Jumat, 13 Oktober 2017

Cukai Diyakini Ampuh Kurangi Sampah

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mendukung rencana cukai plastik | spunbond tangerang

spunbond tangerang



"Skema cukai tersebut dijalankan secara bertahap. Sasarannya adalah kantong plastik, setelah itu kemasan minuman, dan produk untuk rumah tangga," imbuhnya.

Sudirman mengklaim, jika penerapan kantong plastik berbayar sebelumnya telah berhasil mengurangi penggunaan kantong plastik hingga 58%. Uji coba kantong plastik berbayar ini telah dilakukan pada tahun lalu dengan mengikutsertakan 535 ritel yang tersebar di 25 kabupaten dan kota seluruh Indonesia.

"Kita harus sepakat untuk mengendalikan kemasan plastik. Jika berdebat terus dengan industri maka tidak akan ketemu jalan keluarnya," imbuhnya.

Menurutnya, bioplastik dan barang sejenisnya yang mudah terurai harus terus dikembangkan. Saat ini KLHK sedang menunggu kesiapan pemerintah daerah untuk mendukung program pengurangan sampah melalui kantong plastik berbayar.

"Prinsipnya, kita akan mengarah kepada penggunaan plastik yang ber-SNI. Sertifikasi tersebut kan sudah ada sejak 2016 lalu," kata Sudirman kepada Bisnis, Rabu (30/8/2017).

R. Sudirman, Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menyampaikan cukai plastik adalah salah satu cara untuk menanggulangi sampah. Plastik saat ini menyumbang kontribusi terbesar dari total sampah di tempat pembuangan akhir dan sungai. Industri plastik diminta segera menyiapkan produk sampah yang mudah terurai.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mendukung rencana cukai plastik sebagai salah satu cara mengurangi sampah yang tidak ramah lingkungan.


Strategi Kementerian Kelautan Kurangi Penggunaan Kantong Plastik | spunbond tangerang



Ini bermakna besar dalam menyadarkan kita semua atas besarnya kontribusi sampah plastik Indonesia ke laut dan pentingnya pengurangan kantong plastik. Membawa tas belanja sendiri untuk setiap kali berbelanja dan membawa botol minuman sendiri untuk mengurangi penggunaan botol minuman sekali pakai adalah benang merah atas terwujudnya laut Indonesia bebas sampah plastik. Agar menghasilkan ikan yang sehat untuk mendukung kebutuhan protein manusia," kata dia.

Nilanto menuturkan, meski kampanye ini merupakan salah satu langkah sederhana, diharapkan bisa berkontribusi besar pada pengurangi konsumsi plastik dan sampah plastik di dalam negeri.

"Kampanye Laut Bebas Plastik melakukan penggalangan dukungan seperti dengan swipping kantong plastik diganti dengan kantong ramah lingkungan," ungkap dia.

Dalam kampanyenya, Nilanto menitip pesan agar pedagang tidak menawarkan kantong plastik kepada pembeli. Pesan ini diharapkan dapat diteruskan oleh para pedagang ikan kepada para pembeli.

"Kampanye Laut Bebas Plastik digaungkan dalam bazar ini untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Tidak dapat dipungkiri banyak kantong plastik digunakan oleh pedagang dan pembeli. Seruan pengunjung bazaar lingkup KKP agar membawa tas belanja ramah lingkungan dilakukan satu hari sebelum pelaksanaan kampanye," ujar dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (12/9/2017).

 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai mengkampanyekan Laut Bebas Plastik kepada masyarakat. Kampanye ini salah satunya dalam rangka mengurangi penggunaan kantong plastik oleh masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan sektor kelautan dan perikanan.

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP Nilanto Perbowo mengatakan, kampanye ini dimulai dengan acara bazar produk hasil perikanan di Kantor KKP pekan lalu. Dalam kampanye ini, KKP mengangkat tema Gerakan Bersama Singkirkan dan Urusi Sampah Plastik atau disingkat Bususi.

Mahasiswa UGM Ciptakan Tas Ramah Lingkungan | spunbond tangerang



Nadia menjelaskan, sasaran produk BEST adalah kaum hawa mulai pelajar, mahasiswa maupun dewasa. Karena pada dasarnya, kaum hawa memiliki minat belanja yang sangat tinggi. Selain itu, pada saat travelling juga membutuhkan tas dengan kapasitas yang besar namun tetap fashionable agar tidak terkesan norak. "Kami berharap BEST dapat memberi solusi saat shopping maupun travelling dengan mengedepankan konsep ramah lingkungan namun tetap tampil fashionable," ujar Nadia.

Sedangkan untuk bahan bagian dalam, menggunakan WP Parasut yang bahan ini tahan air dan mudah dibersihkan. Bahan ini cocok saat digunakan membawa sayur atau buah yang berair dan barang yang mudah tumpah.

BEST juga memiliki kualitas bahan yang bagus, yakni menggunakan kain kanvas di bagian luar, sehingga tampil trendi dan kekinian. Kain kanvas juga dapat menyesuaikan ukuran sesuai dengan fungsi utama BEST yang dapat diperbesar.

Kelebihan lainnya, pada bagian dalam atas terpasang saku yang diperuntukkan untuk menyimpan handphone atau dompet sehingga lebih mudah dijangkau tangan. “Tidak seperti totebag pada umumnya, BEST dapat diperbesar jadi cocok untuk belanja bulanan," kata Nadia.

Perbesarannya bisa mencapai 48 persen dari ukuran normal, yang tadinya sekitar 12 liter menjadi 17,5 liter. Selain itu, BEST juga dilengkapi dengan jaring di bagian atas, sehingga jika memuat barang dalam jumlah banyak tidak akan tumpah dan tetap aman.

Adapun kelebihan BEST dibandingkan totebag yang beredar di pasaran terletak pada segi kapasitasnya. BEST dilengkapi dengan resleting di bagian sisi kanan dan kiri, tujuannya agar tas bisa diperbesar sehingga bisa memuat barang dalam jumlah banyak.

Di sisi lain, saat ini masyarakat lebih suka sesuatu yang praktis, mudah dibawa kemana-mana, serta dapat digunakan untuk travelling dan shopping. Melihat potensi itu, Nadia dan kawan-kawannya mencoba untuk memodifikasi tas seperti totebag menjadi tas multifungsi tapi tetap fashionable. Lantaran mereka ingin mendukung Gerakan Indonesia Bebas Sampah 2020.

Menurutnya, sebagai salah satu kota besar di Indonesia yang memiliki banyak pusat perbelanjaan, setiap harinya Yogyakarta dapat menghasilkan sekitar 220 ton sampah. Namun hanya 80 persen yang terangkut ke pembuangan sampah, sedangkan sisanya masih belum bisa ditangani.

BEST sendiri termasuk salah satu karya yang lolos didanai Dikti pada ajang PKM bidang Kewirausahaan (PKM-K) tahun ini. "Sebagai tas ramah lingkungan, BEST hadir untuk menjadi solusi alternatif atas permasalahan sampah kantong plastik yang ada di Yogyakarta," kata Nadia.

Adapun penggagas BEST terdiri atas lima mahasiswa, yaitu Nadia Atina Solihati (FK), Adi Wahyu Saputra (FEB), Evita Dwi Nastiti (FK), Fajar Arumningtyas (FK) dan Bernadheta Sari Jasmine (FT). Mereka didampingi oleh dosen pembimbing Arta Farmawati (Departemen Biokimia FK UGM).

Mahasiswa UGM menciptakan tas ramah lingkungan dengan gaya kekinian. Tas yang diberi nama BEST atau Baggy Expert of Shopping & Travelling ini merupakan produk inovasi totebag dengan konsep ramah lingkungan dan fashionable.








Rabu, 11 Oktober 2017

Bikin Tas Belanja dari Kaus, Murah & Ramah Lingkungan

Tas belanja daur ulang kini menjadi bagian tren masa kini | spunbond sablon

spunbond sablon


Kaus berukuran lebih besar cocok untuk berbelanja di pusat toko grosir, meski kaus anak-anak pun bisa digunakan. Menariknya, kaus yang digunakan bisa polos atau berpola

Yup, Anda harus mengorbankan satu kaus dari lemari. Kaus lama juga boleh asal tidak ada lubang. Ingat Anda hendak membuat tas! Jangan pula ada noda sebab percuma, bukankah kita ingin menghindari tas 'jelek'?

Serius, bahkan bagi mereka yang tak memiliki skil menjahit nol, bisa membuat sendiri tas dari bahan kaus tanpa kerah selama beberapa jam. Tas ini bisa kuat, memiliki ruang besar dan Anda bisa membuatnya cantik seperti yang Anda inginkan.

