Tampilkan postingan dengan label jual spunbond motif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jual spunbond motif. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Desember 2017

Plastik Berbayar Peluang UMKM Bikin Tas Belanja

Paper bag pengganti tas kresek | jual spunbond motif



jual spunbond motif


Endah menjelaskan, dari 41 pasar tradisional di Sleman setiap hari mengangkut 20 ton sampah yang didominasi sampah plastik. Dalam setahun, sampah yang keluar dari pasar-pasar di Sleman bisa mencapai 7300 ton. “Butuh waktu setidaknya lima tahun untuk mengurangi kebiasaan masyarakat menggunakan tas kresek,” tuturnya.

“Sebab, jika barangnya tidak ada. Mau tidak mau, masyarakat akan beralih. Hasil penjualannya kemana, juga tidak jelas,” tegasnya.

Kepala Dinas Pasar (Dinsar) Sleman, Endah Tri Yitnani mendukung upaya mengurangi produksi plastik dari pabrikan. Menurutnya, jika pemerintah berniat mengurangi penggunaan kantong plastik, pembatasan produksi dan peredaran tas kresek dari pabrik juga perlu dilakukan.

“Seperti sayur yang masih basah. Atau tidak bisa digunakan saat musim hujan seperti ini. Untuk itu, sosialisasi terkait kebijakan ini harus dilakukan bersama-sama, jangan sendiri-sendiri,” ujarnya lagi.

Meski begitu, dia mengaku paper bag pengganti tas kresek tersebut harus dimodifikasi ulang agar kekuatannya lebih tahan lagi. Sebab, kelemahan paper bag tidak kuat ketika terkena air atau barang bawaan yang basah.

“Kalau menggunakan plastik, terurainya lama. Itu bisa diganti dengan paper bag. Ini merupakan peluang bagi UMKM yang banyak tersebar di Depok, Gamping dan wilayah lainnya,” kata Pustopo dikutip dari Harianjogja, Senin (29/2/2016).

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindakop) Sleman, Pustopo mencontohkan paper bag atau tas dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan lainnya.

Kebijakan plastik berbayar di sisi lain menjadi peluang bagi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang memproduksi tas-tas dengan ramah lingkungan.

Enviplast Kantong Plastik Berbahan Singkong Sudah Diekspor hingga ke Madagascar | jual spunbond motif



"Karena kalau kita mau buka pabrik di daerah masing-masing tidak mungkin. Kita akan gandeng bagi siapa saja yang berminat untuk memproduksinya sendiri, kan lebih baik," ucapnya.

Sejauh ini, kantong Enviplast yang diproduksi di Tangerang ini juga sudah diekspor ke sejumlah negara, di antaranya ke Madagascar, Korea, serta Kolumbia. 

Herman menambahkan, pihaknya membuka lebar kesempatan jika ada daerah yang ingin memproduksi kantong organik ini sendiri.

Jika nantinya akan digunakan massal di seluruh Indonesia, kemungkinan dibutuhkan lebih dari 100 ribu ton singkong untuk pemenuhan kebutuhan kantong.

Saat ini, produksi Enviplast memang masih sedikit sekitar 20 ton singkong dalam sebulan.

Tak hanya itu, kantong dengan aroma khas singkong ini pun juga lebih elastis dan sementara waktu dengan ukuran sedang ini dapat menampung barang maksimal total berat 3 kilogram.

Kantong yang diberi nama "Enviplast" ini teksturnya lebih tebal dan berat dibanding kantong plastik biasa.

Ide awalnya diperoleh karena Indonesia sangat besar memproduksi ubi kayu atau singkong di dunia, sehingga dirasa sayang jika tak digunakan maksimal.

Hanya saja, secara massal pabriknya baru memproduksi kantong ini dalam beberapa pekan terakhir.

Disela launching di Lippo Plaza Mall Jakabaring Palembang, Minggu (21/2/2016), Direktur PT Inter Aneka Lestari Kimia Herman Moeliana mengungkapkan ide pengembangan kantong berbahan organik ini telah dimulai sejak 20 tahun lalu.

PT Inter Aneka Lestari Kimia sebagai produsen kantong berbahan organik sengaja memilih Palembang sebagai kota pertama dalam penggunaan kantong pengganti plastik.

