Rabu, 12 Juli 2017

Limbah Nanas Jadi Plastik Ramah Lingkungan

Manfaat lain dari limbah nanas | tas souvenir


tas souvenir


Mega berharap dapat mengembangkan penelitian ini sehingga dapat membuat plastik biodegradable. Menurut Mega, perlu dukungan dari semua pihak terutama pemerintah selaku regulator, industri kimia dan proses, serta kesadaran dari seluruh masyarakat. Harus ada kerja sama di antara banyak pihak untuk mendukung penerapan plastik biodegradable menggantikan plastik konvensional.

Mega berpesan, menang tanpa perjuangan panjang bagaikan menang tanpa kebanggaan, jika tidak ada kesukaran maka tidak ada kesuksesan. 

Plastik biodegradable adalah plastik yang mudah terurai. Jerman, India, Australia, Jepang, dan Amerika adalah negara yang paling intensif mengembangkan riset plastik biodegradable dan mempromosikan penggunaannya menggantikan plastik konvensional. 

Produk industri berbahan dasar plastik mulai menggunakan bahan biodegradable ini. Tapi penggunaan plastik biodegredable di Indonesia masih jarang. Padahal jelas sekali, bahwa potensi bahan baku pembuatan plastik biodegradable sangat besar di Indonesia. 

Penelitian ini melalui metode fermentasi, pemurnian asam laktat lalu polimerisasi akan didapat bioplastic yang mudah terurai di tanah.

“Karya ilmiah remaja milik teman-teman sesama peserta lomba LKIR 2016 ini menarik dan sangat kreatif, jadi memacu saya untuk bisa menjadi lebih baik lagi,” ujar Mega kepada CNN Student.

Tapi kamu jangan buang limbah kulitnya ya. Soalnya, Ghina Eroz Rasman dan Mega Meulia, siswi dari SMA Negeri 63 Jakarta berhasil menemukan manfaat limbah itu, yaitu bisa diubah jadi bahan pembuat plastik yang ramah lingkungan. 

Karya Ghina dan Mega menjadi finalis dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja ke-48 yang diadakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Mereka menemukan bahwa limbah nanas bisa menjadi medium alami fermentasi asam laktat oleh Lactococcis Lactis B187 yang kemudian menghasilkan L-LA sebagai bahan baku pembuat PLA atau bioplastic.

 Di Palembang, Sumatera Selatan, ada nanas yang terkenal manis meski ukurannya tak besar. Nanas bernama latin Ananas Comosus ini juga sering diolah jadi bahan pembuat kue. 

Produk Plastik Ramah Lingkungan dari Sawit | tas souvenir



Plastik biodegradable saat ini berkembang sangat pesat. Berbagai riset telah dilakukan di negara maju (Jerman, Prancis, Jepang, Korea, Amerika Serikat, Inggris dan Swiss) ditujukan untuk menggali berbagai potensi bahan baku biopolimer. Aktivitas penelitian lain yang dilakukan adalah bagaimana mendapatkan kemasan termoplastik degradable yang mempunyai masa pakai (lifetimes) yang relatif lebih lama dengan harga yang lebih murah.

Di Indonesia penelitian dan pengembangan teknologi kemasan plastik biodegradable masih sangat terbatas. Penyebabnya, selain kurangnya kemampuan sumber daya manusia dalam penguasaan ilmu dan teknologi bahan, juga dukungan dana penelitian yang terbatas.

Dia meyakini bahwa permintaan bioplastik murni ini akan meningkat saat harga minyak bumi melonjak lagi. Untuk memenuhi permintaan plastik yang semakin tinggi itu, produksi bioplastik akan meningkat dan ini akan mendorong harga produk semakin murah.

Dia menyebutkan, pemanfaatan bioplastik biobased yang karbonnya terbuat dari bahan terbarukan seperti gula, pati atau minyak nabati ini, sudah banyak digunakan di Eropa terutama untuk keperluan media seperti tempat obat.

Hanya memang, jika dikembangkan dalam skala industri, produk bioplastik ini harganya akan jauh lebih mahal dibandingkan plastik konvensional. Akan tetapi, kualitas bioplastik ini tidak kalah dibandingkan plastik konvensional. Sebab, bioplastik ini memiliki kemampuan terdegradasi secara alami.

Menurut Agus, kendala terbesar dari bioplastik ini adalah harganya yang bisa mencapai delapan kali lipat dari harga plastik konvensional. Dari segi ekonomis, bioplastik jauh lebih mahal dari plastik konvensional. “Tapi sangat mungkin untuk dikembangkan,” ujarnya.

LIPI masih akan terus melakukan pengembangan karena bioplastiknya saat ini berwarna cokelat tua. ”Kita lagi cari cara warna alami yang mampu menembus warna itu, meski sulit,” papar Agus.

Tak hanya kantong plastik, bahan dasar ini, dapat dibuat berbagai bentuk, seperti penggaris, bahan kursi dan alat keseharian. Semua tergantung komposisi, misal, tempat makan harus kualitas food grade.

Terkait bahan baku, ketersediaan limbah TKKS memang cukup melimpah. Meskipun begitu, hal yang menjadi kendala dalam pengembangan plastik berbasis PLA dari TKKS ini menyangkut alur proses yang harus dilakukan.

Selanjutnya mengenai proses pembuatannya, langkah awal yang dilakukan peneliti yaitu melakukan pengeringan TKKS dengan sinar matahari. TKKS yang sudah kering ini dicincang dalam ukuran yang sangat kecil dan kemudian dihancurkan. Lalu TKKS siap untuk difermentasi setelah melalui tahap hidrolisa. Fermentasi dilakukan dengan menjaga pH dalam tingkat tertentu, sebelum akhirnya dilakukan pemurnian asam laktat. "Hasilnya, poliester yang mudah terdegradasi secara biologis," ucapnya.

Penelitian ini masih proses. Bioplastik PLA masih kaku, tak lentur seperti plastik biasa. Kata Agus, masih bisa ditipiskan, bisa dikombinasikan dengan plasticizer alam agar lebih lembut.

Limbah tanaman perkebunan kelapa sawit ini, biasanya digunakan untuk bahan boiler, kompos, maupun pengeras jalan di perkebunan. Berdasarkan riset sebelumnya, paling tidak TKKS mengandung 45 persen selulosa. Untuk itu, kerjasama dengan perguruan tinggi dari Jepang pun dilakukan untuk mengembangkan proyek riset ini.

Dijelaskan, TKKS tinggi selulosa dan hemiselulosa, sehingga berpotensi besar sebagai sumber glukosa yang kemudian dikonversikan menjadi asam laktat melalui proses fermentasi oleh bakteri. Kemudian asam laktat ini dipolimerisasi menjadi PLA. PLA merupakan polimer yang serbaguna, biodegradable, alifatik poliester yang berasal dari 100 persen sumber daya terbarukan.
“Salah satu senyawa kimia yang dapat dihasilkan dari selulosa TKKS adalah asam laktat. Asam laktat merupakan bahan baku utama dalam pembuatan polimer biodegradable berupa poliasam Laktat (PLA),” tegas Agus.

Selama ini terdapat jenis bioplastik biobased dan additive based. Bioplastik dengan biobased merupakan jenis plastik dengan kandungan karbon yang terbuat dari bahan terbarukan seperti gula pati maupun minyak nabati. Sementara bioplastik additive based merupakan jenis plastik dengan kandungan karbon yang terbuat dari minyak bumi, tetapi mengandung bahan yang dapat memicu degradasi.

Penggunaan TKKS yang bersifat biobased ini akan menghasilkan poliasam laktat (PLA) yang merupakan sumber polimer untuk bioplastik. Dia menyebutkan bahwa pemanfaatan polimer yang diperoleh dari poliasam laktat (PLA) berasal dari tandan kosong kelapa sawit yang telah melewati proses fermentasi.

LIPI yang juga turut serta mendukung pemerintah dalam menciptakan produk yang ramah lingkungan akhirnya mengumumkan hasil temuan terbarunya berupa bioplastik dari limbah TKKS. "Bioplastik dengan biobased ini merupakan bioplastik murni yang 100 persen dibuat dari bagian tanaman atau biomassa. Yang kami kembangkan saat ini berasal dari tandan kosong kelapa sawit,” kata Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI Agus Haryono, baru-baru ini, di Jakarta.

Penggunaan limbah TKKS ini tidak hanya bersifat ramah lingkungan tetapi juga dinilai renewable resoursces (bahan terbarukan). Jadi, dengan renewable resources maka pemanfaatan limbah dinilai akan lebih baik nilai konversinya dari segi energi maupun ekonomi.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan produk plastik ramah lingkungan yang terbuat dari limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Bioplastik dengan biobased ini pun diakui lebih cepat terdegradasi. Penggunaan teknologi kemasan plastik berkonsep biodegradable ini merupakan salah satu upaya untuk keluar dari permasalahan penggunaan kemasan plastik yang non degradable (plastik konvensional). Pangkal soalnya, cadangan minyak bumi semakin berkurang, kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan serta risikonya terhadap kesehatan.

Sinar Joyoboyo Plastik Ajak UKM Kenalkan Plastik Aman | tas souvenir



Bermula dari tahun 1995 Lidah Buaya Group selaku holding company Sinar Joyo Boyo Plastik yang berpusat di Magelang, memulai produksi kantung plastik pertama untuk kebutuhan packaging internal. Seiring dengan hadirnya permintaan eksternal yang secara pesat terus meningkat, maka Sinar Joyo Boyo Plastik didirikan pada tahun berikutnya. Sejak tahun 1996, Sinar Joyo Boyo Plastik berkembang menjadi produsen kantung plastik yang memiliki peranan bagi perkembangan industri kantung plastik Indonesia.

Dalam kapasitas produksi maupun jenis produk yang dihasilkan, yang semula fokus pada produk kantung plastik berjenis PP kini telah berkembang dengan tipe produk kantung plastik yang lebih beragam seperti HDPE, LLDPE, mulsa dan raffia.

