Tampilkan postingan dengan label goody bag company. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label goody bag company. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 November 2017

Olah Limbah Gelas Plastik Menjadi Tas Cantik

Belajar mengolah sampah menjadi kerajinan bernilai | goody bag company

goody bag company


”Ada banyak kelompok. Lumayan, hitung-hitung mencari tambahan penghasilan,” ujarnya malu-malu. Pengakuan yang sama juga diungkapkan Anik. Perempuan berumur 42 tahun ini mengatakan, sudah enam bulan ini ia menggeluti kerajinan membuat tas cantik berbahan limbah plastik. ”Kalau membuatnya utun(konsisten) bisa dapat banyak. Ya memang lumayan untuk menambah penghasilan,” ujar Anik. 

”Ada yang khusus menggunting bahan dan merangkai. Proses yang agak lama saat menggunting bahan menjadi gelang plastik,” aku Anis. Perempuan berumur 24 tahun ini juga menyebut, keuntungan yang didapat dari kerajinan ini cukup lumayan. Hanya memang, produksi tak bisa cepat lantaran masih dalam tahap belajar. 

”Untuk pemasaran, memang butuh bantuan dari pemerintah daerah. Harapan kami, Pemkot Mojokerto juga peduli dengan pemasarannya,” ucapnya. Anis, salah satu penghuni wisma di Balongcangkring, mengaku, setelah mendapatkan pelatihan, dia membentuk kelompok untuk memproduksi tas cantik itu. Beranggotakan tujuh orang, dalam sehari mereka bisa menghasilkan 2–3 buah tas. 

Bahan baku itu dibeli dari para pemulung yang masih satu lingkungan di bawah Yayasan Mojopahit. ”Saling menguntungkan. Satu sisi menyuplai bahan baku, yang lainnya membeli,” tukasnya. Dia mengatakan, membuat kerajinan dari bahan limbah kini menjadi tren. Karena itu, dia sengaja memberikan pelatihan ini kepada penghuni wisma di Balongcangkring agar bisa memanfaatkan peluang. 

Setelah dipilah sesuai warna, gelang plastik itu lantas dirangkai dengan benang plastik aneka warna. ”Lalu diberi kain dan aksesori lain sehingga menjadi tas yang pantas untuk dipakai. Tidak tampak seperti berbahan limbah,” ujarnya. Sejauh ini warga Balongcangkring tak pernah mendapati kesulitan mendapatkan bahan baku. Maklum, kata dia, penghuni lokasi ini banyak yang berprofesi sebagai pemulung. 

Ini bisa dijual dengan harga Rp75.000–Rp100.000. Saat ini ada banyak permintaan hingga mereka kewalahan memenuhinya,” ujarnya. Mantan anggota DPRD Kota Mojokerto ini lantas menjelaskan proses pembuatan tas cantik dari limbah gelas plastik minuman ringan itu. Gelas plastik hanya diambil bagian atas yang berbentuk bulatseperti gelang. 

”Ini salah satu pelatihan yang dilakukan untuk para PSK,” ungkap Drajat Stariadji, salah satu pengurus Yayasan Mojopahit. Kerajinan ini dianggap bisa memberikan nilai tambah terhadap penghuni pondok sosial itu. Menurutnya, sejak pelatihan pertama membuat tas cantik itu, ada banyak order dari salah satu pengusaha di Lamongan. ”Untuk satu tas menghabiskan biaya sekitar Rp40.000. 

Siang itu mereka belajar mengolah sampah menjadi kerajinan bernilai. Para PSK tampak antusias belajar membuat tas cantik yang terbuat dari bekas gelas plastik berbagai merek minuman. Beberapa dari mereka sudah enam bulan ini menggeluti usaha kerajinan itu. Bahkan, mereka yang sudah mahir membuat tidak segan memberikan arahan kepada mereka yang baru menerjuni kerajinan ini. 

Salah satu sudut ruangan di lingkungan Yayasan Mojopahit, Kelurahan Mentikan, Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto, siang kemarin tampak ramai. Persis di depan masjid, lokasi yang kerap disebut Balongcangkring itu, berkerumun para tunasusila (PSK) dan aneka tuna lainnya, seperti tunawisma dan tunakarya. 


Peminat Produk Daur Ulang Masih Minim | goody bag company




“Kami berharap dengan adanya pameran produk kerajinan dari daur ulang sampah ini, masyarakat bisa lebih peduli lagi menjaga lingkungan. Sebab, untuk menjaga lingkungan itu berawal dari diri sendiri. Lingkungan juga menjadi cerminan kecantikan wanita. Wanita yang cantik tidak hanya merawat dirinya, tapi juga merawat lingkungan sekitarnya,” ucapnya.  

Advertising & Promotion Supervisor, Plaza Medan Fair, Tri Wahyudi, mengatakan, pameran kerajinan daur ulang sampah ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam rangka merayakan Hari Kartini dan Hari Bumi yang jatuh setiap April. Pameran ini sebagai bentuk kepedulian terhadap perempuan dan lingkungan. 

“Tantangan membuat produk daur ulang sampah ini soal pemilahan sampah rumah tangga. Mestinya ini jadi bagian peran pemerintah untuk menyosialisasikannya. Sebab, ada sampah yang bisa didaur ulang, dan ada juga sampah yang tidak bisa diolah. Misalnya pembalut wanita, puntung rokok, popok bayi yang tidak higienis. Begitu pun baterai, bola lampu karena ada mercuri dan air raksa,” katanya. 

