Selasa, 21 November 2017

Dluwang Art, Mendulang Untung dari Koran Bekas

Dluwang Art adalah sebuah galeri yang menjual produk suvernir | goody bag jakara


https://www.goodybag.id/



Namun, kreativitas dan ilmu menjadikan kertas koran ini tidak saja kuat, tetapi bisa menjadi bahan baku untuk berbagai produk sehari-hari, seperti produk-produk yang ditawarkan Dluwang Art berupa sandal, tas, dan suvenir cantik pernikahan.

Dan, setelah menceburkan diri ke dalam bisnis ini bertahun-tahun, Dluwang Art tetap selamat. Begitu juga ketika rupiah ambruk. Dengan memanfaatkan kekuatan internet dan sosial media secara maksimal, Novi bisa menangguk untung puluhan juta rupiah dalam sebulan.

" Mulainya dari melihat buku sama lihat tumpukan koran," kenang perempuan berkacamata minus kelahiran 6 November 1989 itu.

Dluwang, dalam bahasa Jawa berarti kertas. Kertas adalah bahan yang mudah robek, dan jika terkena air, langsung rusak. Apalagi kalau kertas ini adalah kertas koran yang tipis dan mudah rusak. 

Meski bergelar sarjana filsafat, Novi, sapaan akrabnya, tak mau berpangku tangan menunggu gaji bulanan sebagai pekerja kantoran. Dia memilih menggunakan kreativitasnya untuk menciptakan barang-barang yang berguna dengan bentuk unik.

Berawal dari kejengahannya melihat tumpukan koran, Novi terinspirasi untuk mengolahnya menjadi barang yang bermanfaat. Itulah awal terbentuknya Dluwang Art, salah satu usaha kreatif milik anak bangsa.

Tak heran, jika galeri yang dijalankan wanita berhijab ini begitu aktif mempromosikan produknya di media sosial. Entah itu lewat dluwangart.blogspot.com, facebook, twitter, instagram, sampai situs jual beli internasional macam alibaba.com.

Memang, kini bukan zamannya lagi menunggu pekerjaan untuk menghasilkan uang. Hanya bermodalkan niat dan ide kreatif, tangan-tangan terampil pun bisa mendulang uang. Inilah yang terjadi pada Briane Novianti Syukmita saat mengawali usaha kecilnya, Dluwang Art.

Tapi, inilah yang berbeda dengan galeri Dluwang Art. Cobalah ketik kata itu di Google. Jangan kaget, di peringkat pertama anda akan masuk ke alibaba.com, sebuah situs jual beli terbesar dunia yang digagas pengusaha tajir China. 

Ya, Dluwang Art adalah sebuah galeri yang menjual produk suvernir, tas dan sandal dari bahan baku kertas koran bekas. Namun, inilah yang membedakannya dengan pedagang suvenir di Jalan Maliboro. Mereka amat sadar dengan kekuatan internet dan media sosial sebagai sarana pemasaran.

Di lantai berubin keramik putih, setumpuk barang kerajinan juga berserak. Tumpukan koran bekas juga memenuhi sudut lantai. Di lantai itu, dua perajin, tengah melipat kertas koran bekas itu menjadi lintingan panjang kecil. Terus begitu. Sampai jumlahnya ribuan. 

Sekilas, tak ada yang menyolok. Di kota seni itu, galeri sejenis selalu ada dan menyemut.

Masuk ke dalam ruangan galeri, almari kayu terbuka berwarna putih langsung menyambut. Keberadaannya hampir memenuhi separuh dinding ruangan yang dicat hijau muda itu. Di dalam almari, belasan tas terlihat terpajang. Juga sandal, miniatur Tugu Yogya, miniatur Menara Eiffel, vespa dan sepeda onthel.

Siang itu matahari masih membakar Jalan Malioboro, Yogyakarta. Cuaca panas tak menghalangi pedagang suvernir memenuhi ruas jalan di depan ruas pertokoan jalan tersohor itu. Tak  seberapa jauh dari situ, tepatnya di Jalan Ledok Tukangan D2/257, Danurejan, sebuah galeri kecil tegak berdiri.

Ada Kampung Koran di Jakarta  | goody bag jakarta



Di tahap awal pelatihan, warga kampung sekitar belajar cara melinting koran bekas, yakni menggunting lembar-lembar kertas koran bekas kemudian menggulung atau melipatnya sehingga menjadi bahan penyusun anyaman.

Pada tahap selanjutnya, lintingan atau lipatan itu dianyam sedemikian rupa sampai berbentuk aneka barang nan apik. Setelah itu, barang kerajinan diberi sentuhan akhir dengan bahan pelapis dan pewarna yang tahan kelembaban, anti jamur dan anti toxic sehingga membuatnya jadi produk yang apik, higienis dan tahan lama.

Kegiatan di Kampung Koran ini, lanjut dia, digerakkan oleh semangat bersama antara perusahaan, komunitas, dan warga. Berbekal semangat bersama tersebut, Kompas Gramedia ingin mendorong terwujudnya kondisi lingkungan yang lebih selaras melalui praktik pengelolaan sampah dan daur ulang barang bekas.

Program Kampung Koran sudah dimulai sejak Mei 2015. Bersama Salam Rancage, Kompas Gramedia telah mengadakan pelatihan dan pendampingan secara rutin terhadap warga di tiga kampung tersebut.

Sementara itu, Teguh Azmi Pamungkas, dari CSR Kompas Gramedia menambahkan, Kampung Koran merupakan salah satu program yang diinisiasi oleh Corporate Social Responsibility (CSR) Kompas Gramedia. Untuk merealisasikannya, CSR Kompas Gramedia bekerja sama dengan Salam Rancage, sebuah komunitas sosial bisnis yang berbasis di Bogor.

"Kampung Koran digagas sebagai sebuah upaya untuk menstimulasi pegembangan ekonomi kreatif berskala kampung di ibukota," kata Azmi.

Menurut Eli, semakin hari semakin banyak warga yang tertarik mengikuti kegiatan Kampung Koran. Mereka sadar, dengan aktif mengikuti kegiatan tersebut banyak manfaat yang didapat. Bukan hanya peningkatan pendapatan, melainkan juga pengembangan keterampilan, kepedulian terhadap lingkungan, dan jalinan kebersamaan antarwarga.

Eli juga mendesain warung kecil miliknya di wilayah Gelora sebagai tempat workshop dan etalase aneka produk kerajinan koran yang dibuatnya. "Ya lumayan, bisa dapat tambahan penghasilan dari bikin kerajinan koran," ujarnya.

Di kampung ini, kertas koran bekas tidak dibiarkan teronggok lalu dibuang ke tempat sampah ataupun dibakar. Tapi banyak warga setempat memanfaatkan koran bekas untuk dibuat menjadi berbagai kerajinan, mulai dari gantungan kunci, kotak pensil, tempat tisu, keranjang, tikar, hingga tas cantik.

"Sekarang ada 30-an warga di tiga RW yang ikut dalam kegiatan ini," kata Eli Marni (47 tahun), salah seorang warga yang aktif sebagai pengrajin di Kampung Koran. Di sela-sela pekerjaan rutinnya menunggu warung nasi, Eli terhitung cukup produktif menghasilkan produk-produk kerajinan koran.

Koran ternyata tidak hanya menjadi sumber informasi untuk dibaca dan dikliping. Namun, dari kertas koran bekas, yang notabene sering diabaikan orang, ternyata dapat dimanfaatkan menjadi berbagai barang kerajinan yang bermanfaat serta menguntungkan dari sisi ekonomi.