Betul Anda bisa membelinya di toko grosir. Harganya bisa mencapai Rp 30 - Rp50 ribu. Anda juga bisa memesan di toko online dan berisiko membeli tas mahal. Tas daur ulang ramah lingkungan, mestinya tak perlu mahal. Solusi termudah: buat sendiri tas belanja Anda.

Tas belanja daur ulang kini menjadi bagian tren masa kini, tentu saja dengan alasan baik, tidak hanya karena ramah lingkungan ketimbang tas plastik, tapi juga karena nyaman digunakan. Masalahnya, tas daur ulang kadang kurang cantik dalam desain atau malah mahal.

Di Tangan Desainer Dunia, Tas Belanja ke Pasar Kini Berharga Rp 7 Jutaan| spunbond sablon



Masih ada lagi, yaitu sandal jepit yang sering kita sebut 'sandal Swallow' warna putih dan strap karetnya berwarna biru. Biasanya dibanderol dengan harga belasan ribu rupiah di pasar atau warung. Lalu sandal yang serupa diberi label Nike dengan nama Nike Solarsoft Thong II, dan kini harganya jadi Rp 300 ribuan.

Bukan cuma Marni saja, loh, brand high-end yang dapat inspirasi dari barang yang eksis di pasar. Balenciaga sempat viral tahun lalu karena merilis tas super besar warna-warni yang juga identik dengan tas pasar. Nggak tanggung-tanggung, Balenciaga membanderol tasnya sampai dengan harga Rp 20 jutaan.

Merek Italia yang digawangi Consuelo Castiglioni itu lantas membanderol tas anyaman mulai dari Rp 2 jutaan untuk tas ukuran kecil, dan yang termahal US$ 449 senilai Rp 7,1 juta. Melihat dari situs resminya, sekarang tas tersebut sudah terjual habis.

Hasil penjualan tas-tas edisi terbatas itu akan ditampung oleh organisasi non profit yang bergerak di bidang kemanusiaan, bernama Vimala Association. Nantinya hasil penjualan yang terkumpul digunakan untuk restorasi sekolah-sekolah di India untuk 50 anak berkebutuhan khusus, seperti dikutip situs Marni.

Tas yang mirip dengan tas pasar ala Marni itu lalu dinamai 'Marni Charity Basket' yang sebenarnya sudah rilis lumayan lama, sekitar dua tahun lalu. Tas ini juga punya misi kemanusiaan di baliknya, yaitu dibuat untuk mensejahterakan anak-anak terlantar dan kurang beruntung di India, Brazil, Afrika dan beberapa negara lain.

Marni, brand mewah asal Italia ini memang dikenal dengan desain yang playful dan vintage. Brand ini jadi favorit seleb Hollywood, mulai dari Kristen Dunst, Emmy Rossum, January Jones dan masih banyak lagi.

Di Indonesia, tas anyaman berwarna-warni yang biasa wara-wari di pasar itu biasa dihargai Rp 20 ribuan. Tapi setelah dilabeli merek Marni, dari Italia, harganya melonjak jadi US$ 200 atau Rp 2,7 juta untuk tas ukuran kecil.

Jangan sepelekan tas anyaman yang biasa dibawa ibu-ibu belanja ke pasar. Tahu-tahu, tas yang biasa dihargai puluhan ribu ini justru jadi inspirasi desainer dunia dan sukses membuat fashion statement.


Lagi, Tas Belanja Emak-Emak Dicomot Desainer & Dihargai Rp 5 Juta | spunbond sablon




Melihat model tas yang mirip dengan keranjang seharga kurang dari Rp 20 ribu ini, apakah kalian tertarik membelinya KLovers? Jangan lupa bagikan pendapatmu soal keberadaan tas unik .

Marni telah membuka gerai penjualan tasnya di sejumlah kota besar duni seperti New York, Beijing, Shanghai, Sydney, Hong Kong, dan Tokyo. Tas keranjang ini pun tersedia dalam berbagai model, mulai dari clutch hingga tote bag yang memiliki ukuran besar.

Usut punya usut brand Italia yang didirikan oleh Consuelo Castiglioni ini juga jadi salah satu langganan seleb Hollywood. Kirsten Dunst adalah selebritis yang ketahuan pernah menenteng tas Marni tapi bukan tas keranjang emak-emak ini. Kelebihan lain dari tas Marni adalah tidak adanya lisensi seperti yang sering dimiliki tas mewah seperti Prada, Hermes, atau Louis Vuitton.

Tas yang mirip dengan keranjang belanja Ibu-Ibu ini punya warna-warna yang mencolok dan dihargai mulai dari Rp 2 juta sampai Rp 5 juta. Tentu saja tas jinjing ini tidak digunakan untuk mewadahi sayur, ikan, telur, dan bahan pokok lainnya dong KLovers. Sayang banget kan tas berharga mahal dibawa ke pasar?

Salah satu brand Italia, Marni, nampaknya mengikuti jejak Balenciaga. Bila Balenciaga memproduksi tas mahal dengan model seperti tas IKEA atau tas bed cover, maka Marni memproduksi tote bag anyaman yang mirip banget dengan tas belanja Ibu-Ibu Indonesia ke pasar. Iya, tas yang sempat jadi viral gara-gara dikenakan bule ke mal itu lho KLovers! 

Ada sejumlah fashion statement yang mengambil ide dari barang sehari-hari. Uniknya, setiap item fashion tersebut dibanderol dengan harga yang tidak murah. Maka dari itu mulai sekarang jangan remehkan hal-hal biasa seperti keset, caping, atau tas belanja ke pasar KLovers. Siapa tahu malah bisa diubah jadi ladang penghasilan.





Jumat, 06 Oktober 2017

Sayangi Lingkungan, Kantongi Untung Rp35 Juta/Bulan

Mengurangi konsumsi kantong plastik | spunbond printing

spunbond printing



“Pemain baru akan terus muncul. Namun, asal kita memberikan layanan memuaskan dan menghasilkan model baru, konsumen pasti akan loyal.” 

Rasyid mengungkapkan, bisnis tas lipat yang dijalaninya saat ini masih memiliki prospek cerah untuk beberapa tahun mendatang. Meskipun saat ini banyak pesaing baru bermunculan, dia tak gentar untuk berkompetisi secara sehat.

Derasnya jumlah permintaan konsumen, membuat Rasyid mendulang untung. Hal ini karena margin keuntungan usaha tas lipat spunbond cukup besar yang mencapai  40%-50% per tas. Jadi, jika dia menerima pesanan 10.000 tas per bulan dengan harga rata-rata tas Rp7.000 rupiah, keuntungan bersih yang didapat Rasyid sekitar Rp35 juta tiap bulan.

“Banyak perusahaan yang memesan tas model baru untuk promosi awal tahun. Satu perusahaan bisa memesan hingga 5.000 tas. Jumlah tersebut diluar model yang kami buat untuk pasar ritel,” tambahnya.

Dalam sebulan, Rasyid mendapat permintaan tas lipat spunbond mulai dari 5.000—10.000 tas. Jumlah tersebut mengalami peningkatan menjelang akhir tahun.

Untuk kualitas tas, dia membedakan tas untuk ekspor dan konsumen lokal. Dia menggunakan bahan spunbond kelas satu dan kualitas jahitan yang rapi sesuai permintaan konsumen luar negeri. Perbedaan kualitas membuat Rasyid harus membedakan harga jual tas. Harga tas lipat untuk ekspor berkisar antara Rp7.000—Rp10.000. Sedangkan tas kualitas lokal dibandrol mulai dari Rp4.000—Rp7.000 untuk tas ukuran standar 30cm x 40cm.

“Saya sudah mengekspor tas lipat ke Jepang, Singapura, Australia, hingga Abu Dhabi. Perusahaan asing ini order ke saya karena harga relatif murah, tetapi kualitas tetap baik,” katanya.

Rasyid mengungkapkan, pelanggan terbesar datang dari perusahaan atau korporasi. Mereka ingin dibuatkan goody bag yang diperuntukkan sebagai media promosi perusahaan. Selain perusahaan lokal, Rasyid pun kebanjiran order dari perusahaan asing.

Rasyid menyiapkan modal sebesar Rp10 juta untuk membuka tempat produksi. Modal tersebut dialokasikan untuk membeli mesin jahit, alat sablon, dan gulungan bahan spunbond. Dia menggunakan teknik jahit konvensional [handmade] agar bisa memenuhi semua permintaan mereka.