“Masyarakat harus tahu kalau produk yang kami hasilkan berasal dari sampah yang sudah melalui proses pembersihan. Jika masyarakat ikut serta membeli produk ini, berarti mereka ikut mempromosikan usaha pengurangan sampah yang kembali ke alam. Kami juga akan terus meningkatkan kualitas, dan jenis produk yang dihasilkan agar lebih bisa diterima masyarakat,” ujarnya. Selain itu, pemerintah juga diharapkan dapat menyosialisasikan mengenai pemilahan sampah di rumah tangga masyarakat, sehingga sampah yang sudah dipilah dapat diproses menjadi produk cantik. 

Dia mengaku sejauh ini peminat produk dari daur ulang sampah masih minim, karena masyarakat menganggap produk dari sampah tidak terjaga kebersihannya. Selain itu, masyarakat masih menganggap enteng dengan produk yang dihasilkan dari sampah, karena sampah bahan baku yang tidak dibeli. Padahal, produk daur ulang yang dihasilkan perajin bank sampah dijamin kebersihannya. 

“Selama ini masyarakat tidak mengetahui kalau sampah sebenarnya bisa menjadi produk yang cantik dan punya nilai jual. Makanya, selain pameran, kami juga membuat pelatihan bagi siapa saja yang mau selama pameran. Supaya masyarakat mengerti bahwa sampah punya nilai ekonomis yang bisa menambah pendapatan di keluarganya,” katanya. 

Armawati menjelaskan, produk kerajinan dari daur ulang sampah yang dipamerkan merupakan hasil kerajinan 15 bank sampah dari 60 bank sampah yang ada di bawah naungan Paguyuban Bank Sampah Kota Medan. Melalui pameran ini dia berharap masyarakat bisa mengenal bahwa sampah yang dihasilkan dari rumah sendiri, juga bisa menjadi produk yang cantik dan punya nilai jual. 

“Semakin sulit dan lama membuatnya, maka harganya semakin tinggi. Misalnya tas yang terbuat dari kertas yang sudah dibuburi. Untuk membuat tas itu kertasnya dibuburi terlebih dahulu. Proses menjadi bubur sebelumnya direndam, diblender, lalu dikeringkan. Membuatnya butuh waktu dua pekan, makanya harganya mencapai ratusan ribu rupiah,” ujar Ketua Paguyuban Bank Sampah Kota Medan, Armawati Chaniago, di lokasi pameran, kemarin. 

Produk yang dibanderol mulai dari Rp5.000 hingga ratusan ribu rupiah itu terbuat dari sampah yang sudah melalui proses pembersihan, seperti kain perca, karung, kertas, plastik, botol, dan lainnya. 

Bagi masyarakat yang ingin mengetahui bagaimana cara membuat kerajinan daur ulang sampah juga bisa mengikuti pelatihan di lokasi pameran. Berbagai produk kerajinan tangan dari daur ulang sampah yang dipamerkan antara lain tas tangan, aneka aksesori, guci, celengan, aneka bunga, gantungan kunci, dan sepatu. 

Puluhan produk kerajinan berbahan dasar daur ulang sampah yang berasal dari 15 bank sampah di Kota Medan, dipamerkan di atrium lantai satu area gedung baru Plaza Medan Fair, sejak kemarin hingga 26 April 2015. 


Mahasiswa ITS Rancang Tas Dari Sampah Plastik | goody bag company



Terkait potensi pemasarannya, ia menilai cukup bagus, karena produk awal Tim BUTIK bisa laku 40 produk berupa tas wanita, dompet STNK dan bros. "Konsumen dari produk BUTIK meliputi remaja dan orang tua, bahkan ada pesanan dari Jepang," ujarnya.

Hal itu, katanya, tidak terleoas dari berbagai cara pemasaran yang dilakukan, mulai poster, "X banner", kartu nama, katalog produk, facebook, twitter, hingga iklan online (kaskus, olx).

Selain itu, pihaknya juga melakukan pemasaran langsung, seperti di Kampus ITS Surabaya, Gedung Graha ITS Expo, Bank Sampah Karya Mandiri Jombang, Pasar Malam Minggu Jalan Pakuwon City Surabaya, dan "Car Free Day" Taman Bungkul Surabaya.

Menurut dia, keunggulan tas "Butik" adalah unik, ramah lingkungan ("green product"), jumlah barang terbatas (kerajinan), dan harganya terjangkau yakni Rp15.000 hingga Rp80.000, sedangkan produk lain bisa mencapai Rp100.000 hingga Rp500.000.

"Konsumen juga bisa menginginkan desain tertentu sesuai keinginannya atau desain khusus, lalu Tim BUTIK akan mendesain tas yang benar-benar unik dan khusus mereka," tuturnya.

"Karena itu, kami melakukan daur ulang sampah plastik menjadi bahan dasar pembuatan aneka macam aksesoris dan tas wanita yang estetik, trendy, dan memiliki nilai jual yang tinggi," ucapnya.

Berangkat dari hal itu, inovasi pembuatan aksesoris dan tas wanita pun muncul. "Bahan yang dibutuhkan antara lain plastik kresek, kain tisu, kain furing, bahan tas, resleting, dan benang jahit, lalu semuanya dibuatkan berbagai macam desain dan dijahit," paparnya.

Sampah plastik merupakan masalah yang sering dijumpai, karena Indonesia tercatat sebagai pemakai 100 miliar plastik per tahun," kata anggota Tim ITS M Ainun Taimiyah Indra kepada Antara di Surabaya, Jumat (15/8).

