Tampilkan postingan dengan label tas promosi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tas promosi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Desember 2017

Warga Solo Gelar Kampanye Kurangi Penggunaan Kantong Plastik

Ratusan warga Solo menggelar aksi kampanye mengurangi penggunaan kantong plastik | tas promosi

tas promosi



Antusiasme warga Solo pada kampanye tersebut sangat tinggi. Terbukti, sekitar 600 kantong kain yang berada dalam puluhan kardus yang disediakan penyelenggara aksi tersebut langsung habis dan ditukar dengan ribuan kantong plastik pemberian warga Solo.

Joko Widodo mengatakan, “Saya mengajak kepada seluruh warga Solo baik dimulai dari rumah tangga, supermarket, mal atau pusat perbelanjaan, pasar tradisional, rumah makan atau restoran, semuanya, segera saja meninggalkan pemakaian kantong plastik dan mengganti dengan bahan-bahan atau kantong yang lebih ramah lingkungan. Selamat tinggal kantong plastik, selamat datang bumi yang cantik.”

Dalam kesempatan tersebut, Walikota Solo, Joko Widodo, didampingi puluhan pegawai pemerintah kota Solo ikut mendeklarasikan Solo sebagai kota yang peduli bahaya kantong plastik. Bahkan Joko Widodo ikut mengajak para warganya di Solo untuk mengurangi pemakaian kantong plastik demi pelestarian lingkungan.

“Hari ini kita menyediakan 600 kantong yang terbuat dari kain secara gratis kepada masyarakat. Syaratnya warga menukarkan 2 kantong kersek atau kantong plastik.itu salah satu simbol ketika warga datang dan menukarkan itu, sebuah simbol bahwa warga mulai sekarang berkomitmen untuk mengubah gaya hidupnya menjadi ramah lingkungan dengan meninggalkan pemakaian kantong plastik dan beralih ke kantong kain yang notabene kantong kain bisa digunakan berulang kali. 

Kantong plastik yang terkumpul kita rangkai menjadi baju seperti monster plastik. Kita berharap warga menyadari kalau plastik yang ditimbun atau dikumpulkan akan menjadi sebuah mosnter yang mengerikan. Kita tahu plastik tidak ramah pada lingkungan,“ ujar Sadrah.

Juru bicara aksi kampanye warga Solo tersebut, Sadrah Dib, mengatakan aksi ini sebagai bentuk kepedulian warga pada kerusakan dan pencemaran lingkungan akibat sampah kantong plastik.

Mereka berjalan bersama sekitar 100-an warga Solo sambil membentangkan poster berisi gambar dan pesan tentang bahaya kantong plastik bagi lingkungan hidup.

Lima orang dengan kondisi seluruh tubuhnya dibalut ratusan kantong plastik tampak mengundang perhatian ribuan warga di ajang Car free day atau Hari Bebas Kendaraan di sepanjang jalan Slamet Riyadi Solo, Minggu pagi (15/7).

Ratusan warga Solo menggelar aksi kampanye mengurangi penggunaan kantong plastik.


Walau Berbayar, Pemakaian Kantong Plastik Masih Dominan | tas promosi



"Kalau Kementerian terkait mendukung UMKM dan industri kreatif masuk ke peluang bisnis ini, maka pengusaha ritel pun akan memberi tempat bagi mereka untuk menjual produknya langsung ke konsumen," ujar Roy.

Ia mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) maupun industri kreatif untuk melirik peluang bisnis memproduksi kantong plastik yang ramah lingkungan, berdesain unik sehingga menarik orang untuk membeli.

Harapannya, semakin lama masyarakat Indonesia meninggalkan kebiasaan menggunakan kantong plastik.

Secara umum, Roy menambahkan, penggunaan kantong plastik di ritel modern sudah tercatat mengalami penurunan walaupun tidak terlampau signifikan.

"Ada penurunan pemakaian, ya mendekati 10 persen. Mengubah lifestyle memang susah apalagi waktu uji coba 3 bulan dirasa masih kurang," jelas Roy.

