Tampilkan postingan dengan label tas spunbond grosir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tas spunbond grosir. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Desember 2017

Mendulang Rupiah dari Koran Bekas

Kertas-kertas bekas sering dinilai sebagai sampah | tas spunbond grosir


tas spunbond grosir

“Sebenarnya, banyak karya-karya perajin di Jogja yang tidak kalah bagus dan apik. Tetapi, mereka tidak melek teknologi. Padahal, produk eco friendly saat ini banyak dicari,” kata Novi.

Menurutnya, banyak kelemahan dimiliki para pengrajin di Jogja. Selain dari sisi teknologi informasi, para perajin juga kurang mempersiapkan perkembangan global.

“Ya, selain masalah global warming, pemanfaatan barang bekas juga tidak membutuhkan modal banyak. Ya, memang harus kreatif dengan ide-ide tertentu,” katanya.

Menurut peraih Young Entrepreneur Start-up (YES) Award yang diselenggarakan Indonesia Business Links (IBL) 2009 itu, pemanfaatan barang bekas penting untuk menyelamatkan dunia.

“Kalau sepi order, yang kerja 3-5 orang. Itu mereka petani dan ibu rumah tangga. Kalau order banyak, ya tambah tenaga dari. Saya ingin membuka lapangan kerja bagi banyak orang,” katanya.

Finalis Kelompok Wirausaha Muda Bank Mandiri itu pun kini terus mengembangkan usahanya. Lewat kecerdikannya, Novi mempekerjakan perajin dari Seyegan, Sleman dan puluhan warga di wilayah itu untuk membuat lintingan kertas koran dan majalah bekas. Rata-rata setiap hari, dibutuhkan 40 kg koran bekas.

“Ide awalnya sebenarnya dari Yunas. Saat kami terima reorder dari Hawaii, kami sempat kewalahan karena kami buat ini secara manual. Susahnya lagi, biasanya kerajinan ini hanya bisa tembus Eropa saat musim panas,” cerita adik Gupta Rahariyanto itu.

Pemasaran menjadi persoalan yang ia hadapi. Berkat kegigihannya, karya-karya Novi kini sudah diterima di sejumlah wilayah di Indonesia mulai Jogja, Solo, Jakarta, Medan, Kalimantan hingga Papua. Bahkan, karyanya juga tembus ke tanah Inggris dan Hawaii, Amerika.

Sejatinya, Novi -sapaan akrabnya- menggeluti dunia kerajinan itu sejak berstatus sebagai mahasiswi. Saat itu, dia tergabung dalam Kelompok Wira Usaha bersama teman-teman sekampusnya, Yunas Habibi (warga Ngawi), Dande Nuradi (Solo), Widya Kasrena (Blora) dan Brico Alwiyanto (Jakarta) itu. Hingga lulus akhir 2011 lalu, dia masih memanfaatkan koran-koran bekas untuk mengembangkan usahanya.

Berkat kreativitasnya itu Novi bisa meraup omzet setiap bulan antara Rp7 juta hingga Rp10 juta. “Awalnya anggap kreasi ini suatu hal yang goblok. Masak ada orang yang mau beli kerajinan dari kertas koran? Setelah dicoba, ternyata benar banyak yang tertarik,” cerita anak bungsu dari Syukri Hasanudin dan Suratmi Wiyono itu saat dikunjungi Harian Jogja, Kamis (9/5) lalu.

Tak hanya miniatur Tugu, miniatur Monas Jakarta, Harley Davidson, Truk, Jeep, beragam tas wanita, hingga sandal ia bikin berbahan baku dari koran bekas. Harga yang dibanderol untu satu miniatur beragam, mulai Rp1.500 hingga ratusan ribu rupiah tergantung tingkat kerumitan miniatur.

Dengan terampil, kedua tangan Novianti menyusun satu per satu lintingan bekas koran dan majalah di hadapannya. Lintingan itu kemudian ditempelkan pada sebuah kertas lainnya yang sudah dibentuk menyerupai sebuah Tugu Pal Putih Jogja. Beberapa menit kemudian, miniatur tugu yang menjadi khas Jogja itu pun siap dipasarkan.