Selain Ainun dari Jurusan Teknik Material dan Metalurgi pada Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITS, Tim "Butik" juga melibatkan tiga mahasiswa lainnya dari jurusan yang berbeda.

Ketiganya adalah Elok Dian Karisma Pagri Anisa dari Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITS; Roni Vayayang dari Teknik Elektro FTI ITS; dan Arifa Tantri Wijayanti dari Desain Interior FTSP ITS.

Didampingi ketiga rekannya, Ainun menjelaskan salah satu usaha yang bisa dilakukan untuk mengurangi jumlah plastik adalah melakukan daur ulang menjadi sesuatu yang berharga dan menghasilkan uang.

Tim mahasiswa ITS Surabaya merancang tas dari olahan (daur ulang) sampah kantong plastik yang dinamakan "Butik" atau singkatan dari "buntelan" (bungkusan) plastik.




Kamis, 16 November 2017

Tak Ada Rotan, Koran Pun Jadi

Indonesia terkenal dengan aneka kerajinan rotan | goody bag company


goody bag company



"Saya beri pelatihan lewat PKK dan Dharma Wanita. Kemarin ada permintaan dari Kedutaan Malaysia di Indonesia minggu ini untuk melatih ibu-ibu kedutaan," imbuhnya.

Pada masa liburan anak sekolah nanti, Ranny akan berangkat ke Malaysia untuk mengajar anak-anak sekolah bikin kerajinan dari koran. Ia juga membina anak-anak yang bermasalah dengan hukum di Bambu Apus, tujuannya pasca mereka keluar dari panti rehabilitasi sudah punya keahlian.

"Senangnya selain bisa usaha dan dapat penghasilan juga bisa memotivasi perempuan supaya punya keterampilan. Syukur ada yang bisa menghasilkan secara ekonomi," tuturnya.

"Lama-lama pembeli ada yang minta diajarin, akhirnya saya jadi mengajar dan melath juga. Ada satu kelompok di Cakung yang berhasil saya latih dan kini bisa memasarkan produknya sendiri," ujar Ranny yang sudah membina sekitar 30 kelompok.

Peserta pelatihan itu rata-rata ibu rumah tangga. Ranny melatihnya sesuai kemampuan, mulai dari bagian memotong, gulung jadi tali, dan plitur.

"Tempat payung ini misalnya, dicetak dari ember-ember bekas kemasan makanan cepat saji," kata ibu paruh baya ini.

Harga jual produknya mulai dari Rp 10.000-500.000. Sementara harga untuk souvenir kawinan mulai Rp 10.000. Dalam sebulan ia bisa produksi hingga 500 souvenir kawinan.

Pembeli kerajinan Ranny pun beragam, mulai dari pemilik usaha spa, restoran, sampai pembeli untuk keperluan souvenir kawinan.

Pertama-tama koran dipotong-potong lalu direndam selama 12 menit. Lalu ditiriskan dan dijemur selama 30 menit. Setelah dirangkai harus dijemur selama 12 jam.

"Bikin kerajinan seperti ini kuncinya yang penting modal kemauan dan kesabaran," jelasnya.

Jenis kerajinan koran ada 3 yaitu dari bahan bubur, anyaman kering dan bahan yang direndam terlebih dulu. Bahannya sederhana, cukup lem kayu, pernis dan cetakan.

"Pernah ada pembeli dari Saudi Arabia, 2 kali pesan. Sekali pesan sampai 100 buah untuk souvenir para tamu produk go green yang ramah lingkungan. Lewat pameran-pameran ini bisa menjaring pelanggan. Ilmu yang saya punya juga terpakai untuk pemberdayaan masyarakat," ujarnya.

Menurut Ranny, kendala saat produksi adalah cuaca. Sebab, proses pembuatan produknya butuh panas matahari.

"Akhirnya dikenal sama dinas dan Kementerian Perindustrian serta Dekranas. Awalnya saya ibu rumah tangga. Oleh dinas dilatih entrepreneur, diberi kesempatan pameran, bazar, dan jual produk di mal. Seperti kemarin di pameran inacraft belum selesai pameran hanya dalam waktu 4 hari produk habis terjual," jelasnya.

Produk yang dibuat mulai dari tempat buah, tempat payung, tutup saji, tempat tissue, sampai karpet sesuai pesanan.

"Ada pinjaman modal dari koperasi PKK Rp 500.000. Saya beli bahan-bahan lalu produksinya untuk bayar pekerja dan mulai dikembangkan ikut lomba," ujarnya.

Ranny mengaku, pada 2012 pernah meraih juara I UKM Award dari Kementerian Koperasi dan UKM, dan juara I Sapta Pesona Alam dari Dinas Pariwisata. Ia pun pernah mengikuti berbagai pameran di luar negeri, seperti Bangkok International Gift Affair dan Bangkok International House Fair 2012.

Lambat laun, permintaan kerajinan Ranny makin banyak. Karena tak bisa bayar pekerja, ia pun mencoba bergabung menjadi anggota PKK, dan mendapat pinjaman modal dari koperasi.

Modal ini ia gunakan untuk membayar perajin yang mau bantu produksi. Sampai saat ini Ranny ditemani 3 karyawan perajin, dan 20 karyawan produksi untuk memenuhi pesanan.

 Indonesia terkenal dengan aneka kerajinan rotan. Tak sedikit karya rotan Indonesia yang laris manis dikirim ke luar negeri. Ibu satu ini bisa membuat kerajinan yang tak kalah unik dari rotan, tapi dengan bahan baku yang tak biasa, yaitu koran.