“Pada mulanya, konsumen pesan untuk keperluan pribadi. Jumlahnya tak banyak. Karena tak punya mesin, saya masih memberikan kepada beberapa produsen besar dengan sistem maklun. Namun, karena pesanan makin banyak, saya akhirnya membuka bengkel sendiri,” ujarnya.

Untuk model tas lipat, Rasyid mengaku terinspirasi dari beberapa perempuan yang dia temui di jalan. Perempuan yang ditemuinya tersebut membuka tas belanja yang bisa dilipat menjadi dompet. Dia lantas coba mendesain tas lipat dengan caranya sendiri. Setelah desain rampung, dia mengunggah gambar tas lipat buatannya di blog. Ternyata, banyak pengunjung blog yang suka dengan model tersebut dan minta dibuatkan tas lipat.

Rasyid memproduksi tas praktis yang ramah lingkungan ini di daerah Pisangan Baru, Jakarta Timur. Dia telah menjalani bisnis tersebut sejak 2007 di bawah bendera CV Souvenir Online. Awalnya, konsumen minta dibuatkan tas berbahan kertas. Namun, karena permintaan tas spunbond terus meningkat, dia pun beralih menggunakan bahan tersebut. Spunbond memiliki kelebihan dibanding plastik dan kertas di antaranya murah, mudah disablon, gampang dibentuk, dan kuat.

Berkaca dari hal ini, banyak produsen ingin meraih laba lewat popularitas tas spunbond. Salah satu pelaku usaha yang ikut kebagian untung adalah Rasyid, 31. Agar dilirik konsumen, dia tak hanya menggunakan bahan spunbond, tetapi membuat model tas yang menarik yaitu tas lipat.

Menilik dari permasalahan tersebut, banyak pihak mulai menggaungkan jargon ramah lingkungan. Salah satu caranya adalah mengurangi konsumsi kantong plastik. Hal ini membuat tas berbahan dasar non-plastik naik daun. Contohnya, spunbond yang terbuat dari campuran kertas dan katun. Selain kuat menahan beban hingga bisa digunakan berkali-kal, material ini juga ramah lingkungan karena mudah hancur.

 Gaya hidup masyarakat modern yang serba instan membuat konsumen menggunakan kantong plastik sebagai kemasan karena praktis dan murah. Sayangnya, karena tak bisa didaur ulang, kantong plastik justru membuat masalah baru yakni menambah populasi sampah.

Setelah Heboh Tas Pasar Kini Ramai Tas Es Kopi, Tertarik Beli? | spunbond printing



Namun kabar baiknya, tas ini sudah dapat dipesan secara online di situs pribadi Wheniwasfour. Untuk harganya dibandrol sekitar US$14,70 atau hampir Rp 200 ribu . Yah, paling tidak harganya tidak mencekik seperti tas pasar Dolce & Gabbana atau Balenciaga ya.

Tren fashion ini diperkirakan akan menjadi gebrakan laris untuk pecinta fashion di Singapore. Kopi Dabao Bag akan meluncurkan 'shoulder bag' untuk koleksi perdananya. Duh, dengan tali setipis itu, bisa bayangin gak sakitnya di pundak?

Wheniwasfour, produsen lokal tas unik ini, menamai tas temuan mereka dengan nama 'Kopi Dabao Bag', yang artinya 'tas kopi take-away'. Tas nyeleneh ini dbuat dari kain PVC berwarna coklat yang menyerupai warna es kopi. Bahkan, talinya pun dibuat setipis mungkin menyerupai dengan tali jinjing plastik.

Usut punya usut, tas ini mengusung kearifan lokal masyarakat Singapore lho. Sekedar informasi, di Singapore sana apabila membeli minuman di kedai kopi untuk dibawa pulang, bukannya diberi gelas, kamu justru akan diberi kantong plastik dengan pegangan tali elastis. Tinggal dimasukkan sedotan, lalu es kopi siap diminum. Rasanya hampir mirip seperti di Indonesia, ya?

Entah kemana kiblat fashion saat ini. Namun, ide kreatif designer ini sungguh di luar dugaan. Setelah para fashionista sempat dihebohkan dengan munculnya tas pasar dari designer kenamaan Dolce & Gabbana, kini label dari Singapore pun mengikuti jejaknya. Tidak ingin kalah, tas dari brand lokal Wheniwasfour ini mengusung tema es kopi untuk produk terbarunya.

Siapa sih yang tidak suka mengoleksi tas? Kebanyakan wanita pasti memiliki lebih dari satu tas yang digunakan untuk acara berbeda. Kalau kamu kepikiran untuk menambah lagi koleksi tasmu, mungkin ini bisa menjadi inspirasi.

Perajin Tas Spunbond Dapat Binaan Tasimin Centre | spunbond printing



Dia juga menyebutkan, dalam pekan ini Tasimin Centre akan menguncurkan bantuan tanpa anggunan sebagai modal usaha kepada 300 pelaku UKM yang terdapat di kawasan Medan Utara.

"Tasimin Centre punya obsesi terhadap pelaku UKM berkembang, harus didukung dengan modal usaha, pembinaan serta mencarikan peluang pasar. Bila ini  terwujud akan dapat menumbuhkembangkan sebuah usaha," katanya.

Dikatakannya,Tasimin Centre dalam gebrakannya menghidupkembangkan UKM khususnya yang ada di kawasan Medan Utara, bukan hanya sekedar memberikan pinjaman modal tanpa bungga dengan menjalin kerja sama dengan sebuah bank, tetapi juga memberikan pembinaan, pelatihan manajemen dan ikut serta mencari peluang pasar produk pelaku usaha.

Secara terpisah, pendiri Tasimin Centre, Tasimin MT kepada MedanBisnis mengatakan, Setelah Tasimin Centre dideklarasikan pada pertengahan tahun 2014 ada sekitar 300 pelaku UKM yang mendapat pembinaan, termasuk usaha pembuatan tas berbahan spunbond.

Untuk mengembangkan usahanya itu, Syaiful kini telah mempekerjaan empat tenaga kerja dari warga sekitar. Sedangkan modal dan pemasaran turut dibantu oleh Tasimin Centre.

Usaha yang dilakukan Syaiful bersama istrinya, Kristina Br Pasaribu ini berawal dari usaha sampingan sebagai penjahit konveksi. Setelah mendapat pembinaan dari sebuah lembaga sosial Tasimin Centre tahun lalu, usahanya dikembangkan dengan usaha kreatif pembuatan tas berbahan spunbond. "Kalau dibandingkan sebelum memperoleh pembinaan, penghasilan saya sangat minim, syukurlah ada sebuah lembaga yang peduli memberikan bantuan dan pembinaan," ujar Syaiful. 

Spunbond adalah jenis kain seperti jaring, yang tidak dibuat melalui proses tenun. Sering juga disebut kain kapas atau pun kertas, kain ini dibikin dengan ikatan serat secara mekanik, termal, atau proses kimia. Sedangkan harga kain spunbond dibeli Syaiful di Pusat Pasar Medan Rp 450 ribu per rol.

Syaiful mengaku, saat ini pesanan tas spunbond  rata-rata dalam sepekan bisa mencapai 1.000 buah. Tas pesanan ada berbentuk undangan pesta perkawinan, seminar, pesanan toko sovenir, rumah sakit, caleg, perguruan tinggi dan tas anak TK dari harga per buah Rp 5.000 hingga Rp 12 ribu. Dari usaha itu, ayah 4 orang anak tersebut berpenghasilan Rp 12 juta per bulan.

Keunggulan lain, katanya, dari kain kapas ini bisa didaur ulang, bebas racun, tahan bahan kimia, dan mudah dibentuk merupakan alasan lain mengapa spunbond kerap digunakan sebagai bahan pembuat tas.

Ditemui MedanBisnis di tempat usahanya, Ahad kemarin, Syaiful yang setia berada pada mesin jahit yang menjadi tumpuan hidupnya menuturkan, tas berbahan spunbond kini semakin banyak diminati. Terutama sebagai bahan 'goody bag' (tas cenderamata), karena harganya yang lebih murah dibanding dengan kain atau plastik lainnya. 

Setelah mendapat pembinaan dari Tasimin Centre, sebuah lembaga sosial yang peduli terhadap Usaha Kecil Menengah (UKM) di kawasan Medan Utara, pelaku usaha  kreatif inipun kewalahan menangani pesanan yang masuk.

