangi.

Namun, tentu saja, teknologi bukan solusi satu-satunya, perlu adanya Aspek Hukum, Aspek Budaya, dan Aspek Pembiayaan yang juga harus diperhatikan.

Di Indonesia sendiri Plastik Ramah lingkungan sudah banyak beredar, mulai dari plastik jenis Bio-Oxodegradable seperti merk dagang OXIUM, ataupun kantong plastik jenis Biobase seperti merk dagang Ecoplas.

Sebenarnya jawaban untuk masalah sampah plastik sudah ada yaitu dengan menggunakan kantong Plastik yang mudah terurai di alam, plastik ramah lingkungan seperti yang sudah sering tim Plastiku Hijau kampanyekan.

Perlu diingatkan kebijakan kantong plastik ini bertujuan menjaga lingkungan agar dapat mengurangi sampah plastik.

Penghentian program ini, disebut bersifat sementara hingga diterbitkannya Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang berkekuatan hukum tetap.

Semenjak 1 Oktober 2016, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) resmi menghentikan program kantong plastik berbayar tahap kedua yang telah diberlakukan toko ritel modern di seluruh Indonesia semenjak 1 Juli 2016.

Legislator Sebut Plastik Berbayar Tidak Solusi | spunbond bags



Sebagaimana yang dimaklumi, munculnya program kantong plastik brbayar dengan maksud mengurangi pemakaian kantong plastik. Mengingat keberadaan sampah kantong plastik sudah menghawatirkan.  Ditambah limbah atau sampah plastik sulit terurai yang membuat pencemaran lingkungan. 

"Dengan beginikan bisa juga menghidupkan Usaha Kerajinan Masyarakat.  Ini akan mendorong perekonomian masyarakat juga dengan membuka susaha kerajinan keranjang" , tambahnya. 

Dikatakannya juga, ini akan dikembalikan pada cara orang lama-lama dulu berbelanja.  Setiap orang yang mau ke pasar bawa keranjang belanjaan sendiri ke pasar.  Setelah belanja, keranjang disimpan lagi untuk digunakan belanja beikutnya. 

"Ini tidak solusi, orang lebih mau  dipotong dua ratus rupiah belanjaannya ketimbang harus membawa barang beliannya tanpa kantong.  Kalau memang dilarang, sebaiknya ditiadakan saja kantong plastik dan cari solusi pengganti dengan kantong yang ramah lingkungan.   Kalau program ini malah menambah beban biaya masyarakat", sebutnya.

Legislator Riau dari Partai Gerindra, Marwan Johanis menyebutkan, kalau program plastik berbayar  bukanlah solusi dalam mengatasi persoalan sampah plastik yang ada.  Mengingat dengan berbayar, masyarakat masih memilih untuk memakai plastik ketimbang harus menggandeng produk yang dibeli.

Solusi Sampah Plastik Dunia | spunbond bags



Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) juga mengungkapkan sebanyak 10% plastik yang diproduksi setiap tahun di seluruh dunia terbuang ke laut, 70% di antaranya tenggelam dan tidak terurai. Algita Marine Research Foundation kemudian menyatakan jutaan hewan laut tewas per tahun akibat memakan dan ter pe rangkap sampah plastik. Kevin berharap tanah dan laut di Indonesia dapat terbebas dari sampah plastik. Setidaknya tidak menumpuk karena keasrian dan keaslian alam Indonesia akan rusak. 

Dengan sampah, citra Tanah Air sebagai tempat wisata internasional akan merosot. Indonesia akan mengalami kerugian moril dan materiil yang besar. Dari tekad itulah Kevin melangkah. 

Mereka melakukan pengenalan melalui media sosial, website, atau persentase langsung. Pada awal 2016 kapasitas produksi Avani Eco hanyalah 0,2 ton per hari, tapi kini kapasitas produksinya mencapai 4 ton per hari. Sebanyak 80% hasil produksinya diekspor. Berdasarkan riset Greeneration, per kepala orang Indonesia dapat menggunakan rata-rata 700 kantong plastik per tahun. Artinya, pohon yang ditebang dan minyak yang digunakan juga besar. Secara tidak disadari, sampah plastik yang terbuang memerlukan waktu sekitar 100-500 tahun untuk bisa terurai secara sempurna. 