Itulah yang dilakukan oleh warga di Kampung Koran binaan Kompas Gramedia. Ada tiga wilayah sekitar kompleks perkantoran pusat Kompas Gramedia yang menjadi bagian dari Kampung Koran, yaitu RW 02 Kelurahan Gelora, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, serta RW 06 dan RW 14 Kelurahan Grogol Utara, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Enam Cara Kreatif Manfaatkan Koran Bekas | goody bag jakarta



Ada baiknya permukaan meja dapur dilapisi kertas koran agar lebih mudah dibersihkan. Kertas koran juga dapat digunakan untuk membersihkan tumpahan bahan makanan yang cukup sulit dibersihkan, seperti telur atau adonan kue yang tumpah.

Stop kebiasaan menyalakan api pada tempat pembakaran atau perapian menggunakan bahan bakar yang bisa membahayakan keselamatan Anda dan sekitar. Menyalakan api untuk pembakaran akan lebih aman menggunakan kertas koran. 

Untuk hewan peliharaan seperti anjing atau kucing, Anda bisa melatih mereka agar tidak membuang kotoran di sembarang tempat. Salah satu caranya adalah membiasakan mereka buang kotoran di kertas koran yang sudah disiapkan. Menempatkan kertas koran di dasar sangkar burung juga membuat pembersihan kotoran lebih mudah.

Ingin kaca jendela bersih berkilau? Tak perlu buang-buang uang untuk beli sabun pembersih terbaru. Yang Anda butuhkan hanya beberapa lembar kertas koran dan cuka. Hancurkan kertas koran dan tuang cuka di atasnya. Kemudian bersihkan jendela seperti yang Anda biasa lakukan. Hasilnya dijamin tak akan mengecewakan.

Kertas koran dapat dimanfaatkan juga sebagai alat berkebun dalam berbagai cara. Untuk tanaman pot dalam ruangan, taruh kertas koran yang sudah disobek-sobek di dasar pot. Hal ini untuk mencegah pengeringan air yang berlebihan dan menjaga agar tanaman tetap segar. Untuk tanaman di luar ruangan, gunakan kertas koran yang sudah disobek-sobek pada lahan tanah untuk mencegah gulma, baru kemudian bunganya ditanam. Kertas koran nantinya akan terurai sendiri secara alami.

Jika Anda memiliki anak, ajaklah si kecil untuk berkreasi menggunakan koran bekas. Surat kabar edisi lama atau koran bekas bisa Anda manfaatkan untuk membuat berbagai kerajinan tangan, dari yang sederhana seperti topi kertas sampai yang agak rumit seperti paper mache. Anda sendiri juga bisa berkreasi dengan kertas koran, misalnya membuat tas kado.

Bingung tumpukan koran bekas mau diapakan? Jangan buru-buru menjualnya. Sebab, kertas koran bekas bisa Anda manfaatkan untuk berbagai macam hal.

Dilansir situs Allwomenstalk, berikut ini berbagai macam hal yang bisa Anda lakukan dengan memanfaatkan kertas koran bekas.







Senin, 20 November 2017

Galeri Kerajinan Botani Square Makin Banyak

Hasil kerajinan para pelaku industri kecil  | harga goody bag

harga goody bag


“Model lain diterima, cuma berbeda harga sedikit dari model yang ada,” jelasnya.

Kalaupun ada pemesanan, tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Sebaiknya jauhjauh hari, sekitar satu bulan sebelum pemakaian. Apalagi peme sanan dalam porsi besar. Hanya, harga yang ditawarkan jauh lebih mahal.

Sedangkan aksesori lain, seperti topi bayi hingga dewasa mulai Rp100 ribu-Rp300 ribu. Perlengkapan rumah seperti sarung bantal kursi mulai Rp60 ribu–Rp100 ribu. Bermacam model dan ukuran taplak mulai dari Rp80 ribu hingga Rp800 ribu.

Tidak hanya itu, konsumen juga bisa memesan barang hingga ukuran. Bahkan, di luar dari varian koleksi GIE Shop juga diterima.

Harga yang dijual pun sangat bervariasi, mulai dari Rp60 ribu hingga Rp900 ribu. ”Banyak macam termasuk harganya,” tambah pria yang akrab disapa Saepudin itu.

Misalnya, untuk rompi atau sweater dan sejenisnya dibanderol seharga Rp200 ribu hingga Rp800 ribu. Tas wanita dibanderol Rp500 ribu-Rp900 ribu. Sepatu bayi Rp60 ribu-Rp100 ribu, sepatu dewasa Rp300 ribu-Rp400 ribu.

Dari banyaknya koleksi, GIE Shop yang menjual keperluan anak hingga orang dewasa ini mendapat respons dari pengunjung. GIE Shop merupakan karya Egie, yang beralamat di Jalan Tanah Baru, Bogor.

”Tidak cuma pakaian dan aksesori, ada juga perleng kapan rumah tangga. Bahan utamanya dari benang katun kualitas terbaik,” jelas penge lola galeri, Saepudin Zuhri seperti dilansir Radar Bogor, Minggu (12/7/2015).

Koleksi Galeri Kerajinan Botani Square bertam bah banyak. Galeri yang menampung hasil kerajinan para pelaku industri kecil dan menengah ini pun semakin diminati.

"Kerajinan Solder" Diburu Wisatawan Candi Borobudur | harga goody bag



Harga yang ditawarkan pada setiap kerajinan pun relatif terjangkau, mulai dari Rp12 ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung ukuran dan tingkat kerumitannya. Hasil karya Dani banyak diburu para wisatawan di kasawan Candi Borobudur, Magelang, untuk sekadar buah tangan maupun cindera mata bagi para kolega.

Proses terahir yakni memunculkan bulu-bulu dan kulit sesuai hewan aslinya. Caranya, ujung solder yang panas digunakan sebagai mata pena untuk membuat guratan-guratan. Dengan ketelitian yang dipadukan unsur seni, panas solder yang membentuk tekstur dan warna yang natural pada kayu. Akhirnya, kerajinan pun siap dipasarkan.

Tidak terlalu sulit untuk membuat kerajinan yang kini banyak digemari wisatawan tersebut. Pertama, kayu sengon dipilih kemudian dipotong dan dibentuk menyerupai hewan yang dikehendaki. Proses selanjutnya potongan kayu yang sudah terpola dijemur hingga kering.

Menurut Dani, usaha membuat mainan bermotif hewan kayu solder dilakukan sejak 2005. Keahliannya diperoleh secara tidak sengaja, yakni saat melihat goresan solder panas mengenai sebuah papan kayu. Warna coklat kehitaman bekas goresan solder, menarik perhatiannya.

“Saat itu melihat goresan solder di papan, ternyata warnanya bagus. Makanya timbul ide untuk membuat miniatur hewan dengan warna-warna alami tersebut,” kata Dani di kediamannya.

Solder listrik ternyata tak hanya berfungsi untuk mematri rangkaian elektronik saja. Di tangan seorang perajin di Magelang, Jawa Tengah, solder menjadi alat utama untuk membuat kerajinan miniatur hewan. Alhasil, terciptalah kerajinan yang indah dan bernilai seni tinggi.

Kreatif. Mungkin itulah ungkapan kita saat melihat dan mengamati hasil kerajinan miniatur berbagai hewan dengan teknik solder, hasil karya Dani warga Desa Tegal Arum, Kecamatan Borobudur, Magelang. Melalui tangan dinginnya, kerajinan yang belum banyak dilirik orang itu tercipta.