Aneka hajatan keluarga ataupun kegiatan yang menghadirkan banyak orang menjadi ladang rezeki bagi perajin tas berbahan spunbond. Seorang di antaranya, Syaiful warga Pasar III Barat, Kelurahan Rengas Pulau, Kecamatan Medan Marelan.




Kamis, 05 Oktober 2017

Hari Peduli Sampah, Pemkot Solo Kampanyekan Tas Ramah Lingkungan

Wali Kota Solo Rudy FX Hadi Rudyatmo kampanyekan tas anyaman


spunbond murah jakarta


"Para pengusaha retail ini kan punya CSR (Corporate Social Responsibility) yang bisa digunakan untuk pembuatan tas dari kain atau dari anyaman bambu. Tas ini kan tidak sekali pakai," paparnya. 

Bahkan, saat peluncuran gerakan Lestarikan lingkungan pada acara peringatan Hari Peduli Sampah Nasional, Rudy pun tanpa sungkan melayani masyarakat yang hendak berbelanja sayur-sayuran dengan menyodorkan tas ramah lingkungan.

Kedua, dengan menggunakan tas dari anyaman atau kain jelas akan membuka peluang usaha di masyarakat. Dengan dipergunakannya tas dari anyaman atau kain, masyarakat bisa diberdayakan untuk membuatnya agar perekonomian masing-masing meningkat.

Pertama, dengan menggunakan tas dari anyaman atau kain, tidak akan menambah volume sampah karena bisa dipergunakan lagi dan tahan lama.

Menurut Rudy, pengusaha retail lebih baik menyediakan tas dari kain atau anyaman bambu dibandingkan kantong plastik. Ada beberapa alasannya.

"Saya menolak apabila ada tas plastik berbayar karena yang mampu bayar tetap akan memilih tas plastik karena lebih praktis. Dan kondisi itu tidak akan mengurangi jumlah sampah plastik. Malah justru sebaliknya akan menambah jumlah sampah," ujarnya di area Car Free Day Solo.

Namun sebaliknya, penggunaan tas plastik tersebut justru akan menambah penumpukan sampah di Kota Solo.

Menurut Rudy, dirinya sangat tidak setuju apabila ada sistem tas plastik berbayar saat berbelanja di toko atau pasar. Pasalnya, penggunaan tas plastik berbayar dinilai bukanlah solusi mengurangi penggunaan plastik.

Dalam kampanye tersebut, Wali Kota Solo Rudy FX Hadi Rudyatmo meluncurkan gerakan menggunakan tas yang terbuat dari anyaman sebagai pengganti tas plastik. Tas anyaman itu diyakni ramah lingkungan.

Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mengampanyekan Lestarikan Lingkungan dalam peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2016 yang digelar di Ngarsopuro, Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah, Minggu (21/2/2016).

Pungutan Rp 200 Tak Ampuh Kurangi Konsumsi Kantong Plastik | spunbond murah jakarta



"Hanya Rp 200 bukan alasan masyarakat setop belanja, mana berarti buat mereka. Wong lima kantong saja cuma bayar Rp 1.000 kok. Kalau semua menerapkan termasuk pasar tradisional tidak ada yang bisa bermigrasi dan harganya perlu dinaikkan minimal Rp 1.000 per lembar lah," kata Tulus. 

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan kebijakan kantong plastik berbayar Rp 200 ternyata tidak cukup ampuh menurunkan konsumsi kantong plastik di toko modern. Apalagi pasar tradisional masih bebas bertransaksi dengan kantong plastik non-berbayar.

Harga kantong plastik Rp 200 masih dianggap murah dan kantong altenatif disebut kemahalan, sehingga membuat konsumsi kantong plastik tidak turun signifikan. Karena 50-60 persen konsumen masih menggunakan kantong kresek," ucapnya.

Natalya menambahkan kantong belanja alternatif yang ditawarkan toko modern masih disebut mahal oleh konsumen. Ia menyebut harga paling murah kantong belanja alternatif sebesar Rp 4.900 per buah dan paling mahal yang dipatok Ace Hardware dengan harga Rp 69.900 per kantong.

Ketiga, 12 responden lain mengaku tidak ada kantong belanja alternatif, keempat, harga kantong plastik masih terjangkau sebanyak 43 responden dan terakhir, karena praktis sebanyak tiga responden.

"Dari 222 responden, 159 orang memberkan alasan tetap pakai kantong plastik dan 63 orang lain tidak menggunakannya," katanya.

Dilihat dari alasan konsumen tetap membeli kantong plastik, sambungnya, pertama karena tidak membawa kantong belanja sendiri sebanyak 83 orang. Alasan kedua, belanjaan terlalu banyak dengan 18 responden.

"Tapi dari total 103 responden yang tidak menggunakan plastik, 40 orang diantaranya menyatakan tetap pakai kantong plastik selama belum ada kantong plastik belanja alternatif dan harga kantong plastik lebih masih terjangkau," tutur Natalya.

Ia mengatakan dari 222 responden, sebanyak 83 responden masih menggunakan rata-rata kantong plastik ketika berbelanja sebanyak kurang dari tiga kantong. Sebanyak 29 responden menggunakan tiga-empat lembar kantong dan lebih dari empat kantong pada tujuh responden.

Sementara konsumen yang tidak menggunakan kantong plastik atau membawa tas belanja sendiri mencapai 103 responden atau 46,4 persen.

Dari pengamatan jumlah transaksi selama 10 menit pada kasir, diperoleh transaksi tertinggi selama 10 menit adalah 21 transaksi dengan 10 konsumen di antaranya masih menggunakan kantong plastik.

Penurunan jumlah transaksi pembelian kantong plastik di satu retail atau 4 persen. Yang menyatakan tidak ada 13 retail atau 52 persen dan tidak tahu 11 retail atau 44 persen. Tapi itu kan klaim si kasir," ujar Natalya di Jakarta, Rabu (13/4/2016).

Peneliti YLKI Natalya Kurniawati menjelaskan terjadinya penurunan jumlah konsumsi kantong plastik pada konsumen sebesar 64 persen dari 16 retail. Sementara yang menjawab tidak ada penurunan sebanyak sembilan retail atau 36 persen.

Survei tersebut melibatkan 222 responden dengan sampel penelitian 15 nama retail modern dari 25 retail yang berlokasi di DKI Jakarta. Terdiri atas kategori 11 minimarket, supermarket, dan hypermarket, serta enam departement store.

Dalam survei tersebut juga ditarik kesimpulan bahwa penyebab belum turunnya konsumsi kantong plastik karena berbagai alasan. Mulai dari harga yang terlalu murah Rp 200 per lembar sampai kantong alternatif yang kemahalan.

Program diet kantong plastik hampir sebulan berjalan. Namun penggunaan kantong plastik masih marak di toko-toko modern di Jakarta. Hal tersebut terungkap dalam survei dengan tajuk "Efektivitas Uji Coba Kantong Plastik Berbayar" yang dilakukan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). 

Kebijakan Kantong Plastik Berbayar Kembali Berlaku? | spunbond murah jakarta



“Selama masa uji coba, pengelola ritel modern melaporkan pengeluaran kantong plastik kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Aprindo dan hasilnya menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah,” terangnya.

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), terlihat penurunan penggunaan kantong plastik sebesar 25-30 persen selama masa uji coba tiga bulan pertama, di mana 87,2 persen masyarakat menyatakan dukungannya dan 91,6 persen bersedia membawa kantong belanja sendiri dari rumah. 

Setelah mempertimbangkan secara masak dampak yang berkembang, kami memutuskan menggratiskan kembali kantong plastik di seluruh ritel modern, mulai 1 Oktober 2016 hingga diterbitkannya Permen KLHK yang berkekuatan hukum,” jelas Roy N. Mandey, Ketua Umum Aprindo.

Roy N. Mandey menuturkan, tujuan diterapkannya program kantong plastik berbayar tidak lain untuk mendukung upaya pemerintah dalam mengurangi jumlah penggunaan kantong plastik di Tanah Air. Sebelumnya, uji coba serupa berhasil dijalankan selama periode 21 Februari hingga 31 Mei 2016.

"Bulan ini bisa selesai kalau cepat pembahasan. Draft sudah jadi tinggal kita undang lintas sektor dan peritel. Bulan ini akan terbit, akan langsung berlaku. Ini kan sekarang sudah ada sosialisasi, uji coba juga sudah selesai,"‎ tandas dia.

Sebelumnya pada 1 Oktober 2016, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memberhentikan program kantong plastik berbayar yang dijalankan toko ritel modern di seluruh Indonesia, terhitung 1 Oktober 2016 sampai dengan diterbitkannya peraturan pemerintah yang berkekuatan hukum. Langkah tersebut diambil menyusul adanya pro-kontra yang terjadi di berbagai daerah.

