Tampilkan postingan dengan label tas souvenir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tas souvenir. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Desember 2017

Dompet dan Tas dari Kantong Semen

Kerajinan dari kantong semen bekas | tas souvenir




Namun karena minimnya peralatan dan karyawan, Weny baru mampu memproduksi 20 dompet dan tas dalam setiap bulan. Kini setiap bulan mereka mampu mengirim 20 barang ke pusat penjualan UKM Jatim di Juanda. Dari bisnis itu pasangan Sutiono dan Weny mampu mendapat keuntungan tambahan Rp 1,3 juta per bulan.

Sesudah kering kantong semen disetrika dan dibuat pola sesuai keinginan. Proses selanjutnya dijahit dan diberikan formula khusus agar tahan terhadap air. Proses terakhir diberi lapisan pernis agar terlihat lebih mengkilat. Untuk bahan baku hingga proses penjualan Weny mengaku belum menemukan kendala berarti.

Cara membuat kerajinan dari kantong semen tidak sulit. Awalnya kantong semen dibersihkan dulu lantas diikat dengan tali karet untuk membentuk pola ketika diwarna. Pewarnaannya pun menggunakan pewarna tekstil biasa dengan cara dimasukkan dalam wadah pewarna lantas dijemur hingga kering.

Ketika itu kantong semen bekas hanya dibuang begitu saja. Dari sinilah ia mencoba membuat kantong semen menjadi lebih berharga dengan mengubahnya jadi berbagai kerajinan.

Pasangan suami istri Sutiono dan Weny Indrasari, warga Perum Tanggulangin Asri Sejahtera, Sidoarjo, berhasil membuat berbagai kerajinan dari kantong semen bekas. Ide membuat tas dan dompet berbahan kantong semen bekas didapat Sutiono ketika rumahnya sedang direnovasi. 


Kerajinan Daun Kering Rambah Pasar Internasional | tas souvenir




Pasar internasional mampu membawa kerajinan milik warga Ngagel Mulyo semakin berkembang dan selalu dilirik pembeli. Dalam satu tahun ini dia telah di kontrak tiga negara yakni Ameria, Inggri dan Dumai untuk mengirim produk kerajinannya seperti kantong kopo dan tempat abu jenazah.

"Dalam setahan kita harus kirim 2 kontainer ke tiga negara. Itu harusnya 6 kontainer namun tenaga yang terbatas akhirnya kita tidak bisa memenuhi permintaan pihak luar," pungkasnya.

Proses pembuatan kerajinan ini lumayan lama, pasalnya daun kering yang berhasil dikumpulkan ini direndam dengan pewarna dan air panas. Baru setelah itu disetrika supaya daun lebih kaku dan kering. Setelah kering kemudian diolah menjadi beberapa kerajinan seperti kipas, kotak tissu, tas dan vas bunga.

"Proses pembuatan dalam satu hari kita ada 10 macam kerajinan. Namun kerajinan ini kita hanya menerima pesenan kalau dulu kita bisa bikin eceran namun setelah kerjasama dengan negara luar kita jadi mengerjakan pesanan dulu," imbuhnya.

Dengan harga mulai dari Rp8 ribu hingga Rp5 juta, ia tidak pernah merubah racikan proses pembuatan kerajinannya. Setiap hari ia harus mengolah daun kering ini menjadi lebih dari 10 kerajinan.

"Yang paling sulit dari pembuatan kerajinan daun kering ini butuh ketelatenan yang ekstra sabar. Karena kalau tidak begitu tidak akan selesai. Jadi jika ada pekerja baru saya harus benar-benar mengajari sampai dia bisa." ungkap Nani kepada beritajatim.com, Minggu (20/11/2016).

Seperti kreasi kerajinan daur ulang dari bahan daun milik Nani Heri. Berbekal dari daun kering ia mampu menembus pasar internasional. Kerajinan yang ia buat memang berbeda dengan milik kerajinan yang lain, pasalnya bahan dasar yang digunakan adalah daun kering.

Merambah dunia bisnis kerajinan handmade daur ulang sejak 20 tahun yang lalu, membuat ibu tiga putra ini harus pandai-pandai mempertahan kualifitas produknya di persaingan yang cukup besar saat.

Kreasi handmade (kerajinan tangan) menjadi trend di kalangan masyarakat Surabaya. Bahkan kerajinan yang kerap kali menggunakan bahan daur ulang ini kini sering sekali diburu masyarakat lokal maupun luar untuk dijadikan oleh-oleh.