Salah satu zat berbahaya yang terdapat pada plastik tidak aman untuk makanan adalah zat dioktil ptalat (DOP). DOP menyimpan zat benzen suatu larutan kimia yang sulit dicerna dalam saluran pencernaan manusia. Benzen juga tidak bisa dikeluarkan melalui feses atau urin. Akibatnya zat ini semakin lama semakin menumpuk dan terbalut oleh lemak tubuh, bisa memicu munculnya penyakit kanker.

Selain untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, kegiatan roadshow Sebar Ta’jil Ramadhan Sinar Joyoboyo Plastik ditujukan pula untuk memberdayakan dan memberikan stimulasi bagi peningkatan keuntungan usaha para pelaku UKM. Hal ini sesuai dengan komitmen Sinar Joyoboyo Plastik sebagai perusahaan plastik yang turut peduli bagi kelangsungan bisnis usaha para pelaku UKM. “Ketika masyarakat mulai peduli terhadap pedagang yang menggunakan plastik aman, ujung-ujungnya mereka akan untung,” Gilang menegaskan.

Plastik tersebut tidak aman untuk pembungkus makanan terutama dalam kondisi panas seperti bakso kuah, bakmi kuah, bubur dan berbagai jenis gorengan panas. Suhu yang relative tinggi akan membantu migrasi bahan kimia plastik ke dalam makanan,” Gilang kembali menambahkan.

Migrasi merupakan perpindahan zat kimia berbahaya yang didapat dari kemasan ke dalam bahan makanan. Dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu luas permukaan yang kontak dengan makanan; kecepatan migrasi; jenis bahan plastik dan suhu serta lamanya kontak.

Hadirnya Sinar Joyoboyo Plastik sebagai produsen plastik yang aman untuk makanan (Food Contact), turut membantu masyarakat menghindari berbagai penyakit berbahaya sebagai dampak dari penggunaan plastik yang tidak memenuhi standar aman untuk makanan.

“Seringkali kita menemukan penjual makanan jajanan (street food) yang masih menggunakan kantung kresek yang berasal dari bahan daur ulang,”ujar Gilang.

EPI merupakan perusahaan pembuat aditif oxo biodegradable Totally Degradable Plastic Additives (TDPA) yang telah mendapatkan sertifikasi Ekolabel dari Kementerian Lingkungan Hidup. dan memiliki terobosan teknologi yang mampu membuat plastik produksi Sinar Joyoboyo Plastik dapat terdegradasi selama 24-36 bulan.

Biji plastik murni ditambah aditif EPI oxo biodegradable diolah menjadi plastik dengan presisi yang tinggi, sehingga menghasilkan kualitas produk yang kuat, ulet, aman untuk makanan serta ramah lingkungan.

Gilang Yogantoro, Marketing Departement Head Sinar Joyoboyo Plastik, memaparkan, selaku produsen plastik unggulan, Sinar Joyoboyo Plastik mengakomodasi tingginya kebutuhan plastik melalui produk plastik yang aman untuk makanan dan ramah lingkungan.

 “Inovasi tersebut berupa penerapan teknologi Oxo-Biodegradable yang mampu membuat plastik mudah terurai, sehingga plastik kami ramah untuk lingkungan,” kata Gilang.

Melalui sistem manajemen pengawasan mutu produksi berstandar ISO, produk Plastik Joyoboyo diolah dari bahan biji plastik murni yang halal dan aman untuk makanan (Food Contact) serta telah lulus uji degradasi dari Environmental Product Inc (EPI).

Dalam kehidupan manusia keberadaan plastik sudah menjadi bagian yang sulit terpisahkan. Selain untuk menunjang keperluan berbagai usaha, plastik masih menjadi komoditi andalan masyarakat terutama dalam menunjang aktifitas sehari-hari seperti membungkus makanan atau minuman menjelang berbuka puasa.

Handoko Sidharta, General Manager Sales & Marketing Sinar Joyoboyo Plastik, menjelaskan, peningkatan konsumsi plastik pada saat bulan Ramadhan menjadi fokus perhatiannya kali ini. 

“Menghadirkan plastik kemasan yang aman untuk makanan sebagai bukti nyata kami untuk turut menjaga keamanan jajanan kuliner di bulan suci Ramadhan.Kebutuhannya memang cenderung selalu meningkat. Seperti momen penting lainnya, bulan Ramadhan kali ini stoknya sudah kami siapkan,” ujar Handoko.

Selain itu, kegiatan yang sukses digelar di lima pusat jajanan ta’jil Ramadhan yakni 22-23 Juni di Yogyakarta, 24-25 Juni di Solo, 27-28 Juni di Malang, 1-2 Juli di Banjar dan 4-5 Juli di Purwokerto, akan diisi oleh berbagai kegiatan edukasi pengunjung serta ajakan berbagi melalui sebar ta’jil yang melibatkan para pelaku UKM disekitar lima kawasan tersebut dan mendapat antusiasme masyarakat sekitar.

Selain untuk menunaikan ibadah puasa, bulan Ramadhan seringkali dijadikan sebagai peluang bisnis para pelaku usaha kecil, terutama di bidang makanan dan minuman. Tentu saja hal itu turut meningkatkan konsumsi plastik di masyarakat. Untuk itu, Sinar Joyo Boyo Plastik hadir melalui produk plastik sebagai solusi di tengah menjamurnya para pelaku usaha musiman di bulan suci.

Menanggapi tingginya konsumsi plastik di bulan puasa,, Sinar Joyoboyo Plastik menggelar roadshow Sebar Ta’jil Ramadhan 1436 H ke berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Tujuannya untuk memberikan edukasi sekaligus meningkatkan wawasan masyarakat terhadap plastik sesuai dengan tipe dan fungsinya melalui kampanye “Kenali Plastikmu.”












Selasa, 11 Juli 2017

Plastik Ramah Lingkungan Berbahan Singkong dan Jagung

Sampah plastik menjadi salah satu masalah lingkungan | tas promosi


tas promosi


EnviGreen juga mengatakan, keistimewaan kantong buatannya adalah, kantong ini dapat dimusnahkan dengan cara dibakar tanpa meninggalkan sisa atau racun atau dicelupkan dalam air. Bahkan, kantong disebutkan aman jika termakan oleh hewan.

Kantong ramah lingkungan yang telah melalui uji coba dari The Karnataka State Pollution Control Board (KSPCB) ini, dijual dengan harga US$0,07 hingga US$0,22 (Rp1.000 hinggaRp3.000). 

Kantong plastik buatan perusahaan EnviGreen ini, yang terbuat dari 12 bahan bahan alami termasuk kentang, singkong, jagung, pati alami, minyak sayur pisang dan minyak bunga, diklaim ramah lingkungan.

Dilansir Yahoo News,  meski terbuat dari bahan alami, namun kantong plastik ‘ramah lingkungan’ ini benar-benar bisa digunakan seperti pada umumnya.  “Kami tak menggunakan bahan kimia sama sekali. Cat dalam kantong ini pun dibuat dengan cara alami,” ungkap pendiri EnviGreen, Ashwath Hedge.

Sampah plastik menjadi salah satu masalah lingkungan yang tengah jadi perhatan serius. Berniat mengurangi permasalahan tersebut,  sebuah perusahaan kreatif India mencoba menciptakan kantong plastik yang 100 persen terbuat dari bahan alami.

Penghargaan Produsen Plastik Ramah Lingkungan | tas promosi



Perhatian itu terwujud dalam kegiatan-kegiatan berwawasan lingkungan hidup agar kita selalu ingat bahwa aksi kita hari ini akan berdampak di masa depan. Tepat pada peringatan Hari Lingkungan Hidup sedunia, yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2016, dalam salah satu kegiatan lingkungan hidup, pemerintah provinsi Jawa Tengah kembali menganugrahkan penghargaan PROPERDA lingkungan hidup untuk tahun kedua berturut-turut kepada PT Naga Semut. Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo, memberikan piala dan piagam penghargaan kepada manajemen perusahaan.

Penghargaan ini merupakan simbol bahwa semua pihak mempunyai peran masing-masing dalam mewujudkan masyarakat yang sadar lingkungan yang lestari. Naga Semut sebagai eksportir plastik dan bagian dari masyarakat Jawa Tengah, juga berupaya kontribusi sosial agar industri plastik kemasan bisa maju sebagai salah satu industri ramah lingkungan dalam negeri untuk Indonesia dan dunia yang lebih baik.

Dalam era keterbukaan pasar ASEAN sendiri melalui mekanisme Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), harga, kualitas serta value yang didapat untuk konsumen plastik semakin bersaing alias kompetitif sehingga perusahaan plastik harus selalu berinovasi dan mempersiapkan strategi yang mantap untuk bertahan dan sukses di industri ini.

Perhatian pemerintah daerah atas perkembangan industri plastik yang ramah lingkungan juga patut menjadi topik yang disampaikan kepada segenap penyalur/distributor dan masyarakat konsumen.

1. Penggunaan yang menyebar dari kota sampai desa. 2. Teknologi untuk daya urai di lingkungan alam masih terus berkembang. 3. Masih tingginya harga bahan substitusi plastik berbasis organik. 4. Adanya definisi yang beragam atas konsep “ramah lingkungan” itu sendiri. 5. Edukasi dan disiplin masyarakat atas penanganan kemasan plastik bekas. 

Naga Semut sebagai salah satu produsen plastik ramah lingkungan, dikenal juga sebagai pabrik kantong plastik kresek juga memperhatikan perkembangan teknologi untuk menghasilkan kantong plastik ramah lingkungan. Salah satu teknologi bahan plastik oxo-degradable yang diterapkan dalam proses produksi di pabrik plastik Naga Semut adalah penggunaan Oxium dari salah satu produsen bahan additif di dunia yang lahir di Indonesia, dan beberapa brand lain EPI serta D2W yang diproduksi oleh produsen asal Kanada dan Inggris.

