Tampilkan postingan dengan label tas spunbond jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tas spunbond jakarta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Desember 2017

Limbah Kulit Udang dan Biji Alpukat Bisa Dijadikan Bioplastik

Limbah biji alpukat dan kulit udang berhasil diinovasi menjadi bioplastik | tas spunbond jakarta


tas spunbond jakarta


Sedangkan pada limbah kulit udang mengandung kitin yang bisa ditransformasi menjadi chitosan sebagai penguat karakter polimer plastik. Untuk menambah karakteristik plastik,
maka ditambahkan zat pemlastis atau plastisizer sorbitol.

"Dengan hadirnya bioplastik 'Mbah Kilat' ini kami berharap dapat menjadi alternatif plastik pengganti plastik komersial yang aman digunakan, mudah terurai, dan dapat digunakan sebagai solusi mengoptimalisasi pemanfataan limbah," tandas Nurlailiatul. 

Ditambahkan oleh Nurlailiatul, penelitian ini menekankan pada penggunaan limbah yang pemanfaatannya kurang maksimal. Antara lain limbah biji alpukat dan limbah kulit udang untuk dibuat sebagai bioplastik ramah lingkungan dan aman untuk digunakan.

"Jadi, bioplastik 'Mbah Kilat' ini dibuat dari bahan dasar chitosan kulit udang dan pati (tepung) limbah biji alpukat. Pada biji alpukat itu terdapat banyak kandungan pati yang bisa dijadikan komponen plastik, sehingga plastik mudah didegradasi oleh mikroorganisme," lanjut Nurlailiatul.

Dewasa ini telah ditemukan beberapa macam plastik biodegradable antara lain, polihidroksi alkanoat (PHA), poli e-kaprolakton (PCL), poli butilen suksinat (PBS) dan poli asam laktat (PLA). Namun kebanyakan bahan baku plastik biodegradable itu masih
menggunakan sumber daya alam yang tidak diperbaharui (non-renewable resources) dan tidak hemat energi.

Hasil penelitian yang menarik ini kemudian dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE). Setelah melalui seleksi Dikti, proposal 'Bioplastik
Mbah Kilat (Limbah Kulit Udang Dan Biji Alpukat)' ini lolos untuk mendapatkan dana penelitian dalam program PKM Kemenristekdikti tahun 2016-2017.

"Inilah ancaman terhadap lingkungan hidup, sebab plastik merupakan material yang sulit dihancurkan oleh organisme. Untuk bisa lebur dan terurai dalam tanah, sampah plastik butuh waktu antara 200 sampai 1.000 tahun," kata Nurlailiatul dalam siaran pers yang diterima detikcom melalui Humas Unair, Rabu (26/7/2017)..

Hingga Environment Protection Body, sebuah lembaga lingkungan hidup di Amerika Serikat mencatat bahwa setiap tahun sekitar 500 miliar sampai 1 triliun tas plastik digunakan di seluruh dunia.

Lima mahasiswa jurusan kimia Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Unair itu adalah Nurlailiatul Machmudah, Fitria Pebriani, Adi Rachmadji, Tri Susanti, dan Dimas Noor Asyari. Nurlailiatul sebagai ketua tim peneliti menjelaskan bahwa dipilihnya 
inovasi ini karena melihat penggunaan perkakas yang terbuat dari plastik, terutama tas, sudah semakin menggila.

Limbah biji alpukat dan kulit udang berhasil diinovasi menjadi bioplastik. Adalah lima mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) yang melakukannya. Bioplastik merupakan pengganti plastik yang ramah terhadap lingkungan.

 
Minimalisir Sampah Plastik, Kreasikan Jadi Bantal | tas spunbond jakarta



Salah satu yang membuat bantal sampah plastik ini adalah PAUD Permata Bunda Gending. Terlihat beberap anak kecil bermain perosotan dengan aman karena memiliki alas bantal sampah plastik ini di bawahnya. Kepala PAUD Permata Bunda Gending Iin hidayati menuturkan, bantal ini memberikenyaman tersendiri bagi anak-anka saat bermain. “Selain itu bisa membantu menyelesaikan misi untuk meminimalisir sampah, ibu-ibu yang jaga anak juga lebih produktif,” imbuh dia. 