Limbah Disulap Jadi Barang Bernilai Ekonomis | tas souvenir



Saat ini produk yang dihasilkan anggota Bank Sampah sering ikut dalam sejumlah bazar maupun pameran dan setiap anggota menjual di media sosial (medsos) masing-masing. Bahkan, mereka pernah mememuhi pesanan souvenir pernikahan sebanyak 1.000 dari limbah plastik.

Sementara itu, Direktur Bank Sampah Induk TPA Randegan, Riani menambahkan, jika dari beberapa jenis limbah sampah yang banyak dimanfaatkan yakni sampah plastik. "Karena limbah plastik lebih banyak didapatkan di TPA. Selain itu, ampah plastik tidak dapat diurai dengan tujuan meminimalisir menumpuknya limbah plastik," jelasnya. 

"Tujuannya agar hasilnya bagus dan mempunyai nilai ekonomis, karena kami juga mengedukasi masyarakat jika sampah itu bisa menghasilkan uang jika dimanfaatkan dengan baik. Barang yang dihasilkan dari anggota Bank Sampah dibandrol mulai dari Rp25 ribu hingga ratusan ribu," ujarnya. 

Menurutnya, jika tidak rapi dalam pengerjaannya maka hasilnya kurang bagus. Tarikan dan kerapian juga harus diperhatikan sehingga menghasilkan barang yang diinginkan. Anggota juga mendapatkan pendampingan dan bimbingan, sebelum mereka membuat sendiri. 

"Tapi tidak harus dibuat di sini, terkadang juga buat di rumah masing-masing. Dari beberapa jenis limbah sampah, yang paling sulit membuat barang dari bahan baku gelas plastik karena ada satu metode yang sangat diperhatikan. Yakni melilit ring mony atau gelang gelas plastik," katanya. 

Sebanyak 104 bank sampah cabang tersebut tersebar di tiga kecamatan yakni Magersari, Kranggan dan Prajuritkulon. Untuk membuat barang dengan nilai ekonomis tersebut, anggota biasanya berkumpul di TPA Randengan yang ada di Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari. 

Salah satu anggota bank Sampah Induk TPA Randegan, Wulandari (43) mengatakan, limbah sampah yang dimanfaatkan tersebut berasal dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Randegan maupun bank sampah cabang. "Di Kota Mojokerto, ada 104 bank sampah cabang," ungkapnya, Kamis (19/10/2017).

Limbah rumah tangga seperti koran bekas, kantong plastik, baskom, gelas plastik dan beberapa barang lainnya dibuat berbagai produk yang tak kalah dengan buatan pabrik. Mulai dari tempat tisu, lampion, toples hingga tempat minum cantik. 

Sekelompok ibu-ibu di Kota Mojokerto yang tergabung dalam anggota Bank Sampah memanfaatkan limbah sampah rumah tangga. Limbah tersebut disulap menjadi berbagai barang dengan nilai ekonomis.









Rabu, 18 Oktober 2017

Aprindo dan KLHK akan Evaluasi Penerapan Diet Kantong Plastik

Mengurangi munculnya sampah plastik | tas souvenir



“Semakin banyak tote bag yang kita hasilkan, semakin besar kita mengurangi penggunaan kantong plastik di lingkungan kita. Jadi, mari mulai peduli dengan kelestarian alam yang asri. Keberadaan alam di masa datang ditentukan oleh aksi kita melestarikan alam saat ini,” harapnya.

Dia berharap melalui kegiatan ini, Gerakan Earth Hour Aceh mampu menggerakan anak-anak usia dini dan masyarakat untuk dapat turut serta mengurangi penggunaaan kantong plastik guna melakukan aksi pelestarian lingkungan.

“Salah satunya dengan membuat tote bag (tas belanja pakai ulang) dari bahan baju kaos bekas. Kan kebanyakan dari kita baju kaos bekas kalau udah sempit atau tidak dipakai lagi, cenderung dibuang atau dibakar. Nah, tote bag ini merupakan salah satu upaya kita untuk mengurangi kantong plastik,” lanjut Heri Tarmizi.

Tentu saja banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga bumi kita dan dimulai dengan langkah sederhana, dan bila kita lakukan dengan nyata dan konsisten akan sangat berpengaruh pada bumi dan lingkungan hidup.