Produk ramah lingkungan merupakan strategi yang perlu dikembangkan oleh berbagai perusahaan untuk memberikan dampak sosial yang positif bagi konsumen era digital sekarang ini. Dengan interaksi sosial di dunia digital yang semakin mudah, keberadaan produk ramah lingkungan akan semakin dicari melalui informasi di berbagai media sosial dan online channel lain yang ada.

Sugianto Tandio, Pelopor Kantong Plastik Ramah Lingkungan | tas promosi



Setelah hampir menguasai market perusahaan ritel di Indonesia, Sugianto ingin merambah pasar tradisional. Kapasitas produksi yang mencapai 3.000 ton per bulan untuk Oxium dan 500 ton per bulan untuk Ecoplas siap ditingkatkan untuk memenuhi permintaan di pasar tradisional. PT Tirta Marta juga menggandeng 12 perusahaan pembuat kantong plastik untuk menerapkan dua sistem ramah lingkungan itu.

Sugianto menyebutkan, kantong plastik hitam yang beredar di pasar-pasar tradisional merupakan hasil daur ulang berkali-kali. "Kondisi plastik sangat jelek. Harus diperbaiki," tegasnya.

Dengan upaya itu, diharapkan ancaman bencana karena kantong plastik di negeri ini bisa dicegah. Selain itu, Sugianto berharap pemerintah lebih getol dalam mengedukasi masyarakat. Sebagian besar masyarakat yang masih menggunakan kantong plastik konvensional harus diedukasi untuk mengelola sampah supaya tidak menjadi musuh lingkungan.

Sementara itu, teknologi kantong plastik Oxium dipakai sebagian perusahaan waralaba besar. Di antaranya, Indomaret, Alfamart, dan Hero. Tanda yang bisa dilihat, di kantong plastik dari toko-toko tersebut terdapat logo Oxium yang dilengkapi gambar kantong plastik hancur dalam empat tahap.

Sugianto menerangkan, selisih harga bagi beberapa perusahaan tersebut tidak bisa dibandingkan dengan kontribusi mereka menjaga lingkungan dari ancaman bahaya kantong plastik. Dengan menggunakan kantong plastik yang mudah terurai, brand perusahaan juga bisa ikut terangkat. "Mungkin bisa dialokasikan dari biaya promosi," katanya.

Dengan inovasi tersebut, Tirta Marta mendapat penghargaan dari Pemprov DKI Jakarta. Penghargaan juga didapatkan perusahaan-perusahaan yang menggunakan kantong plastik Oxium dan Ecoplas. Penghargaan diberikan karena mereka ikut menjaga lingkungan.

Setelah hampir dua tahun dua teknologi itu diperkenalkan, perkembangannya berbeda. Kantong plastik dengan teknologi Oxium lebih laku di pasar lokal. Sementara itu, sebagian besar kantong plastik dengan teknologi Ecoplas diekspor. "Memang ongkos produksi Oxium lebih rendah daripada Ecoplas," katanya.

Sugianto membandingkan, ongkos produksi kantong plastik Oxium dengan konvensional hampir setara. Sementara itu, biaya produksi kantong plastik Ecoplas lebih mahal 20 persen daripada biaya kantong plastik konvensional.

Brand-brand asing yang menggunakan kantong plastik Ecoplas, antara lain, PoloRalphLaurens, Raoul, Nickelodeon Universe, dan Lake Winds. Kantong plastik Ecoplas juga digunakan produk lokal. Misalnya, Grup Ciputra dan Miracle. 

Setelah ditambah bahan aditif tersebut, kantong plastik yang semula baru terurai setelah seribu tahunan bisa dipercepat hanya dalam kurun dua tahun. Bahkan, pada kondisi tertentu, misalnya di atas genting, kantong plastik dengan sistem Oxium bisa semakin cepat terurai. "Dua tahun itu dalam kondisi umum. Pada kondisi tertentu bisa lebih cepat," ujarnya.

Pengembangan selanjutnya adalah teknologi Ecoplas. Dalam teknologi itu, Sugianto mencampur bahan pembuat bijih plastik dengan tepung ketela pohon. Dalam persentase tertentu, kantong plastik yang berbahan ketela pohon itu bisa hancur hanya dalam waktu sekitar dua bulan.

Dia menyatakan, pembuatan kantong plastik dengan bahan tepung ketela itu bisa berdampak sosial. Yaitu, di kawasan pedesaan, geliat orang untuk menanam ketela bisa meningkat. Selain itu, bisa membuka lapangan kerja baru. "Selama ini kami belum membuat desa binaan. Kami sebatas membeli secara masal ketika musim panen," ungkapnya. Dia, antara lain, membeli di kawasan Jawa Barat.

Dia memperkirakan, selisih ongkos membuat kantong plastik berbahan jagung dengan bahan murni bijih plastik mencapai 300 persen. Selisih tersebut, menurut Sugianto, terlalu tinggi. Akhirnya, dia menemukan teknologi Oxium dan Ecoplas untuk mengatasi dampak buruk kantong plastik. Dua teknologi tersebut sudah dipatenkan.

Dia menuturkan, pada dasarnya teknologi Oxium adalah memberikan campuran bahan pembuat bijih plastik. Dalam pembuatan bijih plastik, Sugianto memberikan campuran bahan aditif.

Dengan penambahan bahan tersebut, dia mengklaim proses oksidasi pada kantong plastik bisa dipercepat. Dengan demikian, mikroba bisa semakin cepat menghancurkan sampah kantong plastik.

Dampak lain bahaya kantong plastik adalah saluran air di sungai yang tersumbat. Sama dengan di darat, kantong plastik yang berada di dalam atau permukaan air tidak mudah hancur. Sampah plastik yang berkumpul dan berdesakan menyumbat aliran air.

Dari potensi-potensi dampak tersebut, akhirnya Sugianto yang saat itu mencari duit dari usaha membuat kantong plastik berpikir untuk masa depan lingkungan. Akhirnya, dia menghabiskan waktu sekitar delapan tahun untuk melakukan riset. Riset tersebut dilakukan dengan cara menggabungkan teknologi pembuatan kantong plastik yang ramah lingkungan, berdampak sosial, dan harganya terjangkau.

Dia menjelaskan, waktu itu di Amerika ada teknologi pembuatan kantong plastik berbahan jagung. Dia menyebutkan, teknologi tersebut memang cukup efektif menciptakan kantong plastik yang mudah hancur. "Tapi, ongkosnya tinggi. Bisa berpengaruh pada harga jual kebutuhan pokok," jelasnya.

Untuk bisa menghancurkan plastik, mikroba butuh proses oksidasi. Pada kantong plastik konvensional yang sering kita peroleh ketika berbelanja di pasar tradisional, proses oksidasi ideal berjalan sekitar seribu tahun atau seabad. "Baru setelah itu mikroba mampu menghancurkan plastik tersebut," ucap Sugianto.

Dia menjelaskan, di Indonesia, dampak timbunan sampah kantong plastik tersebut sudah terjadi. Tepatnya di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Bandung, 21 Februari 2005. Tragedi yang menelan 143 korban tewas itu dikenang dengan sebutan tragedi longsor sampah.

Sugianto menjelaskan, kejadian tersebut muncul karena sampah kantong plastik sudah menggunung. Sampah-sampah tersebut sekilas sudah berbentuk menyerupai tanah. Tapi, ketika hujan deras mengguyur, tanah yang terbuat dari timbunan kantong plastik itu rapuh dan akhirnya longsor sehingga membunuh ratusan orang.

Tidak betah dengan suara deru mesin, Sugianto lantas mengajak berbincang di ruang kerjanya. Dia lantas menjelaskan, sejatinya kantong plastik itu merupakan benda organik. Menurut pria 47 tahun tersebut, plastik merupakan turunan dari minyak, sedangkan minyak terbuat dari plankton. "Jika dirunut, plastik itu kan barang organik," jelasnya.

Apa pun bentuknya, Sugianto menyebut kantong plastik itu musuh lingkungan. Dia menjelaskan, massa molekul yang terkandung dalam plastik cukup tinggi. Kandungannya mencapai 5,5 juta molekul dalam 1 gram-sentimeter kubik.

Nah, tingginya massa molekul yang terkandung dalam plastik tersebut membuat plastik cukup kuat. Plastik yang menjadi sampah dan dibuang di tempat pembuangan sampah tidak bisa langsung dihancurkan oleh mikroba. "Mikroba tidak kuat memakan plastik," katanya.

Pria kelahiran Jambi itu sempat mengajak mengelilingi tempat usahanya. Di dalam pabrik, berdiri mesin-mesin pembuat kantong plastik. Mesin-mesin setinggi pohon kelapa itu berfungsi mengubah bijih plastik menjadi lembaran plastik.

Di tengah mesin produksi kantong plastik yang terus menderu, Sugianto menjelaskan bahwa teknologi Oxium dan Ecoplas tersebut diterapkan pada tahap produksi bijih plastik (polyethylene). Sayangnya, dengan alasan rahasia perusahaan, dia tidak memberikan kesempatan untuk berkeliling melihat pembuatan bijih plastik. "Dari sinilah sifat buruk kantong plastik kita," ujar Sugianto.

Penemuan teknologi pembuatan kantong plastik seratus tahun silam konon merupakan terobosan. Namun, 50 tahun kemudian, muncul kesadaran bahwa kantong plastik merupakan musuh lingkungan. Sifatnya yang tidak mudah terurai diprediksi mengancam kelestarian lingkungan. Sugianto akhirnya memelopori kantong plastik ramah lingkungan.

BEBERAPA langkah masuk di kompleks pabrik PT Tirta Marta di Cikupa, Tangerang, mata langsung disuguhi tumpukan kantong plastik atau yang sering disebut kresek bekas. Seluruh plastik itu tertata rapi menggunung. Di sekitarnya, beberapa karyawan sedang membakar sebagian sampah kertas yang terselip.

