Tampilkan postingan dengan label spunbond bag jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label spunbond bag jakarta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Desember 2017

Kantong Plastik Berbayar Dimulai per 1 Maret di Beberapa Ritel di Kota Bandung

Kantong plastik berbayar | spunbond bag jakarta


spunbond bag jakarta



Sedangkan, untuk Griya dan Yogya, dari informasi yang didapatkan Tribun, akan memberlakukannya per 1 Maret 2016.

Kemudian, untuk Indomaret masih belum diketahui kepastiannya.

Namun mulai pemberlakuannya berbeda. Untuk Alfamart mulai Senin (22/2/2016).

Semua ritel mengaku siap untuk memberlakukan kantong plastik berbayar.

Berdasar pantauan Tribun, terhadap beberapa toko ritel atau swalayan di Kota Bandung, Minggu (21/2/2016), seperti Alfamart, Indomaret, Griya, dan Yogya.

Kesiapan di beberapa ritel di Kota Bandung beragam.

Pendeklarasian kantong plastik berbayar sudah diresmikan oleh Kementerian LHK, Siti Nurbaya Bakar, Minggu (21/2/2016) pagi.

Sejumlah toko ritel atau swalayan menyatakan kesiapannya untuk nemberlakukan kantong plastik berbayar.


Apa Kabar Uji Coba Kantong Plastik Rp 200? | spunbond bag jakarta



“Jadi uji coba itu salah satu yang kami dorong dan kami nilai cukup berhasil, karena dari satu sampai tiga bulan percobaan itu rata rata sekitar 55 persen kantong plastik berhasil dikurangi”, kata Rahyang yang juga anggota Aliansi Zero Waste Indonesia, kepada kumparan (kumparan.com), Rabu (8/11).

Kabar baik lebih membanggakan terkait penurunan penggunaan kantong plastik juga diungkapkan oleh Rahyang Nusantara, Ketua Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik.

Selain diklaim mengurangi penggunaan kantong plastik sebesaar 25-30 persen, uji coba kantong plastik berbayar itu juga diklaim mendapat respons positif masyarakat. Sebanyak 87,2 persen masyarakat mendukung kebijakan ini dan 91,6 persen masyarakat bersedia membawa kantong belanja sendiri.

Temuan di lapangan menunjukkan jumlah penurunan penggunaan kantong plastik rata-rata sebesar 25% selama periode Januari – Maret 2016. Sebagai contoh, secara lebih spesifik KLHK menemukan pengurangan penggunaan kantong plastik sekali pakai yang cukup signifikan. Di antaranya, seperti di Transmart Bandung (48,96%), Carrefour Jakarta utara (61,40%), Giant Palembang (60,46%), Giant Pekanbaru (40%), Carrefour Tangerang Selatan (82,90%). 

Monitoring evaluasi (Monev) plastik berbayar dilakukan pada 23 Maret – 3 April 2016. Monev pertama ditujukan untuk memotret kondisi awal di pelaksanaan lapangan setelah satu bulan. Setidaknya, ada 5 kota administratif di provinsi DKI Jakarta dan 22 Kota (27 kota). Selain itu, terdapat 160 ritel dan 535 orang konsumen yang mengisi kuesioner evaluasi.

Uji coba dilakukan di 23 kota yaitu Jakarta, Depok, Bekasi, Bogor, Tangerang, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Denpasar, Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Palembang, Banjarmasin, Balikpapan, Makassar, Kendari, Ambon, Jayapura, Tangerang Selatan. Inti surat edaran itu adalah "Harga jual kantong plastik selama uji coba penerapan kantong plastik berbayar sebesar minimal Rp 200 per kantong sudah termasuk PPN."

Uji coba itu tertuang dalam Surat Edaran KLHK Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun Nomor S.1230/PLSB3-PS/2016 terkait Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar.

Sementara total sampah pada tahun 2019 di Indonesia diprediksi akan mencapai 68.000.000 ton dan sampah plastik diperkirakan akan mencapai 9.520.000 ton atau sekitar 14% dari total sampah yang ada. Indonesia bahkan berada diperingkat dua dunia setelah Cina sebagai negara penghasil sampah plastik ke laut mencapai sebesar 187.200.000 ton (Jambeck et al.2015).