“Untuk memulai langkah kepedulian untuk bumi bisa dimulai dari kreatifitas kita sendiri, sehingga menginspirasi rekan-rekan lain untuk lebih kreatif dalam menggunakan barang-barang yang sudah tidak digunakan menjadi barang yang bernilai guna,” kata dia.

Melihat hal ini pemerintah dan beberapa pihak swasta ataupun komunitas pemerhati lingkungan mulai melakukan beberapa tindakan untuk mengurangi munculnya sampah plastik seperti dengan memberlakukan tarif untuk kantong plastik di pusat perbelanjaan, program bank sampah, aksi diet kantong plastik dan masih banyak lagi.

Seperti kita ketahui, masalah sampah plastik menjadi perhatian kita semua. Jenis sampah ini adalah sampah yang sulit untuk terurai karena terbuat dari bahan kimia. Plastik yang terurai dan larut ke dalam tanah akan mencemari kandungan sumber daya air tanah.

Menurutnya, permasalahan tentang sampah atau lainnya, tentu saja bukan hanya pemerintah yang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan lingkungan, melainkan kita semua wajib  ambil bagian dalam usaha menjaga kelestarian bumi.

“Karena ini merupakan tanggung jawab semua orang. Makanya, salah satunya kita mulai dari anak-anak usia dini. Kita harus bisa mengajarkan pentingnya menjaga alam sejak usia dini,” tutur Heri.

Seperti disampaikan oleh Heri Tarmizi, Tim Earth Hour Aceh kepada Acehinsight.com, mengatakan bahwa untuk tema kegiatan memperingati hari bumi 2016, Gerakan Earth Hour Aceh mengambil tema tentang sampah. Dimana menurutnya, saat ini masih banyak sekali anak-anak usia dini yang belum paham dan mengetahui tentang bagaimana cara pengelohan sampah yang baik.

“Pada kegiatan kali ini, kita akan coba arahkan adik-adik siswa Sekolah Dasar untuk peduli tentang lingkungan dan alamnya. misalnya, ayo buang sampah pada tempatnya dan bijaklah pada sampah,” ujarnya.

Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Tim Gerakan Earth Hour Aceh, pada Sabtu, 23 April 2016, mereka melaksanakan sosialisasi dan juga pelatihan “Bijak Sampah Sejak Usia Dini” bersama puluhan murid dan guru MIN Mesjid Raya Banda Aceh.

Di usia bumi kita yang semakin tua, permasalahan lingkungan yang muncul di bumi ini sudah sangat kompleks. Mulai dari pencemaran lingkungan, berkurangnya kawasan hijau, sampah yang menumpuk, meningkatnya suhu bumi, dan masih banyak lagi.

Pada April ini, masyarakat di seluruh dunia akan merayakan Hari Bumi. Kegiatan ini diselenggaran guna membangkitkan kesadaran kita akan kondisi dan keberlangsungan bumi yang kita tinggali. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk bumi kita  dan hal itu dapat kita mulai dari langkah kecil.

GIDKP Dukung Kebijakan Kantong Plastik Berbayar | tas souvenir




 Petisi dengan jumlah dukungan sebesar 61.023 tanda tangan ini telah diserahterimakan kepada KLHK. Sejauh ini, GIDKP juga telah membantu Pemda Bandung untuk mulai melakukan implementasi Peraturan Daerah (Perda) Kota Bandung Nomor 17 tahun 2012 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik sejak 2014. 

Bandung adalah kota di Indonesia yang pertama kali memiliki aturan pengurangan penggunaan kantong plastik.

“Jumlah limbah plastik di Indonesia terlalu banyak. Per tahunnya, masyarakat Indonesia menggunakan hampir 10 milyar lembar kantong plastik, dan 95 persennya menjadi sampah. Maka itu, gerakan konsumen macam ini punya potensi besar dalam membawa perubahan,” jelas Siti Nurbaya dalam tanggapan online di halaman petisi #pay4plastic. 

Salah satunya adalah sosialisasi kebijakan dan turut mengawasi implementasi kebijakan.” Sebagai bagian dari dukungan tersebut, GIDKP mengajak masyarakat untuk terus melakukan aksi nyata dengan melakukan Diet Kantong Plastik setiap hari dan mendukung penerapan kantong plastik berbayar, untuk lingkungan yang bebas dari sampah kantong plastik.

 Oleh karena itu, sebagai organisasi yang menggawangi kampanye Diet Kantong Plastik, kami siap sedia membantu pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk dapat beralih sepenuhnya dari ketergantungan pada kantong plastik. 