PT Tirta Marta bisa jadi masih asing terdengar. Perusahaan yang dipimpin Sugianto Tandio itu bergerak dalam industri kantong plastik. Didirikan pada dekade 1970-an, perusahaan yang berdiri di lahan seluas dua hektare tersebut terus berkembang.

Yang terbaru, mereka memelopori teknologi Oxium dan Ecoplas dalam pembuatan kantong plastik. Dua teknologi tersebut mengubah asumsi bahwa kantong plastik merupakan musuh lingkungan. Sugianto bertekad memproduksi kantong plastik yang ramah lingkungan atau yang disebut degradable plastic.







Carrefour sudah Kurangi 10 Miliar Kantong Belanja Plastik

Carrefour secara global telah melaksanakan program pengurangan penggunaan kantong belanja plastik | spunbond tangerang


spunbond tangerang


Bagi pelanggan yang tetap menginginkan menggunakan kantong belanja plastik Carrefour yang degradable (dapat terurai paling lama 2 tahun) masih dapat membeli di kasir. Harga per kantong plastik senilai Rp200 untuk ukuran kecil dan Rp400 untuk yang besar.

Program itu merupakan sejatinya kelanjutan pelaksanaan pilot project di Carrefour Sunset Denpasar dan Carrefour Imam Bonjol di Bali dalam rangka mendukung Hari Tanpa Kantong Plastik Sedunia setiap 3 Juli.

Dengan pelaksanaan program itu, tujuh gerai Carrefour di atas tidak lagi memberikan kantong belanja plastik secara gratis kepada para pelanggan.

Sebagai gantinya, Carrefour menyarankan pelanggan untuk membawa kantong/ keranjang belanja sendiri atau membeli green bag.

“Pelanggan Carrefour dapat membeli green bag“ (kantong belanja ramah lingkungan yang dapat dipakai kembali) seharga Rp9.900/kantong," ujar Hendrik Adrianto, Head of External Communication & CSR PT Carrefour Indonesia.

Carrefour Indonesia sebagai peritel yang peduli lingkungan di Indonesia berinisiatif untuk mengurangi pemakaian kantong belanja plastik serentak di tujuh gerai Carrefour.

Gerai tersebut berada di Lebak Bulus, Ambarukmo Yogya, Maguwo Yogya, Srondol Semarang, DP Mall Semarang, Citra Garden Medan, dan Medan Fair mulai 15 Oktober 2012.

Demikian disampaikan Adji Srihandoyo, Corporate Affairs Director PT Carrefour Indonesia.

“Kami berharap kegiatan yang kami lakukan ini dapat memberikan kontribusi positif terhadap pelestarian lingkungan karena kami sadar bahwa sampah plastik menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar di bumi," ujarnya.

Perusahaan ritel yang berpusat di Prancis itu menyarankan konsumen untuk menggunakan kantong belanja yang bisa dipakai kembali.

Hingga 2010, Carrefour Grup telah mengurangi penggunaan kantong belanja plastik sebesar 10 miliar.

Saat ini gerai-gerai Carrefour di Eropa (Prancis, Spanyol, Belgia, Polandia, Italy, Rumania), Asia (China, Taiwan) dan Amerika Latin (Brasil, Argentina) sudah mengimplementasikan program itu.

Sejak 2006, Carrefour secara global telah melaksanakan program pengurangan penggunaan kantong belanja plastik di beberapa negara.

Kantong Plastik akan Dikenai Cukai |spunbond tangerang



Target kami ialah tahun ini hal itu sudah dapat dilaksanakan," tegas dia.

Mengenai jenis kantong plastik yang akan dikenai cukai, Suahasil menyatakan masih akan mendalami hal tersebut.

Dikatakan dia, pemerintah juga akan mempertimbangkan produsen-produsen kantong plastik ramah lingkungan.

"Jenis (kantong plastik) ada banyak, nanti akan kita lihat bentuk cukai yang efisien seperti apa," tutur Suahasil.

Sekarang sudah banyak kantong belanja yang bisa dipakai berulang kali. Masyarakat dapat menggunakan kantong tersebut untuk berbelanja," imbuh dia.

Dikatakan dia, rencana pemberlakuan cukai tersebut akan menunggu izin prinsip terlebih dahulu yang akan dibicarakan dengan DPR.

Setelah itu, akan dibuatkan peraturan pemerintah dan penyusunan mekanisme pelaksanaan.

Namun, berbeda dengan mekanisme kantong plastik berbayar, kali ini dana tersebut akan masuk ke kas negara.

Dirinya berharap, dengan harga yang menjadi tinggi tersebut, masyarakat dapat mengurangi konsumsi kantong plastik sekali pakai.

"Untuk saat ini yang akan kita kenai (cukai) adalah kantong plastik dahulu," ucap Kepala BKF Suahasil Nazara saat dihubungi, Rabu (4/1).

Dengan pengenaan cukai pada kantong plastik, lanjut dia, harga kantong plastik yang akan jatuh ke tangan konsumen bakal menjadi tinggi.

RENCANA Badan Kebijakan Fiskal (BKF) untuk mengenakan cukai pada kemasan plastik sejalan dengan program plastik berbayar yang diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).

Cara tersebut menjadi upaya mengurangi limbah plastik yang selama ini membebani lingkungan.

PLASTIK RAMAH LINGKUNGAN, BENARKAH BISA JADI SOLUSI? |spunbond tangerang



Untuk saat ini, harga plastik biodegradable emang cenderung lebih mahal dibanding plastik konvensional. Tapi nggak ada salahnya kan berkorban sedikit demi menyelamatkan lingkungan, terbukti saat ini mulai banyak toko yang mempopulerkan penggunaan plastik biodegredable ini. jadi kita bisa sedikit bernapas lega saat terpaksa harus menggunakan kantong plastik dari toko tersebut.

Sebagai perbandingan, kalo plastik konvensional butuh waktu sekitar 50 tahun untuk bisa terurai dengan alam, plastik biodegradable bisa 10-20 kali lebih cepat. Bagusnya lagi, hasil degradasi plastik biodegradable bisa digunakan sebagai pupuk kompos atau makanan hewan. Kualitas tanah juga dapat meningkat karena hasil penguraian meningkatkan unsur hara dalam tanah. Ketika dibakar pun plastik ini nggak menghasilkan senyawa kimia yang berbahaya.

Kenapa bisa begitu? Yang membuat plastik biodegradable jadi lebih istimewa adalah bahan baku utama yang terdapat dalam proses pembuatannya. Kalo biasanya plastik konvensioanal terbuat dari petroleum, gas alam, atau batu bara, maka plastik biodegradable terdiri dari bahan dasar berupa senyawa-senyawa dari tanaman seperti selulosa, kolagen, kasein, protein, atau lipid yang terdapat dalam hewan. Bahan-bahan tersebut dapat diperbaharui sehingga tentu saja lebih mudah terurai dibanding bahan plastik konvensional.

Untuk itulah saat ini mulai dikembangkan biodegradable plastic. Bentuknya nggak jauh dengan plastik konvensional, tapi sesuai dengan namanya, plastik ini dapat terurai kembali oleh aktivitas mikroorganisme, menjadi senyawa yang ramah lingkungan. Makanya plastik biodegradable cenderung lebih aman digunakan dibanding plastik konvensional.

Masih banyak dari kita yang udah lupa atau sama sekali nggak mempraktekkan membawa sendiri kantong belanja dari rumah tiap kali mau membeli sesuatu. Penggunaan kantong plastik emang masih belum bisa 100% dihindari. Apalagi kalo mengandalkan kesadaran masing-masing orang, rasanya masih jauh dari harapan untuk membuat bumi ini benar-benar bersih dari kantong plastik.








Kantong Plastik Dapat Sebabkan Kanker

Penerapan Kantong plastik berbayar | spunbond sablon

spunbond sablon


Jika plastik Kantongan harus bayar, bagaimana pula dengan minyak goreng yang berwadah plastik tebal, refil beibagai sabun, makanan yang menggunakan plastik yang justru lebih susah dihaneur-kan dan lainnya. “Itu bagaimana pula,” ujarnya bernada tanya. Dengan kondisi seperti ini, lanjutnya, sepertinya sudah sebaiknya bawa Kantongan sendiri saat belanja yang terbuat dari kain goni. Jadi tak perlu lagi pakai wadah plastik.

Ada j uga konsumen yang tidak mengeluarkan komentar apa pun ketika kasir bertanya apakah konsumen tidak keberatan menggunakan plastik dari mereka dengan syarat harus bayar Rp200.

Penerapan ini, lanjutnya, akan membuka mata para ibu, karena mereka yang belanja. “Karena sering belanja itu, merekalah yang sering buang sampah plastik,” pungkasnya.

Terkait diberlakukannya plastik berbayar itu, beberapa konsumen yangbelanja di salah satu toko waralaba ada yang kom-plain ke kasirsaat membayar. “Seharusnya, wadah untuk belanjaan itu ditanggung pe-ngusahalah. Kenapa harus dibebankan ke konsumen,” keluh salah seorang konsumen yang enggan menyebut nama.

“Secara umum, plastikjangan dibakar, sebaiknya dipisahkan. Kalau dibakar juga tidak akan haneur,” jelasnya mengaku mendukung diberlakukannya plastik berbayar dengan tujuan mengurangi sampah plastik. “JKN juga akan membuat gerakan bebas plastik tapi ramah lingkungan seperti pemakaian kertas tebal. Ini, mudah diurai alam, ramah lingkungan. (ierakan ini. reneananya kita lakukan Maret nanti sekaitan gerakan tuberkulosis (TB),” paparnya.

Pengamat lingkungan Jaya Arjuna mengatakan, penerapan Kantong plastik berbayar didukung penuh. Sebab, dampak Kantongplastiksangatsulitdimusnahkan. “Wajib disetujui penerapan Kantong plastik berbayar. Jika anda lihatdi Belawan banyak sekali sampah plastik mengakibatkan sering sangkut di baling-baling kapal nelayan,” katanya.