Hal senada diutarakan Ketua Umum APRINDO Roy N Mande. Ia mengatakan, kantong plastik masih banyak digunakan oleh konsumen di pusat belanja ritel modern skala besar, seperti Hypermart, Carrefour, Lottemart dan lainnya meskipun konsekuensinya harus membayar Rp 200 per lembar.

"Di ritel modern besar mereka belanja bulanan, jadi susah mengurangi penggunaannya. Masih banyak yang beli kantong. Tapi di toko ritel modern kecil sudah sangat berkurang," kata Roy.

Ia mengatakan, pengusaha ritel akan memperbaiki kekurangan atau kesalahan dalam implementasi kebijakan kantong plastik berbayar. Hanya saja, Tutum meminta kepada pemerintah agar membuat aturan tegas dengan sanksi yang mengikat.

"Harus ada penegakan hukum kalau pemerintah mau serius. Buat pelaku usaha dan konsumen," ujar Tutum.

Pemerintah perlu menerbitkan aturan tegas apabila serius meneruskan pungutan kantong plastik berbayar setelah masa uji coba tiga bulan atau sampai Juni mendatang.

"Pemerintah jangan diam saja setelah kebijakan digulirkan. Bagaimana caranya memberi kenyamanan buat konsumen yang marah-marah akibat kantong plastik bayar, serta melindungi pengusaha ritel dalam pelaksanaannya di lapangan. Tapi sampai detik ini tidak ada peran dari pemerintah," jelas dia.

"Signifikan memang tidak, ini masalah waktu saja. Apakah semua niat orang bawa kantong dari rumah? Itu masalah kebiasaan saja yang masih harus dibangun. Yang penting kami sudah menjalankan kebijakan dari pemerintah," ujar dia.

Tutum mengaku, pemerintah tidak berpangku tangan dan menyerahkan semua implementasi kebijakan tersebut hanya kepada pelaku usaha ritel.

Sudah ada penurunan pemakaian kantong plastik. Tapi belum bisa menghitung berapa penurunannya," ujar Wakil Ketua Umum APRINDO, Tutum Rahanta saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Kamis (17/3/2016).

Ia memperkirakan, berkurangnya penggunaan kantong plastik sejak dikenakan harga Rp 200 tidak terlampau signifikan. Alasannya, karena menyangkut gaya hidup atau kebiasaan masyarakat dalam membawa kantong dari rumah.

Tiga minggu lebih seluruh pusat belanja ritel modern di Indonesia mengenakan pungutan kantong plastik Rp 200 per lembar. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) mengklaim terjadi penurunan penggunaan kantong plastik meskipun belum signifikan.

Kantong Plastik Berbayar Tetap Butuh Sosialisasi | tas promosi



"Kecil sebetulnya penambahan dari Rp200 itu per kantong dan tidak signifikan. Ini mungkin karena di kami yang take away itu sedikit, beda dengan minimarket," ujar dia.

Sonny juga menyatakan ke depan pihaknya akan mengganti kantong plastik di ritel 7-Eleven Indonesia menjadi kantung yang terbuat dari kertas daur ulang yang lebih ramah lingkungan dalam waktu dekat.

"Dalam waktu dekat kamia akan menggunakan kertas daur ulang sebagai kantung yang lebih ramah lingkungan, saat ini kami sedang rancang bentuknya. Apakah akan dikenakan biaya juga atau tidak, lihat nanti," ujarnya. 

Pemerintah mengharapkan masyarakat secara perlahan terdidik agar tidak sembarangan dalam menggunakan barang-barang yang berpotensi memproduksi sampah berbahaya seperti plastik dengan menetapkan harga minimal standar Rp200 untuk setiap kantong plastik.

Ketika ditanya, apakah dengan kebijakan itu, apakah perusahaan mendapatkan penambahan dalam pendapatan (reveneu) akibat regulasi itu, Sonny mengatakan ada namun tidak signifikan.

Sosialisasi tersebut, kata Sonny, dibutuhkan sebagai antisipasi adanya masyarakat yang belum mengetahui kebijakan yang bertujuan untuk mengurangi penggunaan plastik di Indonesia yang efeknya dapat mengurangi produksi sampah.