Bagi sebagain orang, kertas-kertas bekas sering dinilai sebagai sampah. Pandangan itu tidak berlaku bagi Briane Novianti. Alumnus Filsafat UGM itu, menyulap sampah-sampah menjadi kerajinan yang bernilai seni tinggi. Rupiah pun mengalir ke kantong gadis warga Ledok Tukangan DNII/257 Jogja itu.

Menyulap Sampah Menjadi Berkah | tas spunbond grosir



Kehadiran Bank Sampah ini dirasakan manfaatnya secara langsung oleh warga lingkungan sekitar. Mereka mengaku lingkungan menjadi lebih bersih dan terbiasa untuk membuat sekaligus memanfaatkan kompos. Selain itu, warga pun mendapatkan keuntungan secara ekonomis.

Walapun tak bermodal besar, asalkan didukung oleh warga yang peduli lingkungan, Bank Sampah mandiri pun tak kalah bermanfaat bagi warga dan lingkungan.

Untuk pembuatan kerajinan dari barang bekas, pengelola Bank Sampah Wargi Manglayang memberikan pelatihan kepada beberapa orang binaan. 

Para binaan inilah yang membuat kreasi-kreasi dengan memanfaatkan berbagai barang-barang bekas, seperti bekas bungkus kemasan, sedotan air mineral, plastik kresek dan lain-lain. Barang kerajinan yang dihasilkan pun beragam mulai dari tas kecil, dompet, taplak, hantaran pernikahan dan lain-lain.

Bank Sampah Wargi Manglayang pun kerap mengikuti pameran-pameran yang berkenaan lingkungan hidup. Berkat konsistensi dan prestasi yang sudah diraih, Bank Sampah Wargi Manglayang sering mendapat undangan untuk berbagi pengalaman di berbagai tempat.

Hingga kini sudah tercatat 150 orang yang menjadi nasabah Bank Sampah Wargi Manglayang. Mereka bisa menyetorkan sampah-sampah kering atau anorganik ke bank sampah. Untuk mengatasi sampah organik, pengurus Bank Sampah Wargi Manglayang memberikan pelatihan kepada warga sekitar untuk membuat kompos. Para pengurus Bank Sampah Wargi Manglayang tidak berhenti hanya memberikan pelatihan, namun terus memberikan motivasi kepada warga untuk tetap konsisten membuat kompos. Selain itu, mereka sering melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah untuk memanfaatkan sampah yang bisa didaur ulang dan dibuat kerajinan.

Para Ibu-Ibu PKK di RW 06 ini memiliki komitmen yang tinggi terhadap lingkungan. Terbukti dengan terciptanya lingkungan di sekitar RW 06 yang tampak asri dan bersih. Tempat-tempat sampah pun dengan mudah ditemui di sekitar lingkungan ini. Begitu juga dengan banyaknya tanaman hijau yang membuat lingkungan menjadi sejuk dan segar.

Sudah banyak tamu yang datang berkunjung untuk melakukan studi banding terhadap Bank Sampah Wargi Manglayang. Tak kurang dari perwakilan sekolah, kampus hingga pejabat pemerintah daerah kota Bandung pernah berkunjung.

Bank Sampah Wargi Manglayang melayani pembelian sampah setiap hari Senin dan Kamis dari pukul 10.00 wib – 14.00 wib. Sampah yang terkumpul disimpan terlebih dahulu untuk kemudian dijual maksimal sebulan sekali. Ibu Mimin selaku ketua pengelola Bank Sampah Wargi Manglayang mengaku bank sampah ini tidak berorientasi pada keuntungan. Para pengelola bahkan tidak mendapat bayaran, karena ini merupakan pekerjaan sosial. Para Ibu-Ibu PKK yang aktif mengelola bank sampah kini berjumlah sekitar 8 orang.