“Kalau plastik kualitas rendah jangan dibuat membungkus makanan.Begitu juga pembungkus seperti kotak plastik, harus tertentu dan tidak mudah bereaksi kimia, lebih aman. Kualitasnya baik dan yang tahu hal ini adalah industri.” urainya.
Efek Kantong plastik tersebut, masih Delyuzar, dapat menyebabkan rusaknya ginjal atau kanker karena adanya karsinogen yang digunakan dalam waktu yang lama. Begitu pula dengan plastik yang dibakar. Menyebabkan timbulnya reaksi kimia dan menghasilkan zat-zat yang tidak baik bagi kesehatan seperti mengganggu atau merusak pernafasan.

Kalau Kantong plastik tidak berkualitas tersebut tidak disiapkan untuk membungkus makanan, lanjutnya, ada zat wama dalam plastik yang bila digunakan untuk membungkus makanan seperti goreng gorengan bisa lebih berbahaya.

“Kantong plastik terlebih yang tidak memiliki kualitas baik, dapat menyebabkan penyakit kanker. Harusnya Kantong plastik mempunyai kriteria tertentu untuk membungkus makanan sehingga tidak membuat reaksi seeara kimia kalau kena panas makanan,” ujar Ketua Jaringan Kesehatan Masyarakat (JKM) Sumatera Utara dr Dclyuzar SpPA, baru-baru ini.

Plastik yang biasa disebut plastik asoy yang digunakan sebagai pembungkus makanan panas dapat mengganggu kesehatan. Hal ini dikarenakan terjadi reaksi kimia pada Kantong plastik yang terkena suhu panas tersebut.

Polemik Sampah Plastik, Degradable atau Biodegradable? | spunbond sablon



“Bahkan produk plastik biodegradable mereka juga sudah diekspor. Tapi tidak pernah disebut berapa nilai pendapatannya,” pungkas Henry.

Sebagi contoh, ujarnya lagi, pihak PT Tirta Marta selaku produsen plastik biodegradable dalam presentasinya pada forum yang diadakan oleh KLHK tahun 2015 lalu menyebutkan bahwa saat ini plastik biodegradable yang mereka produksi sudah meliputi sekitar 90% dari kantong plastik kresek yang digunakan oleh perusahaan retail di Indonesia.

Menurut Henry, meski plastik biodegredable masih memiliki kandungan polymer dalam kadar yang sedikit, namun KLHK cenderung lebih setuju untuk penggunaan plastik jenis ini meskipun harganya tergolong lebih mahal dibandingkan plastik biasa.

KLHK, terusnya, juga telah meminta data-data tentang berapa banyak plastik yang telah diproduksi dari industri dan beredar di pasar-pasar tradisional maupun retail modern. “Kami telah meminta data tentang berapa banyak plastik yang diproduksi dan beredar di pasar, baik retail modern maupun pasar tradisional dan yang diekspor itu sudah kita mintakan dari pihak Industri namun belum kita peroleh,” tambahnya.

Namun tenyata, antara plastik degredable dan biodegredable memiliki perbedaan. Menurut Kepala Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi KLHK Henry Bastaman, plastik degredablemasih belum bisa dikatakan ramah lingkungan karena masih menggunakan bahan baku polymer dengan kadar yang cukup tinggi. Sedangkan untuk plastik biodegredable yang menggunakan bahan alami seperti tumbuh-tumbuhan, katanya, harus yang benar-benar 100 persen diakui kadarnya.

“Kalau biodegredable itu pada umumnya dibuat dari bahan-bahan nabati sedangkan yangdegredable masih memiliki kandungan kimiawi yang hampir sama dengan plastik biasa. Hanya saja, memang degredable memiliki waktu terurai lebih cepat dari plastik biasa, kalaubiodegredable dia bisa langsung terurai,” jelasnya, Jakarta, Selasa (09/02).

Melihat semakin berbahayanya dampak sampah plastik ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tengah menyusun aturan penerapan kantong plastik berbayar untuk menekan jumlah plastik yang digunakan oleh masyarakat.

Beberapa industri plastik juga mulai mengubah beberapa jenis plastik yang mereka gunakan, seperti pengalihan dari kantong plastik biasa yang menggunakan bahan polymer yang terdiri dari berbagai macam karbon dan memiliki umur yang sangat panjang dan sulit untuk diuraikan, menjadi plastik degredable dan biodegredable yang disebut-sebut lebih ramah lingkungan dan mudah terurai.

 Sampah plastik selalu membawa kerugian yang begitu besar bagi alam. Di tanah, sampah plastik memiliki waktu yang sangat panjang untuk terurai. Sisanya, sampah plastik akan berakhir di lautan. Berdasarkan data dari Pusat Data dan Informasi Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) yang diterima oleh Greeners, saat ini sedikitnya 12,7 juta ton sampah dibuang ke sungai dan bermuara di lautan setiap tahun. Dari jumlah tersebut, terdapat 13.000 plastik mengapung di setiap kilometer persegi tiap tahunnya.

Indonesia sendiri berada di posisi kedua setelah Cina dari 20 negara yang paling banyak membuang sampah plastik ke laut setiap tahunnya. Dalam siklus 11 tahun, jumlah sampah plastik tersebut mengalami peningkatan dua kali lipat, dimana kemasan dan bungkus makanan atau minuman yang menjadi jenis sampah plastik terbesar.


Kantong Plastik Berbayar | spunbond sablon



Hal lain yang patut dipikirkan pemerintah adalah, bukan hanya sebatas pemberlakukan kantong plastik berbayar sebagai upaya mengurangi limbah berbahan plastik. Tapi harus ada regulasi dan pengawasan lebih ketat serta inovasi untuk menekan produksi sampah plastik.

Bahkan bagi pemakai kantong plastik diwajibkan untuk mempertanggungjawabkan pemakaiannya. Tidak boleh dibuang sembarangan. Karena Rp200 bukan angka yang terlalu mahal, dan tidak sebanding dengan limbah yang dihasilkan.

Artinya pemerintah harus memiliki kebijakan yang lebih tegas lagi terhadap penggunaan berbahan plastik. Sehingga bukan hanya sebatas mengurangi, tetapi menghentikan pemakaian kantong berbahan plastik yang tidak ramah lingkungan, diganti dengan kantong dari kertas.

Sebagai janji pemerintah akan melakukan evaluasi terhadap kebijakan kantong plastik berbayar ini secara berkala, hendaknya dilakukan secara benar.

Karena pelaksanaan aturan ini tidak melalui proses sosialisasi mengakibatkan sebagaian warga masih bingung. Bahkan akan berimbas kepada pasar modern yang bukan tidak mungkin mendapat protes dari konsumen karena dikenakan biaya tambahan untuk membayar kantong plastik. Karena selama ini pemberian kantong plastik gratis kepada konsumen merupakan bentuk pelayanan yang diberikan pengelola retail.

Sisi lain kalau tujuannya mengurangi sampah berbahan plastik, patut dicontoh Pemerintah DKI Jakarta. Melalui Pfera-turan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah, toko-toko diwajibkan menyediakan kantong plastik ramah lingkungan. Pemprov DKI memang tak bisa melarang pemakaian kantong plastik. Namun ada Perda yang mengatur pemakaian kantong plastik ramah lingkungan. Jadi secara tidak langsung memaksa untuk menggunakan plastik ramah lingkungan.

Bahkan sanksi bagi toko-toko modern yang tidak menyediakan kantong plastik ramah lingkungan, dikenakan denda Rp 5 sampai Rp 25 juta.

Disetiap daerah mempunyai “background”, kapasitas dan kemampuan yang berbeda-beda. Mesti dikomunikasikan dulu secara luas.

Masyarakat harus punya ‘awareness” bahwa ini untuk kebaikan, juga harus mendapat masukan sebelum ini ditetap-kan.Meskipun kabijakan ini bertujuan menciptakan lingkungan yang lebih baik, namun sebaiknya jika ingin tetap menggulirkan ini sebagai kebijakan tetap, sifatnya tidak memaksa, apalagi untuk mereka yang menengah ke bawah. Penetapan kantong plastik berbayar dinilai hendaknya bukan menjadi keharusan. Apalagi setiap daerah harga berbeda-beda bahkan Pemerintah DKI Jakarta mengusulkan Rp5.000 per kantong.

Karena uang dari pembelian kantong plastik itu akan dikembalikan ke rakyat melalui kegiatan pengendalian pencemaran lingkungan hidup. Sedang pasar retail hanya sebagai pengumpul saja.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Rosan P Roeslani berpendapat, penetapan kantong plastik berbayar harus dikaji kembali agar “awareness” masyarakat bisa tergali dengan kebijakan ini. Alasannya karena kemampuan masyarakat di setiap daerah berbeda.

Alasannya demi menjaga dan mengurangi tingkat kerusakan lingkungan yang lebih parah, mengingat konsumsi bungkus plastik di Indonesia tergolong tinggi yaitu 9,8 miliar bungkus plastik per tahunnya atau nomor dua di dunia setelah Tiongkok.

Namun nominal Rp200 per pemakaian setiap kantong plastik belum akan memberikan efek jera bagi konsumen untuk tidak menggunakan bungkus plastik. Pertanyaan lain, terkait pengelolaan dana dari kantong plastik itu. Siapa pelaksananya dan akan digunakan untuk apa.

Bukankah aturan ini malah membebani masyarakat. Apakah cara ini efektik untuk mengurangi sampah palstik. Mengapa pemerintah tidak langsung mengeluarkan kebijakan larangan menggunakan kantong plastik. Pertanyaan-pertanyaan ini muncul di tengah-tengah masyarakat.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyatakan, kebijakan kantong plastik berbayar bagi konsumen yang berbelanja di retail modern merupakan hal yang rasional.