Koordinator Harian GIDKP, Rahyang Nusantara, menyatakan, “Kami mendukung penuh rencana pemerintah menerapkan kebijakan kantong plastik berbayar. Akhirnya yang kami cita-citakan menjadi kenyataan. Kami menyadari adanya kebijakan ini perlu diikuti dengan peraturan yang mengikat secara nasional.

“Presiden juga telah memberikan atensi khusus terhadap hal ini. Berdasarkan pendalaman masalah di berbagai kota di Indonesia, beliau memerintahkan adanya regulasi yang dapat mendorong Pemerintah Daerah (Pemda) secara konkret untuk menyelesaikan persoalan sampah beserta percepatannya di tahun 2016 dan 2017,” jelas Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Mengikuti surat edaran tersebut, KLHK akan mengeluarkan kebijakan kantong plastik berbayar yang diluncurkan bertepatan pada Hari Peduli Sampah Nasional pada 21 Februari 2016 mendatang di 17 kota besar. 

Petisi #pay4plastic yang digencarkan Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) sejak tahun 2013 akhirnya mendapat tanggapan positif dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia dengan dikeluarkannya surat edaran Direktorat Jenderal (Ditjen) Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya nomor SE-06/PSLB3-PS/2015 tentang Langkah Antisipasi Penerapan Kebijakan Kantong Plastik Berbayar Pada Usaha Ritel Modern.


Limbah Plastik sebagai Campuran Aspal Bukan Solusi Pengurangan Sampah Plastik | tas souvenir




Rudi merasa yakin karena jenis plastik yang digunakan sebagai campuran aspal tersebut adalah plastik jenis PP atau PE. PP atau polypropylene ialah bahan plastik yang digunakan untuk kemasan makanan kering, sedotan, kantong obat, penutup botol, dan sejenisnya. Sementara PE atau polyethylene ialah bahan plastik yang digunakan sebagai kemasan minuman atau cairan. “Jadi ya tidak akan melepaskan emisi yang berbahaya,” katanya.

Sebagai informasi, sebelumnya, Direktur Pusat Teknologi Lingkungan (PTL BPPT) Rudi Nugroho, ketika dihubungi oleh Greeners mengatakan, meski menggunakan bahan baku plastik, jalan yang terbuat dari aspal akan tetap aman bagi masyarakat dan tidak akan memunculkan emisi yang membahayakan dari plastik yang telah diolah tersebut dengan komposisi 90% aspal dan 10% sampah plastik.

Bila program pembuatan jalan dengan plastik ini tetap diupayakan, Aliansi Zero Waste Indonesia meminta pemerintah atau kementerian terkait untuk membuka dokumen publik mengenai kajian lingkungan terkait proyek uji coba ini. Mereka juga meminta agar dilakukan penelitian untuk memastikan tidak adanya potensi pencemaran dan dampak kesehatan, baik kepada pekerja maupun penduduk di sekitar lokasi pembuatan jalan serta melakukan uji karakteristik toksik (TCLP, LD-50, dan uji sub-kronis) sesuai PP 101/2014.

“Selain itu, uji potensi pelepasan plastik dan bahan pencemar lainnya akibat proses pelapukan jalan juga harus dilakukan,” tambahnya.

“Sedangkan penempatan plastik di badan jalan berpotensi besar membuat berbagai potensi pencemar berinteraksi lebih dekat lagi ke permukiman dan badan air,” lanjutnya.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 3/2013 tentang Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga bahkan secara rinci telah menjelaskan standar kriteria penempatan lokasi TPA, termasuk jaraknya dari lokasi pemukiman penduduk dan badan air karena tingginya potensi pencemaran dari berbagai material yang masuk ke TPA.

Beberapa penelitianmenyatakan bahwa proses melelehkan plastik dapat melepas emisi VOC (Volatile Organic Compound). Bahkan hanya dengan suhu pelelehan 150 derajat Celcius, sudah dapat timbul pelepasan VOC. Semakin tinggi suhu pemrosesan, maka total emisi VOC yang dilepaskan juga meningkat. Oleh karena itu, kajian lingkungan terhadap kandungan gas yang dilepas selama proses perlu dilakukan bahkan setelah jalan plastik ini dilapisi oleh agregat bahan jalan dan telah dioperasikan.