"Usaha sejak 2011. Awalnya iseng-iseng nggak sengaja, bikin dari koran coba buat wadah-wadah untuk keperluan sendiri, jadi belajar sendiri. Lama-lama tamu ada yang suka. Bagus ya ini belum ada di pasaran. Terus dari situ ada pesenan dari beberapa teman dan saudara jadi semangat," kata Ranny, pemilik Ranny Kreasi kepada detikFinance beberapa waktu lalu.

Usaha dengan memanfaatkan bambu yang belum banyak diketahui | goody bag company


Kerajinan dari bambu sendiri saat ini memiliki banyak sekali peminat karena unik dan berbeda dengan kerajinan lainnya, selain itu bahan baku bambu juga murah dan mudah untuk didapatkan maka jika anda memiliki kemampuan untuk mengolah bambu ini akan menjadi peluang usaha yang sangat menjanjikan keuntungan besar jika anda jeli dan melakukan promosi secara tepat.

muda yang masih kecil atau biasa dikenal dengan sebutan rebung bisa dimanfaatkan sebagai bahan sayuran, sedangkan batang bambu besar yang telah kering bisa di buat menjadi berbagai macam kerajian tangan,seperti bangku kursi bambu, lampu hias, dan aneka kerajinan tangan
lainnya.

keranjang merupakan hasil anyaman bambu yang sampai saat ini juga masih banyak diggunakan, khususnya untuk masyarakat pedesaan. keranjang ini berbeda dengan keranjang biasa karena dibuat 100% dari anyaman bambu.keranjang ini lebih kuat dari keranjang yang terbuat dari atum dan tidak bisa pecah, mungkin cuma penyok, dan itu masih bisa di balikkan lagi. 

MERAJUT HARAPAN DENGAN BAMBU | goody bag company



Dengan menjadi salah satu penerima bantuan Jalin Matra PFK ini Bu Suryani merasa bersyukur. Semoga usulan kebutuhan nanti dapat untuk menambah modal mengembangkan usaha tompo agar bisa maju dan berkembang dan juga menambah pendapatan keluarga. Harapan kedepan usahanya tidak hanya membuat tompo saja tetapi bermacam-macam anyaman dari bambu. Namun Bu Suryani belum mempunyai ketrampilan sehingga masih memerlukan bimbingan atau pelatihan ketrampilan. Semoga harapan Bu Suryani bisa terwujud. 

Dengan kondisi suami yang sakit dan tidak bisa mencari nafkah untuk keluarganya, Bu Suryani tetap semangat dan optimis menghadapi kehidupan karena saat ini selain mengurus keluarga juga sebagai tulang punggung keluarga. Dan masih ada anak-anak yang masih kecil yang masih banyak memerlukan perhatian dan biaya untuk masa depan yang masih panjang. Agar nantinya menjadi anak yang sukses dan bisa membahagiakan kedua orang tuanya.

Ketika hari pasaran kliwon setiap jam 03.00 pagi, Bu Suryani dengan berjalan kaki menembus gelap dan dinginnya udara pagi berangkat dari rumah menuju Pasar Arjosari. Kondisi jalan yang naik turun beliau lalui dengan membawa tompo antara 15-20 buah. Jarak yang ditempuh dari rumah ke Pasar Arjosari kurang lebih 10 km. Biasanya sampai jam 09.00 Bu Suryani baru bisa pulang ke rumah dengan dagangan yang habis terjual. 

Dalam sebulan tidak setiap hari pasaran kliwon bisa menjualnya, tergantung dari jumlah tompo yang sudah dibuat. Untuk harga satu tompo per buahnya hanya  berkisar Rp.5.000,00 sampai Rp.7.000,00 tetapi ketika musim hujan harganya menurun sampai Rp. 2.000,00 – Rp.3.000,00.

Bu Suryani saat ini selain mengurus lahan pertanian (buruh tani) dan merawat ternak, juga membuat anyaman dari bambu yang disebut dengan “tompo”. Untuk usaha anyaman bambu ini sudah dirintis sejak tahun 2006. Dengan modal bambu apus dan peralatan yang masih sederhana, usaha ini masih berjalan sampai sekarang. 

Dengan dibantu suaminya di rumah mengerjakan anyaman tersebut. Waktu membuatnya juga disesuaikan dengan kesibukan Bu Suryani. Biasanya di sela-sela mengurus keluarga, pertanian dan ternak kambing. Anaknya yang kedua masih duduk di kelas I MI GUPPI Gembong Kecamatan Arjosari juga masih membutuhkan perhatian. Setiap hari Bu Suryani mengantar ke sekolah dengan jalan kaki yang jaraknya sangat jauh dan kondisi jalan yang naik turun.

Sejak suaminya sakit sekitar 3 tahun yang lalu Bu Suryani harus mencukupi kebutuhan keluarganya . Suaminya yang bernama Pak Katwadi sudah tidak bisa mencari nafkah untuk keluarga. Kedua indera penglihatannya sudah tidak bisa melihat lagi, hanya bisa membantu kegiatan di rumah. Untuk aktivitas di luar rumah sudah tidak bisa dilakukan lagi.

 Kecelakaan itu disebabkan karena Pak Katwadi membawa pupuk seberat 50 kg dengan jalan kaki di panggul dari pasar ke rumah yang jaraknya jauh dan tidak ada transportasi. Karena beban yang berat tersebut mengakibatkan saraf penglihatannya rusak. Segala upaya berobat sudah dilakukan tetapi tidak ada hasilnya dan akibatnya kedua indera penglihatannya tidak bisa melihat.