Tuti menegaskan, menargetkan Kepmen tersebut bisa segera diterbitkan pada bulan ini. Dengan demikian aturan mengenai kantong plastik berbayar ini akan kembali berlaku.

"Sedang dibahas dengan Pemda dan nanti melibatkan sektor terkait. Kemarin baru 3 bulan (uji coba) secara nasional. Kita mau tahu hasilnya seperti apa, masukan seperti apa, masalahnya seperti apa, ini jadi bahan untuk kita buat Kepmen itu," jelas dia.

Tuti menyatakan, draft‎ Kepmen tersebut telah selesai disusun. Namun saat ini pihaknya masih harus membahas dan meminta masukan kepada pihak-pihak terkait seperti Kementerian Perdagangan (Kemendag), pemerintah daerah (Pemda), ‎dan para pelaku usaha.

"Ini kami sedang menyusun Kepmen-nya. Kalau Kepmen-nya sudah keluar akan dikenakan lagi," ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, seperti ditulis Minggu (9/10/2016).

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya KLHK Tuti Hendrawati Mintarsih mengatakan, penerapan kembali aturan kantong plastik berbayar masih menunggu keluarnya Keputusan Menteri (Kepmen) LHK sebagai payung hukum. Saat ini aturan tersebut masih digodok oleh kementerian tersebut.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan kembali menerapkan aturan kantong plastik berbayar di ritel modern. Saat ini aturan tersebut dihentikan sementara oleh para pengelola ritel modern yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo).





Rabu, 04 Oktober 2017

Kurangi Plastik, Dinas Perdagangan Purwakarta Siapkan Green Produk

Kantung kertas green produk solusi pengganti kantung plastik | spunbond indonesia

spunbond indonesia



"Targetnya kan pengurangan sampah plastik, sementara dasar hukumnya belum diterima oleh pemerintah di daerah. Sementara, gerak laju perekonomian tidak bisa ditentukan, sekalipun dalam hal ini pemakaian kantong plastik dalam ukuran besar," pungkas Iis.

Kabid Perdagangan Diskop, UMKM, Perindag Purwakarta Iis Sri Sugiharti menilai, masyarakat Indonesia saat ini belum memiliki kesadaran khususnya dalam melakukan pemilahan sampah. Khususnya kantong plastik, sejauh ini masih menjadi kebutuhan yang tak bisa dipisahkan dari aktifitas perdagangan. Perlu ada aturan yang mendasari, dan solusi lain sebagai pengganti terbaik dari kantong plastik tersebut.

"Semisal menggunakan daun jati, daun pisang, daun jagung, dan beberapa bahan lain yang mudah terurai oleh tanah. Pada prinsipnya, kami menginginkan ada pola tertentu saat kebijakan pengurangan plastik, dengan menyiapkan sarana lain. Semisal jika kantong plasti mesti dikurangi, berarti ada pengganti yang lebih baik dari kantong plastik," kata Nizar.

Senada disampaikan Kabid UMKM, Diskop, UMKM Perindag Purwakarta Muhammad Nizar. Menurutnya, untuk memasyarakatkan konsumen cerdas dan bisnis ramah lingkungan perlu dilakukan dari sisi perubahan kebiasaan. Bahkan pihaknya sedang memikirkan bagaimana caranya melakukan pengemasan produk dengan bahan-bahan tradisional.

"Dalam rangka green produk, pemasayaakatan prdoduk hijau. Dengan program ini, kami yakin masyarakat bisa mengurangi penggunaan kantong plastik secara perlahan dan sukarela," ungkap Tedi.

Demikian halnya, konsumen diberikan gratis bilamana membutuhkan kantong sejenis di pelaku UMKM. Di samping program palstik berbayar yang belum bisa dilaksanakan, pihaknya menginginkan hal itu tetap dijalankan karena pandangan sosial ekonomi. Penyediaan kantong kertas itu sendiri, baru bisa menjangkau ke sektor UKM belum merabah pasar, minimarket dan pedagang umum.

"Sudah mendahului dengan kantung kertas green produk. Saat ini kami memfasilitasi para pelaku UMKM, kedepan masyarakat bisa membuat sendiri, ini bahannya mudah terurai oleh tanah dan bisa digunakan oleh masyarakat untuk berbelanja," tambah Tedi.

Kabid Industri Diskop, UMKM, Perindag Purwakarta Tedi Kustiadi menambahkan, pihaknya sudah jauh-jauh hari memulai inovasi green produk dalam rangka melakukan pengemasan produk ramah lingkungan. Salah satunya, dengan penyediaan kantung kertas oleh-oleh yang mudah didaur ulang oleh alam kurang dari sebulan.

"Walaupun Purwakarta tidak menjadi pilot project, dari awal kami akan mencoba dengan mempersiapkan kebijakan ke arah sana, minimal ada imbauan dan ada pengurangan sampah plastik. Sejauh ini masih di sektor UMKM, sudah dimulai dengan penggunaan kantong terbuat dari kertas. Kami upayakan imbauan ini juga diberlakukan di sektor usaha lain mulai di pasar tradisional, minimarket dan usaha-usaha lainnya," kata Syahrul, Rabu (24/2/2016). 

Kepala Diskop, UMKM, Perindag Purwakarta M Syahrul Koswara menurutkan, terkait kampanye plasti berbayar, Kabupaten Purwakarta tidak masuk pada pilot project pengurangan produktifitas penggunaan kantong plastik. Sekalipun tidak berbayar, pihaknya menekan penggunaan kantong plastik masyarakat berkurang.

Dinas Koperasi, Usaha Mikro Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskop, UMKM, Perindag) Kabupaten Purwakarta mulai akan melakukan imbauan soal pengurangan jumlah pemakaian plastik. Mula-mulai, leading sektor perdagangan ini akan menyisir pelaku UMKM, pedagang di pasar dan pelaku minimarket. Meski sejauh ini Purwakarta tidak dijadikan pilot project soal kebijakan pengurangan kantong plastik atau kantong plastik berbayar, namun hal ini akan tetap dilakukan.


3 Hari Diet Kantong Plastik, Ini Keberatan Konsumen ke Aprindo | spunbond indonesia


“Kami masih mencari solusi sebagai pengganti (kantong plastik) yang murah dan sesuai dengan konsumen. Yang dipentingkan kesadaran kita bersama,” kata Tutum.

Sejak Minggu, 21 Februari 2016 kemarin Pemerintah Daerah Jakarta memberlakukan ‘diet’ kantong plastik. Hal itu sesuai dengan Perda DKI Nomor 3 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah. Toko-toko diwajibkan menyediakan kantong plastik ramah lingkungan.

Saat ini, kata Tutum, Aprindo masih mencari solusi sebagai pengganti kantong plastik yang murah dan sesuai dengan keinginan konsumen. Dia mengajak semua masyarakat menggalakkan kampanye diet kantong plastik.

Aprindo berharap harga kantong plastik di toko-toko seluruh Indonesia bisa dibuat sama. Pasalnya jika berbeda akan menimbulkan keributan. “Jika harganya beda, nanti bisa ribut. Mekanisme kami dengan komputerisasi. Apa tidak kacau kalau beda. Jangan diganggu sistem perdagangan kami,” kata Tutum.

“Kita pilih minimal Rp 200. Kita sementara walaupun pilihan kita belum tepat, kita tidak ingin membebani masyarakat dulu,” kata Tutum.

Menurut Tutum, soal harga kantong plastik sebesar Rp 200 itu sifatnya sementara. Anggota Aprindo hingga kini belum sepakat mengenai harga kantong plastik. Hal itu dikarenakan ukuran kantong plastik bermacam-macam, sehingga diambil harga tengah yakni Rp 200. Intinya Aprindo tak mau membebani masyarakat dulu.

Tak semua pelanggan keberatan dengan diberlakukannya ‘diet’ kantong plastik ini. Ada juga yang menganggap wajar konsumen harus membeli kantong plastik.

“Kalau ada konsumen menggebrak, saya minta kasir memberi (kantong plastik). Tolong dijelaskan hak kantong plastik dicabut. Kalau mereka mau harus bayar,” kata Tutum.

Ada juga konsumen yang keberatan membayar kantong plastik dengan harga Rp 200 per lembar. Mereka menganggap kantong plastik itu adalah hak konsumen. Kepada anggotanya, Aprindo menganjurkan agar petugas kasir memberikan penjelasan kepada konsumen. Namun jika mereka memaksa, kasir diminta untuk memberikan saja.