Selain itu, aspal plastik ini juga memiliki potensi racun karena pastik yang digunakan dalam proses pengolahan aspal hanya berubah secara fisik dan membentuk lapisan tipis pada batuan, plastik tersebut tidak terurai. Pada proses pembuatan jalan, aspal plastik diproses pada suhu maksimum 160 derajat Celcius, yang cukup tinggi untuk melelehkan plastik tapi terlalu rendah untuk memastikan degradasi berbagai jenis senyawa beracun.

“Tanpa kajian yang matang dan holistik, terutama terkait dengan potensi timbulan, sirkulasi dan proses daur-ulang berbagai jenis plastik yang sudah ada, solusi latah yang meniru India ini tidak dapat disebut sebagai solusi berkelanjutan dan tidak mencerminkan visi circular economy,” ujar David seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Selasa (22/08).

Sedangkan, Direktur Perkumpulan Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) David Sutasurya dan beberapa anggota Lembaga Swadaya Masyarakat lainnya berpendapat bahwa pemanfaatan plastik untuk campuran aspal tergolong pendekatan hilir (end-of-pipe) dan berpotensi mengganggu aliran daur ulang plastik yang sudah ada. Karena itu mereka menganggap program ini tidak layak untuk dimasukkan sebagai bagian dari aksi nasional untuk reduksi sampah.

Rencana penggunaan limbah plastik sebagai bahan material campuran untuk aspal yang telah diuji coba di Bali oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang bekerjasama dengan Kementeriaan Koordinator bidang Kemaritiman dianggap bukan solusi upaya pengurangan sampah plastik di Indonesia.

Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) mengingatkan bahwa amanat pengurangan sampah plastik pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah adalah upaya pengurangan timbulan sampah yang berarti mencegah sampah itu timbul, dengan cara mengurangi konsumsi material dari hulu.














Rabu, 12 Juli 2017

Limbah Nanas Jadi Plastik Ramah Lingkungan

Manfaat lain dari limbah nanas | tas souvenir


tas souvenir


Mega berharap dapat mengembangkan penelitian ini sehingga dapat membuat plastik biodegradable. Menurut Mega, perlu dukungan dari semua pihak terutama pemerintah selaku regulator, industri kimia dan proses, serta kesadaran dari seluruh masyarakat. Harus ada kerja sama di antara banyak pihak untuk mendukung penerapan plastik biodegradable menggantikan plastik konvensional.

Mega berpesan, menang tanpa perjuangan panjang bagaikan menang tanpa kebanggaan, jika tidak ada kesukaran maka tidak ada kesuksesan. 

Plastik biodegradable adalah plastik yang mudah terurai. Jerman, India, Australia, Jepang, dan Amerika adalah negara yang paling intensif mengembangkan riset plastik biodegradable dan mempromosikan penggunaannya menggantikan plastik konvensional. 

Produk industri berbahan dasar plastik mulai menggunakan bahan biodegradable ini. Tapi penggunaan plastik biodegredable di Indonesia masih jarang. Padahal jelas sekali, bahwa potensi bahan baku pembuatan plastik biodegradable sangat besar di Indonesia. 

Penelitian ini melalui metode fermentasi, pemurnian asam laktat lalu polimerisasi akan didapat bioplastic yang mudah terurai di tanah.

“Karya ilmiah remaja milik teman-teman sesama peserta lomba LKIR 2016 ini menarik dan sangat kreatif, jadi memacu saya untuk bisa menjadi lebih baik lagi,” ujar Mega kepada CNN Student.

Tapi kamu jangan buang limbah kulitnya ya. Soalnya, Ghina Eroz Rasman dan Mega Meulia, siswi dari SMA Negeri 63 Jakarta berhasil menemukan manfaat limbah itu, yaitu bisa diubah jadi bahan pembuat plastik yang ramah lingkungan. 

Karya Ghina dan Mega menjadi finalis dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja ke-48 yang diadakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Mereka menemukan bahwa limbah nanas bisa menjadi medium alami fermentasi asam laktat oleh Lactococcis Lactis B187 yang kemudian menghasilkan L-LA sebagai bahan baku pembuat PLA atau bioplastic.

 Di Palembang, Sumatera Selatan, ada nanas yang terkenal manis meski ukurannya tak besar. Nanas bernama latin Ananas Comosus ini juga sering diolah jadi bahan pembuat kue. 