Kantong plastik di supermarket & minimarket kembali gratis | jual spunbond motif



"Pada prinsipnya, Aprindo akan tetap mendukung program pemerintah. Namun kami berharap Permen terkait Penerapan Kantong Plastik Tidak Gratis dapat segera diterbitkan, agar pelaksanaannya dapat berjalan lebih optimal dan sesuai dengan tujuan bersama. Aprindo juga siap memberikan masukan terkait Permen tersebut," tandasnya.

Menurut Roy, hal tersebut mengakibatkan sebagian peritel mundur dari komitmennya untuk menjalankan uji coba tersebut di tokonya, sehingga ditengarai memicu persaingan bisnis yang tidak sehat di industri ritel modern.

Beberapa Pemerintah Daerah (Pemda), bahkan telah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) tentang pengelolaan sampah khususnya penanganan limbah kantong plastik, yang isinya tidak sejalan dengan SE KLHK.

"Hal ini masih saja terjadi meskipun kami telah melakukan sosialisasi program melalui berbagai media, personel toko, memasang Surat Edaran Dirjen KLHK, serta sarana informasi di toko-toko anggota Aprindo," imbuhnya.

Namun pada perjalanannya, sambung Roy, uji coba program tersebut kian banyak menuai pro kontra di berbagai kalangan masyarakat sementara Permen LHK belum kunjung diterbitkan. Peritel modern menerima kritikan dari masyarakat yang berujung pada ancaman tuntutan secara hukum, karena dianggap memungut biaya tanpa berdasarkan peraturan hukum yang kuat.

"Untuk itu, pemerintah saat itu memutuskan untuk melanjutkan uji coba tersebut dengan mengeluarkan Surat Edaran Dirjen KLHK No. SE/8/PSLB3/PS/PLB.0/5/2016 tentang Pengurangan Sampah Plastik Melalui Penerapan Kantong Belanja Plastik Sekali Pakai Tidak Gratis sambil menunggu Peraturan Menteri yang tengah dikaji," tutur Roy.

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terlihat penurunan penggunaan kantong plastik sebesar 25-30 persen selama masa uji coba 3 bulan pertama, di mana 87.2 persen masyarakat menyatakan dukungannya dan 91.6 persen bersedia membawa kantong belanja sendiri dari rumah.

"Selama masa uji coba, pengelola ritel modern melaporkan pengeluaran kantong plastik kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Aprindo dan hasilnya menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah," terangnya.

Roy menuturkan, tujuan diterapkannya program kantong plastik tidak gratis untuk mendukung upaya pemerintah dalam mengurangi jumlah penggunaan kantong plastik di Tanah Air. Sebelumnya, uji coba serupa berhasil dijalankan selama periode 21 Februari hingga 31 Mei 2016.

"Setelah mempertimbangkan secara masak dampak yang berkembang, kami memutuskan menggratiskan kembali kantong plastik di seluruh ritel modern, mulai 1 Oktober 2016 hingga diterbitkannya Permen KLHK yang berkekuatan hukum," jelas Roy N Mandey, Ketua umum Aprindo, Jumat (30/9).

 Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memberhentikan program kantong plastik berbayar yang dijalankan toko ritel modern di seluruh Indonesia. Program kantong plastik berbayar Rp 200 menimbulkan pro dan kontra di seluruh Indonesia. 













Senin, 18 September 2017

Konsumen Didorong Gunakan Tas Belanja Ramah Lingkungan

Indonesia terdaftar sebagai negara penghasil sampah plastik di laut terbesar di dunia | jual spunbond motif

jual spunbond motif

Selain itu, kata dia, Tempo Scan juga telah menyiapkan 740.000 shopping bag yang tersedia di gerai-gerai pasar modern secara nasional.

"Selain bisa digunakan secara berulang kali, konsumen tentunya akan mendapatkan keuntungan tambahan lain sepanjang program ini berlangsung mulai 1 Mei hingga 31 Juli 2016," tambahnya.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Tempo Scan Pasifik Tbk, Handojo S Muljadi, mengatakan, program Tempo Scan Love Earth merupakan program kepedulian lingkungan yang diinisiasi Tempo Scan melalui tas belanja ramah lingkungan bekerjasama dengan mitra retail modern market nasional.