SEJAK 21 Februari 2016 pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencanangkan sistem kantong plastik berbayar dimulai retail-retail modem. Menyusul pasar tradisional. Langkah awal dilakukan uji coba serentak di 22 kota, termasuk Kota Medan. KLHK menetapkan harga minimal standar Rp200 untuk setiap kantong plastik.

Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi produksi sampah terutama dari bahan plastik.

Namun kebijakan ini mendapat respon pro dan kontra oleh masyarakat. Kalau tujuannya mengurangi produksi sampah plastik, mengapa dengan cara membebani masyarakat harus membayar ketika berbelanja di pasar modern.







Senin, 10 Juli 2017

Pemda Lamban Respon Keberhasilan Bank Sampah

Pengelolaan sampah dengan cara dipilah atau melalui bank sampah sangat efektif untuk mengatasi persolan sampah | spunbond printing



Dia berharap Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar untuk mendorong agar bupati dan wali kota memberikan dukungan untuk pengelolaan sampah yang ramah lingkungan seperti bank sampah.

“Meyakinkan aparat pemerintah bahwa pengelolaan sampah melalui bank sampah dan pemilahan bukan berarti menurunkan anggaran untuk pengelolaan sampah,” ujarnya.

Salah satu penyebab kurangnya respon pemerintah terhadap bank sampah yakni kebeperhikan pemda kepada pengusaha transportasi pengangkut sampah. Ada kekhawatiran jika pengelolaan dengan bank sampah maka anggaran sampah termasuk untuk transportasi pengangkut sampah akan dipangkas. Padahal pengelolaan sampah dengan melibatkan partisipasi masyarakat, sangat efektif mengatasi persoalan sampah.

Pengelolaan sampah selama ini belum efektif, yaitu sampah langsung diangkut kemudian ditumpuk di tempat pembuangan akhir sampah. Padahal menurut ketentuan Undang-Undang, sebelum sampah di buang, samoah-sampah dipilah antara sampah organik dengan non organik. Kemudian dari rumah, sampah organik diangkut untuk dibuang di TPS. Pada proses pembuangan akhir, sampah juga harus dipilah kemudian dapat didaur ulang. Selain itu, dari sampah juga dapat menghasilkan energi terbarukan.

“Bank sampah membantu namun pemerintah lamban. Bank sampah yang berhasil ditingkat RT dan RW segera lah direplikasi dalam konteks kota atau kabupaten."

"Pemkab/pemkot  lambat mengantispasi itu sehingga bank sampah yang berkembang posisinya kerdil, hanya berkembang disitu saja. Memang efektif tetapi hanya di daerah itu saja ,” kata Ahmad Syarifudin, dalam perbincangan bersama Radio Republik Indonesia, Minggu (19/2/2017).

Pakar Perkotaan Lingkungan, Ahmad Syarifudin mengatakan pemerintah daerah lamban dalam merespon kesuksesan bank sampah di tingkat RT/RW sehingga keberhasilan yang dirasakan cakupannya sempit. Padahal pengelolaan sampah dengan cara dipilah atau melalui bank sampah sangat efektif untuk mengatasi persolan sampah.


Menabung Sampah Agar Tidak Menggunung di Cikapundung | spunbond printing



Pipit Pitriana (42), warga setempat menyambut baik tentang penyuluhan bank sampah dan mengaku lebih mengerti tentang pemanfatan sampah. Dia berujar ternyata sampah bekas rumah tangga yang tadinya dibuang begitu saja, namun bila dikumpulkan dengan sabar dan teliti bisa menghasilkan  uang sebagai penambah penghasilan.

“Saya pikir sampah itu tidak ada manfaatnya. Tapi pas saya ngabandungan(memperhatikan) soal bank sampah ternyata lumyan oge (juga) kalo bisa dikumpulkan. Rencana saya dan kelompok kedepannya akan mencoba mempraktekkan pemilahan sampah rumah tangga untuk di tabung di bank sampah, nanti uangnya mau diambil ahpas lebaran saja,” pungkas dia.

John menuturkan, cara sederhana untuk menurunkan volume sampah yang terus meningkat mesti menyentuh dari hulu yakni sampah rumah tangga. Sebab, langkah tersebut dapat mempermudah proses distribusi sampah hingga ke TPA.

Dia berharap dengan banyaknya masyarakat yang mulai melirik konsep bank sampah diharapkan lebih menyadari bahwa sampah bisa bernilai ekonomi. Apalagi masyarakat perkotaan rata – rata membuang sampah Rp. 10.000/hari.

Dia menjelaskan, menurut data PD Kebersihan Kota Bandung hampir 80% sampah domestik kebanyakan berasal dari bahan organik. Namun, setelah dilakukan pengamatan mendalam ternyata sampah organiknya lebih sedikit. Hanya saja bercampur dengan sampah anorganik sehingga seolah – olah banyak.

“Selama ini paradigm masyarakat melihat sampah itu musuh. Tetapi melalui manajemen bank sampah dibalikkan bahwa sampah itu ternyata membawa berkah dan dapat mendatangkan uang,” kata dia.

“Permasalahan sampah di kita masih pada proses pemilahan. Jika pola pemilahan sampah sudah terbangun. Diharapkan mampu meminimalisir persoalan lingkungan yang ditimbulkan oleh sampah. Selain itu juga para orang tua mampu menanamkan kebiasaan memilah sampah ke anaknya agar mereka juga sadar tentang lingkungan dan tidak membung sampah sembarangan,” ujar Ratna yang juga berprofesi sebagai dosen ekonomi di Telkom University.

Ditempat yang sama,  John Sumual, Direktur Bank Sampah Bersinar, mangatakan untuk mengatasi permasalahan sampah di masyarakat salah satunya harus melibatkan masyarakat itu sendiri. Dia menyebutkan pola kebijakan persampahan di Kota Bandung masih menggunakan sistem konvensional. Padahal menurut hematnya kelebihan konsep bank sampah efektif memilah sampah antara organik dan anorganik berskala rumahan.

Untuk mengakali hal tersebut tidak terjadi lagi, pihaknya akan membentuk kelompok bank sampah yang beranggotakan 20 orang. Nantinya setiap kelompok ditugaskan memilah sampah hasil rumah tangga selama 30 hari. Setelah itu terkumpul dan disetorkan kepada pihak bank sampah, setiap kelompok akan menuai hasil dari memilah sampah tersebut berupa uang dalam bentuk rekening.

Dikatakan Ratna, mulanya masyarakat akan terus diberikan pemahaman agar memiliki wawasan bahwa sampah memiliki nilai ekonomi. Hal itu penting, mengingat masyarakat perkotaan masih apatis terhadap persoalan yang menyangkut lingkungan. Jika sudah demikian, langkah selanjutnya masyarakat akan diajarkan tata cara memilah sampah yang bisa dijual sesuai dengan kriteria bank sampah.

Dia menerangkan, di Kelurahan Cipaganti, tepatnya di RW 05 terdapat 720 Kepala Keluarga (kk) yang setiap harinya ibu – ibu dari masing – masing rumah berkutat dengan sampah. Tentu dapat diprediksi berapa banyak sampah yang dibuang percuma setiap hari tanpa dimanfaatkan terlebih dahulu. Alhasil sampah akan menumpuk di tempat pembuangan sementara (TPS) dan menimbulkan bau tidak sedap.

Ratna Lubis Nugroho, Ketua Pelaksana Gemercik, menuturkan bahwa bank sampah bukan merupakan metode baru yang digunakan untuk memanimalisir barang yang sudah tak terpakai. Dia beranggapan bahwa konsep seperti ini dinilai cocok diterapkan di masyarakat karena memiliki dua kelebihan yakni lingkungan menjadi bersih dan bisa mendapatkan keuntungan dari segi ekonomi.

“Kami disini ingin membantu masyarakat untuk menyediakan bank sampah sendiri. Nanti khususnya masyarakat di perkotaan akan berperan dalam memilah sampah yang berasal dari rumah tangga. Diharapkan penyelenggaraan bank sampah ini bisa terus menyadarkan masyarakat tentang manfaat dari sampah sekaligus menumbuhkan rasa menjaga lingkungan,” kata dia saat ditemui di Mesjid Mungsolkanas.

Forum Gerakan Masyararakat Peduli Cikapundung (Gemercik), berkeinginan mengubah pola pikir dari perilaku masyarakat yang membuang sampah tanpa memilah, menjadi memilah sampah untuk mendapat berkah. Upaya tersebut ditempuh melalui sosialisasi konsep bank sampah kepada masyarakat di bantaran Sungai Cikapung, di Kelurahan Cipaganti, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Selasa (17/01/2017).

Permasalahan sampah di perkotaan memang masih menjadi problematika berkelanjutan. Lingkungan masyarakat yang heterogen kadang kala berganggapan bahwa sampah adalah sesuatu yang tidak berguna dan harus segera dibuang. Anggapan seperti itu diwajarkan, dengan alasan sebagian masyarakat belum mengetahui manfaat lain yang bisa dihasilkan dari sebuah sampah.


Carrefour Kurangi Penggunaan Kantong Plastik | spunbond printing



Sejak tahun 2006, Carrefour secara global telah melaksanakan Program Pengurangan Penggunaan Kantong Belanja Plastik di beberapa negara dan menyarankan konsumen untuk menggunakan kantung belanja yang bisa dipakai kembali. Hingga tahun 2010, Carrefour Grup telah mengurangi penggunaan kantong belanja plastik sebesar 10 milyar kantung. Saat ini gerai-gerai Carrefour di Eropa (Perancis, Spanyol, Belgia, Polandia, Italy, Rumania), di Asia (Cina, Taiwan) dan di Amerika Latin (Brazil, Argentina), sudah mengimplementasikan program ini.