"Masyarakat tidak banyak bertanya karena kami jelaskan ke mereka ketika mereka ke kasir, kami bilang itu program pemerintah sebagai proses mendidik masyarakat agar jangan menggunakan plastik sebaiknya bawa supaya konsumsi ini berkurang," ucapnya.

PT Modern Sevel Indonesia yang bergerak di bidang ritel menilai kebijakan kantong plastik berbayar yang dicanangkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tetap butuh sosialisasi.

"Kami memang ikut aturan pemerintah, sekarang memang masyarakat sudah beli, namun tetap butuh sosialisasi utamanya agar mengerti bahwa ini adalah program pemerintah," kata Direktur Operasional PT Modern Sevel Indonesia (7-Eleven) Sonny A Liauw saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (25/2).







Senin, 16 Oktober 2017

Berkah dari Diet Kantong Plastik

Produk tas belanja |tas promosi



tas promosi


Meski sempat kehilangan plastik yang tak ada di rumahnya untuk membuang sampah, Rita yakin jalan seperti ini akan mengurangi limbah yang susah terurai, apalagi bumi ini ialah titipan untuk anak cucunya kelak. Ya, diet plastik tentunya menjadi berkah sendiri bagi usaha tas belanja ramah lingkungan. Bak promosi secara tidak langsung oleh pemerintah, bisnis yang dia kembangkan ada jalannya sendiri untuk maju dan berkembang.

Dengan modal awal Rp200 ribu, kini Rita telah mendapatkan omzet Rp4 juta pada Maret saja. Rita dan Yuni yakin bisnis ini akan lancar dan terus berjalan selamanya. “Setiap orang pasti selalu belanja, sampai kapan pun. Oleh karena itu, saya pun yakin usaha ini akan jalan terus selamanya,” kata Yuni.

Multiguna Jadi, saya sangat kewalahan hingga harus dibantu tetangga untuk menjahit,” kata Yuni. Tas berbahan blacu untuk ruang barang belanjaan itu terselip di pouch atau dompet ketika tidak terpakai. 

Pouch yang mungil dengan warna motif bermacam-macam ini pun menyatu. Jika dibuka, pouch ini akan berada di luar dan dihiasidengan lukisan tangan bergambar bunga, daun atas tulisan, seperti pot yang sedang berbunga. 

Tak hanya itu, pouch ini pun berguna untuk menyimpan kembalian. Praktis dan tak memakan tempat jika dibawa kemana-mana sekali pun tasnya untuk muatan banyak. 

Fopping ini memiliki empat ukuran yang bisa dipilih, mulai 35 cm x 30 cm hingga 50cmx45cmx15cm. Tak hanya itu, harga yang ditawarkan pun bersahabat dengan kantong masyarakat dengan harga mulai Rp35 ribu hingga Rp75 ibu. 

“Seperti bayi yang baru belajar merangkak, tapi dipaksa untuk berlari,” kata Rita. Bagaimana tidak, Yuni, 50, yang biasanya menghasilkan 20 fopping dalam sehari, kini harus dibantu tetangga dalam memproduksi barangnya lebih banyak untuk pelanggan. “Sehari saya bisa menghasilkan 20 fopping sendirian.

Bersama anggota keluarganya, Rita yang lulusan D-3 Manajemen Rumah Sakit Universitas Indonesia itu sebenarnya menjalankan bisnis sebelum diet kantong plastik ramai belakangan ini. 

Tepatnya, pada 2014 akhir, ia mulai berkolaborasi dengan ibunya, Yuni, 50, yang berprofesi sebagai penjahit untuk menciptakan kreasi dari kain perca seperti bros, dompet, dan tempat kartu identitas. 

Pada Januari 2016, Rita mulai menekuni bisnis barunya, yakni tas belanja dengan tampilan yang unik. Sang ibu yang sempat vakum menjahit karena kanker payudara
mengaku sempat kewalahan menangani pemesanan yang makin menumpuk.

Tas belanja yang dipasarkan dengan sebutan tas fopping (folded shopping bag atau tas belanja lipat) ini kini mulai melejit sejak seruan pemerintah untuk diet plastik didengungkan. “Dua bulan belakangan ini pemesanan terus meningkat di luar dugaan saya,” kata Rita Fathia, 24, pemilik Rtiga. 