"Melalui program ini, kami menjalin kerjasama dengan mitra seperti Hypermart, Carrefour, Alfamart, Giant, Superindo dan lainnya. Konsumen akan terus didorong menggunakan tas ramah lingkungan secara berkelanjutan, dengan pemberian sejumlah insentif menarik saat mereka berbelanja," beber Handojo.

Pemerintah, lanjut dia, tentunya tak bisa sendirian dalam meminimalisir sampah plastik dan membutuhkan dukungan serta keterlibatan dari berbagai pihak, termasuk peran swasta.

"Beberapa kota telah berhasil mereduksi sampah plastik hingga lebih dari 80 persen, Balikpapan dan Banjarmasin termasuk yang paling bagus dalam pengurangan sampah plastik," tambahnya.

Kondisi ini tentunya harus disikapi secara serius, termasuk langkah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang merilis kebijakan kantung plastik berbayar di 23 kota untuk meminimalisir penggunaan dan konsumsi kantong plastik.

"Untuk tahap awal diterapkan di 23 kota, dan akan terus ditingkatkan. Program tersebut mengarah kepada penyadaran untuk mengubah kebiasaan masyarakat dalam hal pemakaian kantung plastik," ujar Dirjen Pengelolaan Sampah dan Bahan Beracun KLHK disela-sela peluncuran program Tempo Scan Love Earth, di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan.

Berdasarkan data Jenna Jembeck, Indonesia terdaftar sebagai negara penghasil sampah plastik di laut terbesar di dunia (setelah Tiongkok yang menduduki peringkat pertama), dengan volume sampah sebanyak 187,2 juta ton per tahun. Kondisi ini tentunya mengindikasikan rendahnya kesadaran, ditambah masih sedikitnya edukasi tentang bahaya konsumsi plastik secara berlebihan.

Carrefour Siapkan Kantong Plastik Ramah Lingkungan | jual spunbond motif



"Kami terus memperkenalkan green bag tersebut dan menawarkan pada pelanggan untuk dipakai berulang-ulang. Gerakan ini tersebar di 25 store Carrefour di Jakarta dengan target Rp 50 juta penjualan. Namun, gerakan ini hanya dilakukan hari ini saja (dalam rangka ulang tahun DKI Jakarta)," tutur Hendrik.

Niat baik ini tentu saja disambut dengan gembira oleh Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik. Menurut Tiza, retailer punya pengaruh yang besar terhadap pasar menengah ke atas. "Karena jumlahnya yang banyak, sekarang ini baru Carrefour yang bersedia melakukannya bersama kami," timpal Tiza.

Hendrik menambahkan, masyarakat belum terlalu peduli mengenai hal ini karena sebagian dari mereka merasa haknya sebagai konsumen dirampas untuk mendapatkan kantong plastik. Untuk itu Carrefour menyediakan kantong plastik ramah lingkungan yang bisa didapatkan dengan harga Rp 400 untuk plastik ukuran besar, dan Rp 200 untuk plastik ukuran kecil. Seluruh penjualan plastik tersebut akan disumbangkan semuanya untuk Ciliwung Institute.

"Ada beberapa bahan makanan yang ketika dibeli di supermarket memang memerlukan kantong plastik, namun kita juga dapat menggunakannya secara bijak," jelasnya.

Menurut Tiza Mafira, Humas Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, kegiatan ini bukan untuk menghentikan penggunaan kantong plastik, melainkan mengurangi penggunaannya.

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, konsumsi plastik penduduk Indonesia setiap harinya mencapai 23.600 ton. Untuk DKI Jakarta sendiri, jumlahnya kurang lebih mencapai 8.000 ton setiap hari, di mana 1.060 ton merupakan sampah plastik. Bayangkan jika jumlah tersebut naik setiap hari?

"Kami mengajak para konsumen untuk saling menjaga keselamatan lingkungan untuk kita dan generasi kita selanjutnya. Memang edukasi kepada konsumen masih sulit dilakukan, tapi kami tidak hanya akan berhenti di situ saja," papar Hendrik Adrianto, Head of External Communication & CSR, PT Trans Retail Indonesia kepada KompasFemale di Carrefour Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (12/6/2013).

Namun, menyadarkan masyarakat Indonesia untuk mengurangi penggunaan kantong plastik tentu membutuhkan waktu yang bertahap. Sebagai bagian dari komitmen PT Trans Retail Indonesia untuk mendukung gerakan penyelamatan lingkungan, Carrefour mendukung Gerakan Diet Kantong Plastik untuk mengurangi penggunaan kantong plastik di kota Jakarta.

Masyarakat Indonesia selama ini tampak kurang menyadari dampak besar yang akan dihasilkan jika memakai kantong plastik secara berlebihan. Dampaknya tidak hanya pada lingkungan, tapi juga pada keberlangsungan kehidupan anak cucu Anda kelak.


Belanja Tanpa Kantong Plastik | jual spunbond motif



Yang bisa dijadikan contoh mungkin toko The Body Shop. Sejak dua tahun lalu, seluruh gerai yang menjual produk perawatan tubuh ini sudah menggunakan kantong kertas yang 80% bahannya adalah daur ulang (post consumers recycled papers) sebagai kantong belanja. Mereka juga menjual Bags For Life (Green Bag) yang terbuat dari cotton organic bagi konsumen yang ingin terus membawa kantong sendiri saat berbelanja."Annita Roddick, pendiri The Body Shop, sangat peduli lingkungan," urai PR Manager The Body Shop Indonesia Ratu Maulia Ommaya. 

Jika melihat banyaknya elemen masyarakat yang sudah mengampanyekan pengurangan penggunaan kantong plastik, seharusnya keinginan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang menargetkan Ibu Kota ini bebas kantong plastik mulai 2011 bisa terwujud.

Soalnya konsumen kita tak terbatas individu, tapi juga korporasi," ujar Sano.Memang, beberapa minimarket dan supermarket sudah mulai peduli terhadap kampanye pengurangan kantong plastik. Peritel modern seperti Carrefour dan Circle K sudah menjual tas yang ramah lingkungan sebagai alternatif pengganti kantong plastik.

Produk kedua adalah tas berbahan nilon dengan kapasitas hingga 10 kg yang bisa dilipat hingga seukuran dompet panjang.Yang menarik, tas ini bisa juga dijadikan gantungan kunci. Jadi bagi mereka yang sering lupa, bisa langsung mengaitkannya dengan kunci rumah atau kunci mobil saat bepergian. Dengan bentuk yang menarik sekaligus praktis, permintaan terhadap tas tersebut cukup banyak. Sano mengaku kewalahan melayani permintaan yang terus meningkat."Karena banyak permintaan, kita ada rencana untuk menambah kapasitas.

Usaha yang lebih konkret lagi dilakukan Mohammad Bijaksana Junerosano, 28, pendiri Greene-ration Indonesia. Greeneration Indonesia adalah perusahaan yang menjual produk ataupun jasa yang berkaitan dengan gaya hidup hijau. Salah satu brand mereka, BaGoes, memproduksi tas/kan-tong belanja ramah lingkungan.Ada dua produk unggulan BaGoes. 

Yang pertama ialah tas ber-bahanlakenberestletingyangbisa dilipat kecil hingga seukuran dompet. Tas tersebut dapat menahan berat hingga 3-5 kg.

Demi menyebarkan informasi "menyeramkan" serta mengajak sebanyak mungkin orang untuk mengurangi penggunaan plastik, Thrio akhirnya membuat cause "Kurangi Kantong Plastik" di Facebook. Cause adalah salah satu layanan yang disediakan Face-.book untuk mendukung kampanye atau goal tertentu. Cause "Kurangi Kantong Plastik" yang aktif sejak pertengahan tahun lalu itu sekarang sudah mencatat 176.552 dukungan.

Ujung-ujungnya, warga dunia akan merasakan efek pemanasan global yang kini mulai terasa dan terlihat dampaknya di berbagai belahan dunia.

Contoh paling sederhana adalah plastik polimer sintetik atau plastik yang terbuat dari polyethylene (PE). Plastik ini lebih dikenal masyarakat sebagai kan-tong/tas kresek. Ketika dibuang, kantong plastik ini butuh waktu ratusan tahun agar bisa diurai tanah.Selama waktu yangpanjang itu.plastikakan mencemari tanah. Mau dibakar? Sama bahayanya.

Karena asap dari kantong kresek dapat menimbulkan senyawa berbahaya. Semakin ironis karena untuk membuat kantong plastik dibutuhkan ratusan ribu galon minyak bumi, yang bisa menimbulkan efek rumah kaca. 

Plastik memang musuh lingkungan yang belum banyak diketahui orang. Kalaupun tahu, kebanyakan memilih untuk tidak peduli atau pura-pura tidak tahu. Wajar saja, kantong plastik yang selalu diberi gratis saat berbelanja memang menawarkan kepraktisan untuk membawa bawang belanjaan.Padahal di balik kemudahan itu, plastik menyimpan bahaya yang menyeramkan. Bahan-bahan plastik kebanyakan mengandung racun yang tak hanya merusak tanah, tapi juga organ tubuhmanusia.

Kebiasaan yang kurang lebih sama itu juga dilakukanThrio Haryanto, 34. Thrio lebih suka menenteng tiga buku yang baru dia beli dibandingkan harus memasukkannya dalam kantong plastik."Sebagian mungkin menganggap aneh, termasuk kasir yang melayani saya. Ngapain beli buku banyak, tapi tidak mau diberi kantong plastik gratis? Justru dengan mengatakan ke kasir bahwa plastik itu tidak baik, paling tidak mereka jadi tahu," jelas Thrio.

Kebiasaan menolak kantong plastik ini sudah dilakukan Yuliana sejak setahun lalu. Ia menyebut aksi ini sebagai, "bentuk paling kecil yang bisa dilakukan untuk memperbaiki lingkungan"."Soal buang sampah,terkadang saya masih suka sembarangan. 

Nah, menolak kantong plastik atau membawa tas belanja sendiri, buat saya lebih gampang," katanya. "Biasanya sayamernbawa tas yang bisa dilipat atau kantong plastik bekas dari rumah. Kalau perlu tinggal dipakai, praktis," tambah dia.

GERAKAN mengurangi penggunaan kantong plastik semakin menggema. Cara yang dilakukan pun beragam. Mulai aksi pribadi, membuat cause di Facebook, hingga berbisnis tas ramah lingkungan."Enggak usah pakai plastik, Mbak. Nanti saya masukkan ke tas saja," ujar Yuliana, 24, saat berbelanja di sebuah minimarket. Selesai membayar, barang belanjaan itu lantas diselipkan dalam tas ransel ukuran sedang yang dipanggulnya.













Senin, 03 Juli 2017

Koja Tas Ramah Lingkungan Dari Suku Baduy

Suku Baduy dikenal sebagai masyarakat tradisional yang mempertahankan tradisi nenek moyang | jual spunbond motif


jual spunbond motif


Tas koja digunakan masyarakat Baduy untuk membawa alat-alat pertanian, atau ketika melakukan perjalanan. Dengan pakaian adat, ikat kepala, ditambah tas koja, membuat masyarakat Baduy sangat bersahaja.

Tas koja menjadi salah satu tanda identitas dari masyarakat Baduy. Lebih luas lagi, bukan hanya masyarakat Baduy, masyarakat Banten pada umumnya juga memakai tas dari Baduy ini sebagai ciri khas masyarakat Banten. Tidak hanya dipakai pada aktivitas seni-budaya, tas tersebut juga dipakai para pelajar asal Banten yang bersekolah di luar daerah, sebagai wadah buku dan pena.

Saat ini, tas koja khas Baduy dapat dipakai masyarakat luar. Koja menjadi salah satu dari sekian banyak produk lokal Baduy yang dijadikan oleh-oleh. Seperti halnya kain sarung, peralatan dapur, ikat kepala, baju tradisional, dan kerajinan tangan lain dikirim ke luar Baduy untuk dapat dipakai masyarakat luar.

Saat Anda ke Baduy, buah tangah Suku Baduy mudah didapat. Toko-toko kecil maupun pedagang asongan banyak terdapat di Terminal Ciboleger yang menjadi gerbang masuk menuju kawasan masyarakat tradisional Baduy.

Di daerah lain di Banten, kulit pohon teureup ini dijadikan bahan tali untuk mengikat tumpukan kayu bakar agar mudah dibawa. Kayu ini terkenal sangat kuat, maka tidak salah jika masyarakat Baduy menjadikan kulit kayu ini sebagai wadah untuk membawa perkakas pertanian yang cukup berat.

Tas Koja terbuat dari kulit pohon pohon teureup. Pohon ini banyak terdapat di wilayah Baduy. Pohon teureup merupakan kerabat nangka. Pohon teureup banyak terdapat di wilayah Baduy. Kulit teureup harus dijemur lebih dahulu agar lebih kuat. Setelah kering, kulit teureup kering dibelah kecil-kecil. Belahan kayu ini yang kemudian dibentuk benang yang menjadi bahan pembuatan tas. Meski kuat, tentu tas dari kulit kayu ini mudah terurai dalam tanah.

Tas koja berbentuk tidak terlalu besar dengan warna alami cokelat. Koja dibuat dengan anyaman berlubang sehingga isi koja bisa dilihat dari luar. Tas ini bertali selendang cukup panjang sehingga bisa dipakai menyilang di pundak atau selendangkan.

Ketradisionalan masyarakat Baduy bisa dilihat dari pakaian yang dikenakan. Selain pakaian, penunjang aktivitas sehari-hari bisa menjadi ciri lain, salah satunya tas berbahan alami bernama koja. Koja merupakan wadah untuk menunjang kegiatan sehari-hari masyarakat Baduy.

Suku Baduy, Kabupaten Lebak, Banten, memiliki seribu kearifan lokal untuk menjadi pembelajaran bagi masyarakat lain. Suku Baduy dikenal sebagai masyarakat tradisional yang mempertahankan tradisi nenek moyang dan senantiasa menjaga alam lingkungan tempat tinggalnya.


Rotary Solo Kampanyekan Belanja Cantik Tanpa Plastik | jual spunbond motif 



Sementara itu, Public Relation (PR) RC Solo Kartini, Febri Dipokusumo, menyampaikan RC Solo Kartini yang dibantu Rotaract Solo Pakarti total membagikan 111 tas belanja kepada pengunjung Pasar Gede. Jumlah tas belanja tersebut, menurut dia, menyesuikan dengan perayaan HUT ke-111 Rotary International yang jatuh pada 23 Februari lalu.

Sementara itu, warga Kelurahan Manahan, Kecamatan Laweyan, Solo, Ny. Imam, 71, mengaku senang mendapatkan tas kain gratis dari sukarelawan RC Solo Kartini. Ny. Imam menginginkan pemerintah untuk mengadakan sosialiasi diet kantong plastik kepada masyarakat sekaligus membagikan tas kain.

“Semoga kami bisa mengajak masyarakat untuk bisa berbelanja tanpa menggunakan kantong platik. Kami mengusung tema ‘belanja cantik tanpa plastik’ untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa belanja sambil membawa tas kain bisa terlihat lebih cantik ketimbang menenteng kresek atau kantong plastik,” jelas Maria Dhody.

Dia berharap tas kain yang dibagikan sukarelawan RC Solo Kartini terus digunakan masyarakat setiap kali belanja.

Maria mengatakan kampanye Stop Plastik di Pasar Gede sebagai wujud kepedulian RC Solo Kartini terhadap lingkungan hidup serta mendukung program diet kantong plastik dari pemerintah pusat.

“Kami sampai kehabisan stok tas belanja karena diminati para pengunjung Pasar Gede. Kami sebenarnya berniat menyisihkan satu tas untuk digunakan belanja sendiri. Kami ingin mencontohkan secara langsung ‘belanja cantik tanpa plastik’,” kata President RC Solo Kartini, Maria Dhody, di sela-sela kegiatan, Kamis.

Kehadiran belasan ibu-ibu itu spontan mendapat sambutan meriah. Mereka langsung dikerubungi puluhan pengunjung Pasar Gede. Tas belanja yang terbuat dari kain tersebut bahkan langsung ludes tidak lama setelah belasan sukarelawan RC Solo Kartini memasuki Pasar Gede.

Anggota dan pengurus Rotary Club (RC) Solo Kartini membagi-bagikan tas belanja gratis di depan Pasar Gede Solo, Kamis (25/2/2016).


STARTIC Melejit Berkat Sak Semen | jual spunbond motif 



AV Peduli juga siap merilis produk premium, yaitu kombinasi kain etnik songket dan kulit yang didukung material kualitas premium juga. Produk akhirnya juga kini tidak hanya tas tetapi juga sudah mulai merambah ke aksesoris laptop, sepatu, dan produk lain yang diminati pasar, termasuk Ecofashion for Men.

STARTIC Ecofashion yang baru saja Young Social Entrepreneur 2015 dari Singapore International Foundation ini juga berupaya meningkatkan kapasitas produksi, baik kuantitas maupun kualitas, dengan memberdayakan lebih banyak kalangan masyarakat untuk memenuhi tawaran pemasaran di butik potensial yang sudah masuk. “Kami terus mengembangkan strategi agar dapat lebih menjangkau pangsa pasar di luar negeri yang sangat menghargai produk handmade dan berkonsep ramah lingkungan,” kata dia.

Saat ini, AV Peduli memiliki jaringan showroom di toko oleh-oleh Mirota, Galeri Bandara Juanda Terminal 1, galeri milik pemerintah lainnya, serta butik-butik ternama. Ada juga penjualan langsung ke Manado, Balikpapan, dan kota-kota besar lainnya di seluruh Indonesia. “Untuk online, saat ini sedang dalam tahap dikembangkan, ada di startic.avpeduli.com dan instagram @heystartic,” kata dia.

“Dari sinilah, kita bisa follow up sehingga sudah bisa ekspor meskipun masih skala kecil ke beberapa negara, yang sampai saat ini repeat order dari Belanda, Singapura, dan Australia,” katanya.

Vani mengakui minat paling besar datang dari luar negeri, yang memang lebih menghargai produk-produk daur ulang. Itu kenapa AV Peduli mengikuti seleksi pemerintah daerah hingga terpilih menjadi produk unggulan Jawa Timur dan mendapat stand gratis di pameran bergengsi seperti Trade Expo Indonesia, INACraft, dan lainnya.

Dengan dibantu 11 perajin utama serta dukungan bahan baku dari bank sampah binaan, warga sekitar yang sedang membangun, serta beberapa kontraktor proyek, AV Peduli sudah mampu membuat ratusan tas produk ritel dan ribuan unit pesanan khusus. Harganya berkisar Rp 50-180 ribu per unit untuk yang full daur ulang. “Untuk produk daur ulang yang dikombinasikan dengan kain etnik seperti songket dan kulit, saat ini harganya bisa mencapai Rp 600 ribu,” katanya.

Inilah latar belakang pembuatan tas daur ulang yang tetap fashionable dan membuat orang bangga memakainya dengan brand STARTIC, Artistic Ecofashion. Sak semen yang bisa mengangkut puluhan kilo itu adalah alasan utama digunakan sebagai bahan baku tas. “Kami juga sudah mengadakan penelitian didukung Universitas Airlangga untuk formula pelapis alami sehingga hasil akhirnya bisa menyerupai kulit dan sudah tahan air,” ujar dia.

“Masalah sampah sudah bukan sekadar di proses pengolahan, tetapi juga setelahnya, yaitu penjualannya. Mayoritas produk daur ulang masih kelihatan dari sampah sehingga orang enggan memakainya,” kata Vani.

Dunia fesyen tak melulu diramaikan produk baju dan celana trendi. Belakangan, model tas baru yang unik banyak bermunculan. Tapi, hanya sedikit yang menawarkan tas dengan bahan daur ulang, seperti AV Peduli yang mengolah sak semen sebagai bahan baku tas. Duet kakak-adik, Agnes dan Vania Santoso mendirikan AV Peduli sejak 2005 silam beranggotakan anak-anak muda kreatif. Klub yang dirancang sebagai Duta Lingkungan Hidup di kawasan Asia-Pasifik ini tertantang untuk membantu menyelesaikan masalah sampah di Indonesia.