Sebut saja Garuda Indonesia, Dufry, Safe Care, Karcher, dan ratusan perusahaan lainnya. Avani Eco juga mendapatkan sambutan hangat dari negara-negara Barat dan Afrika. Perusahaan itu telah menandatangani nota kesepahaman dengan Amerika Serikat (AS), Rwanda, Ghana, dan Kenya. “Harga kantong ini Rp700. Di Indonesia, jumlah klien kami sekitar 100- 200 klien, campur antara lokal dan multinasional,” kata Kevin. Dia menambahkan, “Saya akui penerimaan kantong ramah lingkungan di kawasan domestik masih kurang. Jujur, ide ini jauh lebih dihargai di luar negeri. Ini adalah karya anak bangsa yang diabaikan.” Avani Eco kini ingin memperluas pemasaran ke hotel dan kafe. 

Meski brilian, produk-produk Avani Eco masih harus bersaing ketat dengan kantong plastik yang saat ini beredar luas di pasaran. Beberapa kendala yang dialami produk Avani itu adalah pertama, harga jualnya lebih mahal Rp200-Rp300 dibandingkan harga kantong plastik. Kedua, perusahaan prolingkungan belum mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah. Maklum, ketergantungan masyarakat terhadap plastik sudahsangattinggi. Mindset berbagaipihak juga dinilai lebih berorientasi profit. Sejauh ini, ada beberapa klien yang sudah memanfaatkan produk Avani Eco. 

Dalam pencarian bahan baku, Kevin juga tidak mengalami hambatan berarti karena Indonesia sangat subur. Jumlah produksi singkong di Indonesia mencapai 23 ton per tahun dengan kebutuhan hanya 18 ton. “Artinya, ada beberapa ton yang bisa kita ambil untuk bahan baku pembuatan kantong ramah lingkungan,” kata Kevin. Meski demikian, Kevin tidak mengambil singkongnya secara utuh, melainkan hanya tepungnya. “Jadi, kalau kata rekan saya, saya sebenarnya hanyalah seorang pemulung sampah,” lanjut Kevin sambil tertawa. 

Kevin tak menampik, kantong ramah lingkungan yang disuntikkan zat metal ber-ion itu dapat degrade 100% karena mengalami oksidasi saat menyentuh tanah. “Plastik itu akan hancur tapi menjadi polusi mikro plastik dan akan termakan oleh hewan, baik darat maupun laut. Ujung-ujungnya, manusia juga yang dirugikan,” imbuhnya. Kevin mengaku profit bukanlah hal utama yang dicarinya dalam pengembangan kantong ramah lingkungan tersebut. Sebab, menurut dia, penyelamatan lingkungan dalam jangka panjang jauh lebih penting. 

“Dokter juga sering berkata mencegah lebih baik daripada mengobati. Ketika sudah sakit, konsekuensinya besar. Hal yang sama juga berlaku bagi kantong. Kita harus lebih peduli terhadap lingkungan dengan meminimalkan penggunaan kantong plastik,” sambungnya. Kantong ramah lingkungan yang digagas Kevin memang bukan langkah baru. 

Di dunia, perusahaan-perusahaan Eropa sudah lebih awal mengubah pati jagung dan serat bunga matahari menjadi kantong sejak tahun 1990-an. Di Indonesia, beberapa orang juga sudah pernah memiliki konsep pembuatan kantong ramah lingkungan yang inovatif. Saat ini, menurut Kevin, ada empat perusahaan pembuat kantong ramah lingkungan, termasuk Avani Eco.

“Dua perusahaan kantong itu mencampur bahan nabati dan plastik, sedangkan satu perusahaan lagi menyuntikkan zat metal ke dalam produknya. Saya sedih karena produk ramah lingkungan di Tanah Air mislead ,” katanya. 