Uji coba itu berdasarkankan kajian gentingnya permasalahan sampah kantong plastik di Indonesia. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan bahwa plastik dari 100 toko Aprindo (Asosiasi Pedagang Ritel Indonesia) saja dalam waktu satu tahun dapat mencapai 10.950.000 lembar sampah kantong plastik. 

Sampah Gelas Plastik Sisa Pesta Tahun Baru Disulap Jadi Bunga Cantik | spunbond bag jakarta



Terakhir, lapisi seluruh bagian kawat dengan kertas kraft. Linting dari bagian bawah batang ke atas hingga kertas kraft benar-benar menempel pada batang kawat. Bunga pun selesai, Anda dapat menempatkanya di pot tinggi sehingga terlihat seperti bunga asli.

 Lapisi ujung-ujung jarum pentul yang menembus baian bawah kelopak dengan sellotape sampai merekat jadi satu. Kemudian satukan dengan batang kawat yang telah disiapkan dan lapisi kembali dengan sellotape hingga merekat kuat.

Lakukan cara yang sama pada sisa potongan kelopak lainnya sesuai arah jarum jam, hingga membentuk serumpun kelopak bunga. Kemudian tusuk bagian tengahnya dengan 5-4 jarum pentul.

Ambil satu potongan kelopak dan tempelkan potongan doubletape memanjang di bagian tengahnya. Kelupas lapisan penutup doubletape kemudian tempelkan potongan kelopak lainnya dengan posisi saling memotong di bagian tengah.

Bila hasil potongan tersebut masih sangat melengkung, gulung dengan pensil/pena ke arah yang berlawanan sambil sedikit ditekan hingga lengkungannya agar terbuka.

Gunting permukaan gelas plastik sesuai bentuk gambar pola yang telah ditempelkan. Potongan gelas plastik ini nantinya akan digunakan sebagai kelopak.

Pertama-tama kita buat dulu gambar pola oval yang runcing di atas kertas. Kemudian gunting gambar pola tersebut dan tempelkan di badan gelas plastik dengan bantuan selotip.

Sampah plastik tersebut kemudian dapat diubah menjadi penghias rumah, seperti mengubahnya menjadi karangan bunga. Bahan dasarnya cukup dengan menyediakan gelas plastik bekas berwarna. Simak langkah pengerjaan berikut ini untuk mengubah barang bekas menjadi karangan bunga yang cantik.

Misalnya sampah plastik seperti gelas plastik. Limbah pastik termasuk sampah yang sulit terurai. Tetapi tentu tidak dapat digunakan lagi untuk keperluan minum karena sudah tidak bersih lagi. Nah, Anda dapat mendaur ulangnya untuk hal lain, seperti membentuk kreasi atau keterampilan untuk emmperindah interior rumah Anda.

Pesta Tahun Baru telah usai,  tentu akan banyak sampah sisa pesta yang menumpuk. Mulai dari sisa makanan, minuman, hingga sisa peralatan pesta lainnya. Namun kita dapat menyiasati sisa sampah tersebut untuk didaur ulang. Tentu kita harus perhatikan terlebihbdahulu barang apa yang dapat didaur ulang.




Selasa, 03 Oktober 2017

Kertas Bekas Bisa Disulap Jadi Benda Bernilai Rp300 Ribu

Pelatihan daur ulang sampah dari Bank Sampah Abukasa | spunbond bag jakarta



spunbond bag jakarta


“Bokor ini hanya perlu 30 lembar kertas ukuran A4. Dan harganya dijual bisa Rp 300 ribu. Kenapa mahal karena ini hasil recycle. Selain itu kalau jatuh ga pecah dan ini anti air,” ujarnya sembari memperlihatkan satu bokor hasil bank sampah. 

Nyoman Astawa dari Bank Sampah Abukasa mengatakan bahwa kegiatan pelatihan daur ulang sampah kepada generasi muda ini bertujuan agar generasi muda bisa berpikir maju dan bisa mengelola sampah yang awet dan berkesinambungan. Bank sampah dikatakannya bisa memberikan hasil walaupun tidak sebesar menjual aset tanah.

“Ternyata gampang kalau sudah dipraktekkan. Saya ga nyangka dari kertas bekas bisa menjadi bokor seperti ini,” ujar seorang peserta pelatihan Anityadewi (17) dari Karang Taruna Suta Mandala, di Kantor Kelurahan Peguyangan, Denpasar, Minggu (16/7/2017).