Produk Plastik Ramah Lingkungan dari Sawit | tas souvenir



Plastik biodegradable saat ini berkembang sangat pesat. Berbagai riset telah dilakukan di negara maju (Jerman, Prancis, Jepang, Korea, Amerika Serikat, Inggris dan Swiss) ditujukan untuk menggali berbagai potensi bahan baku biopolimer. Aktivitas penelitian lain yang dilakukan adalah bagaimana mendapatkan kemasan termoplastik degradable yang mempunyai masa pakai (lifetimes) yang relatif lebih lama dengan harga yang lebih murah.

Di Indonesia penelitian dan pengembangan teknologi kemasan plastik biodegradable masih sangat terbatas. Penyebabnya, selain kurangnya kemampuan sumber daya manusia dalam penguasaan ilmu dan teknologi bahan, juga dukungan dana penelitian yang terbatas.

Dia meyakini bahwa permintaan bioplastik murni ini akan meningkat saat harga minyak bumi melonjak lagi. Untuk memenuhi permintaan plastik yang semakin tinggi itu, produksi bioplastik akan meningkat dan ini akan mendorong harga produk semakin murah.

Dia menyebutkan, pemanfaatan bioplastik biobased yang karbonnya terbuat dari bahan terbarukan seperti gula, pati atau minyak nabati ini, sudah banyak digunakan di Eropa terutama untuk keperluan media seperti tempat obat.

Hanya memang, jika dikembangkan dalam skala industri, produk bioplastik ini harganya akan jauh lebih mahal dibandingkan plastik konvensional. Akan tetapi, kualitas bioplastik ini tidak kalah dibandingkan plastik konvensional. Sebab, bioplastik ini memiliki kemampuan terdegradasi secara alami.

Menurut Agus, kendala terbesar dari bioplastik ini adalah harganya yang bisa mencapai delapan kali lipat dari harga plastik konvensional. Dari segi ekonomis, bioplastik jauh lebih mahal dari plastik konvensional. “Tapi sangat mungkin untuk dikembangkan,” ujarnya.

LIPI masih akan terus melakukan pengembangan karena bioplastiknya saat ini berwarna cokelat tua. ”Kita lagi cari cara warna alami yang mampu menembus warna itu, meski sulit,” papar Agus.

Tak hanya kantong plastik, bahan dasar ini, dapat dibuat berbagai bentuk, seperti penggaris, bahan kursi dan alat keseharian. Semua tergantung komposisi, misal, tempat makan harus kualitas food grade.

Terkait bahan baku, ketersediaan limbah TKKS memang cukup melimpah. Meskipun begitu, hal yang menjadi kendala dalam pengembangan plastik berbasis PLA dari TKKS ini menyangkut alur proses yang harus dilakukan.

Selanjutnya mengenai proses pembuatannya, langkah awal yang dilakukan peneliti yaitu melakukan pengeringan TKKS dengan sinar matahari. TKKS yang sudah kering ini dicincang dalam ukuran yang sangat kecil dan kemudian dihancurkan. Lalu TKKS siap untuk difermentasi setelah melalui tahap hidrolisa. Fermentasi dilakukan dengan menjaga pH dalam tingkat tertentu, sebelum akhirnya dilakukan pemurnian asam laktat. "Hasilnya, poliester yang mudah terdegradasi secara biologis," ucapnya.

Penelitian ini masih proses. Bioplastik PLA masih kaku, tak lentur seperti plastik biasa. Kata Agus, masih bisa ditipiskan, bisa dikombinasikan dengan plasticizer alam agar lebih lembut.

Limbah tanaman perkebunan kelapa sawit ini, biasanya digunakan untuk bahan boiler, kompos, maupun pengeras jalan di perkebunan. Berdasarkan riset sebelumnya, paling tidak TKKS mengandung 45 persen selulosa. Untuk itu, kerjasama dengan perguruan tinggi dari Jepang pun dilakukan untuk mengembangkan proyek riset ini.

Dijelaskan, TKKS tinggi selulosa dan hemiselulosa, sehingga berpotensi besar sebagai sumber glukosa yang kemudian dikonversikan menjadi asam laktat melalui proses fermentasi oleh bakteri. Kemudian asam laktat ini dipolimerisasi menjadi PLA. PLA merupakan polimer yang serbaguna, biodegradable, alifatik poliester yang berasal dari 100 persen sumber daya terbarukan.
“Salah satu senyawa kimia yang dapat dihasilkan dari selulosa TKKS adalah asam laktat. Asam laktat merupakan bahan baku utama dalam pembuatan polimer biodegradable berupa poliasam Laktat (PLA),” tegas Agus.