Kevin mulai merintis Avani Eco pada 2013. Saat itu, dia mengimplementasikan hasil penelitiannya dan mencoba menjualnya ke rekannya yang memiliki perusahaan besar. Dari situ, dia mendapatkan banyak pelajaran dan masukan. “Saya benar-benar memproduksi kantong ramah lingkungan ini pada 2014,” tandas Kevin. Sama seperti Kevin, pemerintah Indonesia juga sudah lama berusaha meminimalisasi dampak sampah plastik denganmenerapkanprogram3R: reduce, reuse, dan recycle.

Meski demikian, bagi Kevin, langkah itu masih kurang efektif karena program itu memerlukan modal yang besar, baik modal tekad, kesadaran, biaya, waktu, maupun energi. “Ada satu R lagi yang perlu ditambahkan, replace ,” kata Kevin.

“Kami menerima sertifikat dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bahwa kantong ini tidak beracun. Kantong ini tidak hanya ramah lingkungan di atas tanah, tapi juga di dalam laut,” kata Kevin.

 Dia menekankan, kantong ini juga satu-satunya di dunia yang bersertifikat dan aman jika termakan. Kevin yang mendirikan perusahaan Avani Eco itu mengatakan kantong tersebut juga dapat dimodifikasi sesuai keperluan, dapat ditulisi, digambari, atau diwarnai. 

Selain kantong, Avani juga memproduksi jas hujan, cangkir kopi, sedotan, dan wadah makanan. Semua bahannya 100% nabati tanpa dicampur bahan kimia berbahaya. 

Permasalahan itu, bagi Kevin Kumala, merupakan tantangan besar yang memacu pikirannya membuat produk baru yang lebih solutif. Dengan berbekal tekad yang kuat, Kevin berhasil menciptakan kantong alami pengganti kantong plastik meski dengan modal pinjaman. 

Kantong itu murni 100% terbuat dari tumbuh-tumbuhan seperti pati singkong, minyak sayuran, dan bahanbahan nabati lainnya sehingga dapat terurai dalam tanah paling lama selama 50 hari. “Kantong itu tidak akan menyisakan apa pun karena kembali ke asalnya,” ujar Kevin saat berkunjung ke kantor KORAN SINDO, pekan ini. 














Jumat, 29 September 2017

Cocok untuk Sehari-hari, Tas Lipat Praktis dan Ramah Lingkungan

Mengurangi penggunaan kantong plastik | spunbond bag

spunbond bag



Bagoes Bag memiliki koleksi tas yang bisa dikunjungi di Jalan Tikukur No 6, Bandung. 

"Kami juga membuat tas dengan model menarik untuk anak muda hipster. Pada tas ini kami menyelipkan isu diet plastik pada fashion," ucapnya.

Tas dibanderol Rp 30 ribu hingga Rp 185 ribu. Tas termahal adalah backpack yang merupakan model terbaru Bagoes Bag. 

Bagoes Bag mampu menjual 200 tas dalam sebulan untuk pembeli satuan. Untuk pemesan custom jumlah besar, Bagoes Bag mampu menjual hingga 3.000 tas per bulan. Berdiri sejak 2008, Bagoes Bag telah menjual sekitar 650 ribu tas lipat.

Selain memproduksi tas dengan model sendiri, Bagoes Bag juga menerima pesanan dengan model pesanan konsumen (custom). 

Berdasarkan riset kami baik online maupun offline, masyarakat tahu kantong plastik itu bahaya. Tapi tidak semua setuju untuk membeli tas yang bisa dipakai berkali-kali sebagai pengganti plastik. Hanya 9,5 persen yang bersedia membeli. Tapi sebagian dari mereka pun punya cara sendiri mengganti kantong plastik," kata Ahmad.