Di sebuah dusun tepatnya di Dusun Ngasem RT 05 RW 07 Desa Gembong Kecamatan Arjosari Kabupaten Pacitan, tinggal lah Bu suryani dan keluarganya. Beliau merupakan salah satu penerima bantuan Program Jalin Matra Penanggulangan Feminisasi Kemiskinan Propinsi Jawa Timur tahun 2017. Bu Suryani yang berusia 33 tahun saat ini tinggal bersama suami, orang tua dan kedua anaknya yang masih sekolah di tingkat SD.










Selasa, 15 Agustus 2017

Sugianto Tandio Gagas Tas Plastik dari Singkong

Plastik ramah lingkungan | goody bag company

goody bag company



“Sekitar 90 persen shopping bag peritel besar sudah memakai Oxium,” kata Sugianto, dilansir Tempo. Produknya telah masuk ke pasaran mulai tahun 2010. Sugianto mengatakan bahwa 5.000 ton tas belanja mampu diproduksi pabriknya selama sebulan.

Sementara itu, peritel di Indonesia masih sedikit yang menggunakan plastik Ecoplas. Sebabnya, Ecoplas lebih mahal sekitar 50% daripada Oxium. Menurut Sugianto, plastik Ecoplas lebih banyak diekspor. Keunggulan Ecoplas adalah lebih cepat terurai daripada Oxium karena menggunakan bahan organik. Sementara itu, plastik Oxium mampu terurai dalam jangka waktu dua tahun.

Oxium dan Ecoplas adalah dua teknologi plastik ramah lingkungan yang ditemukan oleh Sugianto. Fungsi Oxium adalah mempercepat terurainya plastik. Cara aplikasinya adalah dengan menambahkan Oxium ke biji plastik biasa. Sementara Ecoplas adalah plastik dari tepung singkong.

Keresahan Sugianto ditambah dengan keprihatinannya melihat Sungai Citarum yang dipenuhi sampah plastik membuat dia mengadakan penelitian terkait plastik ramah lingkungan. Sejak tahun 2000, dengan berbekal ilmu dan pengalamannya saat sekolah di University of North Dakota, Amerika Serikat, akhirnya dia berhasil menemukan solusi plastik ramah lingkungan yang bisa diaplikasikan di Indonesia.

Pemilik perusahaan plastik kemasan PT. Tirta Marta, Sugianto Tandio, merasa resah karena telah selama 40 tahun membuat plastik biasa yang tidak ramah lingkungan. Padahal, plastik merupakan bahan yang sulit terdegradasi secara alami sehingga merusak lingkungan.


PLASTIK RAMAH LINGKUNGAN: 2 TAHUN BISA TERURAI | goody bag company


Penemuan” Sugianto ini sudah mendapatkan green label dari Indonesia Solid Waste Association (INSWA). Selain sertifikat green label, Oxium juga sudah lulus uji dari Sucofindo, Fakultas Teknik Sipil Universitas Indonesia, Balai Pengkajian Bioteknologi BPPT, serta R&D Center Indonesia Solid Waste Perisai.

Meski baru shopping bag, namun penemuan Sugianto dengan Oxium-nya merupakan sebuah solusi terhadap plastik yang selama ini “dimusuhi” banyak orang, termasuk saya. Nah, sekarang ini tiap belanja ke tempat-tempat yang sudah disebutkan tadi, saya tak perlu lagi membawa tas-tas untuk menghindari plastik, karena tas plastik yang di tempat-tempat belanja itu sudah dijamin oleh Oxium sebagai plastik ramah lingkungan.

“Saat ini ada 15 pabrik yang menggunakan Oxium. Kita akan mem-black list pabrik yang menjual plastik ke toko-toko tersebut yang tidak sesuai dengan standar Oxium,” ujar Sugianto. “Percuma dong kalau toko-toko tersebut bilang go green tetapi plastiknya tidak ramah lingkungan.”

Beginilah kalo belanja bulanan. Saya dan istri tak pernah lagi menggunakan shopping bag, tetapi membawa beberapa tas untuk memasukkan barang belanjaan. Demi menghindari sampah plastik di rumah. Tetapi kalo ada penemuan sampah ramah lingkungan, sekali-sekali bolehlah pakai shopping bag dari plastik.

Seperti yang saya katakan, kita sulit menghindari plastik. Jadi harus ada solusi agar bisa menjadikan plastik mudah untuk terurai. Banyak orang yang kerap mengkritisi, tapi tidak punya solusi. Sabtu kemarin, saya baru tahu, ada tas plastik yang terbuat dari bahan singkong. Adalah ecoplas (www.eco-plas.com) yang mengeluarkan kantong plastik berbahan singkong. Ada pula Oxium (www.oxium.net), yakni produk dalam negeri yang telah mengeluarkan plastik ramah lingkungan. Produk ini dapat mempercepat proses degradasi plastik dalam waktu kurang lebih 2 tahun melalui mekanisme oksidasi, thermal, dan fotodegradasi (cahaya matahari).

Saat ini Oxium sudah digunakan oleh hampir lebih dari 90% di pasar modern, yakni di Carrefour, Indomaret, Alfamart, Superindo, Hero, Giant, Tip Top, Kemchicks, Guardian, Century, Yogya, Zara, dan Gramedia. “Namun saat ini kita baru fokus di shopping bags-nya saja dan masih di modern market,” ujar Sugianto. “Selanjutnya, kita akan menyisir ka pasar tradisional dan produk-produk lain yang terbuat dari plastik, bukan cuma shopping bag saja.”