Bank Sampah di Kota Malang memang merupakan salah satu bank sampah yang patut dijadikan contoh di Indonesia. Selain itu masih ada Bank Sampah Gemah Ripah di Yogyakarta dan Bank Sampah Bina Mandiri Surabaya.

Bank Sampah Malang adalah koperasi yang merupakan kerjasama antara Pemerintah Kota Malang dan CSR PLN. Sebagai sebuah bank yang didukung oleh pemerintah daerah, Bank Sampah Malang memiliki program-program yang menguntungkan masyakat. Selain membuka tabungan sampah, nasabah pun akan mendapat pelatihan. Program pelatihan yang didukung oleh Ibu Ketua Tim PKK, yakni Ibu Hj.Dra.Heri Puji Utami, M.AP ini berupa pelatihan pengelolaan sampah baik organik maupun anorganik.

Sungguh berbeda dengan tempatku biasa menyetor sampah, desah perempuan paruh baya itu dalam hati. Memang, tempat ia biasa menabung sampah, hanyalah sebuah garasi seorang warga yang diubah menjadi sebuah bank sampah sederhana. Tempat ia menabung sampah memang merupakan bank sampah mandiri, diupayakan oleh komunitas warga yang peduli terhadap lingkungan.

Seorang perempuan paruh baya memandangi sebuah foto dengan sedikit terperangah. Sebenarnya gambar tersebut tidaklah terlalu istimewa, hanya sebuah kantor bank sampah di kota Malang. Yang berbeda, kantor bank sampah tersebut tertata apik penuh warna-warni. Tentunya dibutuhkan dana tak sedikit untuk membuat bank sampah serupa itu.

Uang Datang Dari Olahan Hasil Limbah Alam | tas spunbond grosir



Selain unik dan menarik, kreasi dari daun-daun dan bunga kering ini juga tahan lama daripada bunga asli.Harga jual setiap batang bunga berkisar Rp 1.500?Rp 30.000, tergantung dari bahan yang digunakan. Sementara harga jual rangkaian bunga mulai dari Rp 100.000?Rp 350.000 per unit, tergantung kerumitan dan banyaknya bunga dalam satu rangkaian.

Hingga kini pemesanan datang dari wilayah Yogyakarta hingga luar Pulau Jawa. Dalam sebulan dia mengaku dapat menjual 2.500 tangkai hingga 2.800 tangkai bunga, sehingga, omzetnya mencapai Rp 5 juta per bulan.

Dia tidak perlu pusing mendapatkan bahan baku tersebut lantaran bahan-bahan tersebut sangat mudah ditemukan di berbagai tempat dan biasanya sudah tidak terpakai. Selain mudah mendapatkan pasokan, harga setiap bahan bakunya pun murah.

Untuk proses pembuatan cukup mudah. Semua bahan baku dicuci dan dibersihkan kemudian di gambar pola di atasnya sesuai dengan keinginan. Setelah itu dipotong mengikuti pola yang telah dibuat dan diberi pewarna. “Untuk warna terang, bahan baku harus diwarnai putih dulu, kecuali mau warna yang gelap”, jelasnya.

Jenis bunga yang ditawarkan oleh Cendani Dried Flowers cukup banyak. Kayu halus hasil serutan pensil dia bentuk dan diberi warna yang menarik dan dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi produk yang bernilai lebih. Selain itu rumput hamada dia buat menjadi bentuk bunga yang unik. Sementara itu kulit jagung dibuat menjadi bunga mawar dengan berbagai ukuran, bunga anggrek dengan berbagai macam warna, serta bunga ketapang yang terlihat lucu dan unik.

Usaha ini berdiri pada tahun 2004 lalu di Yogyakarta karena kecintaannya terhadap bunga. Dia mengaku awal memulai membuat kerajinan bunga ini dari hasil belajar otodidak dari buku yang ia beli dari toko buku. Dari situ, dia memutuskan untuk membuat karya bunga kering hasil kreativitasnya sendiri. Berbagai bahan limbah tersebut dia sulap menjadi karya seni yang cukup diminati oleh masyarakat.

Pemilihan bahan baku dari daun-daun kering dan bahan baku daur ulang menurutnya dapat berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan.