Hasil Kerajinan Bambu Paling Diminati Wisatawan di Bali | harga goody bag



Ekspor hasil kerajinan dari bambu itu, katanya, paling banyak tujuan Singapura, yakni 23,69 persen, menyusul Hong Kong 18,74 persen, Australia 12,64 persen, dan Jerman 3,34 persen.

Selain itu, Amerika Serikat 14,14 persen, Inggris 1,07 persen, Prancis 1,02 persen, Jerman 3,34 persen dan sisanya 24,08 persen ke sejumlah negara lainnya, ujar Ketut Teneng.

Ketut Teneng mengatakan bahwa hasil kerajinan bambu yang dikombinasikan dengan rotan dibuat dalam berbagai jenis rancang bangun, antara lain berupa tempat koran, bakul, topi berbentuk kerucut, dompet, dan aneka jenis cendera mata yang unik dan menarik lainnya.

Matadagangan tersebut, katanya, selain menembus pasaran ekspor juga dipajang para pedagang di sejumlah objek wisata yang banyak dibeli wisatawan dalam dan luar negeri saat berliburan ke Pulau Dewata.

Kondisi itu, katanya, menunjukkan aneka jenis cendera mata hasil sentuhan tangan-tangan terampil perajin Bali dari bahan baku bambu tersebut, semakin murah untuk per satuan unit di pasaran luar negeri.

Ketut Teneng menjelaskan bahwa hasil kerajinan berbahan baku bambu merupakan satu di antara 17 jenis hasil industri kecil dan kerajinan rumah tangga yang berhasil dipasarkan ke mancanegara. Kerajinan bambu hanya mampu memberikan kontribusi sebesar 1,86 persen dari total ekspor Bali sebesar 398,75 juta dolar AS.

Bali berhasil meraup devisa sebesar 7,42 juta dolar AS dari ekspor hasil industri kecil skala rumah tangga berbahan baku bambu selama 10 bulan, periode Januari-Oktober 2013.

"Perolehan devisa tersebut merosot 35,26 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 11,47 juta dolar AS," kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat Pemerintah Provinsi Bali I Ketut Teneng di Denpasar, Selasa.

Namun, katanya, dari segi volume pengiriman mata dagangan yang bernilai ekonomis itu, meningkat 30,24 persen dari 4,74 juta unit periode Januari-Oktober 2012 menjadi 6,17 juta unit periode yang sama tahun 2013.





Siswi Sekolah Ini Sulap Sampah Jadi Kerajinan Cantik

Menyulap pelepah pisang menjadi lukisan | goody bag eksklusif


goody bag eksklusif


Usai mendapatkan pelepah pisang yang dicari, mereka bergegas menuju ruang Eco Gallery yakni sebuah bangunan khusus untuk pengerjaan kerajinan siswa. Tanpa menunggu lama, mereka segera mengambil peralatan yang diperlukan sesuai tugas masing-masing. Sebagian siswa menggambar pola, dan lainnya mengerok kulit pelepah pisang bagian dalam agar mudah dilem saat ditempel pada kanvas.

"Ya kami tak hanya mencari pelepah pisang, tapi juga membersihkannya agar kebun ini tidak terlalu rimbun dan kotor. Makanya kami selalu koordinasi, mana saja yang bisa dipakai atau dibuang. Pengerjaan lukisan pelepah pisang ini nanti kami kerjakan bersama, jadi biar saling tahu teksturnya seperti apa saja," paparnya sambil menggunting pelepah pisang.

Gadis berambut sebahu itu menyampaikan, pemilihan corak warna pelepah pisang menjadi kunci keindahan lukisan, karena akan menentukan hasil karya seni yang bakal mereka ciptakan. Selain memilih pelepah pisang, mereka pun membersihkan daun-daun kering dan menumpuknya agar mudah dibakar.

"Kami mencari pelepah pisang yang kering dari pohon. Makanya harus berani menyibak dedaunan dan menerobos batang-batang pohon pisang. Pelepah itu juga harus memiliki tekstur halus dengan corak warna tertentu, agar nanti ketika dibuat lukisan bisa bagus hasilnya," kata Amelia Kristianingrum, siswa kelas X SMKN 2 Semarang, kepada Okezone, beberapa waktu lalu.

Hampir tiap pekan, belasan siswi menyambangi kebun pisang di belakang sekolah. Mereka tak sekadar membersihkan sampah, melainkan juga memilah-milah limbah pelepah pisang. Pelajar-pelajar putri itu tak canggung menerobos rimbunnya dedaunan pohon pisang.

Sejumlah pelajar putri di SMKN 2 Semarang, Jawa Tengah, tidak berpangku tangan melihat sampah berserakan di sekitar mereka. Sebaliknya, rasa kepedulian menjaga kebersihan lingkungan menggerakkan mereka menyulap pelepah pisang menjadi lukisan yang bernilai seni tinggi. Selain memiliki nilai ekonomis, lukisan pelepah pisang itu juga menjadi solusi untuk menjaga lingkungan dari tumpukan sampah.


Kerajinan Daun Kering Rambah Pasar Internasional | goody bag eksklusif



Pasar internasional mampu membawa kerajinan milik warga Ngagel Mulyo semakin berkembang dan selalu dilirik pembeli. Dalam satu tahun ini dia telah di kontrak tiga negara yakni Ameria, Inggri dan Dumai untuk mengirim produk kerajinannya seperti kantong kopo dan tempat abu jenazah.

"Dalam setahan kita harus kirim 2 kontainer ke tiga negara. Itu harusnya 6 kontainer namun tenaga yang terbatas akhirnya kita tidak bisa memenuhi permintaan pihak luar," pungkasnya.

Proses pembuatan kerajinan ini lumayan lama, pasalnya daun kering yang berhasil dikumpulkan ini direndam dengan pewarna dan air panas. Baru setelah itu disetrika supaya daun lebih kaku dan kering. Setelah kering kemudian diolah menjadi beberapa kerajinan seperti kipas, kotak tissu, tas dan vas bunga.

"Proses pembuatan dalam satu hari kita ada 10 macam kerajinan. Namun kerajinan ini kita hanya menerima pesenan kalau dulu kita bisa bikin eceran namun setelah kerjasama dengan negara luar kita jadi mengerjakan pesanan dulu," imbuhnya.

Dengan harga mulai dari Rp8 ribu hingga Rp5 juta, ia tidak pernah merubah racikan proses pembuatan kerajinannya. Setiap hari ia harus mengolah daun kering ini menjadi lebih dari 10 kerajinan.

"Yang paling sulit dari pembuatan kerajinan daun kering ini butuh ketelatenan yang ekstra sabar. Karena kalau tidak begitu tidak akan selesai. Jadi jika ada pekerja baru saya harus benar-benar mengajari sampai dia bisa." ungkap Nani kepada beritajatim.com, Minggu (20/11/2016).

Seperti kreasi kerajinan daur ulang dari bahan daun milik Nani Heri. Berbekal dari daun kering ia mampu menembus pasar internasional. Kerajinan yang ia buat memang berbeda dengan milik kerajinan yang lain, pasalnya bahan dasar yang digunakan adalah daun kering.

Merambah dunia bisnis kerajinan handmade daur ulang sejak 20 tahun yang lalu, membuat ibu tiga putra ini harus pandai-pandai mempertahan kualifitas produknya di persaingan yang cukup besar saat.