Merekapun dengan teliti membuat daur ulang sampah tersebut hingga menjadi bokor.

Menariknya dalam pelatihan daur ulang sampah yang dilaksanakan oleh Bank Sampah Abukasa ini diikuti oleh para Karang Taruna dan Sekaa Teruna di Keluahan Peguyangan yang usianya antara 17 tahun sampai 20 tahun.

Begitulah kira-kira bahan dasar dari kertas bekas yang dibuat menjadi barang berharga satu diantaranya seperti bokor (sejenis wadah layaknya tempat makanan khas Bali).

Satu per satu kertas digulung hingga menjadi layaknya pipet. Setelah itu digabungkan menjadi hampir sepanjang 2 meter lalu dipipihkan.

Bank Sampah Griya Sapu Lidi, Tak Hanya Menabung Tapi Juga Sebarkan Semangat Kurangi Sampah | spunbond bag jakarta


Lanjut Erwan, pada waktu itu belum tercetus bank sampah. Seiring berjalannya waktu dan melakukan studi banding di desa lain, bank sampah terbentuk dengan dukungan Rt Rw dan membangun Rumah Sampah. Setiap rumah mendapat tiga kantong sampah masing-masing untuk sampah plastik, logam atau kaca, dan kertas.

"Setiap malam 17 Agustus kita ada sarasehan dan handirkan narasumber yang berkompeten. Saya hadirkan direktur Walhi yang sedang mengadakan program membeli sampah masyarakat. Juga hadir pula profesor dari Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM dan bicara tentang sampah," jelasnya.

Oleh karenanya lingkungan harus ditata sedemikian rupa agar tampak asri.

Letak perumahan yang berada di antara dua sungai dan memiliki kontur gumuk pasir membuat debu akan berterbangan ketika kemarau tiba.

Sembilan tahun yang lalu sebuah gagasan muncul dari sebagian besar penghuni perumahan yang dibangun pada tahun 1992-1993 tersebut.

Hanya saja obyek yang ditabung tentu berbeda. Setidaknya begitulah penjelasan Erwan Widyarto, mantan Jurnalis dan seorang Penulis buku yang masih sempat meluangkan waktunya mengurus Bank Sampah Griya Sapu Lidi di tempat tinggalnya Perumahan Gumuk Indah, Desa Sidoarum, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Senin (23/1/2017).

Lalu bagaimana jika mendengar bank sampah? Tidak perlu pusing mengartikannya. Sederhana saja, bank sampah berarti menabung dengan sampah. Tidak ada yang berbeda, transaksi tetap terdiri dari nasabah dan petugas bank.

Lain halnya ketika mendengar kata 'sampah', dibenak banyak orang yang terbesit pasti hanyalah kata macam kotor, tidak sehat, menganggu dan berbagai kalimat negatif lainya.

Mendengar kata bank sebagian orang pasti akan menginterpretasikan dengan tumpukan berlembar-lembar uang baru dengan nominal yang besar.

Sederet prestasi pun diraih Bank Sampah tersebut mulai dari juara 1 Green and Clean Provinsi DIY hingga RW Percontohan Kabupaten Sleman. Namun, meski mampu mengolah sampah, Bank Sampah yang pada tahun 2016 mengolah 1.845 Kg sampah itu pun tetap mencanangkan semangat mengurangi produksi sampah.

Bank Sampah yang memiliki nasabah lebih dari 150 kepala keluarga (KK) tersebut juga melakukan kegiatan pembinaan sekolah semisal SDIT Alam Nurul Islam, SMP Maarif dan MAN 1 Godean, SDN 1 Tinom, SMP N 3 Yogyakarta, SMKN 2 Godean dan sekolah-sekolah lainnya. Tak jarang sekolah-sekolah tersebu mengukir prestasi di bidang lingkungan. Selain itu, Bank Sampah Griya Sapu Lidi juga rutin memberikan pelatihan ke desa-desa lain bahkan hingga klaten.

"Selanjutnya dijual kalau ada pameran dan pesanan. Harga Rp 5000 sampai ratusan ribuan per item. Yang laku keras bros dari bekas pasta gigi. Hasil penjualan menjadi pendapatan yang buat dan 10 persen untuk devisi UKM," pungkasnya.