Berbagai limbah lingkungan yang sering kali menjadi sampah dan terbengkalai bisa menjadi pundi-pundi uang. Lewat ide kreatif dan tangan terampi, sampah-sampah tidak berguna tersebut bisa menjadi produk yang bernilai jual. Inilah yang dilakukan Eni Saputra.

Lewat usaha Cendani Dried Flower, dia membuat kerajinan hiasan bunga dari bahan-bahan limbah, seperti pelepah pusang, daun lontar, kulit jagung hingga kayu hasil serutan pensil. Dia juga menggunakan rumput hamada yang biasa dijadikan bahan baku pembuatan sapu.

Eni Saputra memanfaatkan bahan limbah dari alam seperti hasil serutan pensil, pelepah pisang, daun hamada, dan daun lontar menjadi kerajinan rangkaian bunga yang cantik dan bernilai jual.

Lewat usaha Cendani Dried Flower, produknya banyak dipesan konsumen di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.








Rabu, 01 November 2017

Kantong Plastik Berbayar ,Peluang Bisnis Baru untuk Usaha Mikro

Pemerintah menerapkan kantong plastik berbayar di setiap retail | tas spunbond grosir

tas spunbond grosir



Penerapan kantong plastik berbayar sendiri sudah mulai diterapkan oleh sejumlah mini market, supermarket dan usaha retail lainnya di Pontianak dan sekitarnya. Para pelaku usaha retail mewajibkan para konsumennya untuk membayar Rp200 untuk setiap kantong plastik yang dikeluarkan. “Kami sepakat akan mengikuti aturan ini. Karena data menyebutkan bahwa Indonesia adalah penghasil sampah plastik terbesar nomor dua di dunia, setelah China. Perlu ada aturan untuk mengatasi ini,” ujarnya

Menurutnya kantong plastik belanja gratis malah merugikan peritel lantaran harus mengeluarkan cost yang menjadi beban peritel. Selain itu dana dari kantong plastik berbayar juga bisa digunakan untuk hal bermanfaat, “Apabila kebijakan ini berhasil diterapkan, dana hasil penjualan kantong plastik akan dialokasikan untuk kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam bidang pengelolaan sampah,” jelasnya.

Pendapat serupa juga keluar dari Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Kalimantan Barat, Daniel Edward Tangkau. Penerapan kantong plastik berbayar akan memancing kreativitas masyarakat untuk membawa kantong belanjaan sendiri dari rumah. Hal ini akan membuat penumpukan sampah menjadi berkurang. Selain berdampak buruk untuk lingkungan, kantong plastik gratis juga merugikan pengusaha ritel.

Kendati esensi utama dari aturan itu untuk pengurangan sampah plastik, namun dia mendorong para pelaku usaha mikro untuk memanfaatkan peluang bisnis dari aturan itu. “Kami mendukung para pelaku UMKM untuk berkreasi membuat tas atau keranjang belanjaan yang kokoh sehingga bisa dipergunakan masyarakat dalam membawa belanjaan sehari-hari. Tentu ini menjadi sebuah peluang usaha baru di Pontianak,” sebutnya.

“Ini sisi lain dari kebijakan yang dikeluarkan itu,” kata dia.

“Nantinya akan banyak pengusaha mikro yang membuat tas atau keranjang belanjaan. Kreativitas akan muncul. Tas-tas itu akan dibuat unik dengan berbagai gambar dan ornament. Bahkan ini bisa menjadi oleh-oleh untuk wisatawan. 

Apalagi kalau tas atau keranjang itu unik, dengan gambar ikon Pontianak seperti Tugu Khatulsitiwa atau motif etnik,” jelas dia.Hal yang sama diungkapkan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Pontianak, Haryadi. 

Dia menyebut ke depan masyarakat akan terbiasa membawa tempat khusus dari rumah untuk wadah belanjaan. Tempat yang itulah, lanjut dia, bersumber dari sampah plastik yang didaur ulang oleh pelaku usaha mikro.