 Kreasi handmade (kerajinan tangan) menjadi trend di kalangan masyarakat Surabaya. Bahkan kerajinan yang kerap kali menggunakan bahan daur ulang ini kini sering sekali diburu masyarakat lokal maupun luar untuk dijadikan oleh-oleh.


Pengusaha Kerajinan Tangan di Bali Didorong Akses Dana Murah | goody bag eksklusif



Adapun jenis produk yang diekspor dari Bali berbahan kayu meliputi kerajinan kayu, furniture, komponen atau rumah jadi. Realisasi ekspor kerajinan kayu mengalami peningkatan rata-rata 5,42% per tahun. Namun, nilai ekspor untuk furniture mengalami penurunan rata-rata 3,43% per tahun.

Produk-produk IKM Bali tersebar ke 104 negara, dengan Amerika Serikat merupakan pasar terbesar. Sementara itu, dari total nilai ekspor Bali pada akhir tahun lalu tercatat senilai US$481,4 juta. Tercatat jumlah eksportir Bali saat ini mencapai 352 eksportir dan 67 di antaranya memiliki sertifikat legalitas kayu (SLK).

Berdasarkan data Dinas Perdagangan dan Perindustrian Bali, potensi industri kecil dan menengah (IKM) Bali sangat besar.

Pada 2015, jumlah IKM sebanyak 12.061 unit usaha atau mengalami pertumbuhan mencapai 8,32% dibandingkan akhir 2011 sebanyak 9.061 unit usaha. Adapun jumlah tenaga kerja yang sudah diserap oleh sektor ini sebanyak 93.180 orang.

Langkah itu dilakukan guna mengantisipasi presiden AS terpilih Donald Trump merealisasikan kebijakan proteksionisme yang berpotensi menghambat ekspor dari Bali.

Dia mengungkapkan akan mendorong anggota semakin banyak mengikuti pameran-pameran di luar negeri dengan menggandeng kementerian terkait. Selain itu, desain dan kemasan produk akan diarahkan membidik pasar negara-negara Eropa seperti Jerman, dan Prancis.

Dharma mengungkapkan pemanfaatan dana murah diyakini dapat membantu mengatasi persoalan permodalan yang sering dialami oleh anggota Asephi. Selain itu, dapat menjadi salah satu cara melakukan ekspansi di tengah perkembangan dunia global yang belum stabil pada saat ini.

Selain mendorong mengakses pendanaan murah, Asephi Bali juga berancang-ancang akan lebih banyak membidik pasar Eropa dibandingkan dengan Amerika Serikat.

“Jumlah anggota 170 eksportir anggota kami, yang mengakses dana ini baru tiga perusahaan karena tidak banyak yang tahu. Makanya, nanti akan sosialisasi agar semakin banyak tahu dan siapa yang pengen akses kami fasilitasi,” tuturnya usai Musda Asephi, Selasa (22/11/2016).

Menurutnya, salah satu keuntungan mengakses dana program Kemenkop dan UKM tersebut adalah suku bungannya yang lebih rendah dibandingkan lembaga keuangan lain. Bahkan ada informasi, suku bungannya akan kembali diturunkan pada tahun depan tetapi masih menunggu persetujuan dari DPR RI.

Eksportir dan produsen handicraft Indonesia di Bali akan didorong semakin banyak mengakses dana murah melalui lembaga pembiayaan dana bergulir atau LPDB Kementerian Koperasi dan UKM, karena dapat membantu ekspansi usaha.

Ketua DPD Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraf Indonesia (Asephi) Bali Ketut Dharma Siadja mengakui selama ini anggotanya yang memanfaatkan pendanaan murah tersebut masih sangat kecil jumlahnya karena masalah belum mengetahui.





Minggu, 19 November 2017

Olah Limbah Gelas Plastik Menjadi Tas Cantik

Belajar mengolah sampah menjadi kerajinan bernilai | goody bag company

goody bag company


”Ada banyak kelompok. Lumayan, hitung-hitung mencari tambahan penghasilan,” ujarnya malu-malu. Pengakuan yang sama juga diungkapkan Anik. Perempuan berumur 42 tahun ini mengatakan, sudah enam bulan ini ia menggeluti kerajinan membuat tas cantik berbahan limbah plastik. ”Kalau membuatnya utun(konsisten) bisa dapat banyak. Ya memang lumayan untuk menambah penghasilan,” ujar Anik. 

”Ada yang khusus menggunting bahan dan merangkai. Proses yang agak lama saat menggunting bahan menjadi gelang plastik,” aku Anis. Perempuan berumur 24 tahun ini juga menyebut, keuntungan yang didapat dari kerajinan ini cukup lumayan. Hanya memang, produksi tak bisa cepat lantaran masih dalam tahap belajar. 

”Untuk pemasaran, memang butuh bantuan dari pemerintah daerah. Harapan kami, Pemkot Mojokerto juga peduli dengan pemasarannya,” ucapnya. Anis, salah satu penghuni wisma di Balongcangkring, mengaku, setelah mendapatkan pelatihan, dia membentuk kelompok untuk memproduksi tas cantik itu. Beranggotakan tujuh orang, dalam sehari mereka bisa menghasilkan 2–3 buah tas. 

Bahan baku itu dibeli dari para pemulung yang masih satu lingkungan di bawah Yayasan Mojopahit. ”Saling menguntungkan. Satu sisi menyuplai bahan baku, yang lainnya membeli,” tukasnya. Dia mengatakan, membuat kerajinan dari bahan limbah kini menjadi tren. Karena itu, dia sengaja memberikan pelatihan ini kepada penghuni wisma di Balongcangkring agar bisa memanfaatkan peluang. 

Setelah dipilah sesuai warna, gelang plastik itu lantas dirangkai dengan benang plastik aneka warna. ”Lalu diberi kain dan aksesori lain sehingga menjadi tas yang pantas untuk dipakai. Tidak tampak seperti berbahan limbah,” ujarnya. Sejauh ini warga Balongcangkring tak pernah mendapati kesulitan mendapatkan bahan baku. Maklum, kata dia, penghuni lokasi ini banyak yang berprofesi sebagai pemulung. 

Ini bisa dijual dengan harga Rp75.000–Rp100.000. Saat ini ada banyak permintaan hingga mereka kewalahan memenuhinya,” ujarnya. Mantan anggota DPRD Kota Mojokerto ini lantas menjelaskan proses pembuatan tas cantik dari limbah gelas plastik minuman ringan itu. Gelas plastik hanya diambil bagian atas yang berbentuk bulatseperti gelang. 

”Ini salah satu pelatihan yang dilakukan untuk para PSK,” ungkap Drajat Stariadji, salah satu pengurus Yayasan Mojopahit. Kerajinan ini dianggap bisa memberikan nilai tambah terhadap penghuni pondok sosial itu. Menurutnya, sejak pelatihan pertama membuat tas cantik itu, ada banyak order dari salah satu pengusaha di Lamongan. ”Untuk satu tas menghabiskan biaya sekitar Rp40.000. 

Siang itu mereka belajar mengolah sampah menjadi kerajinan bernilai. Para PSK tampak antusias belajar membuat tas cantik yang terbuat dari bekas gelas plastik berbagai merek minuman. Beberapa dari mereka sudah enam bulan ini menggeluti usaha kerajinan itu. Bahkan, mereka yang sudah mahir membuat tidak segan memberikan arahan kepada mereka yang baru menerjuni kerajinan ini. 