Ternyata tidak. Pakar kimia plastik asal Amrik Steven Hetges mengatakan, plastik sesungguhnya tidak membahayakan. Plastik berasal dari jasad renik (mikroorganisme) dari tumbuhan laut yang mati dan mengendap di dasar bumi. Berdasarkan teori organik seperti yang kemukakan oleh Engker (1911), proses pelapukan dan penguraian secara anaerob dalam batuan berpori, akan mentransformasi jasad-jasad renik tersebut menjadi minyak bumi yang menjadi bahan dasar dari plastik.

So, plastik berasal dari bahan material organik. Kecuali plastik yang memiliki kestabilan fisikokimia yang sangat kuat, sehingga membutuhkan waktu ribuan tahun untuk dapat mengurai secara alami. plastik berbahan konvensional dari polimer sintetik, misalnya, yang saya sebut tadi baru bisa terurai dengan sempurna 300-500 tahun. Ibarat kata, kita sudah meninggal, hidup lagi, meninggal lagi, baru terurai plastik berbahan konvensional itu.

Plastik yang saya foto ini terbuat dari singkong. Sebagai orang awam, ketika melihat secara langsung dan memegang plastik ini, saya tidak tahu kalo plastik ini terbuat dari singkong.Di shopping bag ini tertulis: this bag is 100% degradable. It contains natural and sustainable resources.

Awalnya saya kaget. Plastik dari bahan organik? Artinya, seharusnya plastik itu bisa terurai sebagaimana makanan dong? Tapi kenapa plastik baru bisa terurai dengan sempurna membutuhkan waktu 300-500 tahun? Bahkan, berdasarkan penelitian dosen Kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB), I Made Arcana, zat pewarna hitam yang umumnya ada di kantong plastik, berbahaya bagi kesehatan. Zat ini kalo terkena panas dapat terdegrasi dan mengeluarkan zat yang menjadi salah satu pemicu kanker. Oleh sebab itu, kalo beli gorengan atau makanan yang masih panas, jangan langsung diletakkan di kantong plastik.

Jadi plastik itu berbahaya dong?

Namun, tentu sulit sekali menghindari plastik 100%. Kita sudah “terkepung” dengan plastik. Bahkan manusia sendiri sudah bersatu dengan plastik. Lihat saja mereka yang operasi hidung, dagu, dan anggota badan lain, dimana dibutuhkan plastik. Makanya saya katakan di atas tadi, diam-diam musuh, karena terpaksa menggunakan plastik di kala berbelanja di toko yang menggunakan plastik sebagai shopping bag kala saya tidak membawa tas lain.

Sabtu kemarin (16/10), saya diundang oleh Lucid Communication untuk menghadiri kongkow-kongkow para blogger. Bertempat di Tartine Restaurant, FX Lifestyle X’nter, Jakarta Selatan, saya dan teman-teman sesama blogger mendapat perspektif baru soal plastik.

“Plastik itu termasuk bahan organik,” ujar Sugianto Tandio. 

Diam-diam saya ini musuh dalam selimut terhadap plastik. Di blog-blog saya dan di Kompasiana ini pun saya seringkali mengkampanyekan gerakan Say No to Plastik. Bukan cuma omong doang, dalam praktek sehari-hari, tiap kali belanja, saya dan istri selalu membawa sejumlah tas terbuat dari bahan agar menghindari plastik. Begitu pula ketika di toko buku, sebisa mungkin, saya keluar tanpa plastik.


Kantong Plastik Belanja Kembali Gratis? | goody bag company



Nah, walau begitu, banyak pihak yang menganggap tindakan Aprindo yang menghentikan kebijakan ini justru akan berbuah baik, yaitu dikeluarkannya Permen yang secara sah mengatur kebijakan kantong plastik berbayar (entah kapan, tapi semoga dalam waktu dekat).

Lalu apa yang bisa kita lakukan sambil menunggu ‘mukjizat’ tersebut? Apapun peraturannya, kita semua sebaiknya tetap meneruskan kebiasaan baik yang sudah mengurangi pemakaian plastik saat berbelanja—bahkan kalau bisa, tidak menggunakan sama sekali. Tak hanya itu, kita semua juga harus lebih teliti saat membeli kantong plastik. Pastikan tagihannya tertera pada nota belanja, agar kita terhindar dari kecurangan kasir-kasir ‘nakal’.

Melihat kondisi ini, terlihat jelas bahwa Pemerintah Pusat, Pemda, dan Aprindo tidak kompak. Selain masyarakat dibuat bingung, Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) pun dibuat geram. Pasalnya—walau hasil tiap daerah berbeda-beda—penurunan penggunaan plastik berkat adanya kebijakan ini rata-rata sudah tembus hingga angka 40%. Angka yang baik untuk membantu menyelamatkan lingkungan, dan akan sayang sekali bila kebijakan ini tidak diteruskan, bukan?

Hmmm, di Jakarta sendiri hingga beberapa hari lalu, beberapa retail sudah menghentikan kebijakan plastik berbayar. Hanya beberapa retail besar seperti Hero, Giant, Alfa, Food Hall, dan Farmer’s Market yang masih mewajibkan konsumen untuk membeli kantong plastik saat belanja. 