SUARA mesin jahit yang terdengar dari luar salah satu rumah perumahan padat penduduk di kawasan Klender, Jakarta timur, ini sengaja dimatikan ketika tim Media Indonesia mamasuki rumah ini, Kamis (7/4). Pemilik rumah lalu memperlihatkan kain yang sudah menyatu dengan benang, bahkan beberapa produk siap dikirimkan ke beberapa pelanggan. Produk itu berupa tas belanja yang telah ditempeli merek Rtiga, yang mengacu pada reuse, reduce, and recycle. 


Nadya Mulya Sudah Terapkan Diet Kantong Plastik 2 Tahun Lalu | tas promosi



"Sempat menyusuri Ciliwung juga, waktu itu belum hamil. Senang juga ada tanggapan pemerintah di mana penggunaan kantong plastik berbayar," pungkasnya.

Tak hanya itu saja, Nadya juga mendukung penuh peraturan pemerintah yang memberlakukan plastik berbayar. Nadya berharap aturan tersebut dapat membantu mengurangi penggunaan plastik di masyarakat.

"Sudah banyak program yang kita lakukan. Kemarin kita lakukan bajak plastik. Pas hamil juga nih, lari-larian di Sudirman car free day, kalau ada yang punya kantong plastik kita tukar dengan kantong belanja dari kain," ungkapnya.

Bergabung dalam gerakan Diet Kantong Plastik, beberapa kegiatan positif sudah dilakukan wanita yang tengah hamil tersebut. Selain bajak plastik, Nadya juga pernah menyisir sampah plastik di sungai Ciliwung.

"Kalau aku sudah bergabung dengan Diet Kantong Plastik sudah hampir dua tahun, sudah cukup lama kan. Aku sudah bilang sama mereka silakan gunakan jasaku, aku sudah menerapkan gaya hidup kalau belanja di supermarket bawa kardus atau kantong sendiri," ujarnya saat ditemui diacara Dialog Kantong Plastik, Gratis VS Bayar, di JCC, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (10/6/2016).

Presenter cantik Nadya Mulya ternyata merupakan sosok selebriti yang peduli dengan lingkungan. Salah satu tindakan yang hingga kini tengah menjadi fokusnya adalah diet kantong plastik.


Garda Bangsa kampanyekan "diet" kantong plastik | tas promosi



Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Pembina Nasional Garda Bangsa H Abdul Muhaimin Iskandar dan para pembina lainnya seperti H Abdul Kadir Karding (Sekretaris Jenderal DPP Partai Kebangkitan Bangsa), H Imam Nahrowi (Menteri Pemuda dan Olahraga), Moh. Hanif Dhakiri (Menteri Ketenagakerjaan), Muhammad Nasir (Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi), Ketum Perempuan Bangsa Siti Masrifah dan beberapa artis anggota Garda yakni Tommy Kurniawan, Ressa Herlambang, Sandy Midun.

Acara puncak peringatan Harlah Garda Bangsa ke-17 tersebut penuh kegembiraan. Disamping kampanye, Garada Bangsa juga menyuguhkan lari maraton bersama atlet nasional, pertandingan soccer bersama legenda sepak bola Indonesia dan BMX Competition.

"Bagi mereka pecinta alam kita fasilitasi melalui Garda Hijau dan Garda Alam, begitu juga bagi mereka yang suka menulis kita fasilitasi melalui Garda Media. Pokoknya, Garda Bangsa sekarang miliknya anak muda," tegasnya.

Oleh karena itu, Garda Bangsa memfasilitasinya dengan membuat beberapa sayap Garda, yakni Garda Hijau, Garda Cantiq, Garda Gaul, Garda Agan, Garda Media, Garda Cerdas, Garda Bumi dan Garda Pecinta Alam.

Ia pun mengajak seluruh generasi muda Indonesia untuk lebih kreatif, inovatif dan produktif agar mampu bersaing dengan tenaga-tenaga asing yang masuk ke Indonesia.