Selanjutnya, sarung bantal bisa digunakan dari kain perca agar lebih cantik. Tak hanya mengurangi sampah plastik yang tidak bisa di daur ulang, namun banyak yang memilih karena hargany ajauh lebih murah dari bantal pada umumnya. “Kalau bantal ini masih dari Gresik saja konsumennya, dan juga sering ikut dalam pameran luar kota,” papar dia.

Limbah plastik ini sebelumnya dicucui bersih dan dimasukkan dalam plastik yang sudah dijahit. Potongan kecil dan motif yang tidak beraturan dalam bungkus bantal bening, membuat bantal ini semakin menarik.

Dari kreatifitasnya ini, satu bantal berukuran 30 x 50 centimeterpun bisa menghabiskan sampah plastik sebanyak 2 kilogram. Sebab, bila hanya digunakan untuk daur ulang tas atau kerajinan lainya dibutuhkan yang sesuai dengan pola saja. “Lah sisa-sisanya itu bisa dipotong-potong kecil, kalau potongnya kecil maka bantal semakin empuk karena teksturnya lebih halus,” lanjut dia.

“Biasanya ibu-ibu buatnya kalau menunggu anak-anak di sekolah, sambil mengumpulkan sampahplastik dari bank sampah atau warung, kemudian dipotong sangat kecil sambil menunggu anak sekolah,” terang dia.

Bila dilihat sekilas, bantal rumah dan bantal kursi yang berada di rumah Indah ini layaknya bantal pada umumnya. Rasanyapun tetap empuk, meski tak seperti dakron. Namun, bila dibuka dari sarung bantal yang menutupi, maka terlihat jelas potongan kecil kemasan plastik yang berada di bantal tersebut.

“Untuk pembungkusnya pun kita manfaatkan plastik bekas dari tempat tidur,” jelas anggota PKK Gending Indah Wahyuni.

Siapa sangka limbah plastik dari berbagai kemasan ternyata bisa disulap menjadi bahan berguna. Selain barang daur ulang, plastik yang tidak terpakai bisa menjadi pengganti busa atau dakron pada bantal. Hal ini dibuktikan bu-ibu di PKK Kelurahan Gending. Mereka bisa memproduksi bantal dengan isi yang diganti potongan kecil dari kemasan plastik.

> Denda Rp 500 Juta atau Penjara untuk Pengguna Plastik di Kenya | tas spunbond jakarta

Menteri Lingkungan Kenya, Judy Wakhungu, berkata bahwa kantong plastik membutuhkan waktu antara 20 hingga 1.000 tahun untuk melakukan terdegradasi.

"Kantong plastik sekarang merupakan tantangan terbesar bagi pengelolaan limbah padat di Kenya. Ini menjadi mimpi buruk lingkungan kita yang harus kita hindarkan dengan segala cara," kata Wakhungu seperti dikutip dari BBC 29 Agustus 2017.

Untungnya, pengadilan berkata lain. Keberatan yang diajukan ditolak, termasuk keberatan yang diajukan oleh dua importir kantong plastik. Pengadilan Tinggi memutuskan bahwa lingkungan lebih penting dan menghentikan kasusnya.

Kebijakan itu tak diterima dengan mulus. Penolakan datang dari produsen kantong plastik. Mereka menyebutkan, kebijakan itu akan membuat 80.000 orang kehilangan pekerjaannya.

Sebelum Kenya, negara lain, seperti Rwanda, Mauritania, dan Eritrea, telah lebih dulu memberlakukan larangan tersebut.

Menanggapi hal ini, pemerintah Kenya pun mengambil langkah tegas. Siapapun yang menjual, membuat, atau membawa kantong plastik bisa dikenakan denda hingga 38.000 dolar AS (sekitar Rp 507 juta) atau hukuman penjara hingga empat tahun. Pengecualian bagi bebijakan itu diberikan kepada pabrik yang menggunakan polietilena untuk membungkus produk.

Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan, sekitar 20 kantong plastik polietilena berhasil ditarik keluar dari setiap ekor sapi dari tempat pemotongan di Nairobi. Selain itu, warga Kenya diperkirakan menggunakan 24 juta kantong plastik per bulan.

Pemerintah Kenya membawa kabar baik bagi pelestarian lingkungan. Mereka telah sepakat memberlakukan larangan penggunaan kantong plastik. Larangan ini didasari oleh banyaknya tumpukan sampah kantong plastik di Kenya. Tak hanya Kenya, negara Afrika lainnya juga mengalami hal serupa.


Denda Rp 500 Juta atau Penjara untuk Pengguna Plastik di Kenya | tas spunbond jakarta


Menteri Lingkungan Kenya, Judy Wakhungu, berkata bahwa kantong plastik membutuhkan waktu antara 20 hingga 1.000 tahun untuk melakukan terdegradasi.

"Kantong plastik sekarang merupakan tantangan terbesar bagi pengelolaan limbah padat di Kenya. Ini menjadi mimpi buruk lingkungan kita yang harus kita hindarkan dengan segala cara," kata Wakhungu seperti dikutip dari BBC 29 Agustus 2017.

Untungnya, pengadilan berkata lain. Keberatan yang diajukan ditolak, termasuk keberatan yang diajukan oleh dua importir kantong plastik. Pengadilan Tinggi memutuskan bahwa lingkungan lebih penting dan menghentikan kasusnya.

Kebijakan itu tak diterima dengan mulus. Penolakan datang dari produsen kantong plastik. Mereka menyebutkan, kebijakan itu akan membuat 80.000 orang kehilangan pekerjaannya.

Sebelum Kenya, negara lain, seperti Rwanda, Mauritania, dan Eritrea, telah lebih dulu memberlakukan larangan tersebut.

Menanggapi hal ini, pemerintah Kenya pun mengambil langkah tegas. Siapapun yang menjual, membuat, atau membawa kantong plastik bisa dikenakan denda hingga 38.000 dolar AS (sekitar Rp 507 juta) atau hukuman penjara hingga empat tahun. Pengecualian bagi bebijakan itu diberikan kepada pabrik yang menggunakan polietilena untuk membungkus produk.

Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan, sekitar 20 kantong plastik polietilena berhasil ditarik keluar dari setiap ekor sapi dari tempat pemotongan di Nairobi. Selain itu, warga Kenya diperkirakan menggunakan 24 juta kantong plastik per bulan.

Pemerintah Kenya membawa kabar baik bagi pelestarian lingkungan. Mereka telah sepakat memberlakukan larangan penggunaan kantong plastik. Larangan ini didasari oleh banyaknya tumpukan sampah kantong plastik di Kenya. Tak hanya Kenya, negara Afrika lainnya juga mengalami hal serupa.





Minggu, 05 November 2017

Tote Bag Ramah Lingkungan dari Daniel Mananta

Tote bag ditujukan untuk mengurangi penggunaan kantung plastik | tas spunbond jakarta

tas spunbond jakarta



Tas ramah lingkungan  tinggi 45 cm dan lebar 45 cm ini terbuat dari bahan katun kanvas dengan kualitas tinggi. Dengan desain yang lebih modern, tentunya juga diharapkan bisa menginspirasi generasi muda untuk berkontribusi melestarikan lingkungan. Meski begitu, mereka yang mengenakannya tetap bisa tampil gaya ala patriotik.


Dalam release yang diterima redaksi Okezone, Daniel menganggap bahwa penggunaan kantung plastik selama ini telah banyak merusak lingkungan. Oleh karenanya, dengan mengusung konsep Green Could Be So Fashionable, tote bag atau tas serbaguna tersebut diharapkan bisa menjadi solusi untuk mengatasinya.

Dengan latarbelakang itu, salah satu label fesyen Damn! I Love Indonesia yang dinahkodai presenter ternama Daniel Mananta kembali meluncurkan produk baru. Namun, kali ini berupa tote bag yang ditujukan untuk mengurangi penggunaan kantung plastik.