Dia menyebut, dengan adanya aturan tersebut maka masyarakat dipaksa untuk mengurangi konsumsi kantong plastik. Namun kata dia, harga plastik berbayar masih terlalu murah. "Seharusnya dibikin saja semahal-mahalnya, supaya orang tidak beli. 

Kalau masih sekitar Rp200, bagi sebagian orang itu tidak masalah. Mereka rela bayar," ucapnya.Lebih lanjut, kebijakan ini juga akan memicu kreativitas masyarakat untuk memproduksi sendiri kantong atau keranjang belanjaan yang lebih kokoh dengan bahan yang ramah lingkungan.

 Pasalnya, masyarakat akan lebih memilih membawa wadah permanent dari rumah, ketimbang mengeluarkan uang untuk membeli kantong plastik. UMKM, sebut dia,  akan banyak membuat tas dan keranjang belanjaan yang akan dijual sebagai pengganti kantong plastik.

PAKAR kimia yang juga rektor Universitas Tanjungpura Thamrin Usman mendukung penuh langkah pemerintah menerapkan kantong plastik berbayar di setiap retail. Menurutnya kebijakan ini adalah langkah maju untuk pelestarian lingkungan sekaligus memajukan ekonomi masyarakat kecil.

"Selama ini Indonesia adalah salah satu penghasil sampah plastik terbesar di dunia. Ini karena kantong plastik di toko dan warung dikasih gratis. Orang tinggal pakai lalu buang. Tidak heran kalau banyak sekali sampah plastik kita," ujarnya kepada Pontianak Post.


Rp200,- untuk Setiap Kantong Plastik, Kenapa Dibebankan kepada Konsumen? | tas spunbond grosir




Sayangnya tulisan saya kali ini sudah cukup panjang, mungkin lain kali akan saya tulis ide-ide saya soal mekanisme pembebanan biaya kantong plastik. Kalau di bayangan saya sih, dengan ide saya nanti konsumen akan yakin bahwa setiap Rp 200,- yang mereka bayarkan akan langsung diterima dan dikelola pemerintah - bukan peritel.

Semoga tulisan saya kali ini bermanfaat, mohon maaf jika ada kalimat yang tidak berkenan atau terkesan sok tahu, sok pintar, dan menggurui. Saya hanya ingin berbagi pendapat, selamat berbelanja!

Entahlah, saya hanya bertanya kenapa jadi mereka yang mengelola uangnya ya, padahal ide pengenaan biaya untuk kantong plastik ini kan digagas pemerintah?

"Jadi kalau sudah disetujui, uang masuk, barulah dilaksanakan program CSR. Selama ini masing-masing perusahaan ritel punya program CSR, tapi belum signifikan. Dengan begitu, uang yang masuk bukan untuk ritel tapi kita kembalikan ke masyarakat," tandas Roy.

Untuk soal ini Aprindo sudah memastikan bahwa uang Rp 200,- yang mereka terima konsumen akan dikembalikan melalui CSR. Peritel akan menyusun program CSR kemudian mengajukan proposal dan mempresentasikannya di depan pemerintah.

Akhirnya, jika pemerintah dan peritel memang bersikukuh menarik biaya untuk setiap lembar kantong plastik, sebaiknya dibuat mekanisme yang membuat konsumen percaya bahwa Rp 200,- yang mereka keluarkan tidak digunakan untuk memperbesar keuntungan si peritel.

Peritel juga bisa memberikan diskon khusus bagi konsumen yang membawa kantong sendiri ketika berbelanja sebagai bentuk apresiasi atas kepedulian konsumen pada lingkungan. Jika selama ini mereka sanggup memberi diskon bagi konsumen yang menjadi member di tokonya atau konsumen yang berbelanja menggunakan kartu kredit tertentu, maka seharusnya mereka juga sanggup memberi diskon pada konsumen yang membawa kantong sendiri. Hitung-hitung sebagai pengganti kantong plastik yang seharusnya mereka berikan cuma-cuma pada konsumen.