"Akibatnya, setiap tahun jutaan biota laut mati, seperti penyu, ikan, burung dan lainnya karena terjerat atau menelan plastik. Kondisi seperti ini jangan kita biarkan," katanya.

Berdasarkan data yang diperolehnya, menyebutkan bahwa 80 persen sampah di laut berasal dari daratan, dan 90 persen diantaranya adalah sampah plastik.

"Ini berbahaya untuk kehidupan generasi Indonesia di masa mendatang. Posisi kita sesungguhnya ingin kembali mengajak seluruh insan di Indonesia untuk diet penggunaan kantong plastik, dan beralih menggunakan kantong dari kain yang bisa digunakan berulang-ulang kali. Apalagi kita berada di ranking ke dua pengguna kantong plastik di dunia," katanya.

Menurut Ketua Umum DKN Garda Bangsa, Cucun A Syamsurijal, kampanye diet kantong plastik dilakukan karena Garda Bangsa miris melihat ranking Indonesia dalam penggunaan kantong plastik, padahal semua orang di negeri ini sudah paham kalau kantong plastik sulit untuk didaur ulang oleh bakteri-bakteri alam.

Dalam kampanyenya Garda Bangsa mengerahkan Garda Cantiq untuk membagi-bagikan tas kain berwarna hijau kepada setiap insan yang memadati acara tersebut.

Dewan Koordinasi Nasional (DKN) Garda Bangsa mengkampanyekan diet kantong kresek atau kantong plastik dalam Puncak Peringaran Hari Lahir (Harlah) Garda Bangsa ke-17 di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu.









Selasa, 11 Juli 2017

Plastik Ramah Lingkungan Berbahan Singkong dan Jagung

Sampah plastik menjadi salah satu masalah lingkungan | tas promosi


tas promosi


EnviGreen juga mengatakan, keistimewaan kantong buatannya adalah, kantong ini dapat dimusnahkan dengan cara dibakar tanpa meninggalkan sisa atau racun atau dicelupkan dalam air. Bahkan, kantong disebutkan aman jika termakan oleh hewan.

Kantong ramah lingkungan yang telah melalui uji coba dari The Karnataka State Pollution Control Board (KSPCB) ini, dijual dengan harga US$0,07 hingga US$0,22 (Rp1.000 hinggaRp3.000). 

Kantong plastik buatan perusahaan EnviGreen ini, yang terbuat dari 12 bahan bahan alami termasuk kentang, singkong, jagung, pati alami, minyak sayur pisang dan minyak bunga, diklaim ramah lingkungan.

Dilansir Yahoo News,  meski terbuat dari bahan alami, namun kantong plastik ‘ramah lingkungan’ ini benar-benar bisa digunakan seperti pada umumnya.  “Kami tak menggunakan bahan kimia sama sekali. Cat dalam kantong ini pun dibuat dengan cara alami,” ungkap pendiri EnviGreen, Ashwath Hedge.

Sampah plastik menjadi salah satu masalah lingkungan yang tengah jadi perhatan serius. Berniat mengurangi permasalahan tersebut,  sebuah perusahaan kreatif India mencoba menciptakan kantong plastik yang 100 persen terbuat dari bahan alami.

Penghargaan Produsen Plastik Ramah Lingkungan | tas promosi



Perhatian itu terwujud dalam kegiatan-kegiatan berwawasan lingkungan hidup agar kita selalu ingat bahwa aksi kita hari ini akan berdampak di masa depan. Tepat pada peringatan Hari Lingkungan Hidup sedunia, yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2016, dalam salah satu kegiatan lingkungan hidup, pemerintah provinsi Jawa Tengah kembali menganugrahkan penghargaan PROPERDA lingkungan hidup untuk tahun kedua berturut-turut kepada PT Naga Semut. Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo, memberikan piala dan piagam penghargaan kepada manajemen perusahaan.

Penghargaan ini merupakan simbol bahwa semua pihak mempunyai peran masing-masing dalam mewujudkan masyarakat yang sadar lingkungan yang lestari. Naga Semut sebagai eksportir plastik dan bagian dari masyarakat Jawa Tengah, juga berupaya kontribusi sosial agar industri plastik kemasan bisa maju sebagai salah satu industri ramah lingkungan dalam negeri untuk Indonesia dan dunia yang lebih baik.