“Saat ini banyak hal muncul di lapangan. Hal wajar, butuh sosialisasi panjang. Keberatan konsumen, jadi muncul (pertanyaan) ke mana uangnya? Nah, uang itu sebagai modal kami lagi. Kantong tidak dibebankan lagi ke kami. Ini sudah menjadi barang terpisah,” kata Tutum dalam konferensi pers di VIP Room Bebek Bengil Epicentrum Walk, Jl Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (24/2/2016).

Toko-toko di Jakarta mulai diwajibkan menerapkan kantong plastik berbayar. Saat ini konsumen harus membayar jika ingin menggunakan kantong plastik saat berbelanja. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengatakan di 3 hari masa percobaan ini pihaknya masih sering mendapatkan komplain dari pelanggan.

Bioplastik Buatan Avani Jadi Solusi Masalah Plastik Dunia | spunbond indonesia



Publikasi di jurnal Science menyebutkan, pada 2010 saja dunia menghasilkan plastik sebanyak 12 juta ton. Indonesia tercatat sebagai penghasil sampah plastik terbesar kedua setelah China dengan 1,8 juta ton per tahun. Jika hal ini terus terjadi, bumi jadi planet yang dipenuhi plastik. Kajian Universitas Georgia yang dirilis tahun lalu menemukan bahwa lautan di Indonesia adalah perairan kedua di dunia yang menyimpan sampah plastik terbanyak.

“Bayangkan jika setiap hari tiap warga Indonesia yang jumlahnya 250 juta menggunakan satu sedotan plastik sepanjang 20 cm dan langsung membuangnya. Sedotan-sedotan ini bila direntangkan bisa mencapai 5.000 kilometer, atau setara jarak Jakarta-Sydney,” ungkap Kevin.

Dijelaskan Kevin, gagasan untuk menciptakan produk-produk biodegradable berawal ketika ia melihat perubahan drastis yang terjadi pada pantai-pantai di Bali yang penuh dengan sampah. Tidak hanya di permukaan, plastik-plastik yang dibuang juga berada di bawah permukaan laut.

Sejatinya, bioplastik bukan hal yang baru. Sejak 1990, perusahaan di Eropa sudah memroduksi bioplastik dari jagung dan serat bunga matahari. “Namun memroduksi bioplastik dari bahan-bahan ini biayanya relatif mahal,” kata Kevin.

Hebatnya, produk-produk Avani seperti bioplastik bisa larut secara instan dalam air hanya dengan menggunakan air panas. Di dalam air dingin, bioplastik ini akan menjadi lunak dan kemudian berubah menjadi karbondioksida, air dan biomassa dalam hitungan beberapa bulan secara alami.

“Teknologinya mungkin tidak baru, tetapi ada satu keunggulan yang kami banggakan yaitu produk kami sudah lulus toxicity test sehingga aman jika terkonsumsi oleh hewan laut,” klaim Kevin bangga.

Nah, diklaim Kevin, produk bioplastik buatan Avani aman dan tidak beracun. Sebab, produk bioplastik Avani bahannya berasal dari singkong, yang bisa menjadi sumber daya yang baik untuk produk-produk biodegradable. Dan, pastinya, produk itu dihasilkan melalui proses riset dan pengembangan yang cukup lama.

Bahkan produk ini sering tidak terdaur ulang seperti klaim awalnya, yang pada akhirnya menghasilkan kematian bagi ribuan makhluk laut dan berbahaya jika dikonsumsi manusia,” pungkasnya.

Menurut Kevin, saat ini banyak produk bioplastik yang dipasarkan sebagai produk “ramah lingkungan” namun tidak memberikan keuntungan kepada lingkungan. Kantong plastik yang bisa didaur ulang seringkali menghasilkan residu beracun yang membuatnya berbahaya untuk kehidupan laut dan tanaman.

“Festival ini menjadi ajang strategis, tidak hanya bagi pembangunan reputasi industri kreatif Indonesia, namun juga kesempatan bagi kita untuk membangun kesadaran tentang isu-isu global terkini seperti polusi plastik yang sudah menjadi epidemi,” ujar Kevin Kumala, Chief Green Officer Avani.

Perusahan eco-technology asal Bali, Avani terpilih mewakili Indonesia di festival industri kreatif South by South West (SXSW) yang diadakan di Austin, Texas pada 10-19 Maret 2017. Di sana, Avani menampilkan solusi bagi masalah plastik dunia, yaitu melalui produk biodegradable yang aman.




Selasa, 03 Oktober 2017

Kebijakan Plastik Berbayar di Berhentikan, dan Solusi yang Tepat

Plastik Ramah lingkungan | spunbond bags


spunbond bags


Andai saja plastik ramah lingkungan ini  lebih masif lagi digunakan di ritel modern, juga diterapkan di pasar tradisional, kami yakin tumpukkan sampah kantong plastik yang selama ini bermasalah, dapat dikurangi.

Namun, tentu saja, teknologi bukan solusi satu-satunya, perlu adanya Aspek Hukum, Aspek Budaya, dan Aspek Pembiayaan yang juga harus diperhatikan.

Di Indonesia sendiri Plastik Ramah lingkungan sudah banyak beredar, mulai dari plastik jenis Bio-Oxodegradable seperti merk dagang OXIUM, ataupun kantong plastik jenis Biobase seperti merk dagang Ecoplas.

Sebenarnya jawaban untuk masalah sampah plastik sudah ada yaitu dengan menggunakan kantong Plastik yang mudah terurai di alam, plastik ramah lingkungan seperti yang sudah sering tim Plastiku Hijau kampanyekan.

Perlu diingatkan kebijakan kantong plastik ini bertujuan menjaga lingkungan agar dapat mengurangi sampah plastik.

Penghentian program ini, disebut bersifat sementara hingga diterbitkannya Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang berkekuatan hukum tetap.

Semenjak 1 Oktober 2016, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) resmi menghentikan program kantong plastik berbayar tahap kedua yang telah diberlakukan toko ritel modern di seluruh Indonesia semenjak 1 Juli 2016.

Legislator Sebut Plastik Berbayar Tidak Solusi | spunbond bags



Sebagaimana yang dimaklumi, munculnya program kantong plastik brbayar dengan maksud mengurangi pemakaian kantong plastik. Mengingat keberadaan sampah kantong plastik sudah menghawatirkan.  Ditambah limbah atau sampah plastik sulit terurai yang membuat pencemaran lingkungan. 

"Dengan beginikan bisa juga menghidupkan Usaha Kerajinan Masyarakat.  Ini akan mendorong perekonomian masyarakat juga dengan membuka susaha kerajinan keranjang" , tambahnya. 

Dikatakannya juga, ini akan dikembalikan pada cara orang lama-lama dulu berbelanja.  Setiap orang yang mau ke pasar bawa keranjang belanjaan sendiri ke pasar.  Setelah belanja, keranjang disimpan lagi untuk digunakan belanja beikutnya. 

"Ini tidak solusi, orang lebih mau  dipotong dua ratus rupiah belanjaannya ketimbang harus membawa barang beliannya tanpa kantong.  Kalau memang dilarang, sebaiknya ditiadakan saja kantong plastik dan cari solusi pengganti dengan kantong yang ramah lingkungan.   Kalau program ini malah menambah beban biaya masyarakat", sebutnya.

Legislator Riau dari Partai Gerindra, Marwan Johanis menyebutkan, kalau program plastik berbayar  bukanlah solusi dalam mengatasi persoalan sampah plastik yang ada.  Mengingat dengan berbayar, masyarakat masih memilih untuk memakai plastik ketimbang harus menggandeng produk yang dibeli.

Solusi Sampah Plastik Dunia | spunbond bags



Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) juga mengungkapkan sebanyak 10% plastik yang diproduksi setiap tahun di seluruh dunia terbuang ke laut, 70% di antaranya tenggelam dan tidak terurai. Algita Marine Research Foundation kemudian menyatakan jutaan hewan laut tewas per tahun akibat memakan dan ter pe rangkap sampah plastik. Kevin berharap tanah dan laut di Indonesia dapat terbebas dari sampah plastik. Setidaknya tidak menumpuk karena keasrian dan keaslian alam Indonesia akan rusak. 

Dengan sampah, citra Tanah Air sebagai tempat wisata internasional akan merosot. Indonesia akan mengalami kerugian moril dan materiil yang besar. Dari tekad itulah Kevin melangkah. 