SIAPA sangka aktivitas yang kita lakukan setiap hari bisa membawa dampak serius pada bumi yang dipijak. Dengan melihat kondisi lingkungan yang semakin merosot setiap tahun, tentu diperlukan sebuah kepedulian untuk mengatasinya.


Startup India bikin plastik 100 % ramah lingkungan, bisa dimakan | tas spunbond jakarta



Harga kantong plastik dari EnviGreen memang sedikit lebih mahal, 35 persen lebih tinggi dari kantong plastik biasa. Tetapi manfaatnya jauh lebih besar daripada harganya. 

"Kami tidak menggunakan bahan kimia sama sekali. Bahkan cat yang digunakan untuk mencetak pun alami dan organik," pamer Ashwath kepada The Better India. Saking ramah lingkungannya, kantong plastik ini bahkan aman dimakan. Ashwath sendiri tak segan untuk memperagakannya. Dia merendam kantong dalam air dan meneguknya dengan mudah.

Pada akhirnya, dia berhasil menemukan kombinasi 12 bahan yang paling mendekati tekstur dan penampakan plastik, antara lain kentang, tapioka, jagung, pati alami, minyak sayur, pisang, dan minyak bunga. Bahan baku diubah menjadi bentuk cair, dan kemudian melalui enam tahapan proses hingga menjadi kantong plastik organik.

Ashwath, 25, datang dengan ide kantong revolusioner ini setelah melihat banyaknya warga India yang kebingungan mencari alternatif kantong plastik pembungkus barang belanjaan. Tas seharga 5 Rupee atau 15 Rupee tak sepadan untuk barang belanjaan yang nilainya tak seberapa. Ashwath menghabiskan empat tahun untuk bereksperimen dengan berbagai bahan.

Dilansir Oddity Central (6/12), Ashwath Hedge dan rekan-rekannya di EnviGreen membuat kantong biodegradable dari kombinasi pati dan minyak nabati. Jika disentuh, bahan ini terasa seperti plastik, tetapi bisa hancur dalam waktu 180 hari saja. Jika ingin plastik cepat terurai, cukup disiram dengan air panas.

Sebagai upaya untuk menanggulangi pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah plastik, sebuah startup India memproduksi alternatif kantong plastik yang 100 persen ramah lingkungan.


Begini Batik Ramah Lingkungan Ala Toko Solopos | tas spunbond jakarta



Tas ini terbuat dari kain batik cap kualitas terbaik yang memiliki corak modern. Staf Toko Solopos, Nina Andriyani, kepada Harianjogja.com, Kamis (5/1/2016), menerangkan tas ini sangat cocok dibawa kemana saja karena bentuknya yang simpel dan praktis. Selain itu, meski terbuat dari kain, tas itu diklaim sangat awet dan kuat.

Rata-rata, Tas Magic ini memiliki ukuran 34×37 cm ketika di buka. Namun, ketika dilipat tas ini hanya berukuran seperti dompet yang bisa dibawa kemana-mana. Satu buah tas batik lipat di Tokosolopos dibanderol seharga Rp45.000, harga yang pantas untuk sebuah tas unik bukan?

Nah, dengan membawa Tas Magic ini, Anda tentu tak harus bingung untuk membawa barang belanjaan. Sesuai namanya, Tas Magic ini memiliki keajaiban lain daripada tas kain pada umumnya. Jika dilihat sekilas, tas ini sangat mirip dengan dompet. [Intip Koleksinya]

Namun, setelah ritsletingnya dibuka, Anda akan menemukan kain yang terjahit layaknya tas. Tas cantik ini tersedia dalam tiga varian, yakni Tas Magic Kotak, Tas Magic Lipat, dan Tas Magic Split.

Toko Solopos menghadirkan Tas Magic, tas batik ramah lingkungan yang bisa dipakai saat berbelanja. Pasalnya, belakangan ini konsumen yang berbelanja di berbagai pusat perbelanjaan, baik pasar swalayan maupun mini market tak lagi mendapat tas plastik secara gratis, melainkan harus membayar demi mendapat plastik untuk membawa barang belanjaan.