Sampah-sampah tersebut selain dijual ke pengepul juga diolah oleh ibu-ibu. Melalui divisi UKM sampah didaur ulang menjadi kerajinan yang menarik dan layak jual macam bros, ecobricks, bunga dan gelang dari plastik, tas, spanduk, kaligrafi dan berbagai produk kreatif lainnya. Kreasi tersebut selain didapat dari pelatihan juga diperoleh dari dunia maya.

"Awalnya warga mengurus sampah keluar duit tapi dengan adanya konsep bank sampah dapat duit. Warga tidak berhitung dapatnya berapa, namun hasil dari bank sampah kembali ke warga seperti perbaikan jalan dan gapura," jelasnya

Dari tabungan sampah tersebut, setiap rumah dapat memperoleh ratusan ribu rupiah tiap tahun. Selain itu Bank Sampah juga menyediakan simpan pinjam bagi warga.

"Kalau dikilokan buku harganya sama saja. Tapi kalau dipilah, sampul dan isi buku memiliki jenis kertas yang berbeda. Maka harga berbeda pula," jelasnya.

Transaksi dalam bank sampah sendiri tidak sesulit yang dibanyangkan. Yang terpenting terdapat nasabah, petugas bank, dan pengepul. Sebelum menabung nasabah atau penyetor sampah sudah harus memilah sampah yang terdiri dari 30 jenis sampah yabg tersiri dari sampah plastik, logam atau sampah, dan kertas tersebut. Lantas sampah tersebut akan dicatat dalam buku tabungan.

"Kemudian bersamaan dengan program Green and Clean dari LSM sehingga semakin termotivasi dan menguatkan," ujarnya.
"Kalau kita menjadi orang yang tidak bertanggung jawab sih enak kita tinggal buang di sungai misal. Tetapi ditempat lain sampah yang hanyut itu menjadi masalah. Membuang masalah kita menjadi masalah orang lain.

Kita harus bertanggung jawab kita yang mengehasilkan samlah maka kita yang mengelola sampah," tegas Erwan menyampaikan alasan bedirinya Bank Sampah Griya Sapu Lidi.

"Kita akan menggiatkan pelatihan untuk daur ulang karena kita masih terus belajar. Selain itu juga perlu ada kesiapan produksi untuk menghadapi pasar," pungkasnya. 

Pada tahun 2017 ini, Bank Sampah akan mengepakkan sayapnya dengan mengembangkan tanaman hidroponik untuk menjadi unit sendiri. Selain itu ada pula unit pengolahan pupuk kompos dari sampah organik. Selain tentu akan meningkatkan pemasaran produk daur ulang sampah menjadi souvenir-souvenir seperti pernikahan dengan memanfaatkan media sosial dan berbasis komunitas.

"Tidak hanya semata-mata mengolah sampah tapi mengedukasi untuk mengurangi sampah setiap individu. Data BPS saja setiap orang menghasilkan 0,66 Kg sampah setiap harinya. Jadi semangatnya adalah reduce, reduce, reduce baru reuse dan recycle," ujarnya.


Mahasiswa Muhammadiyah Malang Sulap Botol Plastik Bekas Jadi Piring Ingke Cantik | spunbond bag jakarta



“Saya sangat suka dengan piring ini, lucu dan sangat inovatif. Selain bisa mengurangi sampah, bisa menjadi ladang untuk belajar berwirausaha. Saya harap akan banyak mahasiswa yang mampu memberikan ide kreatifnya untuk membantu melestarikan lingkungan” kata Tika Bisono, dosen yang juga konsumen produk ini. 

Sejumlah konsumen menyukai produk daur ulang ini terutama pada bentuknya yang lucu.

Menurut Hesti, penjualan Ingke suwar suwir ini sudah mulai tersebar khususnya di wilayah Kota Malang. Kini, Ingke suwar suwir sudah mulai dikenal di wilayah luar pulau Jawa seperti di Sulawesi dan Lombok dengan memanfaatkan sosial media berupa instagram, official account line.

"Bagian atas (cincin) gelas plastik dirangkai sedemikian rupa sehingga membentuk piring ingke cantik dengan berbagai macam pilihan warna dan desain," kata Hesti lewat rilisnya kepada tribunjogja.com, Jumat (7/7/2017).