Bicara paper bag, saya biasa menyerahkan sebagian hasil pekerjaan pada klien dalam satu kantong kertas khususnya untuk pekerjaan penggandaan DVD dengan jumlah minimal 10 set. Harga 1 pak paper bag yang saya beli ada di kisaran Rp 12.000 dengan isi 12 kantong.

Peritel juga bisa mulai menyediakan kantong kertas (paper bag) seperti yang sudah lama dilaksanakan beberapa toko, satu yang saya tahu adalah The Body Shop. Seingat saya sejak pertama menjadi pelanggan sekitar tahun 2001, produk-produk Body Shop dikemas dalam kantong kertas. Namun masalah dengan kantong kertas adalah kekuatannya. Kantong kertas tidak sekuat kantong plastik saat kita membawa barang-barang berat.

Nah, untuk mendukung program pemerintah tersebut, kenapa kantong kain itu tidak digratiskan selama beberapa waktu? Mungkin ada 1-2 konsumen yang curang dengan belanja berkali-kali supaya dapat kantong gratis, tapi itu bisa dicegah dengan pendataan. Konsumen wajib menunjukkan kartu identitas untuk kemudian diperiksa di database apakah sudah pernah menerima kantong kain atau belum.

Karena niat pemerintah adalah untuk mengurangi limbah kantong plastik, semua pihak harus mulai berupaya mengurangi penggunaan kantong plastik. Peritel misalnya, bisa mulai dengan penyediaan kantong dari bahan lain. Saya tahu memang beberapa peritel sudah sejak lama menyediakan kantong berbahan kain - yang sayangnya tidak gratis.

Sekarang gini, selama ini pihak toko selalu memisahkan belanjaan makanan dengan non-makanan, keduanya ditempatkan dalam kantong yang berbeda sehingga konsumen paling sedikit membawa 2 kantong plastik - meski nilai belanjanya relatif tidak seberapa. Di sini konsumen setidaknya sudah dikenai 2 x Rp 200.

Ataupun lagi, mungkin saja pihak toko hanya bertugas menarik biaya kantong plastik di mana seluruh uang tersebut akan disetorkan ke pemerintah, siapa yang bisa menjamin tidak akan ada kecurangan? Saya yakin pembelian kantong plastik tidak dihitung per lembar sehingga penggunaannya agak sulit dicatat sementara biaya yang dibebankan pada konsumen dihitung per lembar kantong.

Atau jikapun ongkos produksi 1 buah kantong plastik memang Rp 200,- dan toko - katakanlah - tidak mengambil untung sesen pun, pada dasarnya mereka sudah menikmati keuntungan karena laba yang mereka dapat dari barang-barang yang kita beli tidak berkurang saat mereka memberi kantong plastik kepada kita, apalagi kantong plastik bukan barang yang bisa busuk, bisa distok sampai kapan pun.

Para pelaku usaha ritel, kata Roy, sangat mendukung langkah ini. Adapun tujuannya adalah untuk mengurangi limbah kantong plastik dan bukan untuk membebani masyarakat.

"Pak Jokowi yang melaunching uji coba kantong plastik berbayar dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional 2016," ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N Mande seperti dikutip dari Liputan6.com.


Pakai Kantong Plastik di Minimarket kini tak lagi gratis | tas spunbond grosir



Program diet plastik ini telah dilaunching oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya. Dan diantara tarif yang paling murah yakni Kota Surabaya yang hanya Rp.200 saja. “Sebetulnya ini bukan soal mahal atau murahnya. Tapi yang terpenting adalah message-nya, yaitu melatih masyarakat untuk malakukan diet plastik. Untuk di Surabaya kami pakai ketentuan per plastik Rp 200.

 Jadi setiap belanja kalau mau pakai plastik (tas kresek, Red) harus nambah biaya itu,” ucap Walikota Surabaya, Tri Rismaharini dalam peluncuran diet plastik di Surabaya sebagaimana diberitakan Radar Surabaya, 22 Pebruari 2016.