Salah satu sudut ruangan di lingkungan Yayasan Mojopahit, Kelurahan Mentikan, Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto, siang kemarin tampak ramai. Persis di depan masjid, lokasi yang kerap disebut Balongcangkring itu, berkerumun para tunasusila (PSK) dan aneka tuna lainnya, seperti tunawisma dan tunakarya. 


Peminat Produk Daur Ulang Masih Minim | goody bag company




“Kami berharap dengan adanya pameran produk kerajinan dari daur ulang sampah ini, masyarakat bisa lebih peduli lagi menjaga lingkungan. Sebab, untuk menjaga lingkungan itu berawal dari diri sendiri. Lingkungan juga menjadi cerminan kecantikan wanita. Wanita yang cantik tidak hanya merawat dirinya, tapi juga merawat lingkungan sekitarnya,” ucapnya.  

Advertising & Promotion Supervisor, Plaza Medan Fair, Tri Wahyudi, mengatakan, pameran kerajinan daur ulang sampah ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam rangka merayakan Hari Kartini dan Hari Bumi yang jatuh setiap April. Pameran ini sebagai bentuk kepedulian terhadap perempuan dan lingkungan. 

“Tantangan membuat produk daur ulang sampah ini soal pemilahan sampah rumah tangga. Mestinya ini jadi bagian peran pemerintah untuk menyosialisasikannya. Sebab, ada sampah yang bisa didaur ulang, dan ada juga sampah yang tidak bisa diolah. Misalnya pembalut wanita, puntung rokok, popok bayi yang tidak higienis. Begitu pun baterai, bola lampu karena ada mercuri dan air raksa,” katanya. 

“Masyarakat harus tahu kalau produk yang kami hasilkan berasal dari sampah yang sudah melalui proses pembersihan. Jika masyarakat ikut serta membeli produk ini, berarti mereka ikut mempromosikan usaha pengurangan sampah yang kembali ke alam. Kami juga akan terus meningkatkan kualitas, dan jenis produk yang dihasilkan agar lebih bisa diterima masyarakat,” ujarnya. Selain itu, pemerintah juga diharapkan dapat menyosialisasikan mengenai pemilahan sampah di rumah tangga masyarakat, sehingga sampah yang sudah dipilah dapat diproses menjadi produk cantik. 

Dia mengaku sejauh ini peminat produk dari daur ulang sampah masih minim, karena masyarakat menganggap produk dari sampah tidak terjaga kebersihannya. Selain itu, masyarakat masih menganggap enteng dengan produk yang dihasilkan dari sampah, karena sampah bahan baku yang tidak dibeli. Padahal, produk daur ulang yang dihasilkan perajin bank sampah dijamin kebersihannya. 

“Selama ini masyarakat tidak mengetahui kalau sampah sebenarnya bisa menjadi produk yang cantik dan punya nilai jual. Makanya, selain pameran, kami juga membuat pelatihan bagi siapa saja yang mau selama pameran. Supaya masyarakat mengerti bahwa sampah punya nilai ekonomis yang bisa menambah pendapatan di keluarganya,” katanya. 

Armawati menjelaskan, produk kerajinan dari daur ulang sampah yang dipamerkan merupakan hasil kerajinan 15 bank sampah dari 60 bank sampah yang ada di bawah naungan Paguyuban Bank Sampah Kota Medan. Melalui pameran ini dia berharap masyarakat bisa mengenal bahwa sampah yang dihasilkan dari rumah sendiri, juga bisa menjadi produk yang cantik dan punya nilai jual. 

“Semakin sulit dan lama membuatnya, maka harganya semakin tinggi. Misalnya tas yang terbuat dari kertas yang sudah dibuburi. Untuk membuat tas itu kertasnya dibuburi terlebih dahulu. Proses menjadi bubur sebelumnya direndam, diblender, lalu dikeringkan. Membuatnya butuh waktu dua pekan, makanya harganya mencapai ratusan ribu rupiah,” ujar Ketua Paguyuban Bank Sampah Kota Medan, Armawati Chaniago, di lokasi pameran, kemarin. 

Produk yang dibanderol mulai dari Rp5.000 hingga ratusan ribu rupiah itu terbuat dari sampah yang sudah melalui proses pembersihan, seperti kain perca, karung, kertas, plastik, botol, dan lainnya. 

Bagi masyarakat yang ingin mengetahui bagaimana cara membuat kerajinan daur ulang sampah juga bisa mengikuti pelatihan di lokasi pameran. Berbagai produk kerajinan tangan dari daur ulang sampah yang dipamerkan antara lain tas tangan, aneka aksesori, guci, celengan, aneka bunga, gantungan kunci, dan sepatu. 

Puluhan produk kerajinan berbahan dasar daur ulang sampah yang berasal dari 15 bank sampah di Kota Medan, dipamerkan di atrium lantai satu area gedung baru Plaza Medan Fair, sejak kemarin hingga 26 April 2015. 


Mahasiswa ITS Rancang Tas Dari Sampah Plastik | goody bag company



Terkait potensi pemasarannya, ia menilai cukup bagus, karena produk awal Tim BUTIK bisa laku 40 produk berupa tas wanita, dompet STNK dan bros. "Konsumen dari produk BUTIK meliputi remaja dan orang tua, bahkan ada pesanan dari Jepang," ujarnya.

Hal itu, katanya, tidak terleoas dari berbagai cara pemasaran yang dilakukan, mulai poster, "X banner", kartu nama, katalog produk, facebook, twitter, hingga iklan online (kaskus, olx).

Selain itu, pihaknya juga melakukan pemasaran langsung, seperti di Kampus ITS Surabaya, Gedung Graha ITS Expo, Bank Sampah Karya Mandiri Jombang, Pasar Malam Minggu Jalan Pakuwon City Surabaya, dan "Car Free Day" Taman Bungkul Surabaya.

Menurut dia, keunggulan tas "Butik" adalah unik, ramah lingkungan ("green product"), jumlah barang terbatas (kerajinan), dan harganya terjangkau yakni Rp15.000 hingga Rp80.000, sedangkan produk lain bisa mencapai Rp100.000 hingga Rp500.000.

"Konsumen juga bisa menginginkan desain tertentu sesuai keinginannya atau desain khusus, lalu Tim BUTIK akan mendesain tas yang benar-benar unik dan khusus mereka," tuturnya.

"Karena itu, kami melakukan daur ulang sampah plastik menjadi bahan dasar pembuatan aneka macam aksesoris dan tas wanita yang estetik, trendy, dan memiliki nilai jual yang tinggi," ucapnya.

Berangkat dari hal itu, inovasi pembuatan aksesoris dan tas wanita pun muncul. "Bahan yang dibutuhkan antara lain plastik kresek, kain tisu, kain furing, bahan tas, resleting, dan benang jahit, lalu semuanya dibuatkan berbagai macam desain dan dijahit," paparnya.

Sampah plastik merupakan masalah yang sering dijumpai, karena Indonesia tercatat sebagai pemakai 100 miliar plastik per tahun," kata anggota Tim ITS M Ainun Taimiyah Indra kepada Antara di Surabaya, Jumat (15/8).

Selain Ainun dari Jurusan Teknik Material dan Metalurgi pada Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITS, Tim "Butik" juga melibatkan tiga mahasiswa lainnya dari jurusan yang berbeda.

Ketiganya adalah Elok Dian Karisma Pagri Anisa dari Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITS; Roni Vayayang dari Teknik Elektro FTI ITS; dan Arifa Tantri Wijayanti dari Desain Interior FTSP ITS.