Selasa, 18 Juli 2017

Tas pakai ulang asli dari Indonesia

Kampanye untuk menggunakan tas pakai ulang (reusable bag) sebagai pengganti kantung plastik | tas spunbond jakarta

tas spunbond jakarta


Tas khas Toraja, Sulawesi Selatan, ini biasanya digunakan perempuan Toraja untuk mengikuti pesta adat Rambu Tuka' (perkawinan), Rambu Solo' (kematian), dan Ma'rara Banua (syukuran rumah).

Biasanya tas berbahan kain tenun ini digunakan berpasangan dengan baju adat Toraja. Kini, tas sepu menjadi salah satu suvenir khas Toraja dan Anda bisa mendapatkannya seharga Rp400 ribu.

Bagi kaum laki-laki, Anjat digunakan sebagai wadah untuk perbekalan saat berburu ke hutan. Sedangkan kaum perempuan menggunakan Anjat untuk menyimpan baju atau makanan saat pergi berkebun.

Proses pembuatan Anjat cukup rumit, rotan harus dibelah dan dihaluskan kemudian dirangkai membentuk Anjat. Proses pengayaman Anjat dilakukan dengan berputar dari kiri ke kanan. Selanjutnya, diberi lapisan penutup dari kain dan diberi hiasan manik-manik yang dirangkai menjadi berbagai motif.

Tas anyaman dari rotan ini berbentuk bundar seperti tabung dan merupakan hasil kerajinan anyam suku dayak Kenyah Bakung di Kalimantan Timur. Tas Anjat dijual mulai dari Rp130 ribu hingga Rp400 ribu.


Sama seperti tas koja, tas kepek juga digunakan masyarakat Baduy untuk menyimpan perbekalan dan pakaian selama bepergian. Selain itu, tas ini juga digunakan untuk menyerahkan mas kawin saat pernikahan anggota suku Baduy.

Tas ini terbuat dari daun Sarai (sejenis aren), rotan, kulit pohon Teureup, kulit pohon Handam, serta anyaman bambu di bagian dalam tasnya. Tas Kepek biasanya dijual mulai harga Rp200 ribu hingga Rp250 ribu.

Tas koja terbuat dari kulit pohon Teureup. Kulit pohon dijemur hingga kering, kemudian dibelah kecil-kecil dan dianyam menjadi benang. Selanjutnya benang-benang itu dirajut menjadi tas koja.

Masyarakat Baduy menggunakan tas ini untuk mengangkut alat-alat pertanian atau membawa barang-barang saat bepergian. Harga tas ini bervariasi tergantung dari ukurannya, yakni Rp45 ribu sampai Rp100 ribu.

Bahan baku yang digunakan adalah kayu pohon Manduam dan pohon Nawa (Anggrek hutan) yang diolah dan dikeringkan. Kayu ini kemudian dipintal menjadi benang dan diwarnai dengan pewarna alami, selanjutnya benang kayu dirajut menjadi noken.

Tak heran jika harganya bervariasi mulai dari Rp100 ribu hingga Rp500 ribu. Sejak 2012, noken resmi masuk dalam daftar UNESCO Warisan Budaya Tak Benda.

Masyarakat Papua selalu menggunakan noken sebagai wadah untuk membawa barang bawaan saat bepergian dan dipakai untuk membawa anaknya.

Noken memiliki filosofi sebagai simbol kehidupan yang baik, perdamaian, serta kesuburan bagi masyarakat Papua. Noken juga menjadi simbol kedewasaan seorang wanita. Dulu, salah satu syarat bagi perempuan Papua agar bisa menikah adalah harus bisa membuat Noken.

Perlu waktu yang cukup lama untuk membuat sebuah noken karena agak rumit dan tidak menggunakan mesin. Noken berukuran sedang butuh waktu satu sampai dua minggu, sedangkan ukuran besar bisa mencapai 3 minggu.