Selama ini terdapat jenis bioplastik biobased dan additive based. Bioplastik dengan biobased merupakan jenis plastik dengan kandungan karbon yang terbuat dari bahan terbarukan seperti gula pati maupun minyak nabati. Sementara bioplastik additive based merupakan jenis plastik dengan kandungan karbon yang terbuat dari minyak bumi, tetapi mengandung bahan yang dapat memicu degradasi.

Penggunaan TKKS yang bersifat biobased ini akan menghasilkan poliasam laktat (PLA) yang merupakan sumber polimer untuk bioplastik. Dia menyebutkan bahwa pemanfaatan polimer yang diperoleh dari poliasam laktat (PLA) berasal dari tandan kosong kelapa sawit yang telah melewati proses fermentasi.

LIPI yang juga turut serta mendukung pemerintah dalam menciptakan produk yang ramah lingkungan akhirnya mengumumkan hasil temuan terbarunya berupa bioplastik dari limbah TKKS. "Bioplastik dengan biobased ini merupakan bioplastik murni yang 100 persen dibuat dari bagian tanaman atau biomassa. Yang kami kembangkan saat ini berasal dari tandan kosong kelapa sawit,” kata Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI Agus Haryono, baru-baru ini, di Jakarta.

Penggunaan limbah TKKS ini tidak hanya bersifat ramah lingkungan tetapi juga dinilai renewable resoursces (bahan terbarukan). Jadi, dengan renewable resources maka pemanfaatan limbah dinilai akan lebih baik nilai konversinya dari segi energi maupun ekonomi.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan produk plastik ramah lingkungan yang terbuat dari limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Bioplastik dengan biobased ini pun diakui lebih cepat terdegradasi. Penggunaan teknologi kemasan plastik berkonsep biodegradable ini merupakan salah satu upaya untuk keluar dari permasalahan penggunaan kemasan plastik yang non degradable (plastik konvensional). Pangkal soalnya, cadangan minyak bumi semakin berkurang, kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan serta risikonya terhadap kesehatan.

Sinar Joyoboyo Plastik Ajak UKM Kenalkan Plastik Aman | tas souvenir



Bermula dari tahun 1995 Lidah Buaya Group selaku holding company Sinar Joyo Boyo Plastik yang berpusat di Magelang, memulai produksi kantung plastik pertama untuk kebutuhan packaging internal. Seiring dengan hadirnya permintaan eksternal yang secara pesat terus meningkat, maka Sinar Joyo Boyo Plastik didirikan pada tahun berikutnya. Sejak tahun 1996, Sinar Joyo Boyo Plastik berkembang menjadi produsen kantung plastik yang memiliki peranan bagi perkembangan industri kantung plastik Indonesia.

Dalam kapasitas produksi maupun jenis produk yang dihasilkan, yang semula fokus pada produk kantung plastik berjenis PP kini telah berkembang dengan tipe produk kantung plastik yang lebih beragam seperti HDPE, LLDPE, mulsa dan raffia.

Salah satu zat berbahaya yang terdapat pada plastik tidak aman untuk makanan adalah zat dioktil ptalat (DOP). DOP menyimpan zat benzen suatu larutan kimia yang sulit dicerna dalam saluran pencernaan manusia. Benzen juga tidak bisa dikeluarkan melalui feses atau urin. Akibatnya zat ini semakin lama semakin menumpuk dan terbalut oleh lemak tubuh, bisa memicu munculnya penyakit kanker.

Selain untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, kegiatan roadshow Sebar Ta’jil Ramadhan Sinar Joyoboyo Plastik ditujukan pula untuk memberdayakan dan memberikan stimulasi bagi peningkatan keuntungan usaha para pelaku UKM. Hal ini sesuai dengan komitmen Sinar Joyoboyo Plastik sebagai perusahaan plastik yang turut peduli bagi kelangsungan bisnis usaha para pelaku UKM. “Ketika masyarakat mulai peduli terhadap pedagang yang menggunakan plastik aman, ujung-ujungnya mereka akan untung,” Gilang menegaskan.

Plastik tersebut tidak aman untuk pembungkus makanan terutama dalam kondisi panas seperti bakso kuah, bakmi kuah, bubur dan berbagai jenis gorengan panas. Suhu yang relative tinggi akan membantu migrasi bahan kimia plastik ke dalam makanan,” Gilang kembali menambahkan.