Didampingi ketiga rekannya, Ainun menjelaskan salah satu usaha yang bisa dilakukan untuk mengurangi jumlah plastik adalah melakukan daur ulang menjadi sesuatu yang berharga dan menghasilkan uang.

Tim mahasiswa ITS Surabaya merancang tas dari olahan (daur ulang) sampah kantong plastik yang dinamakan "Butik" atau singkatan dari "buntelan" (bungkusan) plastik.




Kamis, 16 November 2017

Tak Ada Rotan, Koran Pun Jadi

Indonesia terkenal dengan aneka kerajinan rotan | goody bag company


goody bag company



"Saya beri pelatihan lewat PKK dan Dharma Wanita. Kemarin ada permintaan dari Kedutaan Malaysia di Indonesia minggu ini untuk melatih ibu-ibu kedutaan," imbuhnya.

Pada masa liburan anak sekolah nanti, Ranny akan berangkat ke Malaysia untuk mengajar anak-anak sekolah bikin kerajinan dari koran. Ia juga membina anak-anak yang bermasalah dengan hukum di Bambu Apus, tujuannya pasca mereka keluar dari panti rehabilitasi sudah punya keahlian.

"Senangnya selain bisa usaha dan dapat penghasilan juga bisa memotivasi perempuan supaya punya keterampilan. Syukur ada yang bisa menghasilkan secara ekonomi," tuturnya.

"Lama-lama pembeli ada yang minta diajarin, akhirnya saya jadi mengajar dan melath juga. Ada satu kelompok di Cakung yang berhasil saya latih dan kini bisa memasarkan produknya sendiri," ujar Ranny yang sudah membina sekitar 30 kelompok.

Peserta pelatihan itu rata-rata ibu rumah tangga. Ranny melatihnya sesuai kemampuan, mulai dari bagian memotong, gulung jadi tali, dan plitur.

"Tempat payung ini misalnya, dicetak dari ember-ember bekas kemasan makanan cepat saji," kata ibu paruh baya ini.

Harga jual produknya mulai dari Rp 10.000-500.000. Sementara harga untuk souvenir kawinan mulai Rp 10.000. Dalam sebulan ia bisa produksi hingga 500 souvenir kawinan.

Pembeli kerajinan Ranny pun beragam, mulai dari pemilik usaha spa, restoran, sampai pembeli untuk keperluan souvenir kawinan.

Pertama-tama koran dipotong-potong lalu direndam selama 12 menit. Lalu ditiriskan dan dijemur selama 30 menit. Setelah dirangkai harus dijemur selama 12 jam.

"Bikin kerajinan seperti ini kuncinya yang penting modal kemauan dan kesabaran," jelasnya.

Jenis kerajinan koran ada 3 yaitu dari bahan bubur, anyaman kering dan bahan yang direndam terlebih dulu. Bahannya sederhana, cukup lem kayu, pernis dan cetakan.

"Pernah ada pembeli dari Saudi Arabia, 2 kali pesan. Sekali pesan sampai 100 buah untuk souvenir para tamu produk go green yang ramah lingkungan. Lewat pameran-pameran ini bisa menjaring pelanggan. Ilmu yang saya punya juga terpakai untuk pemberdayaan masyarakat," ujarnya.

Menurut Ranny, kendala saat produksi adalah cuaca. Sebab, proses pembuatan produknya butuh panas matahari.

"Akhirnya dikenal sama dinas dan Kementerian Perindustrian serta Dekranas. Awalnya saya ibu rumah tangga. Oleh dinas dilatih entrepreneur, diberi kesempatan pameran, bazar, dan jual produk di mal. Seperti kemarin di pameran inacraft belum selesai pameran hanya dalam waktu 4 hari produk habis terjual," jelasnya.

Produk yang dibuat mulai dari tempat buah, tempat payung, tutup saji, tempat tissue, sampai karpet sesuai pesanan.

"Ada pinjaman modal dari koperasi PKK Rp 500.000. Saya beli bahan-bahan lalu produksinya untuk bayar pekerja dan mulai dikembangkan ikut lomba," ujarnya.

Ranny mengaku, pada 2012 pernah meraih juara I UKM Award dari Kementerian Koperasi dan UKM, dan juara I Sapta Pesona Alam dari Dinas Pariwisata. Ia pun pernah mengikuti berbagai pameran di luar negeri, seperti Bangkok International Gift Affair dan Bangkok International House Fair 2012.

Lambat laun, permintaan kerajinan Ranny makin banyak. Karena tak bisa bayar pekerja, ia pun mencoba bergabung menjadi anggota PKK, dan mendapat pinjaman modal dari koperasi.

Modal ini ia gunakan untuk membayar perajin yang mau bantu produksi. Sampai saat ini Ranny ditemani 3 karyawan perajin, dan 20 karyawan produksi untuk memenuhi pesanan.

 Indonesia terkenal dengan aneka kerajinan rotan. Tak sedikit karya rotan Indonesia yang laris manis dikirim ke luar negeri. Ibu satu ini bisa membuat kerajinan yang tak kalah unik dari rotan, tapi dengan bahan baku yang tak biasa, yaitu koran.

"Usaha sejak 2011. Awalnya iseng-iseng nggak sengaja, bikin dari koran coba buat wadah-wadah untuk keperluan sendiri, jadi belajar sendiri. Lama-lama tamu ada yang suka. Bagus ya ini belum ada di pasaran. Terus dari situ ada pesenan dari beberapa teman dan saudara jadi semangat," kata Ranny, pemilik Ranny Kreasi kepada detikFinance beberapa waktu lalu.

Usaha dengan memanfaatkan bambu yang belum banyak diketahui | goody bag company


Kerajinan dari bambu sendiri saat ini memiliki banyak sekali peminat karena unik dan berbeda dengan kerajinan lainnya, selain itu bahan baku bambu juga murah dan mudah untuk didapatkan maka jika anda memiliki kemampuan untuk mengolah bambu ini akan menjadi peluang usaha yang sangat menjanjikan keuntungan besar jika anda jeli dan melakukan promosi secara tepat.

muda yang masih kecil atau biasa dikenal dengan sebutan rebung bisa dimanfaatkan sebagai bahan sayuran, sedangkan batang bambu besar yang telah kering bisa di buat menjadi berbagai macam kerajian tangan,seperti bangku kursi bambu, lampu hias, dan aneka kerajinan tangan
lainnya.

keranjang merupakan hasil anyaman bambu yang sampai saat ini juga masih banyak diggunakan, khususnya untuk masyarakat pedesaan. keranjang ini berbeda dengan keranjang biasa karena dibuat 100% dari anyaman bambu.keranjang ini lebih kuat dari keranjang yang terbuat dari atum dan tidak bisa pecah, mungkin cuma penyok, dan itu masih bisa di balikkan lagi. 

MERAJUT HARAPAN DENGAN BAMBU | goody bag company



Dengan menjadi salah satu penerima bantuan Jalin Matra PFK ini Bu Suryani merasa bersyukur. Semoga usulan kebutuhan nanti dapat untuk menambah modal mengembangkan usaha tompo agar bisa maju dan berkembang dan juga menambah pendapatan keluarga. Harapan kedepan usahanya tidak hanya membuat tompo saja tetapi bermacam-macam anyaman dari bambu. Namun Bu Suryani belum mempunyai ketrampilan sehingga masih memerlukan bimbingan atau pelatihan ketrampilan. Semoga harapan Bu Suryani bisa terwujud. 