"Kami berharap kegiatan yang kami lakukan ini dapat memberikan kontribusi positif terhadap pelestarian lingkungan karena kami sadar bahwa sampah plastik menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar di bumi. Dengan membeli Green Bag, pelanggan ikut berpartisipasi dalam menjaga dan melestarikan lingkungan," demikian tegas Adji Srihandoyo, Corporate Affairs Director, PT. Carrefour Indonesia.

"Pelanggan Carrefour dapat membeli Green Bag (kantong belanja ramah lingkungan yang dapat dipakai kembali) seharga Rp 9.900/kantong. Sedangkan bagi pelanggan yang tetap menginginkan menggunakan kantong belanja plastik Carrefour yang degradable (dapat terurai paling lama 2 tahun), pelanggan masih dapat membelinya di kasir dengan harga Rp 200/kantong untuk kantong plastik kecil dan Rp 400/kantong untuk kantong plastik besar," ujar Head of External Communication & CSR, Carrefour, Hendrik Adrianto, di Jakarta, Senin (15/10).

Program ini merupakan rangkaian dari Pelaksanaan Program Pengurangan Penggunaan Kantong Belanja Plastik yang diawali pelaksanaan pilot projectnya di Carrefour Sunset Denpasar dan Carrefour Imam Bonjol di Bali dalam rangka mendukung Hari Tanpa Kantong Plastik Sedunia yang jatuh pada setiap tanggal 3 Juli. Adanya tanggapan positif dari pelanggan yang perduli terhadap lingkungan menambah keyakinan Carrefour melanjutkan di gerai lainnya secara bertahap. 

Carrefour Indonesia berinisiatif untuk mengurangi pemakaian kantong belanja plastik, serentak di 7 (tujuh) gerai Carrefour. Gerai tersebut antara lain di Lebak Bulus, Ambarukmo Yogyakarta, Maguwo Yogya, Srondol Semarang, DP Mall Semarang, Citra Garden Medan dan Medan Fair. 

Nantinya gerai Carrefour tersebut tidak lagi memberikan kantong belanja plastik secara gratis kepada para pelanggan. Sebagai gantinya, Carrefour menyarankan pelanggan untuk membawa kantung/keranjang belanjaanya sendiri atau membeli Green Bag. Aturan ini berlaku mulai tanggal 15 Oktober 2012.







Super Indo Ajak Pelanggan Aktif Gunakan Re-Usable Bag

Keberhasilan Super Indo melaksanakan program Re-usable Bag | spunbond murah jakarta


spunbond murah jakarta


Dengan mengurangi penggunaan kantong plastik, maka kita dapat berkontribusi dalam upaya penyelamatan lingkungan. Selain partisipasi aktif Pelanggan, kontribusi dari setiap kita sangat menentukan keberhasilannya. Agar partisipasi bisa terwujud, maka dibutuhkan kerjasama dari seluruh karyawan Super Indo diseluruh gerai, tidak hanya untuk mengajak pelanggan kita, namun juga menjadi program ambassador. 

Caranya selain memberikan penjelasan yang akurat mengenai mekanisme program , semua associates diharapkan untuk mulai meninggalkan kantong plastic, dan beralih pada penggunaan kantong belanja pakai ulang atau reusable bag secara konsisten.

Hal ini juga sejalan dengan komitmen Super Indo untuk berpartisipasi aktif dalam setiap upaya penyelamatan lingkungan. Dengan program ini, pelanggan diajak untuk bersama-sama mengurangi sampah plastic yang berbahaya bagi lingkungan dengan membawa kantong belanja sendiri. Pelangan Super Indojuga bisa menggunakan kardus yang tersedia di semua gerai sebagai pengganti kantong belanja plastik.

Dengan program tersebut ini, Super Indo akan memberikan reward berupa cash back bagi seluruh pelanggan yang membawa sendiri kantong belanja atau memutuskan untuk tidak menggunakan kantong belanja plastik.

 Cash back yang diberikan bisa menjadi hak pelanggan sebagai potongan nilai total belanja atau bisa didonasikan melalui Yayasan Pusat Pengembangan Riset Sampah Indonesia (PERISAI) yang menjadi partner Super Indo dalam menjalankan program tersebut.

 PERISAN bernaung di bawah Indonesian Solid Waste Association (InSWA) yang telah berpengalaman dalam pengelolaan sampah dan kelestarian lingkungan di Indonesia.

Keberhasilan Super Indo melaksanakan program Re-usable Bag mendorong perusahaan untuk menjalankan program serupa di tahun 2014. Tepat di awal Maret 2014, Super Indo meluncurkan kembali Program “Gunakan Re-usable Bag, Dapatkan Cash Back” di seluruh gerai Super Indo. 


KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN BERIKAN PENGHARGAAN KEPADA SUPER INDO UNTUK INISIATIF DALAM WASTE MANAGEMENT | spunbond murah jakarta




Sebagai informasi, Supermarket Super Indo memiliki ambisi keberlanjutan 2020, dimana salah satu targetnya adalah Bebas Sampah. Sejak 2006, Super Indo telah mengkampanyekan pengurangan kantong plastik di semua gerainya dan mulai menyediakan kardus sebagai wadah belanja secara gratis. Program insentif bagi pelanggan yang tidak menggunakan kantong plastik sejak 2013 berhasil mengurangi penggunaan kantong plastik sebanyak lebih dari 11 juta lembar.

 Dengan berbagai inisiatif pengelolaan sampah seperti program komposting, food donation, pemanfaatan jelantah dan kardus, Super Indo berhasil mengurangi sampah ke TPA sebesar 51,99% dari total sampah yang dihasilkan. Berbagai inisiatif dan pencapaian inilah yang mendorong Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memberikan secara langsung penghargaan kepada Super Indo.

Selain penghargaan yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan dengan inisiatif hijau yang baik, kegiatan yang berlangsung di Celebes Convention Center Makassar tersebut juga diwarnai dengan penandatanganan komitmen kesatupahaman untuk kebijakan kantong plastik berbayar. Komitmen ditantangani oleh APRINDO yang mewakili peritel modern, pimpinan dari berbagai Kota/Kabupaten, dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan disaksikan oleh Wakil Presiden, Bapak Jusuf Kalla.

Menanggapi penghargaan yang diterima, Yuvlinda Susanta mengatakan “Super Indo berambisi untuk mencapai kondisi bebas sampah pada tahun 2020. Untuk itu, secara konsisten Super Indo menjalankan berbagai inisiatif hijau seperti kampanye penggunaan reusable bag, pemberian insentif kepada pelanggan yang tidak mengunakan kantong plastik melalui program “Use Reusable Bag, Get Cash Back”, program composting, food donation, dan program-program lainnya. Penghargaan ini tentu akan semakin memotivasi Super Indo yang telah berada di jalur yang tepat dalam upaya pengurangan sampah”.

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memberikan penghargaan kepada Super Indo untuk inisiatif pengelolaan limbah dalam kegiatan operasionalnya. Penghargaan diserahkan langsung oleh Ibu Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Turut menerima penghargaan tersebut bersama-sama Super Indo adalah Tetrapak, The Body Shop Indonesia serta Aqua – Danone. Yuvlinda Susanta, Department Head Corporate Communication & Sustainability Super Indo, mewakili Super Indo dalam menerima penghargaan tersebut.


MAKIN CANTIK TANPA KANTONG PLASTIK | spunbond murah jakarta




Salah satu yang juga bisa digunakan sebagai tas belanja ramah lingkungan sebagai pengganti tas plastik adalah tas canvas bag. Bahannya lebih tebal dan mudah dicuci sehingga banyak dimanfaatkan untuk kantong belanja karena cukup mampu menampung barang belanjaan. Tas model seperti ini cukup banyak tersedia di pasaran dari mulai supermarket dan pasar tradisional dengan harga yang relatif murah berkisar Rp 100.000,-.

Kampanye Go Green pun sebenarnya sudah sangat sering di suarakan dan banyak juga yang sudah menerapkannya dan menjadi tren di tengah masyarakat. Tas ramah lingkungan seperti ini pun sebenarnya lebih memiliki model, bentuk dan warna yang lebih menarik kemudian satu lagi yang kelebihannya adalah akan mampu membantu program peduli lingkungan diet kantong plastik.

Kebijakan ini mengajarkan agar masyarakat bisa belajar untuk peduli terhadap lingkungan. Berbelanja ke supermarket atau pasar tradisional dengan membawa tas dari rumah sendiri tanpa menggunakan tas plastik. Kita tahu jika sampah plastik sudah semakin banyak dan menggunung  sehingga proses daur ulangnya pun membutuhkan waktu yang cukup lama.

Kebijakan pemerintah per tanggal 21 Februari yang mengharuskan melakukan pembayaran plastik untuk setiap penggunaannya memang banyak menimbulkan pro dan juga kontra. Banyak yang menentang tapi ada juga yang mendukung atas kebijakan tersebut. Biaya yang harus dibayar adalah Rp.200,- untuk satu kantong plastik. Mungkin bagi sebagian orang jumlah yang harus dibayarkan tidak terlalu berpengaruh akan tetapi poinnya sebenarnya bukan pada sejumlah uang tersebut.









Minggu, 09 Juli 2017

Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar Telah Digugat

Kantong plastik adalah sumber sampah yang tidak dapat diurai bumi | spunbond indonesia




Setiap konsumen yang memerlukan kantong plastik untuk setiap pembelian barang, dikenai kewajiban membeli kantong plastik seharga minimal Rp 200 per kantong. Bahkan, untuk Kota
Balikpapan, ditetapkan Rp 1.500 perkantong plastik. Baru-baru ini, YLKI menyuarakan agar harga minimal menjadi Rp 1.000 perkantong plastik.

Kantong plastik berbayar ini telah berlaku sejak tanggal 21 Februari 2016, bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional. Surat edaran ini lahir dari pertemuan dengan Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), dan Assosiasi Pengusaha Ritel Seluruh Indonesia (APRINDO), yang diberlakukan selama 6 bulan dengan masa evaluasi berkala 3 bulan sekali.