Hesti Sri Rahayu mewakili timnya mengatakan, Ingke suwar suwir ini merupakan salah satu gerakan untuk mengurangi limbah sampah khususnya di Kota Malang dengan memanfaatkan bagian atas (cincin) gelas plastik.

Mereka adalah Hesti Sri Rahayu, Indreswari Rahmayanti Prabowo, Amriati Masso dari Fakultas Psikologi.

Lewat Program Kreativitas Mahasiswa – Bidang Kewirausahaan (PKM-K) yang berjudul “Ingke Suwar-suwir Usaha Daur Ulang Sampah Minuman Gelas Plastik”, para mahasiswa memberikan solusi mengubah sampah menjadi produk bernilai jual.

Melihat fenomena ini, tim salah satu tim dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengajukan sebuah solusi untuk mengatasi masalah sampah.

Sampah merupakan masalah yang tidak ada habisnya di kota-kota besar termasuk Malang. Setiap tahun, produksi sampah selalu sebanding dengan bertambahnya jumlah penduduk.








Kamis, 06 Juli 2017

Vania Santoso, Mendulang Untung dari Sampah Sak Semen

Wirausaha Inovatif berbasis sosial dan lingkungan |spunbond bag jakarta

spunbond bag jakarta


Ia menggandeng masyaraat marjinal sebagai perajin di heyStartic. Jumlah pegawai tetap yang saat ini dimiliki ialah sebesar 11 orang. 

“Tapi kami juga punya masyarakat binaan dari 3 desa yang membantu membuat produk dengan sistem profit sharing,” ujarnya. Ke depan Vania masih punya banyak mimpi untuk heySTARTIC, ia berencana mempunyai show room sendiri untuk menampilkan hasil produknya. Ia juga ingin merealisasi targetnya menyelenggarakan one village one product guna menambah kapasitas produksi heySTARTIC.

Untuk satu buah tasnya, Vania memiliki beragam jenjang harga. Untuk tas berbahan dasar sak semen saja harga yang dibandeol berkisar antara Rp 50 ribu sampai Rp 180 ribu. Sementara itu bila sudah dipadu dengan bahan kombinasi harganya akan lebih mahal, seperti tas sak semen kombinasi kulit dan batik yang dibandreol Rp300 ribu.

Tak hanya di dalam negeri, produk heySTARTIC juga diminati pasar luar negeri seperti Australia dan Belanda. Toko-toko oleh-oleh Mirota dan beberapa galeri pemerintah saat ini aktif menjadi tempat heySTARTIC memasarkan produknya. “Kita rajin ikut pameran-pameran agar bisa punya channel keluar negeri,” ujarnya.

Ketertarikan masyarakat terhadap produk daur ulang sak semen ini bisa dikatakan positif. Vania menceritakan rata-rata tiap bulannya ia bisa mengantongi omset Rp 40 juta hingga 50 juta. 

Kantong semen dipilih menjadi bahan dasar lantaran jumlahnya yang banyak dan kuat. “Pembangunan kan akan terus ada, jadi sampah sak semen tidak akan pernah habis, selain itu sak semen punya karakteristik kuat, karena bisa menopang beban yang berat,” ujarnya menceritakan dipilihnya kantong sampah sebagai ide produk daur ulang.Tahun 2014 lalu misalnya ia telah menghasilkan omset Rp 350 juta, dan tahun ini omsetnya diprediksi akan meningkat 3 kali lipat. ”Per Juli saja kami telah melampaui omset tahun lalu,” ujarnya bangga.

Ketertarikannya atas produk ramah lingkungan tak terlepas dari latar belakangnya Vania yang aktif dalam dalam komunitas lingkungan bernama AVpeduli. Berbekal keprihatinannya terhadap penumpukan sampah, muncul lah ide mendaur ulang sampah menjadi barang-barang  berguna. 

Bisnis gadis asal Surabaya tersebut memang unik, ia mendaur ulang sampah sak semen menjadi barang-barang eco-fashion seperti tas dan dompet yang punya karakteristik menyerupai kulit dan tahan air. Tak kurang sudah 300 sampai 500 tas dan dompet yang ia produksi setiap tahunnya. 

Angka tersebut di luar pesanan grosir yang bisa mencapai 500 hingga 1.000 buah.”Awal bisnis ini saya jalankan bersama kakak saya Agnes Santoso. Untuk modal kami gunakan penghasilan dari MC dan nyanyi karena kebetulan kami memang sering tampil,” ujarnya kepada SWA Online.