Dengan kondisi suami yang sakit dan tidak bisa mencari nafkah untuk keluarganya, Bu Suryani tetap semangat dan optimis menghadapi kehidupan karena saat ini selain mengurus keluarga juga sebagai tulang punggung keluarga. Dan masih ada anak-anak yang masih kecil yang masih banyak memerlukan perhatian dan biaya untuk masa depan yang masih panjang. Agar nantinya menjadi anak yang sukses dan bisa membahagiakan kedua orang tuanya.

Ketika hari pasaran kliwon setiap jam 03.00 pagi, Bu Suryani dengan berjalan kaki menembus gelap dan dinginnya udara pagi berangkat dari rumah menuju Pasar Arjosari. Kondisi jalan yang naik turun beliau lalui dengan membawa tompo antara 15-20 buah. Jarak yang ditempuh dari rumah ke Pasar Arjosari kurang lebih 10 km. Biasanya sampai jam 09.00 Bu Suryani baru bisa pulang ke rumah dengan dagangan yang habis terjual. 

Dalam sebulan tidak setiap hari pasaran kliwon bisa menjualnya, tergantung dari jumlah tompo yang sudah dibuat. Untuk harga satu tompo per buahnya hanya  berkisar Rp.5.000,00 sampai Rp.7.000,00 tetapi ketika musim hujan harganya menurun sampai Rp. 2.000,00 – Rp.3.000,00.

Bu Suryani saat ini selain mengurus lahan pertanian (buruh tani) dan merawat ternak, juga membuat anyaman dari bambu yang disebut dengan “tompo”. Untuk usaha anyaman bambu ini sudah dirintis sejak tahun 2006. Dengan modal bambu apus dan peralatan yang masih sederhana, usaha ini masih berjalan sampai sekarang. 

Dengan dibantu suaminya di rumah mengerjakan anyaman tersebut. Waktu membuatnya juga disesuaikan dengan kesibukan Bu Suryani. Biasanya di sela-sela mengurus keluarga, pertanian dan ternak kambing. Anaknya yang kedua masih duduk di kelas I MI GUPPI Gembong Kecamatan Arjosari juga masih membutuhkan perhatian. Setiap hari Bu Suryani mengantar ke sekolah dengan jalan kaki yang jaraknya sangat jauh dan kondisi jalan yang naik turun.

Sejak suaminya sakit sekitar 3 tahun yang lalu Bu Suryani harus mencukupi kebutuhan keluarganya . Suaminya yang bernama Pak Katwadi sudah tidak bisa mencari nafkah untuk keluarga. Kedua indera penglihatannya sudah tidak bisa melihat lagi, hanya bisa membantu kegiatan di rumah. Untuk aktivitas di luar rumah sudah tidak bisa dilakukan lagi.

 Kecelakaan itu disebabkan karena Pak Katwadi membawa pupuk seberat 50 kg dengan jalan kaki di panggul dari pasar ke rumah yang jaraknya jauh dan tidak ada transportasi. Karena beban yang berat tersebut mengakibatkan saraf penglihatannya rusak. Segala upaya berobat sudah dilakukan tetapi tidak ada hasilnya dan akibatnya kedua indera penglihatannya tidak bisa melihat.

Di sebuah dusun tepatnya di Dusun Ngasem RT 05 RW 07 Desa Gembong Kecamatan Arjosari Kabupaten Pacitan, tinggal lah Bu suryani dan keluarganya. Beliau merupakan salah satu penerima bantuan Program Jalin Matra Penanggulangan Feminisasi Kemiskinan Propinsi Jawa Timur tahun 2017. Bu Suryani yang berusia 33 tahun saat ini tinggal bersama suami, orang tua dan kedua anaknya yang masih sekolah di tingkat SD.










Jatuh Bangun Menyulap Kertas Semen Jadi Tas Cantik

Membuat tas menggunakan bahan kertas semen | goody bag bahan spunbond


https://www.goodybag.id/



Dari kesalahan tersebut, Niniek pun menjemur kulit sapi selama satu hari agar dapat mengeluarkan kandungan minyak dari kulit tersebut.

"Jadi kita harus mengeringkan terlebih dahulu sebelum kulit tersebut dikombinasikan dengan menggunakan kertas semen dan akhirnya kita sudah berhasil," tutupnya.

"Begitu didiamkan malah keluar minyak dan flek di bagian dalam tas. Akhirnya saya memutuskan untuk melakukan uji lab. Hasilnya, kulit sapi sebelum dipakai harus di jemur terlebih dahulu," terangnya.

Kemudian Niniek pun mencari tahu penyebab kenapa bahan tersebut bisa mengeluarkan minyak. Bahkan, sambungnya, lantas tas tersebut didiamkan selama sehari.

"Ketika saya pakai sendiri selama kurang lebih setengah tahun. Tas tersebut mengeluarkan minyak di luar dan bagian dalam," kata Niniek saat ditemui merahputih.com di Pameran Trade Expo Indonesia, Jiexpo, Jakarta Pusat, Sabtu (15/10).

Membuat tas menggunakan bahan kertas semen tak semudah yang dibayangkan. Niniek mengaku sempat beberapa kali mengalami kegagalan dalam mengkombinasikan antara bahan kertas semen dengan kulit sapi.

Tas Kertas Semen Startic Tembus Pasar Luar Negeri | goody bag bahan spunbond



Dalam menghadapi persaingan, Niniek tetap optimistis produknya mampu bersaing di pasar. Strateginya yakni terus meningkatkan kualitas pada produk.

"Kita percaya diri kalau tas kita ciri khas kita unik, masih baru dan kita selalu update. Intinya, kita terus meningkatkan kualitas," tandasnya. 

"Kami selama ini, memperkenalkan produk melalui online yaitu www.startic.co. Selebihnya, melalui mulut ke mulut," kata Niniek saat ditemui merahputih.com di Pameran Trade Expo Indonesia, Jiexpo, Jakarta Pusat, Sabtu (15/10).

Niniek mengaku, pesanan saat ini sudah keluar negeri yakni Australia dan Belanda. Sedangkan di dalam negeri, hampir seluruh daerah di Indonesia. "Penjualan kita sudah sampai luar negeri. Kalau di dalam negeri hampir seluruh Indonesia," jelasnya.

Pemasaran produk fesyen berbahan baku kertas semen ini ternyata sudah tembus pasar luar negeri yakni Belanda dan Australia. Produk ini bermerk Startic.

Manager Startic Niniek menjelaskan, promosi yang dilakukan melalui mulut ke mulut, sedangkan untuk memperluas daerah pemasaran melalui online shop.

 
Jokowi Yakin Masa Depan Indonesia di Industri Kerajinan | goody bag bahan spunbond



Namun kreativitas tersebut menurut Presiden Joko Widodo masih harus ditambah keunggulan lainnya.

"Tapi kreativitas saja tidak cukup. Catatan saya, masih sering produk yang baik itu sulit diakses oleh pembeli, oleh 'buyer'. Bahkan masih ada pembeli yang tidak tahu bahwa produk kerajinan Indonesia, produk kreatif yang dicarinya itu, ada di Indonesia. Banyak yang belum tahu," ungkap Presiden.

Inacraft berlangsung pada 26-30 April 2017 dan mengikutsertakan 1.392 peserta dari Indonesia dan luar negeri. Pada tahun ini, Inacraft mengambil ikon Daerah Istimewa Yogyakarta dengan konsep Magnificent of Jogjakarta dan tema "From Smart Village to Global Market".