Para penggugat berharap, MA menyatakan surat edaran tidak sah dan pemerintah menerbitkan kembali aturan yang jauh lebih efektif dan kongkret untuk mencegah dampak yang disebabkan oleh kantong plastik.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah jelas menyatakan kantong plastik adalah sumber sampah yang tidak dapat diurai bumi dan memiliki kontribusi 14% dari total jumlah sampah di Indonesia.

Selain itu, surat edaran kantong plastik berbayar juga dianggap bertentangan dengan Pasal 1320 KUH Perdata. Hal ini karena barang yang mencemari lingkungan seharusnya tidak boleh diperjualbelikan, termasuk kantong plastik.

"Selayaknya penyerahan kunci dari bangunan dalam hal kebendaan saja," ujar Aqil.

Kantong plastik itu pun dianggap bagian yang tidak terpisahkan dari kewajiban penjual.

Dalam pasal yang dimaksud, negara menjamin kewajiban sang penjual untuk menyerahkan kebendaan secara nyata dan utuh kepada tiap pembeli.

Selain Aqil, ada pula delapan advokat lainnya, yakni Ronny Asril, Harry Syahputra, Wibisono Oedoyo, Endang Suparta, Abdul Lukman Hakim, Muhammad Irfan Elhadi, Suwirman Sikumbang dan Roni Saputra.

"Surat Edaran bertentangan dengan Pasal 612 KUH Perdata. Oleh sebab itu, kami gugat ke MA," ujar salah satu advokat yang menggugat, Mohammad Aqil lewat keterangan persnya, Selasa (19/4/2016).

Sejumlah advokat menggugat Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup Nomor S.1230/PSLB3-PS/2016 tentang Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar ke Mahkamah Agung (MA). Gugatan telah dilayangkan lewat Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (18/4/2016).

Mengurangi Penggunaan Tas Plastik | spunbond indonesia



Sedangkan langkah yang kedua adalah “Reuse” atau penggunaan kembali. Penggunaan kardus-kardus tersebut adalah langkah yang sangat tepat karena memanfaatkan barang yang sudah tidak terpakai. Sebelumnya kardus-kardus tersebut berakhir di tempat sampah, padahal sebagai sebuah supermarket, Superindo mempunyai banyak sekali kardus sisa packaging berbagai macam produk.

Walaupun tidak menggunakan design paperbag tetapi penggunaan kardus bekas yang memang bisa dipakai ulang, dapat dilakukan demi mengurangi jumlah sampah.

Cara ini cukup efektif karena dengan menggunakan kardus bekas, Superindo sudah melakukan dua langkah dalam Waste Management Hierarchy atau yang biasa yang dikenal dengan 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Langkah pertama yang sudah dilakukan oleh Superindo adalah “Reduce” atau pengurangan. Penggunaan kardus bekas dapat menggurangi penggunaan plastik khususnya tas kresek plastik dan secara otomatis juga dapat mengurangi sampah plastik.

Di setiap ujung meja kasir Superindo terdapat sebuah stiker yang menganjurkan para pembeli untuk menggunakan kardus bekas dan tidak menggunakan tas plastik/ kresek. Kasir juga secara aktif selalu menanyakan kesediaan pembeli untuk menggunakan kardus bekas.

Supermarket Superindo memberikan solusi yang cukup unik dan layak untuk ditiru oleh supermarket yang lain.

Menghentikan penggunaan plastik saat ini memang masih belum bisa kita lakukan, tetapi membatasi penggunaan plastik sangat bisa kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Lihat saja apa yang sudah dilakukan oleh Superindo.

Tak bisa dipungkiri lagi bahwa plastik merupakan salah satu kontributor aktif dalam sampah domestik atau rumah tangga. Hampir semua barang-barang rumah tangga dibungkus atau di tempatkan dalam wadah plastik sekali pakai. 

Padahal plastik merupakan komponen yang sama sekali tidak ramah lingkungan karena dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa didaur ulang.

Berikut artikel tentang supermarket yang menggunakan tas kertas. Walaupun tidak menggunakan paperbag design tetapi usaha mereka dalam menekan jumlah penggunaan plastik patut diacungi jempol. Semoga saja penggunaan paper bags design bisa bertambah di supermarket Indonesia.

Dengan paper bags design kita dapat mengurangi global warming, karena dengan penggunaan custom paperbag maka kadar karbon di atmosfer dapat berkurang. Jika tidak menggunakan tas kertas atau design paper bag maka proses pembuatan ataupun pembakaran dari tas plastik dapat menambah kadar karbon di atmosfer. Maka dari itu penggunaan paper bag design sangat disarankan.

Paper bag design yang unik bisa menambah gaya. Desain paper bag dapat memberikan kesan “tidak biasa” dalam penggunaannya. Inilah mengapa pengguna paper bags akan terlihat unik dan trendy.

Desain custom paperbag tak kalah gaya dengan tas plastik. Dan jangan kuatir, paper bags custom ini kuat dan tahan lama. Paper bags pun di desain secara unik, bahkan bisa di bilang design paperbag lebih bagus daripada tas plastik.

Plastik menjadi masalah yang sangat serius untuk saat ini. Tas kertas ataupun paperbag custom merupakan pilihan yang baik untuk mendukung pengurangan sampah plastik. Paperbag custom ini merupakan tas kertas yang di desain dengan unik sehingga terlihat menarik. Penggunaan custom paper bag sudah banyak tersebar. Paper bags custom juga digunakan tidak hanya di rumah tangga, melainkan di supermarket.


Surabaya Siap Terapkan Kebijakan Kantong Plastik Berbayar | spunbond indonesia



Musdiq menegaskan bahwa target bebas sampah di tahun 2020 akan dapat terwujud bila seluruh elemen masyarakat mendukung upaya pengurangan sampah dengan mengurangi penggunaan kantong plastik.

“Target terakhir ya Indonesia, bagaimana kota-kota itu masyarakatnya sudah tidak menggunakan kantong plastik lagi, cuma itu kan ya memang harus bertahap, target akhirnya tetap itu. Selain jangka panjang kita ini kan ada grand design tahun 2020 kita bebas sampah,” jelas Musdiq Ali Suhudi.

Khalid menambahkan, dengan berkurangnya sampah plastik yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir, Kota Surabaya diyakini akan terbebas dari sampah. Hal ini tidak lepas dari pengelolaan sampah di rumah tangga, hingga pemanfaatan sampah di TPA menjadi energi listrik.

“Semua sampah model apa saja nanti yang masuk di TPA nanti akan menjadi listrik. Dan residunya tidak boleh lebih dari delapanpersen. Sekarang memanfaatkan sampah yang sudah ada, dan itu diambil gas metannya, dan gas metannya itu PLN sudah membeli kepada kita,” lanjutnya.

Makin meringankan di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) dan sebagainya, dan lingkungan mesti jelas bersih. Artinya plastik ini yang dibuang yang tidak bisa digunakan lagi, sebenarnya plastik itu bisa digunakan lagi semuanya, cuma karena nilai ekonomisnya terlalu rendah, sehingga orang yang pemulung dan sebagainya, yang mendaur ulang atau pun bukan pemulung juga yang sudah melakukan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) itu tidak mau,” kata Khalid Buchori.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya, Khalid Buchori mengungkapkan, aturan pembatasan penggunaan kantong plastik dengan kantong plastik berbayar diyakini akan mampu mengurangi volume sampah plastik yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah.

“Kalau bicara sanksi berarti harus ada aturan, harus ada Perda, harus ada Perwali atau apa, bah itu yang akan diatur sebenarnya. Sebenarnya Surabaya sudah punya dasar itu Perda Pengolahan Sampah tahun 2014, sudah ada dasar itu yang bisa dipakai, artinya tinggal sekarang bagaimana membuat Perwalinya aja,” kata Hermawan Some, Koordinator Komunitas Nol Sampah.

Koordinator Komunitas Nol Sampah, Hermawan Some mengatakan, penerapan aturan pembatasan penggunaan kantong plastik diyakini akan efektif mengurangi volume sampah di suatu kota hingga 70 persen.

Hermawan menegaskan, pengusaha pasar modern dapat terkena sanksi bila mengabaikan kebijakan itu, karena tidak mendukung upaya pemerintah mengatasi persoalan sampah.

Pemerintah Kota Surabaya menyatakan siap mendukung kebijakan pemerintah pusat itu, untuk mengurangi jumlah sampah plastik yang mencapai 30 persen dari seluruh volume sampah di Kota Surabaya. Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Musdiq Ali Suhudi mengatakan, implementasi kebijakan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik akan didukung, dengan Peraturan Walikota maupun Peraturan Daerah.

“Sambil menunggu peraturan dari Kementerian (Lingkungan Hidup dan Kehutanan) yang lebih detil terkait dengan implementasi, misalnya harga atau sanksi dan sebagainya, kita juga sedang menyiapkan aturan dalam bentuk Perwali (Peraturan Walikota), tapi kita smabil menunggu nanti aturan yang lebih detil dari Kementerian pusat,” kata Musdiq Ali Suhudi, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya.

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bertekad mengurangi volume sampah yang ada di lingkungan masyarakat, dengan mengeluarkan kebijakan pembatasan penggunaan kantong plastik di pasar-pasar modern di Indonesia. Masyarakat yang berbelanja di pasar modern akan dikenai sejumlah biaya bila meminta kantong plastik sebagai wadah barang belanjaan.

Sebulan sebelum Hari Peduli Sampah Nasional, 21 Februari, sebagai bentuk keprihatinan terhadap peristiwa runtuhnya timbunan sampah di TPA Leuwigajah, Bandung pada 2005 yang menewaskan 143 orang, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Januari 2016 mengeluarkan Surat Edaran mengenai pengurangan penggunaan kantong plastik. Upaya itu dilakukan dengan memberlakukan kebijakan kantong plastik berbayar di pasar-pasar modern.