Vania Santoso, 23 tahun, boleh berbangga hati. Usaha rintisannya heySTARTIC kini telah mendapatkan banyak apresiasi dari berbagai kalangan.

 Baru-baru ini ia memperoleh penghargaan Wirausaha Inovatif berbasis sosial dan lingkungan yang diadakan HM Sampoerna bekerja sama dengan Yayasan Inovasi Teknologi (Inotek). Sebelumnya ia juga pernah menyabet berbagai penghargaan seperti Singapore Internasional Foundation sebagai Young Social Enterpreuner dan Jawara Wirausaha Mandiri tahun 2014.


Mengenal Kampung Daur Ulang Sampah Makassar | spunbond bag jakarta



UKM Adhitya, tak hanya membuat produk daur ulang plastik dan kertas. Dua tahun terakhir, berupaya mengembangkan industri pupuk kompos, dan membantu sekolah-sekolah membuat lubang resapan biopori. “Peminat pupuk kompos ini cukup banyak dan kontinyu. Sekolah-sekolah juga pesan.”

Ternyata UKM Adhytya juga memiliki usaha dampingan tersebar di hampir seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah. Sampai saat ini, sudah sekitar 32 UKM menjadi binaan.

UKM ini juga memberikan banyak pelatihan di berbagai daerah. Kebanyakan pelatihan datang dari pemerintah daerah. Biasa, dalam pelatihan UKM mengikutkan enam sampai tujuh pelatih dengan spesialisasi berbeda.

“Dalam waktu-waktu tertentu, seperti sekarang, stok bahan baku sangat sulit diperoleh, kala permintaan justru meningkat. Terpaksa kami keliling kemana-mana, bahkan datang rumah ke rumah ,” ujar dia.

Mengenai pemasaran produk, dia tak mengalami kesulitan, bahkan terkadang kewalahan memenuhi pesanan, yang mayoritas dari instansi pemerintah dan swasta.

“Kalau ada event-event tertentu, pesanan bisa melonjak dan kadang kami tidak bisa memenuhi. Bukan hanya terkendala bahan baku, tenaga kerja masih terbatas. Apalagi jika pemesanan ditarget harus cepat.”

Bagaimana mendapatkan sampah? “Sampah plastik dan kertas didapat dengan berbagai cara. Ada mengumpulkan dari lingkungan sekitar, juga bekerjasama dengan sejumlah pengelola tempat pembuangan akhir (TPA) di Makassar.” Sedang sampah  dari Unilever, sejak setahun ini terhenti. UKM ini juga menyediakan bank sampah.

Meskipun begitu, Ahmad masih sering mengalami kekurangan stok. Apalagi sampah dari TPA terkadang banyak tak bisa dipakai karena jelek atau sobek.

Dalam mengerjakan berbagai produk ini, UKM Adhytya membuat kelompok-kelompok kerja kecil, secara terspesialisasi. Untuk produk botol minuman dikerjakan kelompok sendiri, begitupun kresek atau kertas.

Saat ini, UKM ini memiliki 12 mesin jahit, yang diperoleh dari bantuan maupun menyisihkan keuntungan usaha. Mengenai pembagian gaji,  disesuaikan produksi masing-masing anggota, dan ada kewajiban menyisihkan 10 persen keuntungan buat keperluan kelompok.

Bahan dasar kerajinan ini plastik dan kertas. Untuk plastik misal, kantong kresek, botol minuman, bungkus mie instan, dan berbagai kemasan berbahan plastik lain. Sedangkan kertas bisa koran bekas dan karton.

Sampah plastik dibentuk menjadi tas ransel, topi, sandal jepit, hingga taplak meja. Ada juga mainan anak-anak, tas hp, tas laptop, bunga plastik, dan lain-lain. Sedang sampah kertas untuk bingkai foto, mainan anak-anak, kotak tissue, kotak pensil dan kotak perhiasan.

Harga pun bervariasi, tergantung bahan dan besaran produk. Harga tas laptop, misal, dijual Rp120 ribu, ransel Rp80 ribu hingga Rp150 ribu, tas hp Rp10.000, tas jinjing Rp50 ribu–Rp150 ribu, dan bingkai foto kertas plintir Rp50 ribu. Dalam sebulan rata-rata omzet penjualan berkisar Rp6 Juta hingga Rp10 juta.