Di Bandung saja, sejak 1 Juni 2016, minimarket-minimarket kembali menggratiskan kantong plastik. Sesuai SE Aprindo Pusat, pengusaha retail boleh menghentikan atau memberlakukan kebijakan tersebut. Maka sejak 1 Oktober 2016 lalu, Aprindo pun resmi menghentikan kebijakan ini secara nasional. Alasannya? Karena tidak pernah ada hukum dari pemerintah yang mengatur hal ini secara sah dan kebijakan ini masih berupa tahap uji coba.

Namun apa daya, Permen tak kunjung keluar. Lalu pada tanggal 8 Juni 2016, KLHK justru mengeluarkan SE yang ke-2 yang justru memunculkan kebingungan. SE ini memberi wewenang kepada Pemda untuk mengatur mekanisme kebijakan kantong plastik berbayar, sementara Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menuntut kewenangan serupa. Karena tidak ada hukum yang jelas, sejak bulan Juni 2016 lalu, kebijakan kantong plastik berbayar pun berjalan setengah-setengah. Ada beberapa pengusaha retail yang tetap memberlakukan kebijakan tersebut, sementara yang lain memberikan kantong plastik dengan gratis.  

Sampai di sini semuanya berjalan baik, terlebih karena harapan keluarnya Peraturan Menteri (Permen) mengenai kantong plastik berbayar itu ada. Semua pihak yang mendukung diet kantong plastik pun menyambut gembira.

Secara nasional, SE tahap pertama ini sebetulnya cukup sukses mengurangi pemakaian kantong plastik, terlepas dari pro dan kontra yang ada. Hasil pantauan dan evaluasi KLHK menemukan penurunan sebesar 25%-30% dalam penggunaan kantong plastik selama 3 bulan ini. Ada 87,2% masyarakat yang menyatakan dukungannya terhadap program ini, dan 91,6% masyarakat juga bersedia membawa kantong plastik sendiri dari rumah.

Meski telah memiliki Perda No.17/2012 yang berisi tentang imbauan kepada masyarakat untuk mengurangi penggunaan kantong plastik, namun SE KLHK tersebut belum mengatur harga kantong plastik yang harus dibayarkan konsumen kepada pengusaha retail secara jelas. Rp200 adalah kesepakatan harga minimal kantong plastik yang ‘tidak tertulis’ saat itu.

Jadi begini. Sedikit flashback, pada tanggal 21 Januari 2016, Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan (KLHK) mengeluarkan Surat Edaran (SE) mengenai kebijakan kantong plastik berbayar bagi 22 kota dan 1 provinsi di Indonesia. Secara otomatis, seluruh pengusaha retail pun mewajibkan pembelian kantong plastik kepada para konsumennya sejak tanggal 21 Februari 2016 hingga 31 Mei 2016. 





Minggu, 11 Juni 2017

Setelah Cina, Indonesia Tempati Posisi Kedua Penyumbang Sampah Terbesar di Dunia

Tumpukan sampah di pinggiran pesisir pantai terus menumpuk | goody bag company

goody bag company



Kenyataan tersebut perlu perhatian lebih dari kita sebagai masyarakat Indonesia mengenai betapa pentingnya pengelolaan dan daur ulang sampah. Hal itu dirasa akan mampu mengurangi penumpukkan sampah di laut yang menganggu lingkungan.

Berdasarkan data Jambeck (2015), Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai sebesar 187,2 juta ton setelah Cina yang mencapai 262,9 juta ton.

Berada di urutan ketiga adalah Filipina yang menghasilkan sampah plastik ke laut mencapai 83,4 juta ton, diikuti Vietnam yang mencapai 55,9 juta ton, dan Sri Lanka yang mencapai 14,6 juta ton per tahun.

Flora dan fauna yang hidup di laut akan terkena dampak dari limbah yang tercampur zat berbahaya seperti cairan buangan kapal-kapal. Sampah yang mengendap ke dalam tanah justru tak membawa solusi yang berarti, hal tersebut malah akan membawa efek buruk bagi laut kedepannya.

Jambeck (2015) pun mengungkapkan bahwa Indonesia menempati posisi kedua penyumbang sampah terbesar setelah Cina. Setiap tahunnya Indonesia mampu menyumbang sampah hingga 187,2 juta ton. Sedangkan Cina mencapai 262,9 juta ton. Negara tetangga seperti Filipina berada di posisi tiga dengan produksi sampah ke laut sebesar 83,4 ton.

Menurut data yang dilansir oleh Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 KLHK Tuti Hendrawati Mintarsih, total jumlah sampah mampu mencapai 68 juta ton pada tahun 2019 nanti. Begitu pula sampah plastik yang diperkirakan mencapai 9,52 ton.

Limbah sampah sendiri berbahaya ketika sampai mencemari laut, dan masalah ini perlu segera ditemukan jalan keluarnya. Jika tidak, maka flora dan fauna yang berhabitat di laut akan terkena dampak buruknya.

Limbah-limbah tersebut mengalir melalui sembilan sungai yang bermuara di Teluk Jakarta. Pencemaran sampah yang terjadi saat ini telah mencapai 60 kilometer.

Jaraknya pun dapat mencapai kepulauan Kep. Seribu. Dari sejumlah penelitian yang dilakukan, perairan di Teluk Jakarta saat ini terkandug logam berat seperti timbal, tembaha, dan cadmium.

Di area DKI Jakarta, tumpukan sampah di pinggiran pesisir pantai terus menumpuk. Sampah-sampah tersebut berasal dari limbah keluarga, gedung perkantoran, hotel, dan gedung-gedung lainnya.