Migrasi merupakan perpindahan zat kimia berbahaya yang didapat dari kemasan ke dalam bahan makanan. Dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu luas permukaan yang kontak dengan makanan; kecepatan migrasi; jenis bahan plastik dan suhu serta lamanya kontak.

Hadirnya Sinar Joyoboyo Plastik sebagai produsen plastik yang aman untuk makanan (Food Contact), turut membantu masyarakat menghindari berbagai penyakit berbahaya sebagai dampak dari penggunaan plastik yang tidak memenuhi standar aman untuk makanan.

“Seringkali kita menemukan penjual makanan jajanan (street food) yang masih menggunakan kantung kresek yang berasal dari bahan daur ulang,”ujar Gilang.

EPI merupakan perusahaan pembuat aditif oxo biodegradable Totally Degradable Plastic Additives (TDPA) yang telah mendapatkan sertifikasi Ekolabel dari Kementerian Lingkungan Hidup. dan memiliki terobosan teknologi yang mampu membuat plastik produksi Sinar Joyoboyo Plastik dapat terdegradasi selama 24-36 bulan.

Biji plastik murni ditambah aditif EPI oxo biodegradable diolah menjadi plastik dengan presisi yang tinggi, sehingga menghasilkan kualitas produk yang kuat, ulet, aman untuk makanan serta ramah lingkungan.

Gilang Yogantoro, Marketing Departement Head Sinar Joyoboyo Plastik, memaparkan, selaku produsen plastik unggulan, Sinar Joyoboyo Plastik mengakomodasi tingginya kebutuhan plastik melalui produk plastik yang aman untuk makanan dan ramah lingkungan.

 “Inovasi tersebut berupa penerapan teknologi Oxo-Biodegradable yang mampu membuat plastik mudah terurai, sehingga plastik kami ramah untuk lingkungan,” kata Gilang.

Melalui sistem manajemen pengawasan mutu produksi berstandar ISO, produk Plastik Joyoboyo diolah dari bahan biji plastik murni yang halal dan aman untuk makanan (Food Contact) serta telah lulus uji degradasi dari Environmental Product Inc (EPI).

Dalam kehidupan manusia keberadaan plastik sudah menjadi bagian yang sulit terpisahkan. Selain untuk menunjang keperluan berbagai usaha, plastik masih menjadi komoditi andalan masyarakat terutama dalam menunjang aktifitas sehari-hari seperti membungkus makanan atau minuman menjelang berbuka puasa.

Handoko Sidharta, General Manager Sales & Marketing Sinar Joyoboyo Plastik, menjelaskan, peningkatan konsumsi plastik pada saat bulan Ramadhan menjadi fokus perhatiannya kali ini. 

“Menghadirkan plastik kemasan yang aman untuk makanan sebagai bukti nyata kami untuk turut menjaga keamanan jajanan kuliner di bulan suci Ramadhan.Kebutuhannya memang cenderung selalu meningkat. Seperti momen penting lainnya, bulan Ramadhan kali ini stoknya sudah kami siapkan,” ujar Handoko.

Selain itu, kegiatan yang sukses digelar di lima pusat jajanan ta’jil Ramadhan yakni 22-23 Juni di Yogyakarta, 24-25 Juni di Solo, 27-28 Juni di Malang, 1-2 Juli di Banjar dan 4-5 Juli di Purwokerto, akan diisi oleh berbagai kegiatan edukasi pengunjung serta ajakan berbagi melalui sebar ta’jil yang melibatkan para pelaku UKM disekitar lima kawasan tersebut dan mendapat antusiasme masyarakat sekitar.

Selain untuk menunaikan ibadah puasa, bulan Ramadhan seringkali dijadikan sebagai peluang bisnis para pelaku usaha kecil, terutama di bidang makanan dan minuman. Tentu saja hal itu turut meningkatkan konsumsi plastik di masyarakat. Untuk itu, Sinar Joyo Boyo Plastik hadir melalui produk plastik sebagai solusi di tengah menjamurnya para pelaku usaha musiman di bulan suci.

Menanggapi tingginya konsumsi plastik di bulan puasa,, Sinar Joyoboyo Plastik menggelar roadshow Sebar Ta’jil Ramadhan 1436 H ke berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Tujuannya untuk memberikan edukasi sekaligus meningkatkan wawasan masyarakat terhadap plastik sesuai dengan tipe dan fungsinya melalui kampanye “Kenali Plastikmu.”