Tas ini terbuat dari serat kulit kayu. Uniknya, tidak seperti tas biasa yang disangkutkan ke bahu, tas ini dipakai dengan cara disangkutkan di kepala sementara bagian kantungnya menjuntai ke punggung.

Beberapa suku di tanah air bahkan masih memelihara budaya membuat tas tradisional dengan berbagai teknik. Ada yang berupa rajutan, anyaman, serta tenunan.

Tas tradisional ini awet dan sangat kuat untuk membawa barang yang berat, bahkan di beberapa daerah digunakan untuk menggendong anaknya.


Cocok untuk Sehari-hari, Tas Lipat Praktis dan Ramah Lingkungan | tas spunbond jakarta


Bagoes Bag memiliki koleksi tas yang bisa dikunjungi di Jalan Tikukur No 6, Bandung.

Tas dibanderol Rp 30 ribu hingga Rp 185 ribu. Tas termahal adalah backpack yang merupakan model terbaru Bagoes Bag. "Kami juga membuat tas dengan model menarik untuk anak muda hipster. Pada tas ini kami menyelipkan isu diet plastik pada fashion," ucapnya.

Selain memproduksi tas dengan model sendiri, Bagoes Bag juga menerima pesanan dengan model pesanan konsumen (custom). Bagoes Bag mampu menjual 200 tas dalam sebulan untuk pembeli satuan. Untuk pemesan custom jumlah besar, Bagoes Bag mampu menjual hingga 3.000 tas per bulan. Berdiri sejak 2008, Bagoes Bag telah menjual sekitar 650 ribu tas lipat.

"Berdasarkan riset kami baik online maupun offline, masyarakat tahu kantong plastik itu bahaya. Tapi tidak semua setuju untuk membeli tas yang bisa dipakai berkali-kali sebagai pengganti plastik. Hanya 9,5 persen yang bersedia membeli. Tapi sebagian dari mereka pun punya cara sendiri mengganti kantong plastik," kata Ahmad.

Bagoes Bag pernah melakukan riset tentang penggunaan kantong plastik. Sebagian besar anak muda memakai plastik hanya satu kali pakai lalu dibuang. Namun banyak anak muda sadar akan bahaya sampah plastik dan setuju memakai tas yang bisa dipakai ulang.

Ukuran tas terkecil mampu menampung beban maksimal 3-5 kilogram (kg). Ukuran sedang berkapasitas sekitar 5 kg ke atas dan ukuran besar bisa diisi dengan beban 7 kg.

Tas tersebut dibuat dari berbagai bahan seperti polyester dan kanvas.  "Para pencetus Bagoes Bag ini melihat Indonesia sebagai negara penyumbang sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia setelah Cina.

Dari situ, kami berpikir bagaimana supaya bisa diet kantong plastik. Akhirnya muncullah tas lipat Bagoes Bag," ujar Marketing Manager Bagoes Bag, Nur Ahmad Hidayat di Grha Manggala Siliwangi Jalan Aceh, Bandung, pekan lalu.

Tak hanya konsepnya yang unik, Bagoes Bag pun menyimpan misi lingkungan, yakni mengurangi penggunaan kantong plastik. Setiap tas produksi Bagoes Bag bisa dipakai ulang hingga 1.000 kali. Jadi, jika tas terus dipakai sebagai pengganti kantong plastik, penggunanya dapat mengurangi sampah kantong plastik dan berkontribusi besar terhadap lingkungan.

Tas ukuran kecil yang disebut klasik mini, cocok digunakan sebagai pengganti kantong plastik saat berbelanja di swalayan. Tas sedang atau reguler bisa dipakai untuk membawa berbagai benda kecil hingga sedang. Sedangkan tas besar alias jumbo bisa diandalkan untuk membawa barang belanjaan berjumlah besar.

SEKILAS, bentuk tas produksi Bagoes Bag seperti dompet mini. Ketika resletingnya dibuka, lipatan-lipatan berbahan polyester terurai dan membentuk sebuah tas. Desain tas pada dasarnya menyerupai kantong plastik. Kini, banyak model tas diproduksi seperti tote bag messager (tas sehari-hari) dan tas backpack. Dengan konsep unik tas lipat, Bagoes Bag bisa digunakan untuk banyak hal.