Sampah plastik yang dihasilkan oleh manusia seringkali terabaikan keberadaanya. Dari penggunaan plastik tersebut, dapat dibayangkan berapa banyak sampah plastik yang dihasilkan oleh manusia.

Kendala yang dihadapi hingga saat ini adalah kesadaran manusia dalam melakukan kegiatan daur ulang sampah plastik tersebut hingga volumenya kian meningkat. Tak heran jika kini sampah plastik masih terus menjadi fokus dunia.

Indonesia Penyumbang Sampah Plastik Terbesar Ke-dua Dunia | goody bag company




Tuti mengatakan belum dapat memperkirakan berapa penurunan penggunaan kantong plastik dengan adanya uji coba plastik berbayar diterapkan pada 21 Februari 2016. Perkiraan hanya terlihat dari target pengurangan sampah plastik yang ditetapkan hingga 2019 tersebut.

Kebijakan kantong plastik berbayar ditujukan untuk mengurangi jumlah sampah plastik. Namun efektivitasnya diragukan.

Setiap tahun produksi plastik menghasilkan sekitar delapan persen hasil produksi minyak dunia atau sekitar 12 juta barel minyak atau setara 14 juta pohon.

Lebih dari satu juta kantong plastik digunakan setiap menitnya, dan 50 persen dari kantong plastik tersebut dipakai hanya sekali lalu langsung dibuang. Dari angka tersebut, menurut Tuti, hanya lima persen yang benar-benar di daur ulang.

"Sampah kita komposisi utamanya 60 persen organik, plastiknya 14 persen," ujar dia.

Berdasarkan data Jambeck (2015), Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai sebesar 187,2 juta ton setelah Cina yang mencapai 262,9 juta ton.

Berada di urutan ketiga adalah Filipina yang menghasilkan sampah plastik ke laut mencapai 83,4 juta ton, diikuti Vietnam yang mencapai 55,9 juta ton, dan Sri Lanka yang mencapai 14,6 juta ton per tahun.

Padahal, KLHK menargetkan pengurangan sampah plastik lebih dari 1,9 juta ton hingga 2019.

Dirjen Pengelolan Sampah, Limbah, dan B3 KLHK Tuti Hendrawati Mintarsih menyebut total jumlah sampah Indonesia di 2019 akan mencapai 68 juta ton, dan sampah plastik diperkirakan akan mencapai 9,52 juta ton atau 14 persen dari total sampah yang ada.

Menurut dia, target pengurangan timbunan sampah secara keseluruhan sampai dengan 2019 adalah 25 persen, sedangkan 75 persen penanganan sampahnya dengan cara 'composting' dan daur ulang bawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menilai persoalan sampah sudah meresahkan. Indonesia bahkan masuk dalam peringkat kedua di dunia sebagai penghasil sampah plastik ke Laut setelah Tiongkok. 

Hal itu berkaitan dengan data dari KLHK yang menyebut plastik hasil dari 100 toko atau anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) dalam waktu satu tahun saja, sudah mencapai 10,95 juta lembar sampah kantong plastik. 

Jumlah itu ternyata setara dengan luasan 65,7 hektare kantong plastik atau sekitar 60 kali luas lapangan sepak bola. 

Indonesia Penghasil Sampah Plastik Kedua Terbesar di Dunia | goody bag company



"Bisa saja sampah yang keluar (dari perairan Indonesia) justru lebih sedikit, yang berarti bahwa perairan kita jadi trap. Kalau yang terjadi seperti itu justru lebih berbahaya," katanya.

Dari rangkaian penelitian, LIPI berharap bisa mengetahui sampai yang masuk dan keluar dari Indonesia. Data yang diperoleh akan digunakan untuk mengonfirmasi riset yang menyatakan bahwa Indonesia penghasil plastik terbesar kedua.

Dalam jangka panjang, Reza akan meneliti perbandingan mikroplastik yang masuk dab keluar dari wilayah Indonesia untuk mencari tahu peran arus dalam perpindahan sampah sekaligus jumlah sampah yang terbuang ke laut.

Untuk meneliti, Reza akan mengambil sampel air dari perairan Sumba. Sampel itu kemudian disaring dengan penyaring khusus dan diamati dengan bantuan sinar UV. Keberadaan mikroplastik dari beragam polimer akan dideteksi.

Riset di perairan Sumba ini adalah tahap pertama. "Ke depan kita berharap bisa melakukan di wilayah utara Indonesia," ungkapnya.

Perairan Sumba dipilih karena merupakan pintu keluar dari Arus Lintas Indonesia, arus dari Pasifik ke Hindia yang melewati Indonesia.

Pergerakan arus bukan hanya membawa nutrien dan sejumlah satwa, tetapi juga sampah. Sampah yang keluar dari perairan Sumba mungkin tak berasal dari Indonesia, tetapi dibawa dari Pasifik. 

Lewat Ekspedisi Widya Nusantara (EWIN) 2016, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan membuktikan kebenaran hasil pemodelan tersebut lewat pengambilan sampel langsung di lapangan.

"Kita akan meneliti mikroplastik di perairan Sumba," kata Muhammad Reza Cordova, periset Pusat Penelitian Oseanografi dalam konferensi pers Pelepasan EWIN 2016 di Jakarta, Selasa (2/8/2016).

Data tersebut diperoleh lewat pemodelan dengan memasukkan faktor skala pembangunan ekonomi negara, jumlah rata-rata sampah yang diproduksi, cara pengolahan sampah, serta jumlah populasi yang bermukim di radius 50 km dari garis pantai.