Bagoes Bag pernah melakukan riset tentang penggunaan kantong plastik. Sebagian besar anak muda memakai plastik hanya satu kali pakai lalu dibuang. Namun banyak anak muda sadar akan bahaya sampah plastik dan setuju memakai tas yang bisa dipakai ulang.

Ukuran tas terkecil mampu menampung beban maksimal 3-5 kilogram (kg). Ukuran sedang berkapasitas sekitar 5 kg ke atas dan ukuran besar bisa diisi dengan beban 7 kg.

Tas tersebut dibuat dari berbagai bahan seperti polyester dan kanvas.  "Para pencetus Bagoes Bag ini melihat Indonesia sebagai negara penyumbang sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia setelah Cina.

Dari situ, kami berpikir bagaimana supaya bisa diet kantong plastik. Akhirnya muncullah tas lipat Bagoes Bag," ujar Marketing Manager Bagoes Bag, Nur Ahmad Hidayat di Grha Manggala Siliwangi Jalan Aceh, Bandung, pekan lalu.

Tak hanya konsepnya yang unik, Bagoes Bag pun menyimpan misi lingkungan, yakni mengurangi penggunaan kantong plastik. Setiap tas produksi Bagoes Bag bisa dipakai ulang hingga 1.000 kali. Jadi, jika tas terus dipakai sebagai pengganti kantong plastik, penggunanya dapat mengurangi sampah kantong plastik dan berkontribusi besar terhadap lingkungan.

Tas ukuran kecil yang disebut klasik mini, cocok digunakan sebagai pengganti kantong plastik saat berbelanja di swalayan. Tas sedang atau reguler bisa dipakai untuk membawa berbagai benda kecil hingga sedang. Sedangkan tas besar alias jumbo bisa diandalkan untuk membawa barang belanjaan berjumlah besar.

 SEKILAS, bentuk tas produksi Bagoes Bag seperti dompet mini. Ketika resletingnya dibuka, lipatan-lipatan berbahan polyester terurai dan membentuk sebuah tas. Desain tas pada dasarnya menyerupai kantong plastik. Kini, banyak model tas diproduksi seperti tote bag messager (tas sehari-hari) dan tas backpack. Dengan konsep unik tas lipat, Bagoes Bag bisa digunakan untuk banyak hal.


Indonesia targetkan kurangi 70 persen sampah plastik | spunbond bag


Begitu juga apabila penggunaan plastik dilarang total, Siti menyatakan bahwa secara psikologi sosial masyarakat terutama di pasar-pasar tradisional, kantong plastik masih digunakan.

"Jadi pemerintah harus menjadi simpul menegosiasikan pemikiran dan kami masih saat ini duduk bersama (diskusi)," katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa dalam sejumlah diskusi yang dilakukan bersama pihak-pihak terkait, penggunaan plastik yang dapat terurai atau "degradeable plastic" menjadi alternatif yang dapat dipertimbangkan. 

Para pelaku usaha, lanjut Siti, juga memerlukan waktu menyangkut pengemasan apabila pembatasan penggunaan plastik diimplementasikan namun di sisi lain mereka melihat masih adanya peluang lain dengan mengolah kembali sampah plastik.

Sementara itu terkait uji coba pengenaan tarif penggunaan plastik yang sempat diberlakukan di sejumlah pusat perbelanjaan dan toko modern, saat ini pihak terkait masih melakukan pembahasan terkait keberlanjutan uji coba itu.

Siti menjelaskan dari segi jumlah, memang plastik dapat dikurangi secara signifikan namun aspirasi dari pedagang, industri dan ritel di Indonesia juga perlu didengar.

"Pemerintah daerah sulit kerja kalau pemerintah pusat tidak ada konsistensi, tidak ada pedoman-pedoman," ucapnya.

Siti mengungkapkan komunitas-komunitas tidak akan mampu bekerja optimal dalam memerangi sampah plastik apabila pemerintah daerah tidak bersungguh-sungguh mewujudkan komitmen itu begitu juga apabila pemerintah pusat tidak konsisten.