Peneliti Indonesia Punya Solusi Pengganti Polimer Sintetik | tas spunbond jakarta



"Untuk mengantisipasi masalah yang rentan terjadi pada selulosa dan lignin, maka kata Myrtha, diperlukan pelakukan cold-plasma dan penggunaan pengawet yang ramah lingkungan.

Myrtha berharap, penelitiannya terkait pengembangan lignoselulosa untuk material ramah lingkungan akan sesuai dengan program pemerintah tentang produk ramah lingkungan dan industri yang berdaya saing. 

Sementara sumber lignin, dari bioetanol sebesar 34 juta ton yang dihasilkan dari kelapa sawit menghasilkan lignin 10 juta ton. Kemudian, bioetanol sebesar 6,3 juta ton dari kayu menghasilkan lignin 3 juta ton. 

Myrtha menuturkan, meskipun lignoselulosa mudah diperoleh, namun selulosa dan lignin sangat rentan pembusukan, degradasi oleh sinar ultraviolet (UV) dan perubahan dimensi. Hal ini karena selulosa dan lignin sangat mudah menyerap air.

Selain itu, potensi selulosa dari budidaya padi. Potensinya bisa dilihat dari produksi 71 juta ton, jerami yang dihasilkan 13 juta ton per tahun, dan selulosanya bisa 3,5 juta ton per tahun. Dari produksi gula, potensi selulosa bisa didapatkan dari produksi tebu 29 juta ton per tahun, menghasilkan bagas 4,5 juta ton per tahun, dan selulosanya 1,8 juta ton per tahun. 

Dia merinci sumber potensi selulosa cukup banyak. Misalnya dari produksi minyak sawit dengan perkebunan sawit seluas 11 juta hektar, minyak sawit yang dihasilkan 6 juta ton per tahun, limbah sawit 6,6 juta ton per tahun dan selulosa yang didapat mencapai 1,8 juta ton per tahun.

Sementara lignin, dapat dimanfaatkan sebagai perekat kayu dengan emisi formaldehida yang rendah. Lalu bisa digunakan sebagai prekursor serat karbon untuk komposit kampas rem yang selama ini masih menggunakan asbes. 

"Teknologi pemisahan selulosa dan lignin dengan cara eksplosi adalah metode baru yang ramah lingkungan karena menggunakan sangat sedikit bahan kimia," jelas Myrtha.

Peneliti LIPI itu menjelaskan, lignoselulosa terdiri dari selulosa dan lignin. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, selulosa dapat dijadikan bahan alternatif untuk bahan bangunan, komponen otomotif, bioplastik untuk pengemas dan komponen elektronik. 

Maka dari itu, Myrtha menyimpulkan material sintetik alam lignoselulosa bisa jadi solusi pengganti material polimer sintetik. Selain ramah lingkungan tanpa polusi dan mudah didegradasi, sumber lignoselulosa pun mudah didapatkan. 

"Selain itu, (polimer sintetik) berasal dari minyak bumi. Minyak bumi pun semakin langka, cadangan minyak bumi kini 885 juta meter kubik. 10 tahun ke depan akan habis," ujar Myrtha saat presentasi di Gedung LIPI, Jakarta,  Kamis 15 Desember 2016.

Myrtha menjelaskan, plastik bisa terdegradasi secara alami dalam kurun waktu 500 sampai seribu tahun mendatang. Namun, jika dimusnahkan dengan cara dibakar akan menimbulkan emisi. 

Myrtha menemukan lignoselulosa dapat dijadikan solusi pengganti material polimer sintetik yang sulit didegradasi secara alami. Lignoselulosa adalah komponen struktur yang banyak ditemukan pada tanaman berkayu maupun tanaman lain, dan mudah didegradasi. Contoh terapan material berbahan polimer sintetik seperti plastik, pipa, mainan anak-anak dan lainnya. 

Peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia  Myrtha Karina Sancoyorini hari ini dikukuhkan sebagai profesor riset baru di bidang lignoselulosa.