"Industri kerajinan, industri kreatif yang berkembang di Indonesia sangat bervariasi. Kita tahu semuanya mulai dari kerajinan tangan, film, ada musik, ada aplikasi digital, modelnya banyak yang sangat unik karena dikerjakan oleh tangan dan sudah berada pada standar yang sangat baik," tambah Presiden Jokowi.

Presiden Joko Widodo membuka pameran kerajinan tangan Inacraft 2017 di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (26/4). Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi, begitu biasa disapa, menyakini bahwa masa depan Indonesia ada dalam industri kerajinan tangan.

"Industri kerajinan, industri kreatif Indonesia telah tumbuh dengan sangat cepatnya, tumbuh dengan menakjubkan dan ini menggembirakan kita semua. Saya meyakini masa depan Indonesia akan ada di industri kerajinan, industri kreatif, ini yang saya yakini," kata Presiden Jokowi saat pembukaan Inacraft 2017.


goody bag bahan spunbond

Rabu, 15 November 2017

Kerajinan Tangan dari Bahan Bekas Dipamerkan Persit di Makodim Pasaman

Kerajinan Tangan dari Bahan Bekas Dipamerkan Persit di Makodim Pasaman | goody bag bagus

goody bag bagus



"Lomba Kue Tampah dan Bazzar sebagai ajang silaturahmi antara Kodim, Persit dan masyarakat Pasaman sehingga juga sebagai ajang komunikasi sosial untuk selalu harmonis dengan terlibat langsung didalam masyarakat," ujarnya.

Dijelaskan, kegiatan kali ini disambut antusias warga, banyak warga masyarakat datang dan membeli kue Tampah hingga kerajinan tangan yang terbuat dari barang bekas.

Lomba Kreasi Kue Tampah dan Bazzar bertujuan memajukan TNI di masa depan dengan ikut serta memberikan kesejahteraan kepada prajurit dan PNS di lingkungan TNI.

Dalam lomba tersebut, turut hadir Ketua Persit Nyonya Cosmas Pramundhito, Dandim 0305/Pasaman Letkol Arm Cosmas Pramundhito, Ketua TP PKK Gustinar Yusuf Lubis, Ketua GOW Mira Atos Pratama, Bendahara TP PKK Nyonya Tul Susilo, para Pasi, Danramil, Anggota Kodim dan Koramil, Para pengurus cabang dan ranting,Ibu-ibu Persit Kodim dan Koramil seluruh Pasaman.

Kegiatan ini digelar ‎dalam rangka memeriahkan peringatan HUT Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) Ke-70 Tahun 2016. Ketua Persit Cabang LIX DIM 0305/ Pasaman Nyonya Cosmas Pramundhito mengatakan, Persit Chandra Kirana ingin membantu masyarakat untuk mendapatkan hasil karya ibu-ibu Persit seperti Kue Tampah dan Bazzar yang menampilkan hasil kerajinan tangan ibu-ibu Persit.

Masyarakat Kabupaten Pasaman berdatangan ke Markas Komando Distrik (Makodim) 0305 Pasaman, Jumat (13/5)untuk membeli Kue Tampah dan sejumlah kerajinan tangan yang terbuat dari barang bekas. Kerajinan tangan yang dibuat para ibu-ibu Persatuan Istri Prajurit (Persit) itu berupa berbagai jenis tas, anyaman dari daun panjan‎ dan lainnya.

Kegiatan lomba kreasi Kue Tampah dan Bazzar antar Ranting sejajajaran Pasaman itu digelar oleh Persatuan Istri Prajurit (Persit) ‎Cabang LIX DIM 0305 Pasaman di Lapangan Bola Voli Makodim, Jum'at (13/5).

TAS UNIK TERBUAT DARI KANTONG SEMEN | goody bag bagus



Kisaran patokan harga cukup murah, dompet dipatok harga mulai dari 20.000 ribu rupiah dan berbagai macam tas dipatok mulai 35.000 hingga 85.000, sangat cocok bukan bagi kantong pelajar dan mahasiswa yang ingin tetep bergaya namun harganya ramah dikantong selain itu juga bisa melestarikan lingkungan dengan bahan baku dari tas tersebut yang terbuat dari kantong semen.

semen ini adalah kreasi dari salah satu ibu muda yang tinggalnya didaerah Tanggulangin Sidoarjo. Beliau bernama Ibu.Weni. kreasi Tas Semen  buatan beliau telah mendapat sambutan yang cukup menggembirakan dari para konsumen khususnya kalangan ibu-ibu dan remaja putri. 

Berbagai macam kerajinan tangan tersebut terbuat dari kantong semen gresik yang disulap menjadi tas serba guna yang tahan air dan enjoy untuk dibawa kemana-mana. Tas ini bermotif corak dengan teknik perwarnaan dalam istilah jawa yaitu teknik jumput. Dihiasi dengan sulam bunga dan ada juga yang dihiasi dengan lukisan.

Inilah salah satu hasil karya dari kantong semen yang menghasilkan berbagai macam barang-barang cewek seperti tas dan dompet, dengan dikemas dengan berbagai macam bentuk mulai dari tas laptop, tas untuk pergi kepesta atau kondangan, dompet kecil, dompet multifungsi yang bisa digunakan untuk phone case. 


Dompet dan Tas dari Kertas Semen Daur Ulang | goody bag bagus



Setiap hari Weni menghasilkan 10 tas dan dompet. Hasil kerajinannya dijajakan di gerai usaha kecil-menengah Jawa Timur di Juanda. Dari kerja kerasnya ini ia mendapat keuntungan sekitar Rp 1,5 juta per bulan. Ia optimistis usahanya berkembang dengan menambah pekerja dan meluaskan pasar dompet ramah lingkungan ini.

Tahap awal pengerjaannya adalah kertas semen dibersihkan, sebagian permukaan kertas diikat sesuai dengan pola. Lantas dicelup dalam bak berisi pewarna tekstil sesuai dengan kebutuhan. Selanjutnya kertas dijemur hingga kering. Kemudian, kertas disetrika, dipotong, dan dijahit sesuai dengan pola yang diinginkan. Proses akhir kertas dilapisi vernis agar terlihat mengkilat.

Ternyata, dalam uji cobanya dia menghasilkan tas dan dompet unik. Selain itu kerajinan yang dihasilkan awet dan tak mudah sobek. Berbeda dengan kertas buku, kertas semen berserat tebal dan kuat. Kini, produk kerajinannya laris.

Apalagi Tanggulangin juga dikenal sebagai sentra kerajinan tas dan sepatu kulit. Weni pun berkreasi dan melakukan uji coba membuat tas dan dompet dengan bahan dasar kertas semen. "Pemerintah selama ini mengkampanyekan bebas sampah, jadi klop," katanya.

"Dibuat menjadi dompet dan tas," kata Weni, Rabu, 28 Desember 2011. Kerajinan ini dimulai saat pasangan suami-istri ini merenovasi rumah. Saat itu banyak kertas pembungkus semen menumpuk tak terpakai. Lantas, Weni memutar otak agar kertas ini bermanfaat.

Kertas pembungkus semen selama ini dipandang remeh. Sebagian orang membuangnya ke tempat sampah atau membakarnya. Kertas semen dianggap sebagai limbah dan mengotori lingkungan. Berbeda dengan pasangan Weni Indrasri dan Sutiono, warga Perumahan Tanggulangin Asri Sejahtera. Mereka menyulap kertas semen menjadi kerajinan menarik.