Terhitung mulai tanggal 21 Februari 2016 bahwa penggunaan Kantong Plastik di supermarket, minimarket dan hypermat tidak lagi gratis. Program yang ditetapkan bersamaan dengan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional ini rencananya diterapkan di 22 kota dan 1 provinsi di Indonesia. Harga per kantong plastik bervariasi mulai dari Rp. 200 hingga Rp.5.000 setiap kantong plastik. Ide ini didengungkan seiring dengan kesadaran kepedulian lingkungan yakni diet plastik

Meski murah, Risma mengaku yakin bahwa kampanye diet plastik ini akan berhasil di Kota Pahlawan. “Masyarakat Surabaya itu cerdas, kok. Kalau dia belanja minta lima plastik kan sudah nambah seribu biayanya.

 Jadi bukan perkara mahal atau murahnya, tapi mindset-nya untuk mulai membawa kantong belanja sendiri waktu berbelanja yang tidak berbahan plastik. Kalau nggak cerdas, nggak mungkin Surabaya bisa seperti sekarang,” tutur Walikota Perempuan Kota Surabaya yang menjabat 2 periode ini.



tas spunbond grosir












Jumat, 14 Juli 2017

Mulai 21 Februari, Kantong Plastik Dihargai Rp200

Penerapan kantong plastik berbayar di ritel modern | tas spunbond grosir



tas spunbond grosir


“Sudah sejak lama peritel telah menggunakan kantong plastik belanja yang ramah lingkungan agar lebih mudah terurai,” tutur Roy.

Produksi kantong plastik selama ini memakan biaya cukup besar dan hal itu menjadi beban peritel.

“Apabila kebijakan ini berhasil diterapkan, dana hasil penjualan kantong plastik akan dialokasikan untuk kegiatan CSR bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam bidang pengelolaan sampah,” jelasnya.

“Prinsipnya, kami mendukung upaya pemerintah dalam mengurangi sampah plastik di Tanah Air. Kami melihat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga sudah mulai kampanye perihal pembatasan plastik yang menjadi bagian dalam rantai perdagangan ini, semoga respons masyarakat juga positif,” ujarnya.

Menurut Roy, peritel sebenarnya menyadari dampak negatif yang ditimbulkan dari limbah plastik dalam jangka panjang.

“Kami ingin kebijakan ini dapat dilakukan di seluruh daerah dengan mekanisme yang sesederhana mungkin agar bisa dijalankan dengan baik dan terkontrol,” lanjutnya.

Namun, Aprindo meminta pemerintah untuk melakukan sosialisasi dan edukasi sebelum kebijakan tersebut diterapkan. Peritel juga mengingatkan bahwa mengubah kebiasaan bukanlah suatu hal yang mudah, mengingat selama bertahun-tahun konsumen selalu dimanjakan dengan adanya kantong plastik gratis ketika berbelanja.


Saat ini, kata dia, anggota Aprindo telah mengirimkan usulan secara tertulis ke Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Ketua Umum Aprindo Roy Mandey mengatakan 21 Februari dipilih karena bertepatan dengan dikeluarkannya Surat Edaran (SE) Nomor S.71/Men LHK – II/ 2015 oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun lalu sekaligus bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional.

“Usulan dari para pengusaha ritel, konsumen yang membutuhkan kantong plastik akan dikenai biaya Rp200 per lembar,” katanya, Selasa (2/2).

MENANGGAPI kebijakan pemerintah dalam penerapan kantong plastik berbayar di ritel modern, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) sepakat melakukan uji coba per 21 Februari hingga Juni mendatang.


Belanja Pakai Kresek Plastik Bayar Rp5.000 per Kantong | tas spunbond grosir



Ketika nanti bayar belanja di kasir, mereka tidak dikasih kantong. Kalau minta kantong, harus bayar Rp5.000 kalau di Jakarta," kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman.

Adhi mengatakan seluruh hasil penjualan kantong plastik yang disediakan oleh perusahaan retail minimarket dan pasar swalayan akan dialokasikan untuk pembinaan edukasi konsumen dengan harapan masyarakat sadar untuk mengurangi sampah. 