Dalam era keterbukaan pasar ASEAN sendiri melalui mekanisme Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), harga, kualitas serta value yang didapat untuk konsumen plastik semakin bersaing alias kompetitif sehingga perusahaan plastik harus selalu berinovasi dan mempersiapkan strategi yang mantap untuk bertahan dan sukses di industri ini.

Perhatian pemerintah daerah atas perkembangan industri plastik yang ramah lingkungan juga patut menjadi topik yang disampaikan kepada segenap penyalur/distributor dan masyarakat konsumen.

1. Penggunaan yang menyebar dari kota sampai desa. 2. Teknologi untuk daya urai di lingkungan alam masih terus berkembang. 3. Masih tingginya harga bahan substitusi plastik berbasis organik. 4. Adanya definisi yang beragam atas konsep “ramah lingkungan” itu sendiri. 5. Edukasi dan disiplin masyarakat atas penanganan kemasan plastik bekas. 

Naga Semut sebagai salah satu produsen plastik ramah lingkungan, dikenal juga sebagai pabrik kantong plastik kresek juga memperhatikan perkembangan teknologi untuk menghasilkan kantong plastik ramah lingkungan. Salah satu teknologi bahan plastik oxo-degradable yang diterapkan dalam proses produksi di pabrik plastik Naga Semut adalah penggunaan Oxium dari salah satu produsen bahan additif di dunia yang lahir di Indonesia, dan beberapa brand lain EPI serta D2W yang diproduksi oleh produsen asal Kanada dan Inggris.

Produk ramah lingkungan merupakan strategi yang perlu dikembangkan oleh berbagai perusahaan untuk memberikan dampak sosial yang positif bagi konsumen era digital sekarang ini. Dengan interaksi sosial di dunia digital yang semakin mudah, keberadaan produk ramah lingkungan akan semakin dicari melalui informasi di berbagai media sosial dan online channel lain yang ada.

Sugianto Tandio, Pelopor Kantong Plastik Ramah Lingkungan | tas promosi



Setelah hampir menguasai market perusahaan ritel di Indonesia, Sugianto ingin merambah pasar tradisional. Kapasitas produksi yang mencapai 3.000 ton per bulan untuk Oxium dan 500 ton per bulan untuk Ecoplas siap ditingkatkan untuk memenuhi permintaan di pasar tradisional. PT Tirta Marta juga menggandeng 12 perusahaan pembuat kantong plastik untuk menerapkan dua sistem ramah lingkungan itu.

Sugianto menyebutkan, kantong plastik hitam yang beredar di pasar-pasar tradisional merupakan hasil daur ulang berkali-kali. "Kondisi plastik sangat jelek. Harus diperbaiki," tegasnya.

Dengan upaya itu, diharapkan ancaman bencana karena kantong plastik di negeri ini bisa dicegah. Selain itu, Sugianto berharap pemerintah lebih getol dalam mengedukasi masyarakat. Sebagian besar masyarakat yang masih menggunakan kantong plastik konvensional harus diedukasi untuk mengelola sampah supaya tidak menjadi musuh lingkungan.

Sementara itu, teknologi kantong plastik Oxium dipakai sebagian perusahaan waralaba besar. Di antaranya, Indomaret, Alfamart, dan Hero. Tanda yang bisa dilihat, di kantong plastik dari toko-toko tersebut terdapat logo Oxium yang dilengkapi gambar kantong plastik hancur dalam empat tahap.

Sugianto menerangkan, selisih harga bagi beberapa perusahaan tersebut tidak bisa dibandingkan dengan kontribusi mereka menjaga lingkungan dari ancaman bahaya kantong plastik. Dengan menggunakan kantong plastik yang mudah terurai, brand perusahaan juga bisa ikut terangkat. "Mungkin bisa dialokasikan dari biaya promosi," katanya.