Mereka melakukan pengenalan melalui media sosial, website, atau persentase langsung. Pada awal 2016 kapasitas produksi Avani Eco hanyalah 0,2 ton per hari, tapi kini kapasitas produksinya mencapai 4 ton per hari. Sebanyak 80% hasil produksinya diekspor. Berdasarkan riset Greeneration, per kepala orang Indonesia dapat menggunakan rata-rata 700 kantong plastik per tahun. Artinya, pohon yang ditebang dan minyak yang digunakan juga besar. Secara tidak disadari, sampah plastik yang terbuang memerlukan waktu sekitar 100-500 tahun untuk bisa terurai secara sempurna. 

Sebut saja Garuda Indonesia, Dufry, Safe Care, Karcher, dan ratusan perusahaan lainnya. Avani Eco juga mendapatkan sambutan hangat dari negara-negara Barat dan Afrika. Perusahaan itu telah menandatangani nota kesepahaman dengan Amerika Serikat (AS), Rwanda, Ghana, dan Kenya. “Harga kantong ini Rp700. Di Indonesia, jumlah klien kami sekitar 100- 200 klien, campur antara lokal dan multinasional,” kata Kevin. Dia menambahkan, “Saya akui penerimaan kantong ramah lingkungan di kawasan domestik masih kurang. Jujur, ide ini jauh lebih dihargai di luar negeri. Ini adalah karya anak bangsa yang diabaikan.” Avani Eco kini ingin memperluas pemasaran ke hotel dan kafe. 

Meski brilian, produk-produk Avani Eco masih harus bersaing ketat dengan kantong plastik yang saat ini beredar luas di pasaran. Beberapa kendala yang dialami produk Avani itu adalah pertama, harga jualnya lebih mahal Rp200-Rp300 dibandingkan harga kantong plastik. Kedua, perusahaan prolingkungan belum mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah. Maklum, ketergantungan masyarakat terhadap plastik sudahsangattinggi. Mindset berbagaipihak juga dinilai lebih berorientasi profit. Sejauh ini, ada beberapa klien yang sudah memanfaatkan produk Avani Eco. 

Dalam pencarian bahan baku, Kevin juga tidak mengalami hambatan berarti karena Indonesia sangat subur. Jumlah produksi singkong di Indonesia mencapai 23 ton per tahun dengan kebutuhan hanya 18 ton. “Artinya, ada beberapa ton yang bisa kita ambil untuk bahan baku pembuatan kantong ramah lingkungan,” kata Kevin. Meski demikian, Kevin tidak mengambil singkongnya secara utuh, melainkan hanya tepungnya. “Jadi, kalau kata rekan saya, saya sebenarnya hanyalah seorang pemulung sampah,” lanjut Kevin sambil tertawa. 

Kevin tak menampik, kantong ramah lingkungan yang disuntikkan zat metal ber-ion itu dapat degrade 100% karena mengalami oksidasi saat menyentuh tanah. “Plastik itu akan hancur tapi menjadi polusi mikro plastik dan akan termakan oleh hewan, baik darat maupun laut. Ujung-ujungnya, manusia juga yang dirugikan,” imbuhnya. Kevin mengaku profit bukanlah hal utama yang dicarinya dalam pengembangan kantong ramah lingkungan tersebut. Sebab, menurut dia, penyelamatan lingkungan dalam jangka panjang jauh lebih penting. 

“Dokter juga sering berkata mencegah lebih baik daripada mengobati. Ketika sudah sakit, konsekuensinya besar. Hal yang sama juga berlaku bagi kantong. Kita harus lebih peduli terhadap lingkungan dengan meminimalkan penggunaan kantong plastik,” sambungnya. Kantong ramah lingkungan yang digagas Kevin memang bukan langkah baru. 

Di dunia, perusahaan-perusahaan Eropa sudah lebih awal mengubah pati jagung dan serat bunga matahari menjadi kantong sejak tahun 1990-an. Di Indonesia, beberapa orang juga sudah pernah memiliki konsep pembuatan kantong ramah lingkungan yang inovatif. Saat ini, menurut Kevin, ada empat perusahaan pembuat kantong ramah lingkungan, termasuk Avani Eco.

“Dua perusahaan kantong itu mencampur bahan nabati dan plastik, sedangkan satu perusahaan lagi menyuntikkan zat metal ke dalam produknya. Saya sedih karena produk ramah lingkungan di Tanah Air mislead ,” katanya. 

Kevin mulai merintis Avani Eco pada 2013. Saat itu, dia mengimplementasikan hasil penelitiannya dan mencoba menjualnya ke rekannya yang memiliki perusahaan besar. Dari situ, dia mendapatkan banyak pelajaran dan masukan. “Saya benar-benar memproduksi kantong ramah lingkungan ini pada 2014,” tandas Kevin. Sama seperti Kevin, pemerintah Indonesia juga sudah lama berusaha meminimalisasi dampak sampah plastik denganmenerapkanprogram3R: reduce, reuse, dan recycle.

Meski demikian, bagi Kevin, langkah itu masih kurang efektif karena program itu memerlukan modal yang besar, baik modal tekad, kesadaran, biaya, waktu, maupun energi. “Ada satu R lagi yang perlu ditambahkan, replace ,” kata Kevin.

“Kami menerima sertifikat dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bahwa kantong ini tidak beracun. Kantong ini tidak hanya ramah lingkungan di atas tanah, tapi juga di dalam laut,” kata Kevin.

 Dia menekankan, kantong ini juga satu-satunya di dunia yang bersertifikat dan aman jika termakan. Kevin yang mendirikan perusahaan Avani Eco itu mengatakan kantong tersebut juga dapat dimodifikasi sesuai keperluan, dapat ditulisi, digambari, atau diwarnai. 

Selain kantong, Avani juga memproduksi jas hujan, cangkir kopi, sedotan, dan wadah makanan. Semua bahannya 100% nabati tanpa dicampur bahan kimia berbahaya. 

Permasalahan itu, bagi Kevin Kumala, merupakan tantangan besar yang memacu pikirannya membuat produk baru yang lebih solutif. Dengan berbekal tekad yang kuat, Kevin berhasil menciptakan kantong alami pengganti kantong plastik meski dengan modal pinjaman. 

Kantong itu murni 100% terbuat dari tumbuh-tumbuhan seperti pati singkong, minyak sayuran, dan bahanbahan nabati lainnya sehingga dapat terurai dalam tanah paling lama selama 50 hari. “Kantong itu tidak akan menyisakan apa pun karena kembali ke asalnya,” ujar Kevin saat berkunjung ke kantor KORAN SINDO, pekan ini. 














Kertas Bekas Bisa Disulap Jadi Benda Bernilai Rp300 Ribu

Pelatihan daur ulang sampah dari Bank Sampah Abukasa | spunbond bag jakarta



spunbond bag jakarta


“Bokor ini hanya perlu 30 lembar kertas ukuran A4. Dan harganya dijual bisa Rp 300 ribu. Kenapa mahal karena ini hasil recycle. Selain itu kalau jatuh ga pecah dan ini anti air,” ujarnya sembari memperlihatkan satu bokor hasil bank sampah. 

Nyoman Astawa dari Bank Sampah Abukasa mengatakan bahwa kegiatan pelatihan daur ulang sampah kepada generasi muda ini bertujuan agar generasi muda bisa berpikir maju dan bisa mengelola sampah yang awet dan berkesinambungan. Bank sampah dikatakannya bisa memberikan hasil walaupun tidak sebesar menjual aset tanah.

“Ternyata gampang kalau sudah dipraktekkan. Saya ga nyangka dari kertas bekas bisa menjadi bokor seperti ini,” ujar seorang peserta pelatihan Anityadewi (17) dari Karang Taruna Suta Mandala, di Kantor Kelurahan Peguyangan, Denpasar, Minggu (16/7/2017).

Merekapun dengan teliti membuat daur ulang sampah tersebut hingga menjadi bokor.

Menariknya dalam pelatihan daur ulang sampah yang dilaksanakan oleh Bank Sampah Abukasa ini diikuti oleh para Karang Taruna dan Sekaa Teruna di Keluahan Peguyangan yang usianya antara 17 tahun sampai 20 tahun.

Begitulah kira-kira bahan dasar dari kertas bekas yang dibuat menjadi barang berharga satu diantaranya seperti bokor (sejenis wadah layaknya tempat makanan khas Bali).

Satu per satu kertas digulung hingga menjadi layaknya pipet. Setelah itu digabungkan menjadi hampir sepanjang 2 meter lalu dipipihkan.