Pihaknya mendorong sinergi pemerintah daerah dan pusat untuk berkomitmen mewujudkan target tersebut mengingat bahaya pencemaran lingkungan yang ditimbulkan dari sampah plastik itu.

Menurut Siti, selama setahun diperkirakan jumlah total sampah mencapai sekitar 65 juta ton sampah di Indonesia, dengan 14 persen atau sekitar sembilan juta ton di antaranya merupakan sampah plastik.

"Di dalam medium plan kami kurangi 70 persen sampah plastik," kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya ditemui saat kampanye memerangi sampah plastik di laut di Pantai Samuh, Nusa Dua, Kabupaten Badun, Bali, serangkaian "World Ocean Summit", Kamis.

 Pemerintah Indonesia menargetkan untuk mengurangi 70 persen dari sekitar sembilan juta ton total sampah plastik selama setahun sebagai bentuk kontribusi menjaga kelestarian lingkungan.


Begini Meriahnya Perayaan Komunitas Kampanye Peduli Sampah di Bali | spunbond bag



Walhasil, selama dua hari festival, lapangan lokasi festival tidak hanya bersih dari sampah tapi juga dari asap rokok, sesuatu yang langka dalam festival dengan jumlah pengunjung mencapai ribuan.

Sebagian aturan selama festival itu misalnya, larangan membuang sampah sembarangan, merokok hanya di tempat tertentu, dan tidak boleh bawa botol minuman yang tidak bisa didaur ulang. Ada relawan petugas kebersihan yang rajin membersihkan sampah sekaligus menegur pengunjung yang merokok di tempat sembarangan.

Sebagai festival untuk mengampanyekan lingkungan, Malu Dong Festival termasuk berhasil menerjemahkan kampanye itu dalam bentuk aksi. Tak hanya dalam karya-karya yang dipamerkan tapi juga sejumlah aturan yang mereka buat.

“Festival ini sebagai ajang peningkatan kesadaran terhadap sampah dengan inisiatif berbasis komunitas,” ujar Saylow, panggilan akrabnya.

I Putu Hendra Brawijaya, panitia Malu Dong Festival mengatakan, kegiatan yang pertama kali digelar itu memang mengajak beragam komunitas untuk berkolaborasi mengampanyekan isu sampah. “Agar kampanye tentang sampah bisa lebih diterima publik, kami mengemasnya lebih gaul,” ujarnya.

“Kami ikut Malu Dong Festival karena lewat musik, kampanye lingkungan seperti peduli sampah ini akan lebih mudah dicerna,” kata Nova, penabuh drum band Scare of Bums.

Beberapa band indie dari Bali Indie Movement, seperti MORT, PARAU, Trojan, dan Scare of Bums tampil bergantian. Navicula, band grunge dari Bali yang dikenal karena musik dan liriknya yang sarat pesan sosial lingkungan menutup festival pada malam kedua.

“Tidak cukup jika hanya memungut sampah karena industri rakus masih merajalela merusak Bumi, rumah kita,” begitu Komunitas Penahitam Bali menuliskan pesan di mural mereka.

Ada 40 komunitas dan 21 stand dari Bali yang mengikuti Malu Dong Festival. Komunitas Penahitam Bali misalnya termasuk bagian dari seniman jalanan (street artist) pun ikut serta. Mereka tidak hanya membuat mural di papan tripleks untuk mengampanyekan lingkungan tapi juga menyampaikan sikap penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa.

Selain pameran instalasi, Malu Dong Festival juga dipenuhi dengan kegiatan lain, seperti konser musik, lomba menggambar, hingga pameran produk-produk lingkungan. Dua di antaranya adalah Gadgad Organic yang membuat kaos dari bahan ramah lingkungan dan pewarna alami serta Art of Whatever yang membuat upcycle product dari kaos bekas.

Yoka Sara mengatakan tujuan instalasi itu memang sebagai shock therapy bagi warga. “Agar mereka yang merokok sadar bahwa beginilah akibatnya jika mereka membuang puntungnya sembarangan,” kata Yoka.

Instalasi itu berupa sampah puntung rokok dan sebagian bungkusnya di tengah ruangan agak tertutup dengan dinding cermin. Efeknya, sampah bungkus dan puntung rokok itu menjadi seperti lautan. Aroma menyengat tembakau pun langsung tercium ketika mendekati instalasi tersebut.

Seni instalasi lain untuk menunjukkan bahaya sampah dibuat oleh arsitek Anak Agung Yoka Sara bersama seniman layang-layang Wayan Duduk. Yoka Sara mengumpulkan aneka puntung dan bungkus rokok yang dia temukan selama enam bulan kegiatan rutin bersih-bersih sampah di Pantai Mertasari, Sanur.

Dalam mitologi Hindu Bali sendiri, penyu juga menjadi simbol penjelmaan Dewa Wisnu yang berubah menjadi Gunung Mandara dengan tempurung di punggungnya. Karena itu, menurut Hendra yang juga anggota STT Yowana Dharma, membuang sampah plastik sembarangan bisa berdampak pada penyu yang dihormati umat Hindu.

STT Yowana Dharma Banjar Buaji Anyar, Desa Kesiman, Denpasar misalnya membuat lampion berjudul Save Our Turtle. Sebagaimana keterangan di bawahnya, pembuatan lampion penyu raksasa itu terinspirasi dari temuan seekor penyu dengan sedotan plastik di hidungnya oleh ilmuwan di Kosta Rika. Saat sedotan itu ditarik, penyu tersebut mengeluarkan darah dari hidungnya. Sedotan plastik itu panjangnya sampai 20 cm.

Sampah styrofoam raksasa sendiri hanya salah satu bentuk seni instalasi selama Malu Dong Festival. Di bagian selatan lapangan tempat kumpul warga Denpasar itu juga terdapat karya-karya seni lain.

Ada sembilan lampion raksasa berbentuk monyet, bola dunia, atau kura-kura. Lampion-lampion karya anggota seka teruna teruni (STT) atau karang taruna desa adat itu dilombakan untuk mengampanyekan pesan tentang sampah.

Styrofoam raksasa tersebut salah satu instalasi dalam Malu Dong Festival di Denpasar pada akhir pekan lalu. Pelaksana festival selama dua hari itu Komunitas Malu Dong Buang Sampah Sembarangan atau yang lebih sering disingkat Komunitas Malu Dong.

Styrofoam putih itu sendiri pun sebenarnya sampah yang ditemukan di pantai yang kemudian dibawa ke lapangan di nol kilometer Denpasar itu. 

“Kami ingin mengajak warga agar mereka membersihkan sampah-sampah yang mereka temukan sekaligus menyampaikan pesan dan harapan mereka,” kata I Putu Hendra Arimbawa, Koordinator Program Malu Dong Festival.

Sampah-sampah itu kemudian mereka tancapkan di styrofoam setinggi kira-kira 2 meter. Di styrfoam berbentuk bulat dengan diameter sekitar 1 meter itu sudah tertancap aneka sampah lain: botol plastik, bungkus makanan, gelas mie instan, dan lain-lain.








Jumat, 07 Juli 2017

Melalui Tas, Hardys Ajak Konsumen Cintai Lingkungan

Group Hardys Holdings meluncurkan program belanja ramah lingkungan | spunbond bags

spunbond bags


Atas pembelian tas dan belanja di Hardys, pelanggan akan mendapatkan poin untuk hadiah yang akan diundi pada Sabtu(26/7/2014) mendatang.

"Kami sadar permasalahan lingkungan terutama sampah plastik penyumbang terbesarnya adalah mall. Jadi atas kesadaran ini, kami membuat tas belanja go green, tas ini kami jual Rp 8 ribu. Masyarakat yang berbelanja ke Hardys bisa menggunakan tas ini berulang kali," ungkap Sekretaris Perusahaan Hardys, I Made Abdi Negara di Balai Budaya, Kamis(24/7/2014).

Yakni dalam bentuk tas belanja bertuliskan "Hardys Go Green Harmony With Nature". Tas berwarna hijau kini akan menjadi teman belanja pelanggan setia Hardys.

Disela-sela peringatan hari ulang tahunnya ke-17, Group Hardys Holdings meluncurkan program belanja ramah lingkungan.


Mengenalkan Lingkungan lewat Menggambar, Mewarnai dan Bernyanyi | spunbond bags



Ia menambahkan, ke depan selain untuk anak-anak ini ikutan lomba, pasca lomba ini mereka akan ada pertemuan-pertemuan. Untuk anak-anak diberikan edukasi tentang lingkungan, sedangkan orang tuanya juga diahak untul memikirkan kondisi lingkungan dan mencari solusinya, paling tidak dimulai dari lingkungan kampung mereka.

Saat ini, kurikulum di sekolah masih jauh dari konteks lingkungan. Beberapa mata pelajaran di sekolah seharusnya bisa dipraktikan dengan turun di lapangan. Sekolah hanya mengejar penghargaan Adiwiyata.  Setelah mendapatkan gelar Adiwiyata, lalu tidak ada keberlanjutannya. Padahal pendidikan itu berkelanjutan.

“Menyelamatkan lingkungan tidak hanya dilakukan di kalangan aktivis lingkungan. Seluruh masyarakat berpotensi untuk untuk terlibat melakukan konservasi dan lingkungan yang lestari. Hal ini dilakukan sejak usia anak, di dorong lingkungan keluarga dan sekolah,” tambah Halik.

Direktur eksekutif Walhi Yogyakarta, Halik Sandera kepada Mongabay mengatakan, tujuan utama kegiatan ini adalah pendidikan lingkungan untuk anak dan keluarga, sehingga kepedulian lingkungan bisa tertanam sejak kecil dan dikeluarga. Dari semua peserta mulai dari bernyanyi, menggambar dan mewarnai. Mereka bisa disebut sebagai duta lingkungan untuk berbagi pengalaman lingkungan.

“Pengalaman mereka peduli terhadap lingkungan akan disebarkan ke teman-temannya. Ya paling tidak mereka tahu bagaimana menjaga kelestarian lingkungan,” kata Halik.

Deni Widyanto yang juga menjadi juri lomba menggambar dari lembaga pecinta Penyu Reispirasi kepada Mongabay mengatakan, kegiatan tersebut sangat menyenangkan dan efektif, melibatkan anak-anak untuk paham, peduli akan lingkungan lewat nyanyi, mewarnai dan menggambar bertema lingkungan. Reispirasi juga sudah beberapa kali melakukan aksi edukasi dan pelepasan tukik (anak penyu) dengan melibatkan anak-anak.

“Dengan anak-anak menggambar dengan isu lingkungan, beberapa anak lain yang melihat jadi ingin tahu dan ikutan. Apalagi tasnya dikembalikan ke penggambarnya sendiri, ini akan membuat bangga dan menularkannya kepada kawannya di sekolah,” kata Deni.

“Bernyanyi hanya sebagai sarana seni. Ini cara pendekatan yang efektif untuk anak. Paling tidak lagu-lagu yang bertema lingkungan ini sudah di dengar oleh mereka, lalu diterapkan lewat perilaku keseharian,” kata Ning.

Anak-anak juga diajak menggambar dan mewarnai pakai tas berbahan kanvas.  Bila menggunakan kerta, maka bakal dibuang menjadi sampah. Dengan menggunakan tas, maka pesan lingkungan akan tetap ada dan terus dilihat karena tas tersebut dipakai oleh anak-anak sendiri.

“Harapan kami membangun generasi peduli lingkungan lewat anak-anak. Masa depan lingkungan kita ada di mereka. Semoga mereka terbentuk karakter dan jiwa cinta lingkungan. Ajarkan mereka untuk memberikan dan melakukan berbagai hal agar alam lestari,” tutup Ning.

Dia mengatakan pendekatan dan pengenalan lingkungan lewat anak-anak dan keluarga sangat efektif. Oleh karena itu, sejak Fokal berdiri pada tahun 2010, mulai mengenalkan lingkungan kepada anak-anak lewat lomba menyanyi, berwisata alam di desa. Fokal juga mengajak mereka melihat pengelolaan sampah dan menanam padi di sawah.

Dengan cara itu, anak dan keluarganya bisa paham, peduli dan tersentuh terhadap lingkungan hidup. Bahkan, anak -anak yang tergabung di Fokal menegur sesama temannya yang buang sampah sembarangan. Orang tua anggota Fokal juga sudah menjadi contoh untuk peduli dan memikirkan solusi kelestarian lingkungan di kampungnya.

Ning Raswani selaku koordinator Fokal kepada Mongabay Indonesia mengatakan, acara tersebut diselenggarakan bermula dari keprihatinan terhadap kondisi lingkungan di Yogyakarta dan Indonesia secara umumnya. Perhatian terhadap alam tidak hanya dilakukan dengan aksi langsung, tetapi juga dengan edukasi tentang lingkungan sejak dini kepada anak-anak, karena mereka generasi penerus negeri ini.

“Kami melihat masih banyak sekolah yang belum memberikan pemahaman kepedulian lingkungan kepada siswanya. Selain itu di lingkungan keluarganya juga harus diajarkan,” katanya.


’’Paper Bags’’ Gerakan Nyata Pebisnis Wujudkan Cinta Lingkungan | spunbond bags



“Eksklusivitas tas kertas dan keunikan menjadi nilai lebih dibanding tas plastik,” imbuhnya.

Lanjut dia, bentuknya yang menarik, kegunaannya yang praktis, serta bahan yang ramah lingkungan merupakan nilai lebih dari tas kertas. ‘’Dengan menggunakan tas kertas berarti juga telah menjadi bagian dari usaha pelestarian lingkungan, dan sekaligus akan menjadi tren positif bagi penggunanya,” ungkapnya.

Hal senada diungkapkan Afifah, salah seorang penyedia paper bags lainnya.

Kata dia, manfaat menggunakan tas kertas adalah tas ini sangat mudah di daur ulang. Di samping itu, bahan tas kertas pihaknya variasikan antara bahan baru dengan bahan daur ulang. Desain kemasan lebih variatif dengan desain yang tak terbatas mampu menyampaikan pesan-pesan moral dan cinta lingkungan.Sementara tas plastik hanya desain tertentu dan tidak maksimal.

Lanjutnya, selain dapat didaur ulang serta ramah lingkungan, harga produknya ini juga cukup terjangkau, dengan harga mulai ribuan rupiah hingga puluhan ribu rupiah per pcsnya.

Pihaknya berupaya tidak hanya mengejar segi keuntungan bisnis, namun tetap memperjuangkan gerakan moral cinta dan peduli lingkungan. ‘”Dengan memperkenalkan tas kertas atau paper bags sebagai alternatif kemasan pengganti tas plastik kepada masyarakat umum, kami memberikan pilihan terbaik dengan menawarkan kemasan yang lebih baik dan lebih unik,” jelasnya.

‘’Kami menyediakan paper bags (kantung kertas) yang terbuat dari kertas yang dihiasi dengan pita yang menjadi daya tarik konsumen saat ini,’’ ujar Ridwan, salah seorang penyedia paper bag dikawasan Denpasar, Selasa (30/5).

Tas plastik atau kresek adalah produk yang kini mulai ditinggalkan oleh masyarakat. Mengingat, dibalik kemudahannya dalam menyimpan produk atau barang, tas kresek berpotensi merugikan kehidupan masyarakat luas.Selain itu, bahaya bahan plastik yang susah di daur ulang dan diurai oleh tanah.Oleh karena itu, sebagian pebisnis kini memiliki terobosan dengan menyediakan kemasan tas kertas yang menjadi solusi bagi gerakan nyata cinta lingkungan.