Dengan inovasi tersebut, Tirta Marta mendapat penghargaan dari Pemprov DKI Jakarta. Penghargaan juga didapatkan perusahaan-perusahaan yang menggunakan kantong plastik Oxium dan Ecoplas. Penghargaan diberikan karena mereka ikut menjaga lingkungan.

Setelah hampir dua tahun dua teknologi itu diperkenalkan, perkembangannya berbeda. Kantong plastik dengan teknologi Oxium lebih laku di pasar lokal. Sementara itu, sebagian besar kantong plastik dengan teknologi Ecoplas diekspor. "Memang ongkos produksi Oxium lebih rendah daripada Ecoplas," katanya.

Sugianto membandingkan, ongkos produksi kantong plastik Oxium dengan konvensional hampir setara. Sementara itu, biaya produksi kantong plastik Ecoplas lebih mahal 20 persen daripada biaya kantong plastik konvensional.

Brand-brand asing yang menggunakan kantong plastik Ecoplas, antara lain, PoloRalphLaurens, Raoul, Nickelodeon Universe, dan Lake Winds. Kantong plastik Ecoplas juga digunakan produk lokal. Misalnya, Grup Ciputra dan Miracle. 

Setelah ditambah bahan aditif tersebut, kantong plastik yang semula baru terurai setelah seribu tahunan bisa dipercepat hanya dalam kurun dua tahun. Bahkan, pada kondisi tertentu, misalnya di atas genting, kantong plastik dengan sistem Oxium bisa semakin cepat terurai. "Dua tahun itu dalam kondisi umum. Pada kondisi tertentu bisa lebih cepat," ujarnya.

Pengembangan selanjutnya adalah teknologi Ecoplas. Dalam teknologi itu, Sugianto mencampur bahan pembuat bijih plastik dengan tepung ketela pohon. Dalam persentase tertentu, kantong plastik yang berbahan ketela pohon itu bisa hancur hanya dalam waktu sekitar dua bulan.

Dia menyatakan, pembuatan kantong plastik dengan bahan tepung ketela itu bisa berdampak sosial. Yaitu, di kawasan pedesaan, geliat orang untuk menanam ketela bisa meningkat. Selain itu, bisa membuka lapangan kerja baru. "Selama ini kami belum membuat desa binaan. Kami sebatas membeli secara masal ketika musim panen," ungkapnya. Dia, antara lain, membeli di kawasan Jawa Barat.

Dia memperkirakan, selisih ongkos membuat kantong plastik berbahan jagung dengan bahan murni bijih plastik mencapai 300 persen. Selisih tersebut, menurut Sugianto, terlalu tinggi. Akhirnya, dia menemukan teknologi Oxium dan Ecoplas untuk mengatasi dampak buruk kantong plastik. Dua teknologi tersebut sudah dipatenkan.

Dia menuturkan, pada dasarnya teknologi Oxium adalah memberikan campuran bahan pembuat bijih plastik. Dalam pembuatan bijih plastik, Sugianto memberikan campuran bahan aditif.

Dengan penambahan bahan tersebut, dia mengklaim proses oksidasi pada kantong plastik bisa dipercepat. Dengan demikian, mikroba bisa semakin cepat menghancurkan sampah kantong plastik.

Dampak lain bahaya kantong plastik adalah saluran air di sungai yang tersumbat. Sama dengan di darat, kantong plastik yang berada di dalam atau permukaan air tidak mudah hancur. Sampah plastik yang berkumpul dan berdesakan menyumbat aliran air.

Dari potensi-potensi dampak tersebut, akhirnya Sugianto yang saat itu mencari duit dari usaha membuat kantong plastik berpikir untuk masa depan lingkungan. Akhirnya, dia menghabiskan waktu sekitar delapan tahun untuk melakukan riset. Riset tersebut dilakukan dengan cara menggabungkan teknologi pembuatan kantong plastik yang ramah lingkungan, berdampak sosial, dan harganya terjangkau.

Dia menjelaskan, waktu itu di Amerika ada teknologi pembuatan kantong plastik berbahan jagung. Dia menyebutkan, teknologi tersebut memang cukup efektif menciptakan kantong plastik yang mudah hancur. "Tapi, ongkosnya tinggi. Bisa berpengaruh pada harga jual kebutuhan pokok," jelasnya.

Untuk bisa menghancurkan plastik, mikroba butuh proses oksidasi. Pada kantong plastik konvensional yang sering kita peroleh ketika berbelanja di pasar tradisional, proses oksidasi ideal berjalan sekitar seribu tahun atau seabad. "Baru setelah itu mikroba mampu menghancurkan plastik tersebut," ucap Sugianto.

Dia menjelaskan, di Indonesia, dampak timbunan sampah kantong plastik tersebut sudah terjadi. Tepatnya di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Bandung, 21 Februari 2005. Tragedi yang menelan 143 korban tewas itu dikenang dengan sebutan tragedi longsor sampah.

Sugianto menjelaskan, kejadian tersebut muncul karena sampah kantong plastik sudah menggunung. Sampah-sampah tersebut sekilas sudah berbentuk menyerupai tanah. Tapi, ketika hujan deras mengguyur, tanah yang terbuat dari timbunan kantong plastik itu rapuh dan akhirnya longsor sehingga membunuh ratusan orang.

Tidak betah dengan suara deru mesin, Sugianto lantas mengajak berbincang di ruang kerjanya. Dia lantas menjelaskan, sejatinya kantong plastik itu merupakan benda organik. Menurut pria 47 tahun tersebut, plastik merupakan turunan dari minyak, sedangkan minyak terbuat dari plankton. "Jika dirunut, plastik itu kan barang organik," jelasnya.

Apa pun bentuknya, Sugianto menyebut kantong plastik itu musuh lingkungan. Dia menjelaskan, massa molekul yang terkandung dalam plastik cukup tinggi. Kandungannya mencapai 5,5 juta molekul dalam 1 gram-sentimeter kubik.

Nah, tingginya massa molekul yang terkandung dalam plastik tersebut membuat plastik cukup kuat. Plastik yang menjadi sampah dan dibuang di tempat pembuangan sampah tidak bisa langsung dihancurkan oleh mikroba. "Mikroba tidak kuat memakan plastik," katanya.

Pria kelahiran Jambi itu sempat mengajak mengelilingi tempat usahanya. Di dalam pabrik, berdiri mesin-mesin pembuat kantong plastik. Mesin-mesin setinggi pohon kelapa itu berfungsi mengubah bijih plastik menjadi lembaran plastik.

Di tengah mesin produksi kantong plastik yang terus menderu, Sugianto menjelaskan bahwa teknologi Oxium dan Ecoplas tersebut diterapkan pada tahap produksi bijih plastik (polyethylene). Sayangnya, dengan alasan rahasia perusahaan, dia tidak memberikan kesempatan untuk berkeliling melihat pembuatan bijih plastik. "Dari sinilah sifat buruk kantong plastik kita," ujar Sugianto.

Penemuan teknologi pembuatan kantong plastik seratus tahun silam konon merupakan terobosan. Namun, 50 tahun kemudian, muncul kesadaran bahwa kantong plastik merupakan musuh lingkungan. Sifatnya yang tidak mudah terurai diprediksi mengancam kelestarian lingkungan. Sugianto akhirnya memelopori kantong plastik ramah lingkungan.

BEBERAPA langkah masuk di kompleks pabrik PT Tirta Marta di Cikupa, Tangerang, mata langsung disuguhi tumpukan kantong plastik atau yang sering disebut kresek bekas. Seluruh plastik itu tertata rapi menggunung. Di sekitarnya, beberapa karyawan sedang membakar sebagian sampah kertas yang terselip.

PT Tirta Marta bisa jadi masih asing terdengar. Perusahaan yang dipimpin Sugianto Tandio itu bergerak dalam industri kantong plastik. Didirikan pada dekade 1970-an, perusahaan yang berdiri di lahan seluas dua hektare tersebut terus berkembang.

Yang terbaru, mereka memelopori teknologi Oxium dan Ecoplas dalam pembuatan kantong plastik. Dua teknologi tersebut mengubah asumsi bahwa kantong plastik merupakan musuh lingkungan. Sugianto bertekad memproduksi kantong plastik yang ramah lingkungan atau yang disebut degradable plastic.