“Kalau orang bicara tentang kampung daur ulang sampah di Makassar, pasti Kelurahan Karanganyar. Sudah dikenal dimana-mana,” kata Ahmad Sesse Selasa (20/8/13), kala ditemui Mongabay di rumah, sekaligus bengkel kerja UKM Adhitya.

Ahmad mengatakan, kerajinan daur ulang sampah dimulai tahun 2008. Inisiatif awal dari Kementerian Lingkungan Hidup Sulawesi, Maluku, Papua (Sumapapua). Kementerian ini juga yang memberikan bimbingan dan pelatihan awal. Namun, UKM ini tetap eksis dan mandiri meski tidak lagi mendapat dukungan KLH.

Dia menceritakan, usaha daur ulang yang sebagian besar beranggotakan ibu-ibu rumah tangga ini sudah berkembang. Mereka mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik Pemkot Makassar, juga swasta, antara lain Unilever, yang menyediakan limbah plastik. Kementerian Pemberdayaan Perempuan juga membantu. “Waktu Bu Menteri datang ke sini, beliau membeli beberapa produk kami sebagai souvenir dari Makassar,” ucap Ahmad.

Sebagian besar instansi pemerintah di Makassar, sudah bekerja sama dengan UKM beranggotakan 40 orang ini. Ia bahkan mendapatkan penghargaan dari Pemkot Makassar karena dinilai berkontribusi atas penghargaan Adipura 2013 untuk kota ini beberapa bulan lalu. Kelurahan Karanganyar, lokasi UKM ini berada, dikenal sebagai kampung daur ulang di Makassar.

Jika sebagian orang kesulitan membuang sampah, Ahmad Sesse justru mencari sampah, terutama plastik dan kertas. Mengapa? Ternyata, dua jenis sampah ini bahan baku kerajinan daur ulang yang dia kelola melalui unit kegiatan masyarakat (UKM) Adhytya.

Daur Ulang Sampah, Salah Satu Misi SMA Jayapura | spunbond bag jakarta



Semisal koran, kata dia, siswa diajarkan untuk berkreasi koran itu bisa menjadi apa, setiap hari koran itu diproduksi setiap hari. Koran ini juga dibuat dari pulp atau bubuk kertas yang juga asalnya dari pohon.

"Yang pertama untuk menyadarkan siswa-siswi ini maka di dalam materi kewirausahaan itu mengajak anak untuk mendaur ulang sampah itu untuk menjadi sebuah produk," ujarnya.

Laban menuturkan, jikalau limbah sampah botol plastik berada dalam tanah kemudian kayu dan tanaman lainnya tidak akan bisa tumbuh maka akan tumbuh sebuah bencana, di antaranya tanah itu akan menjadi gersang.

"Itu yang pertama kami sadarkan kepada siswa maka di sekolah ini ada mata pelajaran kewirausahaan dimana di dalamnya mengarahkan siswa untuk bisa mendaur ulang sampah," ujarnya.

"Kami sering katakan bahwa seperti limbah sampah botol-botol plastik yang dibelanjakan di toko-toko itu tidak bisa terurai dalam tanah itu dalam tanah itu membutuhkan jangka waktu yang sangat lama," ujarnya.

Sekolah juga menjelaskan bahwa limbah sampah botol plastik itu sampai kapan pun tidak bisa terurai dalam tanah.

"Jika limbah plastik-plastik ini demikian semakin tinggi maka apa jadinya generasi-generasi ke depan kita wariskan apa," katanya.

"Daur ulang sampah ini memang bagian dari misi sekolah. Kami punya misi ada delapan, misi yang kedelapan itu adalah mendaur ulang sampah," kata Kepala SMAN 4 Jayapura, Laban Sembiring di Jayapura, Minggu (23/10/2016)..

Menurut dia, anak-anak ini harus didik dari sekarang dan jangan hanya memproduksi sampah tetapi harus sadar bahwa limbah sampah itu kalau tidak dikelola akan menjadi bencana ke depan.

Kalangan guru Sekolah Menengah Atas Negeri 4 Kota Jayapura, Provinsi Papua, memotivasi siswanya untuk mendaur ulang sampah.