Namun, beberapa kota menerapkan harga yang lebih tinggi, seperti Balikpapan sebesar Rp1.500 per kantong dan Makassar sebesar Rp4.500 guna mengurangi penggunaan kantong plastik dan membiasakan masyarakat membawa tas belanja sendiri dari rumah.

"Persoalan sampah kewenangannya di pemerintah kota, sementara pemerintah pusat memberikan pendampingan, dukungan, standar dan sebagainya," kata Siti Nurbaya. Siti menjelaskan standar harga minimal untuk satu kantong plastik sebesar Rp200 sesuai mandat menteri.

Uji coba kantong plastik berbayar di Jakarta telah dilakukan sejak sebulan lalu dan akan dievaluasi sebagai tindak lanjut untuk membuat regulasi ke dalam peraturan gubernur (Pergub) atau peraturan daerah (Perda).

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, mengatakan sistem kantong plastik berbayar yang dilakukan serentak di 22 kota, termasuk Bandung, Makassar dan Surabaya, ini akan diuji coba selama enam bulan dengan evaluasi berkala selama tiga bulan sekali.

DKI Jakarta secara resmi memberlakukan sistem kantong plastik berbayar di seluruh tempat perbelanjaan baik pasar swalayan, minimarket maupun pasar tradisional. "Tas kresek atau kantong plastik harus berbayar baik di pasar tradisional maupun di retail-retail modern. Mereka harus membayar paling tidak Rp5.000 apabila ingin membeli tas kresek," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional di kawasan Bundaran HI Jakarta, Minggu (21/2).

Djarot mengatakan deklarasi pemberlakuan kantong plastik berbayar dilakukan karena sebagian besar sampah di Jakarta berasal dari kantong plastik yang baru bisa terurai antara 500-1.000 tahun.


Mulai 21 Februari, Kantong Plastik Dihargai Rp200 | tas spunbond grosir



Menurut Roy, peritel sebenarnya menyadari dampak negatif yang ditimbulkan dari limbah plastik dalam jangka panjang.

“Sudah sejak lama peritel telah menggunakan kantong plastik belanja yang ramah lingkungan agar lebih mudah terurai,” tutur Roy.

Produksi kantong plastik selama ini memakan biaya cukup besar dan hal itu menjadi beban peritel.

“Apabila kebijakan ini berhasil diterapkan, dana hasil penjualan kantong plastik akan dialokasikan untuk kegiatan CSR bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam bidang pengelolaan sampah,” jelasnya.

Namun, Aprindo meminta pemerintah untuk melakukan sosialisasi dan edukasi sebelum kebijakan tersebut diterapkan. Peritel juga mengingatkan bahwa mengubah kebiasaan bukanlah suatu hal yang mudah, mengingat selama bertahun-tahun konsumen selalu dimanjakan dengan adanya kantong plastik gratis ketika berbelanja.

“Prinsipnya, kami mendukung upaya pemerintah dalam mengurangi sampah plastik di Tanah Air. Kami melihat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga sudah mulai kampanye perihal pembatasan plastik yang menjadi bagian dalam rantai perdagangan ini, semoga respons masyarakat juga positif,” ujarnya.

Usulan dari para pengusaha ritel, konsumen yang membutuhkan kantong plastik akan dikenai biaya Rp200 per lembar,” katanya, Selasa (2/2).

Saat ini, kata dia, anggota Aprindo telah mengirimkan usulan secara tertulis ke Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Kami ingin kebijakan ini dapat dilakukan di seluruh daerah dengan mekanisme yang sesederhana mungkin agar bisa dijalankan dengan baik dan terkontrol,” lanjutnya.

MENANGGAPI kebijakan pemerintah dalam penerapan kantong plastik berbayar di ritel modern, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) sepakat melakukan uji coba per 21 Februari hingga Juni mendatang.

Ketua Umum Aprindo Roy Mandey mengatakan 21 Februari dipilih karena bertepatan dengan dikeluarkannya Surat Edaran (SE) Nomor S.71/Men LHK – II/ 2015 oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun lalu sekaligus bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional.