Tampilkan postingan dengan label goody bag seminar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label goody bag seminar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 November 2017

Bergelut dengan Limbah, Puluhan Ibu di Aceh Tamiang Lebih Produktif

Memanfaatkan limbah kelapa sawit menjadi sebuah kerjainan | goody bag seminar



goody bag seminar


Pelaku ekonomi kreatif juga telah mengakses permodalan dari bank dengan cukup baik. Pada 2016, permodalan yang diakses dari perbankan yaitu Rp 7,668 triliun dan melampaui target yang hanya sebesar Rp 4,9 triliun.

Sementara, pada 2017 tercatat pelaku ekonomi kreatif mengakses modal dari perbankan sebesar Rp 192, 9 miliar dari target Rp 280 miliar. Total capaiaannya yakni Rp 7,86 triliun.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo mengungkapkan, mendukung UMKM dan ekonomi kreatif dapat mendorong penciptaan sumber-sumber ekonomi baru. Selain itu, dapat juga mendorong pengembangan ekonomi daerah, penciptaan lapangan kerja khususnya bagi perempuan dan mengangkat citra bangsa.

Bila ditinjau dari status gender, 62,84 persen tenaga kerja Indonesia pada 2015 adalah laki-laki. Sisanya atau 37,16 persen adalah perempuan. Namun, ekonomi kreatif justru membalik fakta itu. Berdasarkan data Bekraf, perempuan mendominasi ekonomi kreatif yaitu sebesar 53,68 persen dan sisanya sebesar 46,52 persen laki-laki.

Sementara, tiga negara tujuan ekspor komoditi ekonomi kreatif terbesar pada 2015 yaitu Amerika Serikat 31,72 persen kemudian Jepang 6,74 persen, dan Taiwan 4,99 persen.

Memang, dalam pengembangan ekonomi kreatif masih ada sejumlah kendala. Salah satunya adalah kendala dari ekosistem bisnis dan investasi. Selain itu, infrastruktur penunjang kegiatan para pelaku usaha ekonomi kreatif juga perlu ditingkatkan.

Sub-sektor kuliner tercatat berkontribusi sebesar 41,69 persen, kemudian fashion sebesar 18,15 persen, dan kriya sebesar 15,70 persen. Selain itu, ada empat sub-sektor yang juga sangat potensial menjadi kekuatan ekonomi baru seperti film, musik, seni, dan game.

Empat sub-sektor ini terlihat mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Industri film bertumbuh sekitar 10,28 persen, musik tumbuh 7,26 persen, seni/arsitektur 6,62 persen, dan game tumbuh sekitar 6,68 persen.

Bekraf mencatat, kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB Indonesia pada 2014 adalah Rp 784,82 triliun dan meningkat 8,6 persen pada 2015 menjadi Rp 852 triliun. “Dari total kontribusi tersebut, sub-sektor kuliner, kriya, dan fashion memberikan kontribusi terbesar pada ekonomi kreatif,” katanya.

Bekraf juga terus berupaya meningkatkan kesadaran para pemangku kepentingan untuk menyadari betapa pentingnya upaya bersama mendorong sektor ekonomi kreatif lain. Termasuk, sub-sektor film, animasi dan video, desain produk, desain komunikasi visual, televisi, radio, musik, periklanan, dan penerbitan. 

Triawan menegaskan ekonomi kreatif terbukti mampu menjadi sumber dan kekuatan ekonomi baru. “Di masa depan, ekonomi tidak semata-mata bergantung pada sumber daya alam mentah,” katanya dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9 di Kantor Staf Presiden, Selasa (17/10/2017).

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf berencana mengembangkan sejumlah sektor lainnya seperti games, aplikasi, musik, dan film.

“Fashion, kuliner, dan crafts (kerajinan tangan) itu sudah besar dan kami mau akselerasi. Ada lagi yang menjadi prioritas mau dikembangkan adalah games, aplikasi, musik, dan film,” katanya.

Sambil mengisi waktu luang, ternyata para perempuan di Aceh Tamiang bisa menghasilkan produk berkualitas yang layak dipamerkan di Galery Ajang Ambe, show room yang menampung lebih dari 40 mitra UMKM di wilayah Aceh Tamiang.

Sebelumnya, Presiden RI Joko Widodo mengatakan, sektor industri kreatif memiliki potensi pasar yang besar di Indonesia. Oleh sebab itu, industri kreatif harus digarap dengan baik.

Para pengrajin juga mencari bahan alam lainnya yang bisa diolah menjadi sumber penghasilan, misalnya eceng gondok, daun serai, ilalang, dan serat gedebong pisang untuk mengembangkan produk anyaman.

Segenap kreativitas para perempuan itu terwujud dalam bentuk tas jinjing, tas laptop, kotak tisu, hingga sapu lidi. Adapun, produk tersebut dibandrol mulai dari Rp 20.000 hingga Rp 200.000.

Usaha kecil tersebut dibentuk sebuah BUMN minyak dan gas sejak 2013 lalu. Pendampingan dari BUMN tersebut berupa pemberian materi pelatihan produksi, pemasaran, dan permodalan cukup membantu masyarakat untuk menghasilkan produk berkualitas.

Selain itu, kelompok pengrajin juga mendapat bantuan modal untuk mengembangkan usahanya.

 Sekelompok masyarakat pengrajin anyaman di Kampung Paya Bedi, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang memanfaatkan limbah kelapa sawit yang ada di lingkungan tempat tinggalnya.

Kelompok pengrajin yang terdiri atas 24 ibu rumah tangga itu setiap hari menghasilkan produk kerajinan tangan yang dibuat dari limbah kelapa sawit, seperti pelepah pohon.


Pria Ini Sulap Limbah Jadi Miniatur Berharga Jutaan Rupiah | goody bag seminar



Sang perajin mengaku senang dengan usahanya ini, karena ikut mengurangi dampak kerusakan lingkungan akibat limbah barang elektronik maupun otomotif. 

Ia berharap produk miniatur barang bekas karyanya mampu menginspirasi warga yang lain, untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan memanfaatkan barang bekas menjadi produk yang lebih berharga. 

Hasil kreativitas Agung, kini laku di pasaran. Satu produk miniatur vespa dan Harley Davidson biasanya dijual mulai dari Rp 150 ribu hingga lebih dari Rp 1 juta. Tinggi rendahnya harga karya seni ini tergantung dari tingkat kerumitan.

"Untuk pembelinya justru banyak dari luar kota, sepekan yang lalu saya kirim tujuh unit ke Jakarta. Selain pasar lokal, ada juga teman yang ikut menjualkan untuk pasar luar negeri melalui media online," kata Agung

Agar lebih terlihat sempurnya, produk kerajinan barang daur ulang tersebut diwarnai menggunakan cat semprot. Selain itu, setiap miniatur juga dilengkapi dengan wadah khusus.

Memproduksi karya seni dari barang bekas pakai memiliki tingkat kesulitan tersendiri, karena ia harus berburu bahan yang diinginkan ke sejumlah pengepul barang bekas maupun bengkel otomotif.

"Awalnya itu produknya tidak sebagus ini, bahkan beberapa teman ada juga yang mencibir. Namun kemudian terus saya sempurnakan sehingga banyak kolektor miniatur yang suka," imbuh pria yang akrab disapa Kurmen ini.


Peralatan yang digunakan untuk memproduksi miniatur juga cukup sederhana. Mulai dari tang, gunting, solder, lem hingga gerinda. Untuk membuat satu unit miniatur vespa, biasanya membutuhkan waktu kurang lebih selama tiga jam, mulai dari dari awal pemilihan bahan hingga akhir.

"Pembuatan harus dilakukan dengan penuh ketelitian dan kehati-hatian, karena bahan yang tersedia tidak standar dan harus dipadu-padankan agar menyerupai bentuk asli dari vespa maupun motor Harley Davidson yang diinginkan," ujarnya.

Agung Adi Wiyono, perajin miniatur vespa asal Kelurahan Kelutan, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek, mengaku aneka miniatur vespa dan moge tersebut seluruhnya dibuat dari barang bekas elektronik, onderdil mesin foto kopi, limbah bengkel otomotif hingga sandal bekas.

"Idenya berawal saat saya melihat banyak barang-barang bekas di bengkel motor, seperti bearing atau laher, kawat dan pecahan kecil lainnya. Dari situlah kemudian saya coba utak-atik dan jadilah miniatur," katanya saat berada di tempat usahanya, Selasa (3/1/2017).

Barang bekas atau limbah aneka produk elektronik maupun otomotif biasanya hanya dibuang dan tidak memiliki nilai ekonomis tinggi. Namun di tangan seorang pemuda kreatif asal Trenggalek, barang bekas mampu disulap menjadi aneka miniatur motor skuter dan moge alias motor gede seperti Harley Davidson yang unik.

Setiap miniatur dibuat dengan detail dan penuh ketelitian. Seluruh ornamen yang ada pada miniatur dibuat lengkap, mulai dari mesin hingga perlengkapan yang lainnya. sehingga sekilas menyerupai bentuk asli dari kendaraan yang ditiru.


Hj. Sumirah Ajarkan Anak Didiknya Membuat Kerajinan Barang Bekas | goody bag seminar



Dengan memiliki tambahan pengetahuan seorang guru harus  dapat memberikan panutan,  atau teladan kepada muridnya dengan bersikap arif dan bijaksana.  Juga mampu membimbing dan menuntun untuk anak-anak didknya memiliki kemampua lebih.

Bu Sumirah memang sangat memahami menuntun anak-anak untuk berkeratifitas melalu kemampuan berkerajinan tangan,”Tuturnya.

“ Guru itu dituntut mampu mengasah kemampuan dan kreatifitas siswanya supaya menunjang kualitas di kelas. Peranan guru juga harus didasari atas komitmen mendidik dengan tujuan mulia yaitu melahirkan generasi-generasi masa depan yang unggul dan cerah,”Ujarnya.

Ecin menyampaikan apresiasinya terhadap prestasi anak-anak didik yang diajarka oleh Guru Sumirah sehingga mulai terlihat kreatifitas anak-anak didiknya lebih menonjol dibandingkan anak-anak seusia lainnya.

“Saya dorong anak-anak juga untuk terus rajin membaca dan mengenali berbagai sumber bacaan yang sesuai dengan jenjang usia mereka,”Kata Sumirah saat ditemui, Kamis (11/5/2017).

Langkah-langkah yang dilakukan Hj, Sumirah sebagai guru juga mendapat support dan acungan jempol dari Kepala Sekolah SD Negeri Salamnunggal 02  Hj Ecin Kuraesin. Saat ditemui dikantornya Hj. Ecin menuturkan seorang guru memang dituntut tidak hanya menjalankan rutinitas dengan mengajar saja.

Murid-muridpun mulai paham bahwa kerajinan tangan dapat dibuat dari apa saja yang murah dan mudah dijumpai sebagai bahan bakunya.

Menggunakan barang-barang bekas adalah salah satu pilihan mudah, seperti menggunakan  kaleng bekas susu ,kertas dus , dadaunan, pasir dan bahan bekas lainnya  tidak luput menjadi pilihan bahan baku kerajinan.

Menurut Sumirah dengan mengenalkan belajar kerajinan tangan seperti itu, selain membuat para siswa kreatif dalam bidang keterapilan tangan juga dengan sendirinya dapat digiring untuk lebih mencintai dunia bacaan sebagai rujukan atau bahan teori dalam berkerajinan.

Mengajarkan murid untuk memahami karya karya kreatif memang membutuhkan peoses dan kesabaran, terlebih bagi anak-anak usia sekolah dasar yang belum sepenuhnya memahami arti dari sebuah kreatifitas serta manfaatnya.

Namun bagi  Hj Sumirah  salah seorang  Guru yang bertugas mengajar dikelas 1 SD Negeri Salamnuggal 02, Desa Salamnunggal, Kecamatan Leles Garut tidak membuatnya menyerah. Sumirah terus mengiring dan mengajarkan anak-anak didiknya yang masih ingusan untuk mulai memperdulikan barang-barang bekas yang banyak dijumpai disekelilingnya.

Anak-anak didik Sumirah mulai diperkenalkan dengan sebuah karya buah kreatifitas atau hasil keterampilan tangan yang mereka menyebutnya hasil kerajinan.








Senin, 28 Agustus 2017

Kompetisi Desain Tas Daur Ulang Super Indo Berhadiah Total Puluhan Juta Rupiah!

Gerakan mengurangi limbah kantong belanja plastik | goody bag seminar

goody bag seminar


Beberapa waktu lalu, tepatnya 17 Desember 2016, Super Indo juga menggelar acara bertema “Less Plastic, More Style” di Mall Teraskota, BSD, Tangerang untuk memperkenalkan kompetisi Fashion Reusable Bag. Acara ini juga dimeriahkan oleh modern dance, talk show bersama Lenny Agustin (Fashion Designer), Diela Maharani (Illustrator) dan Dyan Setyadharma (Head Creative of Super Indo), serta trunk show yang menampilkan desain  tas daur ulang karya Lenny Agustin dan Diela Maharani.

Nah, bagi Anda yang memiliki skill mendesain, jangan lewatkan kompetisi berhadiah total puluhan juta rupiah ini. Tinggal pilih Produk Segar Super Indo atau Bangga Produk Indonesia sebagai tema desain tas daur ulang Anda. Asyiknya lagi, desain yang lolos sebagai pemenang pertama dari setiap kategori akan diproduksi secara massal dan dipromosikan ke seluruh toko Super Indo.

Belanja dengan membawa kantong sendiri sudah jadi tren baru. Untuk mendukung gerakan mengurangi limbah kantong belanja plastik, Super Indo mengadakan kompetisi desain tas daur ulang dengan kategori profesional dan umum yang berlangsung sejak 2 Desember 2016 – 28 Februari 2017.


Hero Kembali Garap Pasar Minimarket dengan Giant Mart | goody bag seminar




Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengatakan, merupakan hal yang wajar bagi perusahaan retail menggarap segmen yang berbeda. “Ini kan soal bagaimana strategi perusahaan mengembangkan bisnisnya,” katanya. 

Selain tambahan satu gerai Giant Mart, Hero Supermarket juga memiliki 32 gerai Hero Supermarket, 164 gerai Giant Ekstra dan Giant Express, 249 gerai Guardian, dan 1 gerai IKEA.

"Kalau Giant Mart yang di Duri Kepa itu barangnya lebih ke kebutuhan sehari-hari, kalau Star Mart kan lebih ke produk siap saji," kata Tony.

Ia menjelaskan, Star Mart merupakan gerai minimarket kafetaria atau yang biasa dikenal sebagai convenience store. Sedangkan Giant Mart menawarkan barang-barang kebutuhan harian.

Giant Mart merupakan penanda kembalinya Hero di segmen minimarket setelah sebelumnya pernah menggarap Star Mart. Tony mengatakan bahwa ada perbedaan yang jelas antara brand Giant Mart dengan Star Mart yang 83 gerainya ditutup pada awal tahun lalu.

Untuk meningkatkan brand awareness Giant Mart, gerai yang didominasi warna kuning dan hijau ini memberikan promo menarik. "Ini bagian dari strategi perusahaan mendekat ke pemukiman warga," katanya.

Setelah pembukaan gerai pertama ini, Tony masih enggan menjelaskan rencana ekspansi Giant Mart selanjutnya. Ia juga tak merinci berapa investasi yang disiapkan induk usahanya. “Giant Mart itu masih baru, masih dalam tahap analisis," ujarnya.

Sebelumnya, Giant bergerak di segmen supermarket dengan Giant Ekstra dan Giant Expres. “Kalau kita lihat, Giant Ekstra dan Giant Expres itu harga jual produknya murah, kurang lebih Giant Mart sama,” kata Tony Mampuk, GM Corporate Affairs HERO saat dihubungi, Selasa (22/8).

PT Hero Supermarket Tbk (HERO) kembali terjun ke segmen minimarket melalui brand Giant Mart. Gerai pertama Giant Mart dibuka di Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat pada 16 Agustus 2017 lalu.

Konsumsi Masyarakat Tertahan, Laju Ekonomi Diprediksi Maksimal 5,05% | goody bag seminar




Lana menambahkan, pertumbuhan ekonomi tahun ini juga tertahan oleh lemahnya permintaan global terhadap energi dan komoditas yang menjadi andalan ekspor Indonesia. Hanya terdapat beberapa komoditas yang mengalami kenaikan seperti batu bara dan tembaga. Sedangkan, minyak sawit belum menunjukkan kenaikan yang berlanjut.

Dengan kondisi tersebut, Lana mengatakan, ekspor masih belum bisa menjadi penopang perekonomian. "Dengan kendala ini tentunya akan sulit mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2%,” ucapnya.

Adapun penurunan bunga acuan atau BI 7 Days Repo Rate dinilainya menunjukkan sinyal berlanjutnya perlambatan pertumbuhan kredit. Namun, menurut Lana, penurunan bunga acuan ersebut belum cukup. Setidaknya diperlukan penurunan 1-2 kali lagi untuk memberi dampak signifikan pada penyaluran kredit.

Di samping permintaan rumah tangga, menurut Lana, rendahnya penyaluran kredit perbankan juga turut menahan laju pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan kredit per Juni 2017 hanya mencapai 7,8%, melambat jika dibandingkan Juni 2016 yang sebesar 8,6%.

Lebih jauh, Lana mengatakan, perlambatan konsumsi rumah tangga bakal berdampak ke penerimaan negara dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Adapun, secara umum, perlambatan pertumbuhan ekonomi berisiko membuat target penerimaan negara meleset. Bila hal itu terjadi, maka akan mengurangi kemampuan pemerintah untuk belanja dan mendorong perekonomian.

"Jumlah pekerja informal di sektor transportasi meningkat, dugaannya banyak yang beralih menjadi driver (pengemudi) ojek online. Ini kan membuat pendapatan tidak pasti," ujarnya. Ketidakpastian pendapatan ini membuat masyarakat memilih melakukan konsumsi prioritas. 

Adapun turunnya permintaan kemungkinan disebabkan oleh pendapatan rill masyarakat yang menurun. Pendapatan riil menurun lantaran kenaikan pendapatan di bawah angka inflasi.  Menurut Lana, turunnya pendapatan riil terdeteksi dari data Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai penurunan jam kerja dan banyaknya angkatan kerja yang bekerja di sektor informal.

"Ada indikasi produksi dalam negeri melambat khususnya di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang hanya tumbuh 3,33% year on year (secara tahunan) pada kuartal II dari 7,12% year on year pada kuartal I 2017," ujarnya.

Lana menjelaskan, inflasi baru mencapai 2,6% di periode Januari-Juni 2017. Ia pun menduga, rendahnya inflasi lebih disebabkan oleh penurunan permintaan daripada peningkatan pasokan. Dugaan itu diperkuat dengan data pertumbuhan produksi dalam negeri yang juga melambat.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,2% tahun ini. Namun, Ekonom PT Samuel Aset Manajemen Lana Soelistyaningsih pesimistis target tersebut bakal tercapai. Sebab, ada indikasi melambatnya permintaan dari masyarakat.

"Ekonomi di tahun 2017 ini diperkirakan tumbuh di sekitar 5-5,05%," kata Lana saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (25/8). Pada semester I lalu, pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 5,01%.








Jumat, 16 Juni 2017

Giant Tawarkan Dua Alternatif Pengganti Kantong Plastik

Sosialisasi tentang penggunaan kantong plastik berbayar  | goody bag seminar

goody bag seminar



"Kami tidak memaksa konsumen untuk meninggalkan kantong plastik, mereka kami beri alternatif. Tetapi untuk plastik kami kenakan harga Rp 200," sebutnya kepada bangkapos.com, Selasa (23/2/2016).

Dalam pantauan bangkapos.com, Selasa (23/2) di tempat tersebut setiap beberapa menit sosialisasi tentang penggunaan kantong plastik berbayar melalui pengeras suara selalu terdengar.

Selain itu petugas kasir juga memberikan penawaran dan pilihan kepada konsumen untuk menggunakan beberapa tempat yang telah tersedia.

Dalam penerapannya, tidak memaksa konsumen. Mereka akan menawarkan beberapa alternatif selain menggunakan kantong plastik sebagai tempat barang yang dibelinya, diantaranya kardus dan tas belanja.

Selasa (23/2) mereka sudah mulai menerapkan hal tersebut.

Sutiko, Store General Manager Giant Supermarket Bateng menyebutkan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi terhadap penggunaan kantong plastik berbayar kepada konsumen.


Mulai 1 Oktober, Kantong Plastik Kembali Gratis | goody bag seminar




Sejumlah Pemerintah Daerah (Pemda), bahkan telah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) tentang pengelolaan sampah khususnya penanganan limbah kantong plastik, yang isinya tidak sejalan dengan SE KLHK.

Menurut Roy, hal tersebut mengakibatkan sebagian peritel mundur dari komitmennya untuk menjalankan uji coba tersebut di tokonya, sehingga ditengarai memicu persaingan bisnis yang tidak sehat di industri ritel modern.

"Pada prinsipnya, Aprindo akan tetap mendukung program pemerintah. Namun kami berharap Permen terkait Penerapan Kantong Plastik Tidak Gratis dapat segera diterbitkan, agar pelaksanaannya dapat berjalan lebih optimal dan sesuai dengan tujuan bersama. Aprindo juga siap memberikan masukan terkait Permen tersebut," tegasnya.

Peritel modern menerima kritikan dari masyarakat yang berujung pada ancaman tuntutan secara hukum, karena dianggap memungut biaya tanpa berdasarkan peraturan hukum yang kuat.

"Hal ini masih saja terjadi meskipun kami telah melakukan sosialisasi program melalui berbagai media, personel toko, memasang Surat Edaran Dirjen KLHK, serta sarana informasi di toko-toko anggota Aprindo," katanya menambahkan.

"Untuk itu, pemerintah saat itu memutuskan untuk melanjutkan uji coba tersebut dengan mengeluarkan Surat Edaran Dirjen KLHK No. SE/8/PSLB3/PS/PLB.0/5/2016 tentang Pengurangan Sampah Plastik Melalui Penerapan Kantong Belanja Plastik Sekali Pakai Tidak Gratis sambil menunggu Peraturan Menteri yang tengah dikaji," kata Roy.

Namun pada perjalanannya, kata Roy, uji coba program tersebut kian banyak menuai pro kontra di berbagai kalangan masyarakat sementara Permen LHK belum kunjung diterbitkan.

"Selama masa uji coba, pengelola ritel modern melaporkan pengeluaran kantong plastik kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Aprindo dan hasilnya menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah," katanya.

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terlihat penurunan penggunaan kantong plastik sebesar 25-30 persen selama masa uji coba tiga bulan pertama karena 87,2 persen masyarakat menyatakan dukungannya dan 91,6 persen bersedia membawa kantong belanja sendiri dari rumah.

Roy menjelaskan tujuan diterapkannya program kantong plastik tidak gratis tidak lain untuk mendukung upaya pemerintah dalam mengurangi jumlah penggunaan kantong plastik di Tanah Air.

Sebelumnya, uji coba serupa berhasil dijalankan selama periode 21 Februari hingga 31 Mei 2016.

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memberhentikan program kantong plastik berbayar yang dijalankan toko ritel modern di seluruh Indonesia, terhitung 1 Oktober 2016 sampai dengan diterbitkannya peraturan pemerintah yang berkekuatan hukum.

"Setelah mempertimbangkan secara masak dampak yang berkembang, kami memutuskan menggratiskan kembali kantong plastik di seluruh ritel modern, mulai 1 Oktober 2016 hingga diterbitkannya Permen KLHK yang berkekuatan hukum," kata Ketua Umum Aprindo Roy N. Mandey, dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (30/9/2016).

Giant Tetap Berlakukan Plastik Berbayar | goody bag seminar



Dalam SE tersebut, menteri meminta pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten dan kota, termasuk produsen serta pelaku usaha melakukan langkah simultan dalam pengurangan dan penanganan sampah plastik.

Namun pada perjalanannya, uji coba program tersebut kian banyak menuai pro kontra di kalangan masyarakat. Ketika memasuki periode uji coba kedua, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengalami berbagai tantangan dan hambatan dalam menjelankan program tersebut karena belum ada kekuatan hukum yang tetap. Yakni belum keluarnya Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

Sekali order, kata Imam, Giant Yasmin sendiri sekali memasok 10 ball plastik berbayar. Satu ballnya, berisi 500 plastik. Saat berbelanja di sana, salah satu kasir rutin menanyakan goodie bag (tas sendiri, red). Jika tidak membawannya plangan langsung dikenakan biaya kantong plastik Rp200.

Untuk diketahui, kebijakan penggunaan kantong plastik berbayar adalah upaya mewujudkan misi Indonesia Bersih 2020. Kebijakan itu menyusul keluarnya SE Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor S.71/MENLHK-II/2015 pada 21 Februari 2015.

Diakui Imam, dari seluruh ritel modern yang ada di Indonesia, hanya Giant yang masih menjual plastik berbayar. Menurut perusahaan, bentuk penjualan plastik berbayar adalah komitmen perusahaan dalam program penghijauan terhadap bumi.

“Sebagai pengganti plastik, pusat perbelanjaan akan menanyakan pada pembeli. Jika tidak membawa, juga disediakan tas seharga Rp 20 ribu. Jika pelanggan menolak, baru lah dikenakan biaya plastik. Kita juga sering dikritik consumen,” cetusnya.

Menut dia, pihaknya  meyesali sikap pemerintah yang tidak konsisten menjalankan kebijakan plastik berbayar. Terlebih dalam melanjutkan program diet kresek tersebut. Kendati demikian, kata dia, Giant akan berinisiatif meneruskan kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah.

Sambil berkoordinasi dan terus mengawal payung hukum kebijakan tersebut. “Jika kita ingin bersih dari sampah plastik di tahun 2020 kita harus komit. Tapi nyatanya kebijakan ini tidak ada kejelasan, tetapi kita tetap berkomitmen mendukung menjalankan plastik berbayar,” tukasnya.

Pemberhentian kebijakan  kantong plastik berbayar oleh seluruh toko ritel modern di seluruh Indonesia per 1 Oktober 2016, ternyata tidak diikuti oleh pusat perbelanjaan Giant. Hingga saat ini,  perusaan yang terganbung dalam Hero Supermarket Group tersebut, masih tetap mememungut Rp 200 dalam setiap kresek yang digunakan oleh konsumen.

Alasannya, mereka tetap berkomitmen dengan penghijauan bumi. “Meski berada di tengah pro dan kontra, kami tetap komitmen memungut biaya dengan harga Rp 200 per plastik,” ujar Wakil Supervisor Giant Yasmin, Imam Syahrul, kepada Radar Bogor (Jawa Pos Group), kemarin (13/11).