Bank Sampah Griya Sapu Lidi, Tak Hanya Menabung Tapi Juga Sebarkan Semangat Kurangi Sampah | spunbond bag jakarta


Lanjut Erwan, pada waktu itu belum tercetus bank sampah. Seiring berjalannya waktu dan melakukan studi banding di desa lain, bank sampah terbentuk dengan dukungan Rt Rw dan membangun Rumah Sampah. Setiap rumah mendapat tiga kantong sampah masing-masing untuk sampah plastik, logam atau kaca, dan kertas.

"Setiap malam 17 Agustus kita ada sarasehan dan handirkan narasumber yang berkompeten. Saya hadirkan direktur Walhi yang sedang mengadakan program membeli sampah masyarakat. Juga hadir pula profesor dari Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM dan bicara tentang sampah," jelasnya.

Oleh karenanya lingkungan harus ditata sedemikian rupa agar tampak asri.

Letak perumahan yang berada di antara dua sungai dan memiliki kontur gumuk pasir membuat debu akan berterbangan ketika kemarau tiba.

Sembilan tahun yang lalu sebuah gagasan muncul dari sebagian besar penghuni perumahan yang dibangun pada tahun 1992-1993 tersebut.

Hanya saja obyek yang ditabung tentu berbeda. Setidaknya begitulah penjelasan Erwan Widyarto, mantan Jurnalis dan seorang Penulis buku yang masih sempat meluangkan waktunya mengurus Bank Sampah Griya Sapu Lidi di tempat tinggalnya Perumahan Gumuk Indah, Desa Sidoarum, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Senin (23/1/2017).

Lalu bagaimana jika mendengar bank sampah? Tidak perlu pusing mengartikannya. Sederhana saja, bank sampah berarti menabung dengan sampah. Tidak ada yang berbeda, transaksi tetap terdiri dari nasabah dan petugas bank.

Lain halnya ketika mendengar kata 'sampah', dibenak banyak orang yang terbesit pasti hanyalah kata macam kotor, tidak sehat, menganggu dan berbagai kalimat negatif lainya.

Mendengar kata bank sebagian orang pasti akan menginterpretasikan dengan tumpukan berlembar-lembar uang baru dengan nominal yang besar.

Sederet prestasi pun diraih Bank Sampah tersebut mulai dari juara 1 Green and Clean Provinsi DIY hingga RW Percontohan Kabupaten Sleman. Namun, meski mampu mengolah sampah, Bank Sampah yang pada tahun 2016 mengolah 1.845 Kg sampah itu pun tetap mencanangkan semangat mengurangi produksi sampah.

Bank Sampah yang memiliki nasabah lebih dari 150 kepala keluarga (KK) tersebut juga melakukan kegiatan pembinaan sekolah semisal SDIT Alam Nurul Islam, SMP Maarif dan MAN 1 Godean, SDN 1 Tinom, SMP N 3 Yogyakarta, SMKN 2 Godean dan sekolah-sekolah lainnya. Tak jarang sekolah-sekolah tersebu mengukir prestasi di bidang lingkungan. Selain itu, Bank Sampah Griya Sapu Lidi juga rutin memberikan pelatihan ke desa-desa lain bahkan hingga klaten.

"Selanjutnya dijual kalau ada pameran dan pesanan. Harga Rp 5000 sampai ratusan ribuan per item. Yang laku keras bros dari bekas pasta gigi. Hasil penjualan menjadi pendapatan yang buat dan 10 persen untuk devisi UKM," pungkasnya.

Sampah-sampah tersebut selain dijual ke pengepul juga diolah oleh ibu-ibu. Melalui divisi UKM sampah didaur ulang menjadi kerajinan yang menarik dan layak jual macam bros, ecobricks, bunga dan gelang dari plastik, tas, spanduk, kaligrafi dan berbagai produk kreatif lainnya. Kreasi tersebut selain didapat dari pelatihan juga diperoleh dari dunia maya.

"Awalnya warga mengurus sampah keluar duit tapi dengan adanya konsep bank sampah dapat duit. Warga tidak berhitung dapatnya berapa, namun hasil dari bank sampah kembali ke warga seperti perbaikan jalan dan gapura," jelasnya

Dari tabungan sampah tersebut, setiap rumah dapat memperoleh ratusan ribu rupiah tiap tahun. Selain itu Bank Sampah juga menyediakan simpan pinjam bagi warga.

"Kalau dikilokan buku harganya sama saja. Tapi kalau dipilah, sampul dan isi buku memiliki jenis kertas yang berbeda. Maka harga berbeda pula," jelasnya.

Transaksi dalam bank sampah sendiri tidak sesulit yang dibanyangkan. Yang terpenting terdapat nasabah, petugas bank, dan pengepul. Sebelum menabung nasabah atau penyetor sampah sudah harus memilah sampah yang terdiri dari 30 jenis sampah yabg tersiri dari sampah plastik, logam atau sampah, dan kertas tersebut. Lantas sampah tersebut akan dicatat dalam buku tabungan.

"Kemudian bersamaan dengan program Green and Clean dari LSM sehingga semakin termotivasi dan menguatkan," ujarnya.
"Kalau kita menjadi orang yang tidak bertanggung jawab sih enak kita tinggal buang di sungai misal. Tetapi ditempat lain sampah yang hanyut itu menjadi masalah. Membuang masalah kita menjadi masalah orang lain.

Kita harus bertanggung jawab kita yang mengehasilkan samlah maka kita yang mengelola sampah," tegas Erwan menyampaikan alasan bedirinya Bank Sampah Griya Sapu Lidi.

"Kita akan menggiatkan pelatihan untuk daur ulang karena kita masih terus belajar. Selain itu juga perlu ada kesiapan produksi untuk menghadapi pasar," pungkasnya. 

Pada tahun 2017 ini, Bank Sampah akan mengepakkan sayapnya dengan mengembangkan tanaman hidroponik untuk menjadi unit sendiri. Selain itu ada pula unit pengolahan pupuk kompos dari sampah organik. Selain tentu akan meningkatkan pemasaran produk daur ulang sampah menjadi souvenir-souvenir seperti pernikahan dengan memanfaatkan media sosial dan berbasis komunitas.

"Tidak hanya semata-mata mengolah sampah tapi mengedukasi untuk mengurangi sampah setiap individu. Data BPS saja setiap orang menghasilkan 0,66 Kg sampah setiap harinya. Jadi semangatnya adalah reduce, reduce, reduce baru reuse dan recycle," ujarnya.


Mahasiswa Muhammadiyah Malang Sulap Botol Plastik Bekas Jadi Piring Ingke Cantik | spunbond bag jakarta



“Saya sangat suka dengan piring ini, lucu dan sangat inovatif. Selain bisa mengurangi sampah, bisa menjadi ladang untuk belajar berwirausaha. Saya harap akan banyak mahasiswa yang mampu memberikan ide kreatifnya untuk membantu melestarikan lingkungan” kata Tika Bisono, dosen yang juga konsumen produk ini. 

Sejumlah konsumen menyukai produk daur ulang ini terutama pada bentuknya yang lucu.

Menurut Hesti, penjualan Ingke suwar suwir ini sudah mulai tersebar khususnya di wilayah Kota Malang. Kini, Ingke suwar suwir sudah mulai dikenal di wilayah luar pulau Jawa seperti di Sulawesi dan Lombok dengan memanfaatkan sosial media berupa instagram, official account line.

"Bagian atas (cincin) gelas plastik dirangkai sedemikian rupa sehingga membentuk piring ingke cantik dengan berbagai macam pilihan warna dan desain," kata Hesti lewat rilisnya kepada tribunjogja.com, Jumat (7/7/2017).

Hesti Sri Rahayu mewakili timnya mengatakan, Ingke suwar suwir ini merupakan salah satu gerakan untuk mengurangi limbah sampah khususnya di Kota Malang dengan memanfaatkan bagian atas (cincin) gelas plastik.

Mereka adalah Hesti Sri Rahayu, Indreswari Rahmayanti Prabowo, Amriati Masso dari Fakultas Psikologi.

Lewat Program Kreativitas Mahasiswa – Bidang Kewirausahaan (PKM-K) yang berjudul “Ingke Suwar-suwir Usaha Daur Ulang Sampah Minuman Gelas Plastik”, para mahasiswa memberikan solusi mengubah sampah menjadi produk bernilai jual.

Melihat fenomena ini, tim salah satu tim dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengajukan sebuah solusi untuk mengatasi masalah sampah.

Sampah merupakan masalah yang tidak ada habisnya di kota-kota besar termasuk Malang. Setiap tahun, produksi sampah selalu sebanding dengan bertambahnya jumlah penduduk.